Early Marriage
Wanita Lain
Tubuh gue membeku. Wanita cantik itu tampak anggun dan dewasa dengan hijab syar'i yang menutup tubuhnya. Bang Alfin sama sekali tak melihat gue. Dia sibuk menurunkan koper besar yang mungkin milik wanita ini.
Dada gue bergemuruh. Siapa wanita ini, sampai membawa koper sebesar itu? Bahkan tak hanya satu. Tiga koper besar sudah turun semua. Apa dia akan tinggal di sini selamanya? Bukankah bang Alfin sangat menjaga interaksi dengan wanita?
Ah, sepertinya rencana gue untuk berbaikan dan menerima pernikahan ini harus gagal karena wanita asing ini. Tatapan mereka beradu. Senyumnya saling merekah, seperti ada hubungan khusus di antara mereka. Meski gue belum pernah jatuh cinta, tapi gue nggak bodoh-bodoh amat untuk bisa mengartikan tatapan saling memuja itu. Sial, kenapa hati gue seperti ditusuk-tusuk?
"Sudah pulang, Bang?" sapa gue lembut. Lebih tepatnya gue buat lembut. Saat hendak meraih tangan yang biasanya dia sodorkan itu, tangan ini hanya bisa mengambang di udara. Sementara lelaki itu menarik koper-koper besar itu dan berlalu tanpa melihat gue. Seakan-akan gue ini hantu yang tak nampak.
Sementara wanita itu tersenyum manis sambil sedikit membungkuk lalu ikut pergi bersama pria dingin itu. Sifatnya yang kaku dan dingin kembali lagi. Rasanya dada ini terbakar. Bukan karena cemburu, tapi lebih pada kesal karena diabaikan.
Barangkali jika digambarkan dalam bentuk anime, tubuh ini sudah dipenuhi bara api dengan asap mengepul di kedua telinga. Jangan lupakan tanduk dan gigi taring yang sudah muncul. Oh Nadia, malang sekali nasibmu. Menjadi istri di usia muda, lalu tiba-tiba nggak danggap.
Mami, ... ini semua gara-gara, Mami. Kalau saja ... ah, nasi sudah jadi bubur. Merutuki nasib terus bukan membuat gue bahagia. Malah sebaliknya, gue bisa cepat tua nantinya. Dengan menghentak-hentakkan kaki dan bibir manyun lima centi, gue masuk mengikuti dua pasangan yang tak jelas statusnya itu. Gue juga tak ada niat untuk bertanya. Biarkan saja mereka berbuat sesukanya.
Waktu makan malam, semua masakan sudah terhidang di atas meja. Sungguh istimewa. Untuk pertama kalinya semenjak gue menjadi nyonya di rumah ini, ada berbagai menu makanan yang mampu meneteskan air liur. Jiwa rakus gue meronta-ronta ingin segera mencicipi semua makanan yang tampaknya sangat lezat itu.
Kalau kalian berpikir gue yang masak, salah besar. Hingga detik ini, gue cuma bisa masak telur dadar, tumis kangkung, sayur asem, dan tempe goreng doang. Itu pun dengan rasa ala kadarnya. Si wanita cantik yang hingga kini belum gue ketahui namanya itu sibuk menata piring di meja makan. Pasti dia pelakunya. Yang memasak makanan menggiurkan ini.
Bang Alfin sudah duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan tak lepas dari wanita baru itu. Sedangkan gue hanya bisa berdiri menatap itu semua dengan hati merana. 'Rasain Lo, Nadia. Ini kan yang Lo inginkan? Sekarang nikmati kebebasan Lo dengan hati tersiksa,' maki hati kecil gue.
Mereka sudah duduk berdampingan tanpa menyadari keberadaan gue. Dengan perasaan dongkol, gue melangkah meninggalkan dua sejoli itu. Tangan gue melakukan gerakan seperti mencakar-cakar di udara.
"Nadia!" Panggilan itu menghentikan langkah gue. Sudut bibir ini melengkung ke atas. "Kalau kamu nggak suka makan bareng kami di sini, mulai besok bisa masak sendiri atau pesan online." Bibir yang tadinya tersenyum, kini berubah mengerucut. Tanpa menoleh, gue pergi ke kamar dan membanting pintu. Sengaja, biar dia tahu ada manusia di sini. Dan sayangnya status manusia yang diabaikan itu adalah ISTRI SAH.
Sampai di kamar, gue tinju-tinju bantal sebagai pelampiasan. Membayangkan bantal itu sebagai lelaki tua yang semena-mena itu. Katanya mau menjaga gue. Nyatanya mana, baru makan gitu aja lupa sama istri. Katanya akan ngelindungi gue, nyatanya ada wanita cantik ia sudah lupa kalau punya istri sah. Dasar om-om nyebelin. Janjinya palsu. Awas saja besok gue aduin sama mami biar dipecat jadi mantu.
Gue terus saja ngedumel hingga lelah dan tertidur.
"Nadia, kenapa kamu begitu keras kepala. Tak adakah sedikit pun perasaan di hatimu untukku? Sampai kapan kamu akan membentengi hatimu dariku, Nadia."
Sebuah tangan mengelus puncak kepala gue yang masih tertutup kerudung. Kebiasaan gue selama menikah, ketika tidur tetap memakai kerudung. Gue yang kata mami badung, tetap berkerudung meski belum sempurna.
Tangan gue digenggam. Lalu dicium. "Andai kamu bisa menerimaku sebagai suamimu, Nadia, betapa beruntungnya aku. Tolong buka hatimu sedikit saja untukku, sayang."
Lama, setelah itu tak ada lagi suara mirip bang Alfin yang masuk ke telinga gue. Sentuhan tangannya juga berhenti. Rasanya ada yang hilang dari dalam diri gue. Perlahan gue buka mata. Memindai sekeliling ruangan. Sepi. Tak ada tanda-tanda orang masuk di sini. Samping ranjang juga kosong.
Lalu siapa tadi yang berbicara? Apa gue mimpi, atau berhalusinasi karena merindukan bang Alfin? Ah, nggak mungkin. Gue benci dia, nggak mungkin merindukannya. Seketika hati ini kosong dan hampa.
Adzan subuh membangunkan gue yang terlelap dalam mimpi. Perlahan gue turun dari ranjang. Dinginnya lantai marmer menyentuh kaki, menjalar hingga ke tulang. Ya ampun, gue lupa mengecilkan AC. Pantas saja rasanya kedinginan. Setelah mematikan AC, gue melangkah menuju kamar mandi. Lalu menunaikan shalat subuh sendiri.
Hingga pagi menjelang, tak ada tanda-tanda bang Alfin masuk kamar. Apa dia nggak mandi? Biasanya ia selalu mandi sebelum subuh. Apa ... dia tidur dengan wanita itu? Ah, pikiran buruk mulai merajai hati. Berbagai spekulasi berputar dengan indah di otak gue.
Nggak, itu nggak mungkin. Gue yakin bang Alfin tidak mungkin seperti itu. Dia seorang ustadz. Sudah pasti tahu batasan dosa dan maksiat. Kenapa gue jadi mikirin dia, sih. Bodo amat dia mau ngelakuin apa, kan? Bagus malah kalau dia nggak peduli lagi. Akan lebih mudah bagi gue untuk lepas dari ikatan ini, kan? Batin gue menguatkan.
Tanpa terasa langkah kaki ini sudah sampai di dapur. Rencananya gue mau nyiapin sarapan pagi seperti biasa. Tapi seseorang telah lebih dulu menjamah daerah kekuasaan gue.
"Hai, Nad! Mau buat sarapan, ya? Nih udah saya buatin. Sudah jadi," ucap wanita iyu sok ramah. Gue hanya mengangguk lalu mengambil roti tawar di lemari. Melumuri dengan margarin dan memanggangnya. Nggak sudi gue makan hasil olahannya. Bukankah pria itu menyuruh gue masak sendiri?
Setelah jadi, gue membuat jus alpukat dan menuangkan dalam gelas. Lalu membawa kedua menu sarapan itu ke gazebo belakang untuk gue nikmati sendiri. Daripada gue melihat kedekatan mereka berdua, labih baik gue menjauh supaya hati nggak makin terluka.
Pukul delapan, gue kembali ke rumah utama. Mobil bang Alfin sudah tak ada. Dengan perasaan campur aduk, gue masuk dan tak mendapati siapa pun di dalam rumah. Bagus, bahkan saat kerja pun wanita itu dibawanya. Sedangkan gue, selama ini di kurung di rumah sendirian. Tak boleh keluar bahkan sekadar untuk bertemu teman.
Tanpa pikir panjang, gue langsung mandi dan bersiap keluar. Memesan taksi online dan pergi menjauh dari rumah bagai sangkar itu. Persetan dengan izin. Apa peduli gue? Dia aja nggak menganggap gue ada.
Satu jam lebih akhirnya gue sampai di sebuah pantai. Air ombak dan sentuhan angin membuat jiwa ini damai. Tak banyak pengunjung di sini. Karena selain hari kerja, sekarang juga masih agak pagi. Keuntungan bagi gue untuk berteriak sekuat tenaga melepaskan semua sesak di dada.
Siapa pun yang menyaksikan gue sekarang, pasti akan mengira bahwa gue sedang patah hati. Nyatanya, bukan hanya patah, tapi hati gue tercabik-cabik hingga menjadi kepingan-kepingan kecil. Gue pukul-pukul dada ini untuk menghilangkan sesak yang menghimpit. Entah sejak kapan air mata ini luruh. Gue bersimpuh di atas pasir sambil berteriak-teriak merutuki nasib yang nggak berpihak pada gue. Hingga sebuah sapu tangan warna biru tersodor di depan muka gue. Seseorang memberikannya tanpa kata.