Early Marriage
Bulan Madu yang Tertunda
Entah kenapa mendengar permintaannya yang sederhana itu, membuat kedua mata gue merebak dan mengaburkan pandangan. Bang Alfin meraih tubuh gue dan mendekap dalam dada bidangnya. Detak jantung kami menyatu. Saling tumpang tindih dengan degub yang begitu keras.
Sebuah gelang emas putih dengan hiasan berupa dua huruf, A dan N yang menyatu, disematkan pada pergelangan tangan ini. "Makasih, Bang," ucap gue dengan mata berbinar.
"Jangan pernah tinggalkan abang lagi, ya?" bisiknya membuat gue tersipu. "Abang nggak sanggup melihatmu, tapi nggak bisa menjangkau."
Gue mengangguk dalam dekapannya. Rasanya seperti mimpi. Tadi siang gue masih nangis-nangis meratapi nasib pernikahan kami yang hampir kandas. Tapi sekarang, kami sudah seperti pengantin baru yang saling bucin. Ah, ternyata seindah ini, mencintai dalam kehalalan.
Mengingat masa-masa awal pernikahan kami yang tidak menyenangkan akibat perjodohan paksa itu membuat gue tersenyum geli.
"Duh, yang lagi fall in love, kita semua kayak nonton live drama," celetuk kak Aisyah menyadarkan kami. Bang Alfin terlihat lucu saat malu-malu seperti ini.
"Sayang, kasihan Abang sama iparmu jadi malu, jangan diledekin terus dong. Yuk, kita tinggalkan mereka berdua. Kali aja mereka mau menikmati malam ini berdua saja di taman ini," ucap mami mertua sambil mengerling ke arah kami. Sontak kami berdua tertawa melihat tingkah mami yang mirip seperti tante-tante nakal, ups.
***
"Yang, hari ini nggak usah kuliah aja, ya? Kita bulan madu ke Lombok."
"What, bu--bulan madu, Bang?" Muka gue langsung memerah mendengar dua kata itu. Pikiran kotor gue langsung berkelana. Namun gue bergidik ngeri saat membayangkan apa saja yang akan dilakukan pasangan saat bulan madu. Hiii ... masa gue harus ngelakuin itu juga, sih? Gue kan masih belum cukup umur.
Bang Alfin menatap gue heran. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh otaknya yang cemerlang. Tapi senyum jahilnya, semakin membuat gue bergidik.
"Iya, Sayang ... semenjak nikah kan, kita belum pernah bulan madu. Jadi kita manfaatin aja tiket pemberian mami semalam, gimana? Sekalian melaksanakan malam pertama kita yang tertunda," ucapnya sambil menaik-turunkan alis. Gue semakin ngeri membayangkan hal-hal aneh yang akan dilakukan jika gue mau.
"Emang mami ngasih tiket? Tiket apa?"
"Tiket pesawat pulang-pergi, voucher nginep gratis di hotel, dan tiket untuk masuk ke lokasi wisata di sana."
Gue menimbang-nimbang. Asik juga kalau bisa jalan-jalan ke sana. Kabarnya di Lombok banyak lokasi wisata yang bagus. Tapi seketika gue ingat tujuan utama ke sana bukan untuk jalan-jalan. Melainkan untuk bulan madu yang tertunda.
Tiba-tiba kepala gue pening. Ah, iya, laki gue kan sudah dewasa. Pasti lah ia menginginkan haknya setelah drama yang kami lalui beberapa minggu ini.
"Lain kali aja ya, Bang? Nadia masih banyak tugas. Lagian Abang kan sibuk ngurus kafe juga," ucap gue beralasan. Sungguh, gue belum siap kalau harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Gue kan masih belum ingin punya baby. Apa kata dunia, kalau tiba-tiba Nadia hamil. Padahal teman-teman sekampus belum pada tahu kalau Nadia sudah nikah. Ah, kenapa jadi rumit begini, sih.
"Kanapa, apa sebenarnya kamu belum bisa menerima Abang sepenuhnya?" Tiba-tiba wajah pria tampan ini berubah sendu. Ada kecewa bergelayut di sana.
"Bu--bukan gitu, Nadia cuma ... cuma--"
"Cuma apa?" desaknya.
"Ah, Nadia malu ngomongnya, Bang." Dia melongo. Mungkin nggak menyangka Nadia yang pecicilan punya malu. "Abang balik badan dulu, deh!"
"Hah? Ngapain?"
"Udah, balik badan aja!" Gue mendorong tubuhnya untuk berbalik memunggungi gue. Setelahnya gue menarik napas panjang untuk menetralkan degub jantung yang tiba-tiba menggila ini. "Nadia takut kalau Abang di sana nanti ngapa-ngapain Nadia," lirih gue.
Lelaki itu langsung berbalik badan. Matanya melotot dengan seringai di wajahnya. Membuat gue spontan beringsut mundur. Namun pria itu semakin merangsek maju, membuat gue terpojok di susut ranjang.
"A--Abang mau apa?" ucap gue gemetar. Keringat dingin sudah membanjiri tubuh ini. Jarak kami semakin menipis. Wajahnya yang tampan dengan jenggot yang tertata rapi, semakin membuat detak jantung gue berdentam-dentam.
"Abang mau makan kamu," bisiknya membuat gue membeku. Namun saat tangan kekar pria itu hendak menyentuh wajah gue, alarm bahaya dalam otak gue berdering. Spontan kaki ini menjejak lututnya yang menumpu pada tempat tidur.
Tentu saja dia langsung terjengkang. Kesempatan ini tak lagi gue sia-siakan. Dengan langkah seribu, langsung berlari menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Gue bersandar di pintu sambil menetralkan dada gue yang berdebar-debar. Entah mengapa berdekatan dengannya membuat gue susah bernapas. Bisa mati muda gue lama-lama hidup dengannya.
Dari luar terdengar pria bersuara merdu itu memanggil nama gue. Ya, suaranya memang merdu saat membaca kalam-Nya.
Setelah beberapa saat, tak lagi terdengar suara pria itu. Perlahan gue membuka pintu dan mengendap-endap menuju ranjang. Gue bernapas lega kala tak ada seorang pun di kamar ini. Dengan santai gue membaringkan tubuh di ranjang. Namun tiba-tiba, sebuah tangan menutup mata gue. Semuanya jadi gelap. Gue tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan suami tercinta gue?
"Apaan sih, Bang?"
"Sstt, ikuti saja kata Abang," bisiknya lirih. Bulu kuduk gue meremang saat merasakan embusan napasnya yang membelai pipi ini. Gue merasa saat ini kami berjalan menuju balkon sebelah kamar kami. Udara pagi ini langsung membuat gue sedikit menggigil. Untungnya gue memakai baju panjang malam tadi. Dan sekarang, waktunya ba'da subuh. Saat di mana udara sedang dingin-dinginnya.
Ya, sampai saat ini gue masih belum mau membuka kerudung di hadapannya. Rasanya masih malu jika ia melihat rambut gue yang selalu tertutup.
"Lama banget sih, Bang. Buka dong, mata Nadia," ucap gue merajuk.
"Oke. Abang hitung ya, satu ... dua ... tiga. Taraaa ..."
"Hah?" Gue speachless melihat apa yang terpampang di depan mata ini. Kapan ia mempersiapkan ini semua? Perasaan semalam kami pulang dari rumah mami sudah larut deh. Kok ini sudah ada beginian di sini?"
"Gimana, suka nggak?"
Gue langsung menubruk tubuhnya. Senyum gue terus mengembang merasakan perubahan sikap bang Alfin yang jadi romantis ini. Apa sikap aslinya memang seperti ini?
"Loh, kok malah nangis, nggak suka ya dengan kejutannya?"
Gue tak mampu menahan air mata haru. Meski bibir tersenyum, namun cairan bening ini turun dengan sendirinya. Bukan tangisan sedih seperti sebelumnya, melainkan tangis haru dan bahagia.
"Suka, Bang. Nadia suka banget. Makasih. Makasih," ucap gue disela isakan tangis. Tubuh kami masih saling berpelukan. Meresapi perasaan masing-masing yang tertunda.
"Duduklah! Kamu bisa menikmati pemandangan indah ini sambil bersantai di sini setiap saat." Ia membimbing gue untuk duduk di sebuah ayunan yang entah sejak kapan sudah ada di sini.
Gue mengedarkan pandangan sekali lagi. Balkon ini sudah disulap sedemikian cantik. Pasti nanti ini akan menjadi tempat favorit gue yang yang kedua. Karena di gazebo taman masih tetap menjadi tempat favorit gue yang pertama.
"Dingin nggak?" tanyanya kemudian.
"Banget."
"Olahraga pagi, yuk biar anget!" ucapnya sambil mengerling.
"Olah raga? Jam segini? Masih gelap, Bang," ucap gue menolak. Gila, jam setengah 5 subuh, udara masih sangat dingin. Dan dia mengajak olah raga? Taman masih sepi kali.
"Bukan olah raga yang itu."
"Terus?"
Dia menaik-turunkan alisnya lagi. Sebelah matanya mengedip nakal. Otak gue langsung paham maksudnya.
"Abaaang ...!"