Early Marriage
Kembali ke Kampus
Menyadari posisi kami yang berbahaya buat jantung dan hati gue, serta merta gue mencoba bangkit. Namun ternyata gue kalah cepat. Pria itu membalik posisi hingga gue berada di bawahnya. Jarak wajah kami tinggal beberapa centi saja hingga deru nafasnya yang beraroma mint begitu terasa. Ini berbahaya, jantung gue bisa lepas jika terus seperti ini. Serta merta gue mencoba melepaskan diri dengan meronta.
"Jangan bergerak kalau kamu nggak mau membangkitkan singa tidur!"
Gue tetap berontak. Berusaha lepas dari situasi yang mmebuat spot jantung ini. Bisa meledak lama-lama jantung gue kalau terus-terusan dalam posisi ini.
"Nadia, apa kamu sengaja memancing saya?"
"Apa?" Napas gue tersengal. Gue langsung bangun dari mimpi aneh itu. Huh, untung cuma mimpi. Habis mandi bergelung dalam selimut membuat mata makin berat. Nggak peduli lagi dengan pria yang masih duduk di sofa itu. Tak tahu apakah setelahnya dia keluar dan menghabiskan malam bersama wanita itu betah berlama-lama di sini.
Jam menunjukkan pukul 4.30. Gue beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan salat subuh sendiri. Dengan semangat, gue segera turun ke lantai satu untuk membuat sarapan. Gue mau berangkat lebih pagi hari ini. Biar bisa segera bertemu dengan teman-teman. Juga ... supaya lepas dari belenggu rumah ini.
"Pagi, Nadia ... buat sarapan ya?" tanya wanita berjilbab maroon itu mendekat ke arah gue. "Saya bisa bantu apa nih?" ucapnya lagi membuat diri ini menoleh. Lalu dengan cuek gue membuat roti bakar dan membuat juz.
Sepanjang mengerjakan hal ini, gue menghiraukan ucapannya yang sok akrab. Emang dia pikir dia siapa? Mau ngambil hati gue biar gue ridlo dengan hubungan mereka? Atau biar gue sibuk sehingga bisa seenaknya berduaan tanpa memperhatikan perasaan gue?
"Nadia, maafin saya kalau keberadaan saya di sini membuatmu tak nyaman." Wanita itu berusaha mencuri perhatian gue lagi. Tangannya terulur untuk membantu menata sarapan yang sudah gue buat. "Kita bisa berteman, kan?" Gue menghentikan aktivitas ini. Menatap matanya sekilas, lalu kembali menuangkan jus yang sudah jadi ke dalam gelas.
"Abang itu sukanya jus lemon kalau pagi," ucapnya lagi. Apa maksudnya memberitahukan kesukaan lelaki itu padaku. Apa dia mau menunjukkan betapa dia tahu segalanya tentang pria kaku itu?
Tiba-tiba perut gue mual mendengar ocehannya yang tak ada jeda. Berkata ini itu tentang lelaki yang gue benci seolah-olah memamerkan sejauh mana hubungan mereka. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut gue. Setelah menata makanan di atas meja, terlihat lelaki yang dibicarakan wanita ini berjalan menuju meja makan. Tatapannya intens memandang kami. Atau mungkin hanya wanita berjilbab lebar ini? Ah, ya. Tentu saja. Mana mungkin dia memandangku kan?
Sebenarnya tak betah berlama-lama duduk bertiga begini. Ini pertama kalinya sejak wanita ini datang gue makan bersama mereka. Perempuan ini begitu cekatan melayani prianya. Sementara gue tetap fokus pada sarapan ini sambil menunduk. Mempercepat makan supaya bisa segwra pergi dari tempat terkutuk ini.
"Semua sarapan ini yang bikin Nadia loh, Bang."
Dari baik bulu mata, gue bisa melihat respon lelaki berhidung mancung itu. Kunyahannya melambat, tatapannya tertuju pada satu titik. Gue. Tapi gue seolah tak melihatnya. Setelah menghabiskan jus pisang campur susu ini, gue langsung berdiri meninggalkan mereka. Bersiap untuk pergi ke kampus yang gue rindukan.
Pukul tujuh, gue berangkat. Tumben dua pasangan itu masih di rumah. Apa mereka tahu kalau gue mau pergi sehingga menghabiskan waktu di rumah? Bodo amat. Yang penting gue hepi.
***
Gue berjalan menyusuri halaman kampus yang sudah dipenuhi mahasiswa. Dari kejauhan terlihat gerombolan Icha dan kawan-kawan menuju kemari. Bibir ini sudah mengembang. Rasanya seperti bertahun nggak ketemu dengan mereka.
Selangkah lagi kami hendak berpelukan, seseorang lebih dulu mengagetkan.
"Nadia, kamu kuliah di sini?" ucap lelaki berkemeja panjang dengan lengan digulung itu. Penampilannya berwibawa. Berbeda saat pertama kali bertemu di pantai waktu ini.
"Rafael? Kok bisa ada di sini?" Lelaki itu tersenyum manis. Sangat manis hingga teman-teman gue melongo. Menatap kagum pada pria di depan kami ini. Icha tampak berbinar. Menatap penuh minat lelaki ini. Sementara Chika, seperti biasa, sifat ganjennya muncul setiap melihat cowok bening. Dasar, kelamaan jomblo. Nggak bisa lihat cowok cakep.
"Saya ngajar di sini."
"Hah, sejak kapan?"
"Sejak haru ini. Oke, Nadia. Saya duluan ya. Jangan lupa janjimu sama mama. Dia udah nungguin di rumah," ucapnya lalu melenggang.
Tatapan ketiga cewek yang sayangnya temen gue ini, tak lepas dari punggung lebar Rafeal. Jengah menyaksikan sikap absurd mereka, gue berjalan menuju kantor TU untuk meminta jadwal.
"Nadia ....! Kok malah ninggalin kita, sih? Dasar teman nggak toleran, Lo," ucap Jeni bersungut-sungut. Bibirnya manyun lima senti.
"Heem," Icha mengangguk. "Lo utang oenjelasan sama kita. Kenapa sih, lo nggak pernah bilang punya kenalan secakep itu, gue kan jadi mupeng." Gue toyor kepala Chika yang lagi kumat ganjennya.
"Heh, Lo pikir Rafael makanan. Lagian belum lama juga kok kami kenal." Gue duduk di kursi depan TU yang masih ramai mahasiswa minta jadwal. Mereka saling berdesakan seperti emak-emak berebut sembako.
"Jangan bohong, Lo. Tadi dia bilang mamanya nungguin Lo, kalian pacaran ya? Oh, ... Gue tahu sekarang. Itu kan, alasan Lo menghilang selama ini? Nggak bisa dihubungi. Nggak pernah menghubungi juga. Iya, kan? Ngaku, Lo!"
"Kok, Lo malah nyolot sih, Jen. Gue nggak seperti itu. Kalian salah paham," ucap gue meyakinkan. Mereka semua kompak merajuk. Saling sikut dan tiba-tiba bungkam.
"Beneran, gue baru kenal sama dia. Ketemu juga baru dua kali. Eh, tiga kali ini." Mereka masih tetap diam. "Cuma emang ada sedikit kesalahpahaman. Kapan-kapan gue ceritain deh." Gue mencoba bernegosiasi dengan tiga sahabat gue ini.
Diam. Mereka masih diam. Tak ada respon sedikit pun. Gue menghembuskan napas kasar. Nggak tahu lagi harus ngomong apa. Padahal hari ini, adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Tapi gara-gara Rafael, semuanya jadi kacau. Tapi bukan sepenuhnya salah dia juga sih. Hah, capek deh.
Setelah para mahasiswa mulai berkurang, gue masuk ke ruang TU dan meminta jadwal. Empat lembar sekaligus. Satu per satu gue bagikan ke mereka yang masih betah mogok bicara. Bagus. Gue lihat, sampai kapan mereka bertahan.
"Selamat pagi, semua," ucap Pak Dido, dosen statistik yang mengajar kami hari ini. Setelah berbasa-basi, dosen itu menjelaskan mata kuliah hari ini dengan antusias. Dua jam kami melewati mata kuliah ini dengan semangat. Seperti biasa, pak Dido selu menjelaskan dengan gamblang dan mudah dimengerti. Di selingi dengan joke-joke segar yang membuat mata kami selaku terbuka lebar.
Pukul 13, semua mata kuliah telah kami lewati. Dengan perasaan malas, gue berjalan menuju taman. Rasanya masih belum ingin pulang. Membayangkan bertemu dengan dua pasangan itu membuat mood gue yang mulai menanjak kembali terjun bebas.
Sebuah novel sudah berada di tangan. Perlahan membukanya dan larut dalam cerita itu. Lalu lalang calon mahasiswa baru tak gue hiraukan. Lembar demi lembar gue lahap tanpa terlewat.
"Nad, maafin kita ya?" Tiba-tiba tiga jomblowati itu datang mengusik ketenangan gue. "Kami memang egois," ucap Icha sambil meremat tangannya. Mungkin gugup, eh.
"Iya, Nad. Maafin kita, ya?" Gue menghembuskan napas perlahan. Menutup novel dan mengembalikannya ke dalam tas. Lalu kami saling berpelukan seperti teletubies. Menumpahkan rasa haru bercampur rindu menjadi satu.
"Lo, lagi ada masalah ya? Nggak biasanya seperti ini," tanya Jeni setelah kami melepaskan pelukan. Seketika air mata ini luruh tanpa bisa dibendung. Tangis gue pecah. Membuat ketiga sahabat gue ini saling pandang dan menatap iba.
"Sebenarnya ada apa, sih Nad? Maafin kita ya, kalau ada salah."
Gue menggeleng. "Bukan salah kalian. Gu--Gue, lagi sedih. Gue sudah nggak kuat menghadapi semua ini." Lagi, kami berpelukan. Cukup lama air mata ini terkuras. Getar HP gue yang beruntun, membuyarkan adegan peluk-pelukan ini.
Dengan enggan, gue membukanya. Mata ini membulat membaca pesan wa dari bang Rizal. Benda pipih ini jatuh dari tangan gue yang gemetar.