Early Marriage
Kabur
"Om Alfin?"
"Nadia?"
Duh, perasaan gue jadi gak enak, nih. Jangan sampai temen-temen gue tahu kami ada hubungan. Bisa hancur nanti reputasi gadis cantik ini. Tanpa aba-aba, gue berbalik dan lari meninggalkan tempat itu. Panggilan lelaki itu sudah tak gue hiraukan lagi. Yang penting saat ini selamat dulu dari pria itu. Kalau nanti dia marah, urusan belakangan.
Dengan napas ngos-ngosan, gue terus berlari sampai ke seberang jalan, diikuti temen-temen gue yang tak kalah ngos-ngosan dari gue. Setelah cukup jauh, dan tak terlihat lagi dari lelaki itu, gue berhenti untuk mengatur napas.
"Nad, kenapa, sih? Capek tauk lari-larian. Mana gue pakai heels lagi. Tega Lo, Nad," ucap Icha sambil membungkuk menekan lututnya. Gue yang sudah mulai bisa mengatur napas cuma bisa nyengir tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Siapa suruh kalian ngejar gue?"
"Lah, kan kita takut Lo kenapa-napa, sebenarnya ada apa, sih? Lihat cowok ganteng kok kek lihat hantu aja. Lo kenal, ma dia?"
"Nggak!"
"Yakin? Lo nggak lagi ngebohongin kita kan?"
"Dah ah. Gue mau balik. Dah ..."
"Eh, Nad. Tunggu! Gue anterin aja, ya?" Gue memicing. Dari gelagatanya ada yang nggak beres dari mereka.
"Nggak usah. Gue pulang sendiri aja!" Gue tetap melenggang meninggalkan mereka yang cengo. Namun tiba-tiba tangan gue ditari sama Chika.
"Lo, utang penjelasan sama kita. Sekarang juga Lo jelasin!"
"Tapi gue harus pulang sekarang, Chik. Lain kali aja ya?"
"No! Lo harus ikut mobil gue. Kita anterin sambil dengerin penjelasan Lo."
Gue menghembuskan nafas pasrah. Tak ada yang bisa gue lakuin selain menurut. Dari pada mereka berspekulasi sendiri, mending gue jelasin aja, deh. Tapi ... rumah gue kan sekarang nggak di sana lagi. Bodo amat lah. Sekarang ke rumah mami dulu. Nanti kalau om Alfin marah, bisa diadepin kalau dah pulang. Terserah nanti mau diapain aja. Penting urusan dengan mereka kelar. Kalau nggak akan ngejar terus mereka, macem rentenir.
Di mobil sengaja gue nggak bersuara sebelum di tanya. Semua saling sikut. Nggak ada yang memulai. Gue? Cuek aja. Bagus malah kalau nggak ada yang tanya. Jadi gue nggak perlu mengarang indah untuk ngeyakinin mereka.
Gue ambil HP yang baru saja dibeli pakai uang belanja dari om Alfin. Membuka play store dan mendownload beberapa aplikasi yang gue butuhkan.
"Nad, Lo kemana aja sih selama ini, kok menghilang gitu aja? Mana nggak bisa dihubungi lagi!" tanya Icha yang diangguki lainnya. Semua mata tertuju pada gue.
"Dan kenapa Lo ke kafe nggak bawa mobil? Papi Lo bangkrut? Atau terjerat skandal korupsi?" ucap Chika ngelantur. Gue timpuk kepalanya pakai bantal leher yang ada di pangkuan gue.
"Sembarangan, Lo kalau ngomong. Papi gue jujur ya kalau kerja. Enak aja dituduh korupsi. Gue laporin polisi Lo tahu rasa!"
"Ya, habisan Lo misterius sih, Nad.makanya cerita dong sama kita-kita," Erin menatap gue penuh minat. Berasa sedang di sidang gue. Semua pasang mata tertuju pada gue. Menunggu jawaban tanpa kedip.
Sebelum bercerita, gue menarik napas dalam. Memasang ekspresi sesedih mungkin untuk meyakinkan mereka. HP baru yang ada di tangan, gue masukin lagi ke dalam tas. Lalu menatap mereka satu per satu.
"Lo ingat waktu kita pulang tengah malam?" Semua mengangguk. "Gue masuk diam-diam, mengendap-endap macem maling mau ambil jemuran tetangga. Eh, pas mau nyampek, mami memergoki gue kek hansip nangkep pencuri."
Gue menjeda cerita dan memasang muka serius. "Lo tahu apa yang terjadi selanjutnya?" Mereka kompak menggeleng. "Gue dimarahi habis-habisan. Semua fasilitas gue dicabut. ATM, mobil, handphone, dan dompet gue diambil semua sama mami. Udah gitu, gue dikurung, nggak boleh keluar," kali ini gue pura-pura nangis.
Chika mengusap punggung gue. Diikuti Erin yang meraih gue dalam pelukannya. Kami semua larut dalam drama kesedihan yang gue ciptakan. 'Maafin gue ya gaes, terpaksa gue lakuin ini. Tapi apa yang gue ceritain 90% benar kok,' ucap gue dalam hati.
"Trus cowok di kafe tadi siapa? Kok lo kayak ketakutan gitu melihatnya?"
Tubuh gue menegang. Mampus, gue jawab apa dong?
"Oh, di--dia tuh temen bang Rizal. Gue takut kalau dia tahu gue di sana, nanti lapor abang, bisa dimarahin mami nanti. Makanya gue langsung kabur aja lihat dia," ucapku meyakinkan.
Bagus, Nadia. Lo sudah pandai berbohong sekarang. Sudah pantes jadi drama queen. Besok-besok acting Lo ditingkatkan lagi, biar bisa dipakai buat ngadepin laki Lo yang kek papan cucian itu. Bisik iblis dalam diri gue.
Temen-temen mengangguk percaya. Rasanya seperti habis kebelet berjam-jam lalu menemukan toilet. Lega. Tak ada lagi pertanyaan yang membuat gue harus berdrama lebih lanjut lagi. Bersamaan dengan itu, kami nyampai di sebuah rumah berlantai dua. Rumah di mana gue dilahirkan dan dibesarkan di sana. Sayangnya sekarang gue diusir dari sana gegara perjodohan itu. Maksud gue, diusir karena harus ikut suami. He he.
"Loh, Nadia? Kok sendirian, mana menantu mami?"
"Sebenarnya yang anak Mami tihy Nadia apa om Alfin, sih Mi? Kok yang ditanyain malah dia. Nggak kangen apa sama anak Mami yang paling cantik dan imut ini?"
Gue bergelanyut manja di pundak mami. Rasanya baru kemarin sering bermanja-manja dengannya. Sekarang sudah beda. Mami lebih sering marah-marah kalau lihat gue telat pulang.
"Dia, lagi kerja, Mi. Jadi Nadia ke sini sendiri."
"Yakin? Bukan kabur kan?" tanya Mami penuh selidik. Heran gue, kenapa tuduhan mami selalu benar. Apa jangan-jangan mami mantan cenayang, ya? Ah, bodo amat. Yang penting gue mau tidur di kamar yang gue rindukan.
Tanpa memedulikan ucapan mami yang entah ngebahas apa, gue melenggang ke kamar. Mengunci pintu dan menenggelamkan diri di kasur. Seketika mata gue tertuju pada lemari. Ah, iya. Kenapa nggak gue bawa aja baju-baju gue?
Dengan semangat, gue berjalan menuju lemari. Membukanya, dan ... hah?
"Mami ... Mami!"
Gue langsung berlari ke bawah menuju tempat di mana mami berada. Langkah gue terhenti melihat siapa yang sedang bicara sama mami sekarang. Mampus. Om Alfin datang kemari. Aduh ngumpet di mana nih?
Dengan hati-hati gue berbalik dan hendak melangkah meninggalkan tempat itu.
"Nadia sayang, nih suamimu datang menjemputmu," ucap mami mengehentikan langkah kaki ini. Aduh mami, pakai manggil segala, sih. Dengan enggan gue berjalan menuju mereka. Memulai drama kedua dengan menyalami tangan lelaki itu.
Mata ini tak berani beradu tatap dengannya. Namun lelaki itu seperti tahu gelagat gue yang mau kabur lagi. Tangan ini nggak dilepaskannya. Ditarik supaya mendekat dan akhirnya gue terduduk di sampingnya. Dalam hati gue memaki-maki lelaki yang sayangnya sudah menajdi imam gue ini.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau mau ke sini, Sayang ... kan abang bisa ngenterin kamu," ucapnya sambil mengelus puncak kepala gue.
Hebat banget nih orang. Ternyata dia juga raja drama. Dan itu, kenapa tangannya nggak bisa dikendalikan. Mau nyuri kesempatan dalam kesempitan rupanya. Sekuat tenaga gue injek kakinya yang telanjang. Reflek tangan berototnya lepas dari puncak kepala gue.
"Aduh!"
"Kenapa, Fin?" tanya mami penasaran. Gue hanya terkikik melihat muka om Alfin yang memerah. Entah karena mali atau marah.
"Eh, nggak papa kok, Mi," ucapnya gelagapan.
Mami terus mengobrol dengan menantu kesayangannya. Sementara gue hanya jadi pendengar sambil sesekali mendengus. Hingga akhirnya, om Alfin mengajak gue pulang. Sebenarnya enggan, tapi melihat sorot mata tajam pria itu, mau tak mau ikut juga.
"Eh, Om!" Gue menghentikan langkah kaki jenjangnya yang hampir mencapai mobil. "Nadia ambil baju-baju yang di rumah dulu ya?"
"Tidak perlu. Di rumah kita sudah banyak baju-bajumu."
"Hah, yang bener, Om? Perasaan Nadia nggak pernah membawanya. Dan selama Nadia di rumah, nggak ada kurir yang mengantar jasa paket, deh. "
Om Alfin bergeming. Ia hanya fokus menyetir tanpa menjawab ucapanku. Sepertinya dia sudah kembali ke mode kaku dan dingin. "Pantas saja nggak laku-laku. Mana ada cewek yang betah berlama-lama dengan papan cucian kek dia. Udah kaku, datar lagi," gumam hue yang tak mungkin di dengarnya.
"Siapa yang kamu maksud kayak papan cucian, Nadia?"
Hah, dia dengar? Ya ampun, sensitif banget sih kupingnya.
"Nadia!"
"Eh, i--ya, Om."
"Om?"
"Eh?" Ya ampun, gue sering lupa. Kenapa nih mulut nggak hafal-hafal nyebut abang, sih. Tanpa sadar gue tepuk-tepuk mulut ini dengan tangan. Namun, tiba-tiba ada tangan lain yang menghalangi perbuatan gue. Dan itu membuat serangan jantung dadakan. Seperti tersengat aliran listrik puluhan mega watt. Gue membeku.