Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Renov

Mobil berhenti di depan toko material yang cukup besar. Halamannya luas, dipenuhi tumpukan keramik, semen, dan wastafel yang disusun rapi. Bau khas debu jalanan dan semen langsung tercium begitu kami turun.

“Milih aja, Dek,” kata Arman sambil mengunci mobil. “Kalau mau ganti lantai dapur atau tempat cucian.”

Aku langsung melangkah lebih cepat darinya. Mataku menyapu deretan keramik yang dipajang berdiri. Ada yang polos, ada yang motif batu, ada juga yang kelihatan mahal walau aku nggak tahu bedanya.

“Mas, yang ini gimana?” tanyaku sambil jongkok, mengetuk keramik warna abu muda.

Arman ikut jongkok di sampingku. Hanya memperhatikan, sesekali mengangguk.

“Bagus. Nggak gampang kelihatan kotor.”

Aku pindah ke rak lain. Motifnya lebih terang. “Kalau ini?”

“Agak licin kelihatannya,” jawabnya singkat. “Kalau buat dapur, mending yang kesat, Dek.”

Aku mengangguk. Rasanya menyenangkan. Dia tidak mengatur, membiarkanku memilih, tapi tetap ada di situ kalau aku butuh pendapat.

Jam di ponselku bergetar. Hampir habis waktu istirahat. Tapi aku malah makin semangat. Membayangkan dapur rumah kami yang selama ini kusam dan dingin bakal berganti lebih cerah.

“Mas, tempat cucian ganti juga ya?”

“Kalau mau, sekalian.”

Aku tertawa kecil. Rasanya seperti sedang main rumah-rumahan, tapi ini nyata. Kami pindah ke bagian keramik kamar mandi. Aku memilih yang tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap. Arman mengangguk setuju. Lalu shower. Aku memilih yang sederhana.

“Yang penting airnya lancar,” kataku.

Arman tersenyum. “Iya. Biar mandi nggak buru-buru."

Kami juga mengambil rak kecil dapur, tempat bumbu, dan satu meja lipat.

“Dek,” kata Arman sambil melirik jam. “Istirahatmu mau habis.”

Aku tersentak. “Ya ampun, iya.”

Aku masih menoleh ke rak terakhir, rasanya belum puas. Tapi Arman sudah menggenggam tanganku pelan, membawaku ke kasir.

“Nanti lanjut lagi,” katanya langsung membayar. 

Saat keluar toko, aku menoleh lagi ke dalam. Membayangkan lantai dapur yang baru. Kamar mandi yang tidak lagi lembap dan dingin. Tempat cucian yang rapi.

“Aku nggak sabar,” kataku semangat.

Arman melirikku, senyumnya tipis. “Aku juga.”

Di mobil, dalam perjalanan kembali ke puskesmas, aku membuka ponsel. Mencatat hal-hal kecil yang masih ingin kubeli nanti.

Aku membayangkan rumah itu bukan sekadar bangunan lama, tapi tempat pulang setelah menjalani hari.

*

Sepekan berlalu.

Aku berdiri di ambang dapur, memandangi lantai baru yang bersih dan terang. Cahaya lampu membuat semua terasa pas. Aku tersenyum sendiri.

Kamarku juga berubah, di cat lebih kalem, tampak segar, warna hijaunya menyatu dengan gorden berwarna lebih gelap.

Seprei bersih terhampar rapi. Aku merebahkan diri di atas kasur.

Nyaman sekali.

Mataku terpejam. Rambutku masih basah, menempel dingin di leher. Aku baru selesai salat asar tadi.

Arman mengabarkan akan pulang telat hari ini. Aku gagal masak sebab Arman bilang, beli saja nanti setelah dirinya pulang.

Aku terbangun saat suara adzan Isya sudah lama berlalu. Rumah masih sunyi. Lampu ruang tengah menyala redup.

Aku masih di kamar, lampu meja sudah kumatikan. Menunggu Arman ternyata membosankan, sampai akhirnya aku ketiduran.

Entah berapa lama aku tertidur, telingaku menangkap suara air di kamar mandi. Sepertinya Arman sudah pulang.

Aku memejamkan mata lagi, badanku capek sekali.

Terdengar suara langkah kaki, pintu kamar dibuka tutup dan ketukan kecil di kamarku.

“Dek.”

Sunyi.

“Dek, jadi nggak?”

Aku masih diam. Rasanya malas bergerak. Enak sekali rebahan begini di kasur tanpa ada yang mengganggu.

Tiba-tiba terdengar bunyi pintu kamar dibuka pelan. “Dek?”

Aku tahu itu Arman, meski mataku masih terpejam. Ada aroma sabunnya yang sudah kuhafal.

Langkahnya mendekat. Kasur di sisiku turun sedikit saat dia duduk. Aku masih pura-pura tidur. Lalu sesuatu yang hangat menyentuh pipiku.

Ciuman singkat.

Aku refleks membuka mata. Wajah Arman sangat dekat. Sebelah tubuhku terasa berat karena tangannya menopang kasur, sedangkan separuh badannya menindihku. Matanya menatapku lembut. Ada senyum kecil yang dia tahan.

“Jadi nggak?” bisiknya.

Aku menelan ludah. Jantungku langsung berdegup keras. “Jadi,” jawabku cepat. “Minggir dulu, Mas. Aku ganti baju.”

Dia tidak bergerak.

Tatapannya masih di mataku. Lama. Membuatku makin panas dingin, berdebar.

“Love you, Dek.”

Deg. Aku membeku. Tidak berkedip apalagi menjawab. Jantung rasanya mau copot, aku bahkan menahan napas.

Wajahnya mendekat perlahan.

Deg.

Deg.

Deg.

Bibirnya menyentuh bibirku. Singkat.

Aku tidak sempat membalas. Hanya bisa diam dengan wajah panas luar biasa. Arman lalu menarik tubuhku duduk, dan mengecup pucuk kepalaku sebentar.

“Ganti baju,” katanya pelan.

Dia berdiri dan keluar kamar, menutup pintu pelan-pelan.

Aku masih duduk di kasur.

Tanganku menutup dada. Napasku belum teratur. Seperti baru maraton, ngos-ngosan.

Deg.

Deg.

Deg.

Aku tersenyum sendiri, bergumam, "Dia langsung keluar, apa sama ya kek aku."

Aku keluar kamar, memakai jaket dan pashmina simpel. Tas kecil berisi dompet dan hape menggantung di bahu.

Arman menungguku di teras, senyumnya selalu saja membuatku salting. Jangan-jangan dia sengaja bikin aku gugup.

Motor Arman melaju pelan di jalan kampung. Aku membonceng, tangan memegang jaketnya, kepala sesekali bersandar di punggungnya. Angin malam dingin, tapi badanku hangat. Entah karena jaketnya, atau karena aku bahagia.

Lampu-lampu warung kecil mulai menyala. Bau gorengan dan arang terbakar bercampur di udara.

“Kita makan sini aja ya,” kata Arman, menunjuk angkringan di pojokan tikungan ruko.

Aku mengangguk. Kami duduk bersisian di bangku kayu panjang. Lampu bohlam menggantung rendah, cahayanya kekuningan. Ada nasi kucing, sate usus, tempe mendoan, dan teh hangat mengepul di depan kami.

Arman menyodorkan piring ke arahku. “Makan dulu, Dek.”

Aku mengambil nasi, pelan. Perutku sudah lapar sejak sore tadi. Arman memperhatikanku makan. Tangannya sesekali merapikan tusuk sate, memastikan aku kebagian yang masih hangat.

“Capek hari ini?” tanyanya.

“Lumayan,” jawabku jujur. “Tapi kamarku jadi bagus. Aku seneng, makanya ketiduran tadi.”

Arman tersenyum kecil. “Kamu yang milih soalnya.”

Kami makan dalam diam sejenak. Suara motor lewat, obrolan orang-orang, dan bunyi sendok beradu gelas jadi latar yang sederhana.

Lalu Arman berdehem pelan. “Dek…” panggilnya, nadanya lebih rendah.

Aku mengangkat wajah. “Hm?”

Dia menatapku sebentar, lalu memalingkan mata ke gelas tehnya. “Udah selesai… haidnya?”

Aku terdiam sepersekian detik. Pipiku langsung terasa hangat. “Udah,” jawabku pelan.

Arman mengangguk. “Oke,” katanya singkat.

Aku menunduk lagi, pura-pura sibuk dengan makanan di piring. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah Arman akan....?

'Bagaimana ini?' batinku. Bukan aku tidak mau, tapi malam ini, Arman entah kenapa seperti sengaja membuatku terbuai. 

Wangi rambutnya, parfumnya, senyumnya dan pernyataan cintanya. Duh, jantungku... Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Meski belum menyatakan perasaanku tapi sepertinya Arman membaca perasaanku?

"Siap, kan?" bisiknya sambil berdiri, membayar makanan kami ke kasir. Dia menoleh ke arahku, tersenyum samar.

Aku tergagap. "Eh?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!