Early Marriage
Pertengkaran
"Nadia, kamu dengar aku?" Lelaki itu sudah berada di samping gue. "Kita harus bicara," ucapnya, lalu membalikkan badan meninggalkan gue yang termangu.
Dengan berat hati, gue melangkah mendekati mereka. Sesaat gue memindai tempat duduk untuk memilih dimana harusnya gue menempatkan diri. Akhirnya pilihan jatuh di sebuah kursi single di depan dua sejoli ini.
"Ada apa?" tanya gue nggak sabar. Rasanya ingin lari menjauh melihat mereka berdua.
"Nadia, kita nggak bisa seperti ini terus, kan?" Lelaki itu menatap lurus ke arah gue.
"Iya, terus?"
"Apa kamu nggak ingin rumah tangga kita yang baru seumur jagung ini berjalan normal layaknya rumah tangga lainnya?"
"Abang nggak salah bertanya begitu ke gue? Bukannya Abang yang membuat rumah tangga kita jadi nggak normal begini?"
Tiba-tiba emosi gue meledak. Apa dia nggak ngaca, siapa yang membuat pernikahan kita seperti ini. Dia kan? Kalau saja dia mau jujur dari awal, nggak mungkin kan hubungan kita semakin berjarak begini? Apalagi dengan kehadiran perempuan itu.
"Nadia, ... maaf jika selama ini Abang kurang perhatian sama Kamu. Abang cuma ingin memberi kamu kebebasan. Abang nggak mau mengekangmu. Bukankah dulu kamu sendiri yang memintanya?" Pria di hadapan gue ini mencondongkan tubuhnya, sehingga jarak kami yang terpisah meja makin dekat.
"Dengan membawa wanita lain ke rumah ini?"
"Nadia, kamu salah paham. Dia ini--"
"Salah paham? Jadi kalau gue merasa muak melihat kedekatan kalian itu salah paham? Kalau gue merasa terabaikan itu salah paham? Kalau gue merasa tak dianggap itu juga salah paham?" teriak gue. Napas ini sudah megap-megap. Emosi yang berusaha gue tahan, langsung menyembur layaknya lahar panas gunung Merapi yang sedang erupsi.
"Bukan gitu, Nadia. Aisyah nggak mungkin pulang ke rumah karena di rumah nggak ada siapa-siapa." Dia mengacak rambutnya yang mulai memanjang. Ekor matanya melirik perempuan yang menjadi pokok bahasan saat ini.
"Terus, abang lebih memilih memperhatikan dia karena dia ngak ada siapa-siapa dan mengabaikan gue sebagai istri, gitu?"
"Bu--bukan begitu, tapi ..." Ia menggantung kalimatnya. Terlihat sekali ia mencoba menekan emosi. Biarkan saja kalau dia mau marah. Sekalian saja biar gue pulang ke rumah mami. Toh di sini keberadaan gue nggak pernah dianggap.
"Sudah, bang. Gue tahu sekarang, dimana posisi gue di hati abang. Gue hanya istri yang tak diinginkan. Abang mau dijodohin sama gue karena ingin membahagiakan orang tua, kan?"
Gue bangkit dan melangkah pergi.
"Nadia! Kamu salah paham. Kita bisa bicarain ini baik-baik tanpa emosi, kan?" Gue menghentikan langkah. Menarik napas panjang, lalu berbalik.
”Nadia butuh waktu sendiri, maaf," ucap gue lirih. Lalu dengan langkah lebar, gue menuju ke kamar. Menenggelamkan diri di atas kasur dengan posisi tengkurap. Entah apa yang gue tangisi sekarang. Harusnya gue senang kalau gue bisa lepas darinya. Apalagi sekarang gue sudah punya alasan untuk bisa melepaskan ikatan pernikahan ini, kan?"
Setelah merenungi nasib pernikahan ini, gue memutuskan untuk pergi saja sementara waktu. Siapa tahu dengan kepergian gue, pria itu bisa menyadari kesalahannya dan meminta maaf.
Satu per satu anak tangga gue pijak dengan gontai. Tak ada semangat. Mata gue menyusuri semua sudut ruangan ini. Ada banyak kenangan meski belum lama tinggal di sini. Ya Allah, haruskah pernikahan gue berakhir seperti ini?
Gue terus berjalan melewati bang Alfin yang menunduk di depan meja. Di sebelahnya, seorang wanita mencoba menghibur. Tangannya mengelus pundak pria itu. Seketika dada ini berdenyut nyeri melihatnya. Tanpa pamit, gue mempercepat langkah ini supaya tak lagi menyaksikan kemesraan itu.
"Nadia!" Suara lembut wanita memasuki rungu gue. Langkah ini terus melaju tanpa menghiraukan suara itu. Namun tiba-tiba wanita yang membuat gue sakit hati ini mencegat langkah gue.
"Nadia, tolong jangan pergi. Biar saya saja yang pergi. Kamu yang berhak tinggal di rumah ini," ucapnya lembut dengan tatapan mengiba. Namun hati gue tak sedikit pun terenyuh. Gue semakin muak dengan sandiwara ini.
"Kenapa? Kenapa gue yang lebih berhak? Bukankah hak kita sama?" ucap gue sinis. Dia menggeleng. Air matanya sudah meleleh membasahi wajah mulusnya.
"Nggak, Nadia! Kamu lebih berhak karena kamu istri abang," lirihnya. Lah emang iya. Baru tahu dia? Gue benar-benar nggak habis pikir dengan wanita ini. Kita kan sama-sama istrinya, kenapa gue yang lebih berhak?
"Bukankah kita sama?"
"Tidak Nadia, kamu salah paham," ucapnya lagi. Wanita cantik yang juga sangat lembut ini mencoba meraih jemari gue. Namun secepat mungkin gue menghindar.
"Oh, gitu? Sorry ya, gue nggak ada waktu untuk meladeni omongan Lo. Minggir! Gue mau lewat!"
***
Sudah tiga hari gue tinggal di rumah mami. Kemarin, mami sudah dibawa pulang dari rumah sakit. Awalnya mami percaya jika keberadaan gue di sini untuk menyambut kepulangannya. Namun lama-lama ia curiga karena sering melihat gue uring-uringan sendiri. Gue menjalani hari-hari dengan lesu dan gak bersemangat. Pagi berangkat kuliah, sore pulang, lalu mengurung diri di kamar. Seperti itu saja yang gue lakukan selama tiga hari ini.
Suara ketukan pintu membangunkan gue yang larut dalam lamunan. Dengan langkah gontai, membuka pintu dan mendapati mami yang sudah berdiri di depan kamar gue.
"Ada apa, Mi?" tanya gue lesu.
"Waktunya makan malam, Sayang. Yuk kita makan bersama. Bang Rizal bawa sop buntut kesukaanmu tuh!"
Jika hari-hari biasanya, gue akan langsung lari dan melahap habis makanan berkuah itu. Namun sekarang, gairah hidup gue telah meredup bersama perginya penghuni hati yang entah sejak kapan dia hadir. Yah, sepertinya gue telah jatuh dalam pesona seseorang yang sayangnya telah menyakiti terlalu dalam.
Gue mengekor mami dengan menundukkan kepala. Duduk di kursi favorit di samping bang Rizal. Awalnya gue makan dalam diam. Menikmati makanan kesukaan yang rasanya menjadi hambar.
"Mau nambah lagi?" Jantung ini berdegub kencang mendengar suara yang mulai gue rindukan. Ah, ada apa dengan gue? Kenapa gue bisa berpikir dia ada disini?
"Nadia, mau nambah lagi?" Kepala gue perlahan menoleh ke samping. Dada ini bergemuruh. Tiba-tiba darah seperti berhenti mengalir. Dia? Benarkah ini dia? Gue menggeleng tak percaya. Mengucek mata ini untuk memastikan bahwa yang bicara ini bukan dia.
"Kenapa, lupa sama wajah suami?" bisiknya membuat gue langsung sadar bahwa ini bukan halu. Ini nyata. Pria ini ada di sini. Aduh, gimana ini? Gue blingsatan tak jelas. Mencoba menetralkan degup jantung yang berdentam-dentam dengan meneguk segelas air putih. Bersamaan dengan itu, acara makan malam selesai.
Semua penghuni rumah digiring menuju ruang keluarga. Tak terkecuali pria yang beberapa hari ini menjajah otak gue. Kami duduk di sofa yang bentuknya setengah lingkaran dengan papi dan mami di sebelah kanan, bang rizal dan lelaki itu di kiri. Dan gue tepat berada di tengah.
"Nadia, sekarang katakan pada papi, ada masalah apa sebenarnya dengan kalian, kenapa kamu disini berhari-hari?" ucap papi membuka obrolan. Suasana yang sempat tegang kini mulai sedikit mencair.
"Tanyakan saja sama menantu kesayangan papi ini," ucap gue cuek.
"Maaf, Pi, Mi, Bang, sebenarnya kami ada sedikit kesalahpahaman saja. Tapi Nadia memilih ke sini sebelum masalahnya selesai." Pria itu mejawab tanpa ragu. Seolah tidak ada raaa bersalah sedikit pun atas apa yang sudah ia lakukan.
"Emang masalah apa? Apa kami perlu tahu?"
"Nggak papa, Pi. Sebenarnya soal kecil. Ini menyangkut Aisyah," sambung bang Alfin ringan. Apa-apaan dia membahas wanita lain di keluarga gue. Benar-benar menantang maut pria ini. Tak tahukah dia kalau keluarga gue ini anti Penghianatan? Dia malah membawa masalah ini ke sini. Cari mati dia rupanya.
Semua orang yang ada di sini tertawa mendengar nama Aisyah disebut. Hanya gue yang bengong menyaksikan hal aneh ini. Sebenarnya gue yang sudah gila, atau keluarga gue yang kurang waras?