Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Pak Suami
"Eehhhh—"
Tanganku terangkat setengah, refleks ingin membalas… tapi tubuhku malah kaku.
Nenek tidak memelukku. Dia justru membungkuk dalam-dalam di depanku.
Aku tersentak. Kakek ikut berdiri, lalu membungkuk, lebih pelan tapi penuh wibawa.
“Kamu…” suara nenek bergetar, masih menunduk. “Kamu anaknya Al…”
Aku menelan ludah. Dadaku terasa sesak. Mataku panas, tapi yang paling membuatku gugup adalah perlakuan ini. Terlalu terhormat untukku yang bukan sesiapa.
“Berarti,” lanjut kakek pelan, “kalian memang dipertemukan.”
Aku refleks ikut membungkuk, kikuk, setengah panik. “Nek—Kek—saya…”
Nenek lalu mendekat, tidak memeluk, hanya memegang kedua lenganku lembut. Tatapannya hangat, berkaca-kaca.
“Terima kasih,” katanya tulus. “Sudah menemani cucu kami pulang.”
Air mataku jatuh juga. “Saya yang… berterima kasih,” jawabku terbata. “Sudah menerima saya.”
Aku menoleh ke Arman. Dia tersenyum, matanya basah. “Itu,” katanya pelan di telingaku, “cara bilang terima kasih khas Jepang.”
“Oh…” aku mengangguk kecil. Masih belum terbiasa.
Setelah suasana sedikit cair, kami diajak ke kebun belakang.
Kakek menunjukkan tanaman satu per satu. Nenek memetikkan sayur, lalu menyodorkannya ke tanganku. Aku membantu sebisanya, meski lebih sering bingung.
Arman tampak santai. Kami lalu masuk ke dalam. Nenek menuangkan teh. Caranya berbeda. Gerakannya pelan, hampir tanpa suara.
Aku memperhatikan. Arman juga menuang teh… dengan cara yang sama. Aku menatapnya lama.
“Mas,” bisikku. “Sama kayak Mas?”
Dia melirikku, tersenyum kecil. “Kebiasaan.”
Aku mendadak sadar. Wajah Arman jika diperhatikan ada khas orang Jepang di matanya, meski terlihat luwes layaknya orang Jawa.
“Jadi,” gumamku, “aku nikah sama bule Asia?”
Arman nyengir. “Kurang lebih.”
Hari ini kami menginap di sana. Kamar Arman saat kecil, sederhana. Tatami. Rumah kayu, dinding dilapis kertas sehingga setiap langkah terasa menggema.
Aku duduk di tepi futon, menatap sekeliling. Arman mendekat, duduk di sampingku.
“Dek,” katanya pelan, agak jahil. “Kalau… bercocok tanam di sini, kedengeran nggak ya?”
Aku langsung mencubit pahanya. “Yang bikin gempa lokal itu siapa dah?”
Dia meringis, lalu tertawa tertahan. “Bener juga.”
Aku melirik ke pintu. “Ini rumah kayu jaman dulu ya, Mas. Bisik aja keknya bisa kedengeran.”
“Makanya,” katanya sambil mencondongkan tubuh. “Aku penasaran.”
Aku mendengus. “Pantes mereka jarang berkembang biak ya, makanya negaranya sepi penduduk,” aku terkekeh sendiri.
“Ya nggak gitu juga,” jawab Arman cepat. “Kan ada caranya.”
Aku menoleh. Tatapan Arman berubah. Sorot mata yang akhir-akhir ini perlahan kupahami bahwa dia menginginkanku.
Aku diam beberapa detik. Lalu tersenyum kecil. “Berisik atau nggak,” kataku pelan, “kita cari tahu pelan-pelan.”
Arman mendekat. Sangat pelan. Seolah menyesuaikan diri dengan rumah kayu yang mendengar segalanya.
Keesokan pagi, kami terbangun bukan karena suara alarm, tapi dengan cahaya tipis yang merayap lewat celah pintu geser. Udara dingin menyelinap, membuatku sedikit menggeliat. Aku terbangun lebih dulu.
Arman masih tidur di sampingku, telentang, satu lengannya masih menjadi bantalku. Wajahnya terlihat berbeda di cahaya pagi—lebih tenang meski rambutnya sedikit acak akibat ulahku semalam, tapi napasnya teratur. Aku memperhatikannya lama.
Rumah ini sunyi sampai aku bisa mendengar langkah pelan di kejauhan. Mungkin nenek. Mungkin kakek.
Aku bergerak hati-hati, berusaha bangun tanpa suara. Tapi begitu punggungku menjauh beberapa senti—
“Sayaaaang,” suara Arman serak, setengah sadar, menarikku dalam dekapannya. “sini.”
Aku menutup mulut, menahan tawa karena geli. “Mas.”
Dia membuka mata, menoleh. Senyumnya muncul pelan. Tangannya menarik selimut sampai bahuku. “Masih pagi,” katanya lirih. “Di sini… waktu jalan pelan.”
Aku mengangguk. Kepalaku bersandar di lengannya lagi. Tatami dingin di bawah kami, tapi tubuh kami hangat.
“Mas nggak nyangka ya?” tanyaku pelan.
“Apanya?”
"Aku bisa kan."
Dia diam sebentar, lalu berkata, “Kamu cocok di sini.”
Aku mendongak. “Hah?”
“Iya,” katanya. “Nggak berisik.”
Aku mencubit lengannya pelan.
Arman terkekeh, tapi langsung menahan diri. “Ssst. Tapi, Dek...”
"Apa?"
"Kok aku lebih suka kamu yang biasanya. Seksi gitu, memacu semangatku," bisiknya.
Kami saling pandang, lalu sama-sama menutup mulut, menahan tawa seperti anak kecil yang takut ketahuan.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan halus di pintu.
“Xander,” suara nenek lembut dari luar. “Sarapan.”
Arman menjawab dalam bahasa Jepang, lancar. Aku hanya bisa melongo mendengarnya.
Kami bangun, beres-beres dengan gerakan nyaris tanpa suara. Saat pintu dibuka, aroma nasi hangat dan sup ringan menyambut. Aku membungkuk lagi, masih kikuk.
Nenek tersenyum. “Pelan-pelan saja,” katanya. “Anggap seperti rumahmu di sini.”
Di meja makan rendah, kami duduk berhadapan. Kakek menuangkan teh. Arman otomatis memegang cangkir dengan dua tangan. Aku menirunya. Arman melirik, bangga.
Setelah sarapan, kami kembali ke kebun. Matahari mulai hangat. Aku membantu nenek merapikan tanaman. Tanganku kotor tanah, tapi hatiku bahagia.
Arman berdiri sedikit jauh, berbincang dengan kakeknya. Sesekali dia menoleh ke arahku. Tatapan itu… tenang. Seolah memastikan aku baik-baik saja.
Perjalanan ini bukan cuma soal Jepang, atau nenek dan kakek. Bukan juga tentang masa lalu Arman yang akhirnya pulang. Ini tentang aku—yang ikut pulang bersamanya.
Siang itu kami keluar berdua. Bukan jalan jauh, hanya menyusuri jalan kecil di belakang rumah kakek-nenek. Jalan setapak dari batu, pagar kayu rendah, dan pohon-pohon yang belum sepenuhnya rimbun bunga.
Di ujung jalan, ada beberapa pohon sakura. Tidak sedang mekar penuh. Tapi kelopaknya sudah mulai jatuh satu-satu.
Aku berjalan di samping Arman. Tanganku masuk ke saku jaketnya. Dia membiarkanku, malah sedikit mendekat.
“Ini tempat aku sering main dulu," katanya santai. “Kadang cuma duduk. Kadang dimarahin karena naik pohon.”
Aku tersenyum membayangkannya. Angin bertiup pelan. Beberapa kelopak sakura jatuh, melayang lambat, lalu mendarat di kepalaku.
Arman berhenti. “Bentar.”
Dia mengambil kelopak itu dari kepalaku, pelan sekali. Seolah takut aku alergi serbuk sari, konon katanya bisa mendadak bersin-bersin jika terlalu sering terpapar sakura.
Aku menatapnya. Wajahnya terlihat beda di bawah cahaya siang Jepang. Aku menelan ludah. “Mas,” panggilku.
“Hm?”
Aku maju setengah langkah, berdiri tepat di depannya. Angin kembali bertiup, membawa kelopak lain jatuh di antara kami.
Aku tidak tahu kenapa kata-kata ini keluar begitu saja. “Love you,” kataku pelan. “Suamiku.”
Arman terdiam, menatapku lalu dia tersenyum. Tangannya naik, menggenggam tanganku dengan dua tangan.
“Love you, Sayang,” katanya lirih. “and... makasih.”
Dia tidak langsung menciumku. Hanya menempelkan kening ke keningku. Lama. Kelopak sakura jatuh di bahu kami.
“Sudah menerimaku,” katanya pelan. “Dan sayang sama aku.”
Aku mengangguk, menahan senyum yang hampir pecah jadi tangis bahagia. Kami berdiri di sana sebentar lagi.
"Makasih sudah sabar ngadepin istrimu ini," balasku memberanikan diri memulai mendekat dan melabuhkan kecupan kecil di bibirnya.
.
.