Early Marriage
Drama Menyakitkan
"Ada apa, Nad? Siapa yang telepon?" tanya Icha ikutan panik. Gue hanya bergeming dengan tatapan kosong.
"Nad," panggil Chika menyadarkan gue.
"Mami, mami gue masuk rumah sakit," lirih gue. Air mata sudah luruh tanpa diminta. Bayangan mami tergolek di ranjang rumah sakit berputar-putar di kepala.
"Tenang, Nad. Jangan panik, oke? Sekarang tenangkan diri Lo, kita ke rumah sakit sama-sama."
Gue hanya bisa mengangguk dan pasrah ketika teman-teman membawa gue ke zebuah mobil di parkiran. Lalu mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
Gue berlari menyusuri koridor rumah sakit sambil telepon bang Rizal. Menanyakan letak kamar rawat mami. Kaki ini berhenti tepat di depan pintu kamar yang disebutkan bang Rizal. Sebelum masuk, gue mengintip dari jendela. Mami terbaring di sana dengan bang Rizal dan papi di sampingnya.
"Mi," Gue melangkah perlahan. Hati ini rasanya seperti tercabik-cabik melihat perempuan yang telah melahirkan gue ke dunia ini terbaring dengan mata terpejam. Selang infus menacap pada lengan kirinya.
"Mi, Ok ini Nadia, Mi," ucap gue di samping telingnya. Perempuan yang gue panggil mami itu membuka mata perlahan. Tangannya terulur mengelus pipi gue yang basah.
"Mana suamimu, Sayang?" Netra mami memindai ruangan. Menacari sosok menantu kesayangan. Andai mami tahu kelakuan menatu yang dibanggakan itu, apa mami masih satang padanya? Hati ini kembali teriris. Setiap kali mengingat sikap lelaki itu, rasanya sakit sekali.
"Nadia dari kampus, Mi. Jadi Nadia ke sini sendiri."
"Apa kalian sedang bertengkar?" Lagi, naluri mami selalu tajam. Tebakannya tepat sasaran. Apa begitu jelas tergambar pada wajah ini hingga orang yang paling gue sayangi ini bisa membaca apa yang terjadi pada kami?
Gue menggeleng-geleng. "Kami baik-baik saja, Mi. Mami harus cepat sembuh. Ya, Mi," ucap gue memohon. Berkali-kali gue cium tangannya yang berlumur kasih sayang.
Bang Rizal dan papi hanya diam menyaksikan drama ini. Cukup lama gue larut dalam keharuan yang menyeruak. Rasa rindu yang selama ini terpendam, akhirnya terobati. Kebencian pada mami akibat perjodohan itu, telah lama pergi.
"Sayang, kalau ada masalah dengan suami, bicarakan baik-baik. Karena sekarang kamu menjadi tanggung jawabnya. Surgamu ada pada ridlonya. Mami nggak mau, anak mami yang cantik ini menjadi istri durhaka." Tangan kiri mami mengelus puncak kepala gue. Nasehatnya mengingatkan gue atas semua kelakuan bang Alfin. Juga sikap gue yang acuh padanya.
Batin gue berkecamuk. Sakit hati, kesal, kecewa, dan berbagai rasa menyatu. Bayangan dia bersama wanita hijaber itu terus menari-nari di pelupuk mata. Ah, kenapa selalu sesakit ini tiap kali mengingatnya? Bahkan hingga sekarang, bang Alfin tak ada usaha untuk memperbaiki hubungan yang mulai tak sehat ini.
"Sayang, katakan sama mami, ada apa?" Mami menjauhkan kepala gue darinya. Tatapannya jatuh pada manik gue. Ia mencoba menyelidik, mencari kebohongan di sana. Tentu saja gue tak mampu menyembunyikannya. Untuk menghindari hal itu, gue menegakkan tubuh dan duduk di kursi sebelah bang Rizal. Mencoba mengalihkan dengan memijit tangannya.
"Nggak ada apa-apa, Mi. Suer!" Gue mengacungkan dua jari ke udara. Kebiasaan untuk meyakinkannya. Gue pasang senyum sepebar mungkin untuk menutupi kegalauan yang melanda. Namun tatapan mami masih belum beralih. Seolah menunggu jawaban gue yang sebenarnya. Ah, itulah mami. Nggak mudah percaya begitu saja.
Suara pintu terbuka. Derap langkah terdengar mendekat. Spontan kami mengalihkan fokus ke sumber suara. Dia, lelaki yang menyandang status suami gue datang bersama wanita itu. Apa? Bahkan dia sudah berani terang-terangan menunjukkan pada mami yang jelas-jelas lagi sakit? Benar-benar kurang waras tuh orang. Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa sama mami, gue bersumpah nggak akan memaafkannya.
Raut wajah ini pasti sudah berubah. Ingin rasanya berlari keluar agar tak bertemu pasangan ini. Tapi kaki rasanya seperti terhunjam ke bumi. Mata ini tak mau beradu pandang dengannya. Ada panas yang membakar dada. Hingga rasanya seperti ingin meledak. Tanpa sadar, kedua tangan ini sudah mengepal sempurna, memerlihatkan buku-buku yang memutih. Rahang ini pun mengeras. Sekuat tenaga gue menekan amarah ini agar tak meledak di sini.
Mungkin di rumah, gue bisa menghindar. Tapi di sini, semua pasang mata akan melihat.
"Menantu mami, apa kabarnya, Nak?" ucap mami semringah. Lelaki itu mencium tangan papi lalu mami. Apa mami tak lihat bersama siapa ia datang? Ah, mungkin karena fokus mami hanya padanya, sehingga tak menyadari ada wanita lain yang datang padanya.
Gue menggeser tubuh. Memberinya akses untuk bisa mendekati mami. Perlahan gue mundur, menjauh dari mereka dan berlindung di belakang bang Rizal. Sungguh gue tak sanggup menyaksikan adegan selanjutnya ketika mami melihat perempuan itu. Dada ini sudah berdebar-debar menunggu reaksi mami. Yaa Allah kuatkan jantung mami.
"Loh, sayang kamu juga datang, Nak? Kapan sampai Indonesia?"
Mata gue membola menyaksikan hal itu. Mami tidak marah. Bahkan mami mengenalnya. Jadi lagi-lagi gue yang nggak tahu apa-apa di sini? Air mata ini luruh tanpa disuruh. Batin makin bergemuruh melihat dua wanita beda usia itu berpelukan dan saling melempar senyum.
Permainan apa sebenarnya yang mereka lakonkan? Kenapa gue seperti orang bodoh yang hanya bisa menangisi nasib ini. Tanpa sadar gue mencengkeram pinggang bang Rizal. Meremasnya kuat untuk menahan gejolak yang menggila.
"Kamu kenapa sih, Nad? Sakit loh." ucap bang Rizal mengalihkan fokus semua orang. Mereka menatap heran melihat gue yang bersembunyi di balik punggung abang.
"Nadia, sayang ... kemari, Nak. Ini ada suami datang kok malah sembunyi. Sini, salim dulu." Mami ini benar-benar nggak peka atau gimana? Sudah tahu menantunya datang bersama perempuan lain, malah ... ah, rasanya ingin menjerit sekuat tenaga agar beban di hati ini sirna. Sayang ini di rumah sakit.
Dari balik punggung abang, gue lihat pria itu menyorot tajam ke arah gue. Seperti ada kemarahan terpendam di sana. Bodo amat. Emang gue peduli? Harusnya gue yang marah kan? Siapa coba perempuan yang mau dimadu di usia belia? Dan yang lebih menyakitkan, semua keluarga mendukungnya.
"Nadia!"sekali lagi mami memanggil. Gue hanya bisa menggeleng. Tak mau mendekat padanya. Biarkan saja mai tahu sekalian jika rimah tangga kami memang bermasalah. Toh mereka justru sudah mengetahui sebelum Nadia.
"Kamu kenapa, Nak? Suamimu datang, bukannya disambut malah sembunyi di situ? Dan ini Nak Aisyah juga ikut kemari. Kalian sudah berteman, kan?"
Hah, berteman? Apa mami sudah gila? Gue berteman dengan perempuan yang membuat gue menderita? Big no!
Nggak tahan dengan sandiwara ini, gue melangkah mundur. Lalu berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Bersandar pada tembok di balik pintu dengan tangan menekan dada. Sesak. Rasanya sungguh sesak. Ketiga teman gue yang masih menunggu, bangkit mendekati gue.
"Nadia, ada apa, Nad? Kenapa mami, Lo?"
Icha memeluk gue yang menangis dalam diam. Begitupun Chika dan Jeni. Kami berpelukan seperti teletubies. Tak peduli dengan lalu lalang manusia yang menyaksikan kami.
"Nadia, kita perlu bicara!" ucap pria itu mengalihkan perhatian teman-teman. Pria itu yang bermain api. Sayangnya gue yang terbakar. Kami melepaskan pelukan. Dan bangkit tanpa aba-aba.
"Untuk apa? Mau ngetawain gue yang cengeng ini? Kenapa tidak kau urus saja perempuan itu?" ucap gue emosi. Tapi sebisa mungkin memelankan suara agar tidak terdengar sampai ke dalam.
Pria itu maju. "Stop! Jangan mendekat!" Gue melangkah mundur. Pria itu tersenyum. Gila, apa dia begitu bahagia melihat gue menderita?
"Ayo, kita bicarakan baik-baik. Kita selesaikan masalah ini, Nadia."
"Tidak!"
"Nadia!"
"Tidak, selama abang masih dengan perempuan itu!" Teriak gue tertahan. Dia tersenyum lebar.