Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Jepang
Pesawat akhirnya mengudara. Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, sementara Arman sudah membuka tablet—entah benar-benar bekerja atau sekadar menenangkan diri.
Tangannya tetap mencari jemariku. “Kamu deg-degan?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.
“Sedikit,” jujurku. “Lebih ke penasaran.”
Dia mengangguk pelan. “Aku juga.”
Lampu kabin diredupkan. Di luar jendela, langit berubah warna, biru tua yang tenang. Aku memejamkan mata sesaat, mencoba membayangkan wajah-wajah yang selama ini hanya ada di potongan ingatan masa lalu Arman.
Setelah 9 jam perjalanan, Jepang menyambut kami dengan udara yang dingin.
Arman berjalan sedikit di depanku, sigap, seolah ini adalah tempat tinggal keduanya.
Hotel kami tidak besar. Jendela kamar menghadap jalan kecil dengan lampu-lampu kuning yang tertata rapi. Aku berdiri cukup lama di dekat kaca, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang, bahasa yang tak kumengerti, tapi ritmenya terasa menenangkan.
“Besok kita ke sana,” kata Arman dari belakangku.
Aku menoleh. “Ke rumah mereka?”
“Iya.”
Nada suaranya datar, tapi aku bisa menangkap tegang yang berusaha disembunyikan.
Aku mendekat, menyentuh lengannya. “Kalau Mas ragu—”
“Aku siap,” potongnya cepat, lalu tersenyum kecil. “Aku cuma… nggak tahu mereka masih mau ditemui atau nggak.”
Kalimat itu menggantung di udara. Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Kita datang baik-baik. Itu saja dulu.”
Malam itu, kami tidur lebih cepat dari biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena besok adalah momen penting. Dalam gelap, Arman memelukku dari belakang, keningnya menempel di tengkukku.
“Makasih sudah ikut,” bisiknya.
Aku tersenyum kecil. “Kan aku istri Mas.”
Pagi datang dengan cahaya pucat. Kami bersiap tanpa banyak bicara. Arman mengenakan jaket gelap, aku syal tipis yang tadi malam sempat kupilih cukup lama. Saat kami melangkah keluar hotel, langkah Arman sedikit melambat.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya menoleh padaku saat driver hotel akan mengantar kami.
Alamat itu tertulis di secarik kertas yang sudah lusuh. Satu jam berlalu, dan kami berdiri di depan sebuah rumah lama, rapi, dengan tanaman kecil di terasnya.
Arman berhenti.
Tangannya gemetar saat menekan bel. Aku menatap pintu itu, berdebar.
Bel berbunyi. Langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu mulai terbuka.
Dan Arman menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh hidupnya dalam satu detik itu.
Seorang perempuan tua berdiri di ambangnya. Rambutnya memutih, disanggul rapi. Kacamata bertengger di hidungnya. Dia terpaku cukup lama, menatap kami tanpa bicara, seolah sedang menyusun potongan ingatan.
Dadaku ikut menegang. Arman melangkah setengah langkah ke depan. Senyumnya pelan, hati-hati.
“Masih ingat aku?” suaranya lembut, hampir bergetar.
Nenek itu berkedip beberapa kali. Pandangannya naik turun, dari wajah Arman ke bahunya, ke matanya lagi. Tangannya gemetar memegang gagang pintu.
Di belakangnya, muncul seorang pria tua. Tubuhnya lebih tegap, matanya lebih tajam. Dia mencondongkan badan, memperhatikan Arman lebih dekat.
Lalu suaranya terdengar, serak tapi yakin. “Xander?”
Aku melihat bahu Arman sedikit mengendur. Dia mengangguk pelan. “Iya, Kek.”
Kakek itu langsung melangkah cepat, meraih Arman dan memeluknya erat, seolah takut anak itu akan menghilang kalau dilepas. Tangan tuanya menepuk-nepuk punggung Arman berulang kali.
Nenek menyusul. Masih ragu, seperti tak percaya. Tangannya menyentuh lengan Arman, lalu wajahnya, memastikan. “Xander?” ulangnya lirih.
Arman kembali mengangguk.
Sekejap kemudian, nenek itu menangis begitu saja, tanpa ditahan. Dia memeluk Arman erat, lebih erat dari kakek tadi.
“Xander… Xander cucuku…” panggilnya berkali-kali, suaranya gemetar. “Xander…”
Aku berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Dadaku sesak. Mataku panas. Aku melihat suamiku—lelaki yang biasanya tenang, dewasa, kini berdiri sebagai seorang cucu yang akhirnya pulang.
Tangannya balas memeluk neneknya. Matanya memejam. Rahangnya mengeras, menahan emosi yang akhirnya runtuh juga.
Aku mengusap sudut mataku yang basah, tetap berdiri di tempatku, memberi mereka ruang. Rasanya tidak pantas masuk terlalu cepat ke lingkaran kenangan yang sudah lebih dulu ada sebelum aku hadir di hidup Arman.
Nenek masih memeluknya, sesekali menepuk punggung Arman seperti memastikan cucunya benar-benar nyata. Kakek berdiri di samping mereka, satu tangannya menahan bahu Arman, matanya berkaca-kaca tapi bibirnya berusaha tersenyum tegar.
“Kamu… sudah besar,” kata kakek akhirnya. Suaranya bergetar. “Sudah jadi lelaki.”
Arman mengangguk, lalu terkekeh kecil, tawa yang terdengar rapuh. “Iya, Kek.”
Nenek melepaskan pelukan perlahan. Tangannya masih menahan wajah Arman, mengamatinya lekat-lekat. “Matamu,” katanya lirih. “Masih sama.”
Dia lalu menoleh ke arahku. Pandangan itu membuatku refleks menegakkan badan. Ada rasa gugup yang tiba-tiba menyelinap. Aku tersenyum kecil, menunduk sopan.
Kakek yang lebih dulu bicara. “Ini…?”
Arman menoleh ke arahku. Tangannya terulur, mengajakku mendekat. Aku melangkah, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Istriku,” katanya sederhana, tapi suaranya penuh kebanggaan. “Ayla.”
Nenek memandangku cukup lama. Tatapannya lembut, lalu dia tersenyum hangat, keibuan, membuat dadaku menghangat.
“Kamu yang menemani Xander pulang,” katanya pelan.
Aku mengangguk. “Iya, Nek.”
Tangannya meraih tanganku, menggenggam dengan dua tangan. “Terima kasih,” ucapnya sungguh-sungguh. “Terima kasih sudah membawa dia ke sini.”
Mataku kembali basah. Aku menelan ludah, menahan emosi. “Terima kasih juga… sudah menerima kami.”
Kakek mengangguk setuju. “Masuklah,” katanya. “Sudah lama rumah ini menunggumu."
Kami masuk bersama. Rumah itu sederhana, rapi, dengan aroma kayu tua dan teh hangat. Foto-foto lama berjajar di dinding—wajah Arman kecil, versi yang belum pernah kulihat. Aku berhenti sejenak di depan salah satunya.
“Itu kamu?” tanyaku lirih.
Arman tersenyum kecil. “Iya. Dulu.”
Nenek memperhatikan kami dari kejauhan, lalu berkata, “Dia sering duduk di situ.” Jarinyanya menunjuk sudut ruangan. “Menunggu.”
Kata itu membuat ruangan terasa sunyi sesaat.
Arman menarik napas panjang. Aku tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang menemukan keluarga. Tapi tentang menutup bagian hidup yang lama tertinggal.
Dan aku bersyukur—aku ada di sini. Bersamanya.
Arman menarik napas panjang sebelum melanjutkan. Nada suaranya lebih pelan, tapi tegas.
“Kakek… Nenek… aku baru tahu semuanya belakangan.”
Nenek yang sejak tadi duduk sambil menggenggam sapu tangan menoleh cepat. Wajah kakek mengeras. Dia berdiri pelan, berjalan ke jendela, lalu kembali lagi. Tangannya bertumpu di sandaran kursi.
“Kami dengarnya sepotong-sepotong,” katanya akhirnya. “Setelah Xen ditangkap, kami… memilih mengasingkan diri. Baru kembali ke sini setelah Xen meninggal.”
Nenek mengusap matanya. “Kami kira… semuanya selesai. Ternyata kamu masih hidup.”
Aku melihat Arman menunduk. Rahangnya menegang.
“Zenix,” lanjut kakek, “ngirim foto ayahmu terakhir kali ke sini. Itu sesuai wasiat Xen. Cuma itu kenangan yang kami pegang.”
Nenek menambahkan lirih, “Zenix juga bilang… kamu masih hidup. Tapi dia nggak bisa mendekatimu.”
Kakek mengangguk pelan. “Al penjaminnya.” Dia menatap Arman lama. “Dan itu… bikin aku tenang.”
Aku refleks menahan napas. Nama ayahku disebut. Arman lalu meraih tanganku. Genggamannya hangat.
“Ayla,” katanya, memperkenalkanku dengan suara mantap, “putri Om Al.”
Aku tersenyum sopan, masih sedikit gugup. “Iya, Kek. Nek.”
Kakek dan nenek menatapku bersamaan. Tatapan itu lama, membuatku gelisah.
Dan tiba-tiba—mereka bangkit, mendekat cepat, lalu....
"Eehhhh—"
.
.