Gelora Cinta Kedua (Novel)
Retak - 1
Langit pagi masih berwarna jingga pucat ketika aku berdiri di dapur, memandangi layar ponsel yang tergeletak di atas meja. Cahaya matahari masuk malu-malu lewat celah jendela, tapi rasanya tak pernah benar-benar menyentuhku.
Notifikasi dari aplikasi kencan berderet. Beberapa pesan harus kureview, sebagian lagi hanya sapaan basa-basi dari para responden. Sejak beberapa bulan terakhir, pekerjaan ini menjadi pelarian. Bukan karena aku menyukai aplikasinya—tapi karena aku menyukai perasaan saat seseorang benar-benar membaca jawabanku.
Perasaan dihargai.
Perasaan dianggap ada.
Di ruang tamu, Iqdam-suamiku, duduk dengan laptop di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya tak lepas dari layar. Proyek konveksi itu selalu menuntutnya hadir penuh—dan entah sejak kapan, rumah ini hanya jadi tempat singgah.
Aku menyesap kopi, lalu menarik napas panjang sebelum berjalan mendekat.
“Mas,” panggilku.
“Hmm?” jawabnya singkat, tanpa menoleh.
Nada itu. Nada yang sudah terlalu sering kudengar. Bukan kasar, tapi cukup untuk membuatku ragu apakah aku perlu melanjutkan kalimat berikutnya.
“Aku mau bicara soal uang yang kamu transfer ke Rika kemarin,” ucapku akhirnya. “Menurutku jumlahnya terlalu besar. Bulan ini kita juga banyak pengeluaran.”
Iqdam menghela napas. Napas orang yang merasa pikirannya sedang disela. Rika adalah adik suamiku, dulu hidupnya sangat berkecukupan, tapi setelah suaminya tiada rasanya Rika sering menjadi penyebab konflik di antara kami.
Entah, apakah hanya perasaanku saja atau benar kata suamiku, aku yang tidak peka dan simpati padanya?
“Itu buat biaya sekolah keponakan kita, Han. Kamu tahu Rika lagi susah.”
Aku tahu. Selalu tahu. Dan mungkin itu sebabnya aku lelah—karena pengertianku tak pernah bersisa untuk diriku sendiri.
“Tapi ini bukan pertama kali, Mas,” kataku, suaraku masih terkendali meski dadaku mulai sesak. “Setiap bulan kamu selalu mendahulukan mereka. Sementara kita harus menahan ini-itu.”
Laptop itu ditutupnya pelan. Klik.
Suara kecil, tapi cukup membuat jantungku ikut menegang.
“Kalau bukan karena Rika dulu bantu aku waktu konveksi hampir bangkrut,” katanya, menatapku lurus, “kita nggak akan sampai di titik ini.”
Aku mengangguk pelan. Aku hafal cerita itu. Tapi tak ada satu pun cerita tentang bagaimana aku bertahan sendirian ketika dia sibuk membangun segalanya.
“Lagipula dia baru menjanda,” tambahnya.
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia sadari.
“Dan aku?” tanyaku, tanpa bisa menahan diri. “Aku kelihatan nggak, Mas?”
Tatapannya berubah. Bukan marah. Bukan juga peduli. Lebih seperti seseorang yang tak ingin membahas hal yang sama lagi.
“Ini bukan soal kamu atau aku,” ujarnya dingin. “Ini soal keluarga.”
Aku menelan ludah. Mengangguk. Karena selalu begitu—aku mengalah, lalu memungut sisa-sisa perasaanku sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik menuju kamar.
Di sana, aku duduk di tepi ranjang dan membuka aplikasi kencan di ponsel. Jemariku bergerak otomatis, seperti tubuhku sudah hafal ke mana harus lari ketika hatiku lelah.
Ada pesan baru.
[“Hi, apa aplikasi ini benar-benar membantu orang menemukan pasangan sejati? Kadang saya ragu.”]
Kalimat sederhana. Tapi entah kenapa terasa lebih jujur dibanding semua percakapan yang terjadi pagi ini.
***
Malam hari, setelah Hawa—putri kami—tertidur pulas, aku duduk di depan cermin kamar. Menatap wajahku sendiri. Lingkar hitam di bawah mata mulai memudar sejak aku rutin merawat diri. Bukan untuk siapa-siapa. Atau setidaknya, itu yang ingin kupercayai.
Aku menggerai rambutku, mencoba tersenyum. Dalam hati, ada harapan kecil yang memalukan: mungkin kalau aku terlihat lebih baik, dia akan kembali melihatku.
“Buat apa kamu dandan tiap malam?”
Suara Iqdam datang dari ambang pintu. Datar. Tapi ada nada curiga yang tak bisa disembunyikan.
“Untuk aku,” jawabku singkat.
Dia mendekat, menatapku lewat pantulan cermin. “Atau untuk orang lain?”
Aku mendengus pelan. Bukan tertawa—lebih ke kelelahan yang akhirnya bocor. “Kalau aku mulai peduli sama diriku sendiri, itu salah?”
“Kamu berubah, Han,” katanya. “Kerjaan kamu juga nggak jelas. Ngapain sih review aplikasi kayak gitu?”
Aku menatapnya. Ingin bilang bahwa aku berubah karena bertahan dalam diam itu menyakitkan. Tapi aku tahu, kata-kata itu hanya akan berakhir sia-sia.
“Aku cuma butuh sesuatu,” ucapku pelan. “Aku butuh merasa berguna. Merasa dihargai.”
“Kalau kamu bilang kamu butuh aku, aku selalu di sini!” bentaknya tiba-tiba.
Aku menoleh. Ada marah di sana. Tapi lebih banyak defensif.
“Kamu ada secara fisik,” kataku lirih. “Tapi hatimu nggak.”
Kalimat itu jatuh di antara kami. Berat. Tidak disambut. Tidak dibantah.
Iqdam naik ke ranjang dan berbaring membelakangiku.
Aku menatap punggungnya lama. Punggung yang dulu terasa aman. Kini terasa asing.
Atau jangan-jangan kamu yang lebih dulu pergi, batinku.
Aku bersandar di kepala ranjang dan kembali membuka aplikasi. Ada pesan baru.
[“Mungkin aplikasi ini nggak menjamin pasangan sejati, tapi setidaknya bisa jadi tempat buat orang yang cuma butuh teman bicara. Kamu sendiri, kenapa kerja di sini?”]
Aku tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya hari ini, aku merasa benar-benar didengarkan.
“Han.”
Aku menoleh. Iqdam sudah duduk, menatapku dengan sorot mata tajam. “Ngapain sih? Malam-malam masih pegang itu.”
“Kerja, Mas.”
“Kerja?” Nada suaranya meninggi. “Atau kamu lagi chatting sama orang?”
Aku menggigit bibir. “Aku capek. Tapi kalau aku nggak melakukan ini, siapa yang peduli sama apa yang aku lakukan?”
Belum sempat aku bereaksi, ponsel itu direbut dari tanganku.
“Udah,” katanya. “Tidur aja. Besok kamu harus bangun pagi buat Hawa.”
Jantungku berdebar. “Mas, balikin. Aku nggak ganggu kerjaanmu. Kenapa kamu ikut campur urusanku?”
Dia menatapku lama. Wajahnya lelah.
“Karena ini nggak penting,” katanya pelan. “Aku capek, Han.”
Aku mengangguk. “Aku juga. Bedanya, aku capek sendirian.”
Tak ada jawaban. Dia kembali memunggungiku.
Aku memungut ponsel yang dilemparkannya ke ranjang. Layar masih menyala. Pesan itu masih terbuka.
[“Pernah nggak ngerasa sendirian, bahkan di tempat yang seharusnya jadi rumah?”]
Dadaku mengencang. Jemariku gemetar saat membalas.
“Setiap hari.”
Bukan jawaban untuk orang asing itu.
Tapi pengakuan untuk diriku sendiri.
“Tidur!” sindir Iqdam dari balik punggungnya.
“Atau kamu akan apa?” tanyaku pelan, lebih lelah daripada sinis, sembari merebahkan tubuh.
Tak ada jawaban.
Dan malam kembali menutup jarak kami—dua orang di ranjang yang sama, dengan kesunyian yang tak lagi bisa disembunyikan.
'Ya Allah, salahkah bila aku merasa benar-benar lelah...' Hana membatin, menatap ceiling hampa.