Dua Hati Satu Cinta

Dilema

Perempuan itu menatap sinis pada Amira. Lalu, tanpa diminta, ia melangkah mendekati Arman dan meraih tangannya. 

"Jangan kau rendahkan harga dirimu di depan wanita ini, Arman!" 

Dada Amira semakin sesak melihat wanita ini datang. Tanpa malu lagi, ia sudah berani masuk ke keluarga ini terang-terangan. Sementara Arman membeku di tempat. Wajahnya pias melihat kehadiran mantan tunangannya dalam kondisi seperti ini. 

Keluarganya sedang memanas, tapi perempuan ini malah menambah api yang semakin membakar. Entah, dari mana ia tahu kalau Arman ada di sini. Atau mungkin perempuan ini sengaja mau meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi semalam dengan mendesak orang tuanya. 

"Melly, kenapa kamu kemari?" tanya Arman dengan suara bergetar. Nyalinya ciut seketika. Tak bisa membayangkan prahara besar yang akan terjadi setelah ini. 

"Aku kemari untuk menaikkan derajatmu, Sayang. Tak perlu minta maaf pada perempuan tak tahu diri ini. Lebih baik ceraikan dia, dan kita bisa hidup bahagia berdua," ucap wanita yang menjadi sumber masalah itu penuh percaya diri. 

Kepalanya mendongak dengan dada membusung. Seolah menggambarkan bahwa dia lebih tinggi derajatnya dibanding Amira. Dia hanya tak tahu saja kalau perbuatannya ini justru menunjukkan kerendahan martabatnya sebagai perempuan. 

Merebut suami orang dengan cara rendahan. Namun itulah dia, Melly Astuti. Perempuan bebas yang tak kenal agama sama sekali. Baginya cinta adalah segalanya. Demi cinta pula ia menghalalkan segala cara. Bahkan rela merendahkan harga dirinya dengan mengikuti langkah syetan melalui jebakan murahan.

"Kamu yang tak tahu diri. Sudah mempermalukan keluarga kami dan kini dengan seenaknya merusak rumah tangga putraku!"

Mama Endah berdiri setelah mengucapkan hal itu. Kini emosinya mulai terpancing. Belum kering luka yang ditorehkan putranya akibat foto-foto bersama perempuan ini, dengan tanpa malu justru wanita ini datang dan mengacaukan semuanya. 

Andai membunuh tidak berdosa, Mama Endah ingin sekali mencekik wanita tak bermoral itu agar berhenti mengganggu putranya. Dari awal hubungan mereka, Mama Endah sudah tidak setuju. Namun karena Arman begitu gigih memperjuangkan cintanya akhirnya ia luluh juga. Namun, saat dirinya dan suami bisa menerima perempuan itu, justru mencoreng keluarganya dengan kabur menjelang hari pernikahan. 

"Woo ... santai, Tante. Kalau soal itu aku bisa jelaskan. Lagipula, Amira hanya perempuan pengganti. Delapan tahun sudah cukup dia menduduki tempatku. Dan sekarang aku akn merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Apa aku salah, Tante?" 

Mama Endah benar-benar sudah muak dengan kelakuan Melly. Begitupun dengan suaminya. Namun masalah ini harus segera diselesaikan. Kalau tidak, menantu kesayangannya akan suka rela mundur dan meninggalkan putra kesayangannya. 

Tentu saja Mama Endah nggak akan pernah setuju. Seujung kuku pun ia tak akan rela Arman menikahi perempuan tak ada akhlak itu. Sangat jauh jika dibandingkan dengan menantunya. Perempuan yang selalu menjaga kehormatannya. Menutup auratnya dari pandangan laki-laki asing. Sementara perempuan di hadapannya ini, adalah penganut kebebasan. Tubuhnya diumbar diumbar dengan menggunakan pakaian kurang bahan. Wajahnya dipoles dengan berlebihan. Padahal seorang perempuan muslim, seharusnya tidak tabaruj ketika keluar rumah. 

Apalagi sampai berani tidur dengan laki-laki yang bukan haknya. Jelas itu susah dosa besar. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan keyakinannya. 

"Melly! Kuingatkan padamu sekali lagi, jangan pernah coba-coba mengganggu rumah tangga putraku. Atau kamu akan menyesal selamanya!" 

"Aw, takut," ucap Melly dengan gaya yang dibuat-buat. "Tante pikir saya anak kecil yang takut dengan ancaman?"

"Melly, cukup! Yang sopan sama Mama! Lebih baik kamu pulang sekarang!" 

Setelah lama bungkam dan hanya menyaksikan perdebatan antara dua wanita itu, akhirnya suara Arman bisa keluar juga. 

"Kamu membentakku, Mas? Apa kamu lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan semalam?" 

Wanita itu pura-pura sedih. Tingkahnya sungguh menjijikkan. Amira yang sudah tak tahan dengan drama ini, memilih untuk bangkit dan hendak meninggalkan tempat itu. Tak ada gunanya berdebat dengan perempuan yang cara berpikirnya dipenuhi dengan nafsu. Lebih baik iaendinginkan pikiran dan meminta petunjuk pada-Nya. 

Namun, baru dua langkah ia berjalan, Mama Endah sudah menghadangnya. Tububnya yang masih ringkih ditubruk dan didekap erat-erat. Seolah tak rela melepaskan wanita shalehah itu pergi dari pandangannya. 

Begitupun dengan Arman yang entah sejak kapan sudah menggenggam tangannya agar tak pergi. Menyaksikan hal itu, Mally semaakin mengerucutkan bibirnya. Kedua tangannya mengepal erat dengan tatapan tajam tertuju pada Amira. 

"Tolong, jangan pergi. Kita selesaikan masalah ini dulu, Sayang. Tolong, jangan tinggalkan aku," mohon Arman dengan suara bergetar. 

Dadanya nyeri menyaksikan orang yang dicintainya sakit akibat ulahnya. 

"Arman, kamu apa-apaan, sih? Kenapa kamu masih merendahkan dirimu di hadapannya? Nanti dia semakin besar kepala tahu nggak?"

Melly menarik tangan Arman tiba-tiba hingga membuat Arman yang tidak siap, terseret ke belakang. Kali ini ia sudah tak tahan lagi dengan tingkah Melly yang sudah sangat keterlaluan. 

"Melly! Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal! Tolong, pulanglah sekarang, jangan membuat keadaan semakin kacau!" bentak Arman membuat perempuan yang dipanggil Melly itu menatapnya terluka. 

Ia berharap Arman membelanya di tengah keluarga yang membenci dirinya. Namun mendapati Arman lebih perhatian pada istrinya, membangunkan egonya. Giginya gemelutuk menahan emosi. Lalu dengan cepat, ia menarik Amira dari pelukan Mama Endah dan mendorongnya ke belakang. 

Karena tak siap, Amira terbentur tembok yang ada di belakangnya. Kepalanya mengenai ujung meja menyebabkan luka. Darah segar merembes memerahkan kerudungnya. Semua yang menyaksikan shock dan hanya terpaku di tempat. Hingga sebuah tamparan mendarat di wajah Amira yang sudah memerah akibat menahan marah. 

"Melly! Keluar dari rumah saya?" teriak Edo menggelegar. Namun tampaknya hal itu nggak berpengaruh sama sekali pada Melly. Perempuan itu menyeringai dengan dada naik turun. 

"Maaf, Om. Aku hanya akan keluar jika Arman sudah bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya."

"Kamu gila? Aku tidak melakukan apapun!"

"Kamu mau ngelak? Apa perlu kutunjukkan pada keluargamu ini tentang yang terjadi semalam?"

"Kamu menjebakku, Mel!"

"Apapun alasannya, kamu tetap harus bertanggung jawab, Ar. Atau foto-foto kita semalam kusebar ke media dan karirmu akan hancur!" 

Arman membeku. Selalu saja seperti ini. Melly menggunakan kelemahannya untuk mengancam. Padahal sedikit lagi bukti-bukti kebohongannya akan terungkap. Dan kini, ada drama baru lagi yang mengancam karirnya. 

Pria yang wajahnya sudah sangat kusut itu meremas rambutnya. Kalau hanya karir saja yang terancam, mungkin dia masih bisa melepaskannya. Namun ada sesuatu yang lebih besar yang harus diselamatkan. Keluarganya terancam. 

Dari hasil penyelidikan detektif sewaannya, Melly sangat licik. Dia tidak bekerja sendiri untuk menghancurkannya. Dan itu yang membuat Arman masih belum bisa mengambil resiko dengan melawan Melly secara langsung. Ia harus menyusun strategi jitu untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, apa yang akan diambilnya, pasti membuat istri dan keluarganya sakit hati. 

"Sebenarnya apa maumu?" tanya Edo geram. 

 

"Mauku Arman menceraikan Amira, sekarang juga." 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!