Gelora Cinta Kedua (Novel)
Growth up
Aku bangun pagi itu dengan perasaan ganjil—bukan sedih, bukan juga bahagia. Lebih seperti berdiri di persimpangan yang belum bertuliskan apa pun. Rumah masih sunyi. Hawa belum bangun. Iqdam sudah berangkat lebih dulu.
Aku duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap ponsel yang sejak semalam sengaja kubiarkan tanpa notifikasi. Aku tahu apa yang menungguku di sana. Dan justru karena itu, aku belum siap membukanya.
Beberapa minggu terakhir, hidupku bergerak pelan tapi terasa berbeda. Ada bagian dari diriku yang kembali bernapas—mimpi yang dulu kupendam rapi, kini mengintip keluar, mengetuk-ngetuk kesadaran. Bukan dengan teriakan, melainkan dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang tak mau lagi kuabaikan.
Aku membuka ponsel akhirnya.
Nama Riz muncul lagi.
Tidak ada kalimat baru—hanya kelanjutan dari kegigihannya yang terlalu konsisten untuk diabaikan begitu saja. Aku memejamkan mata sebentar.
Kenapa setiap kali aku mencoba melangkah, selalu ada yang harus kutimbang ulang?
Aku bangkit, menyiapkan sarapan, mengaduk adonan dengan pikiran yang melayang. Bau bawang tumis seharusnya menenangkan, tapi pagi itu justru membuat dadaku terasa penuh. Aku merasa seperti menjalani dua kehidupan dalam satu tubuh—seorang istri yang berusaha menjaga rumah tetap utuh, dan seorang perempuan yang pelan-pelan sadar bahwa ia lebih dari sekadar penyangga peran orang lain.
Saat Hawa keluar dari kamar dengan rambut masih berantakan, aku tersenyum dan memeluknya. Hangat tubuh kecilnya selalu berhasil menarikku kembali ke sini—ke alasan kenapa aku memilih bertahan.
“Bunda hari ini sibuk?” tanyanya polos.
Aku menggeleng. “Nggak. Bunda di rumah.”
Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi di kepalaku, ada banyak kalimat lain yang tak terucap.
Setelah mengantar Hawa ke sekolah, rumah kembali sunyi. Aku duduk di meja kerja, membuka laptop, mencoba fokus. Namun jariku berhenti di atas keyboard. Pikiranku kembali pada pesan yang belum kujawab.
Aku tahu, dari luar, Riz terdengar profesional. Donatur. Visioner. Orang yang melihat ideku bukan sebagai hobi sambilan. Dan justru itu yang membuatku waspada. Aku pernah belajar—bahwa perhatian yang terasa “mengerti” sering kali datang bersama ekspektasi yang tak diucapkan.
Aku akhirnya menulis balasan singkat, dingin tapi sopan. Menjaga jarak, seperti menarik garis tipis yang semoga dipahami.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Nada Riz tetap tenang. Tidak tersinggung. Bahkan terkesan dewasa. Tapi ada satu kalimat yang membuatku terdiam lama.
[“Aku cuma berharap kamu nggak mengecilkan mimpimu demi menyesuaikan diri.”]
Kalimat itu seperti mengetuk sisi rapuh dalam diriku.
Aku meletakkan ponsel perlahan. Menyandarkan punggung ke kursi. Menatap dinding kosong di depan meja kerja.
Apakah aku mengecilkan diriku sendiri?
Atau aku hanya berusaha menjaga sesuatu agar tidak runtuh?
Pertanyaan itu tak punya jawaban sederhana.
Sore harinya, Iqdam pulang lebih awal. Aku menyadari kehadirannya bahkan sebelum pintu tertutup sempurna—langkahnya berbeda, lebih pelan. Ia duduk tanpa berkata apa-apa, hanya menatap lurus ke depan.
Aku ingin bertanya. Tapi aku juga lelah menjadi orang yang selalu membuka percakapan berat.
Kami makan malam dalam diam yang tak sepenuhnya canggung, tapi juga tidak hangat. Diam yang penuh pikiran masing-masing.
Saat Hawa sudah tidur, aku duduk di sisi ranjang, memegang ponsel tanpa membukanya. Iqdam memperhatikanku dari balik bantal.
“Kamu capek?” tanyanya akhirnya.
Aku mengangguk. “Sedikit.”
Ia mendekat, tapi berhenti di jarak aman. Tidak menyentuh. Tidak juga menjauh. Seperti ragu memilih posisi.
Aku menatapnya. Lama. Lalu berkata pelan, “Mas… kalau suatu hari aku tumbuh jadi seseorang yang berbeda, kamu masih mau jalan bareng aku?”
Ia terdiam. Napasnya terdengar lebih berat.
“Kenapa nanya gitu?” balasnya.
“Karena aku juga lagi belajar mengenal diriku sendiri,” jawabku jujur. “Dan kadang, aku takut… versi aku yang baru ini bikin kamu merasa tertinggal.”
Ia mengusap wajahnya. “Aku cuma takut kehilangan kamu, Han. Itu aja.”
Kalimat itu membuat dadaku menghangat sekaligus perih. Bukan karena ia melarangku. Tapi karena ketakutannya terasa nyata—dan aku tidak ingin menjadi sumber luka baru.
Malam itu, aku kembali membuka ponsel. Pesan Riz masih ada. Tawaran masih terbuka. Pintu masih sedikit menganga.
Aku tidak membalas.
Aku mematikan layar dan meletakkannya terbalik di nakas.
Karena untuk pertama kalinya, aku sadar:
konflik ini bukan tentang Riz.
Bukan juga tentang Iqdam.
Ini tentang aku—yang mulai terlihat.
Dan takut, jika aku melangkah terlalu jauh, aku akan kehilangan rumah yang selama ini kupertahankan dengan diam.
Aku memejamkan mata.
Besok, mungkin aku harus memilih.
Atau setidaknya, jujur—pada diriku sendiri.
***
Aku terbangun karena suara langkah kecil di lorong.
Pelan. Ragu-ragu. Seperti seseorang yang tidak yakin apakah kehadirannya akan diterima.
“Hawa?” panggilku lirih.
Pintu kamarku terbuka sedikit. Wajah kecil itu muncul, matanya sembab, rambutnya masih berantakan. Ia berdiri di sana tanpa masuk, seperti takut mengganggu.
“Kenapa belum tidur?” tanyaku sambil menepuk sisi ranjang.
Ia berjalan mendekat, memanjat ranjang tanpa suara, lalu meringkuk di sampingku. Tubuhnya hangat. Tangannya mencari lenganku dan menggenggam erat, seolah takut aku menghilang.
“Bunda lagi stres, ya?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tercekat.
Aku menatap langit-langit, menahan napas beberapa detik sebelum menjawab. “Kok Hawa tahu?”
Ia mengangkat bahu kecilnya. “Soalnya Bunda sering bengong.”
Kalimat sederhana itu menghantamku lebih keras dari percakapan apa pun hari ini.
Aku memeluknya lebih erat. Wangi sabun anak-anak yang selalu kupakai untuknya membuat mataku panas.
“Maafin Bunda,” bisikku. “Kalau Bunda mengabaikan Hawa.”
Ia menggeleng cepat. “Hawa nggak marah.”
Lalu, dengan suara yang hampir seperti rahasia, ia berkata,
“Hawa cuma takut… Bunda sama Ayah nanti nggak bareng.”
Dadaku mengencang.
Anak sekecil ini—ternyata sudah menangkap retakan yang berusaha kami sembunyikan dengan senyum dan rutinitas.
Aku membalikkan tubuh menghadapnya, menyamakan tinggi mata kami. “Dengar ya, Sayang. Bunda sama Ayah lagi belajar. Kadang orang dewasa juga bingung. Tapi satu hal yang pasti—Hawa selalu punya Bunda. Selalu.”
Ia menatapku lama, seolah menimbang apakah kata-kataku cukup kuat untuk dipercaya. Lalu ia mengangguk pelan dan menyelipkan wajahnya ke dadaku.
Aku mengusap rambutnya perlahan. Detik itu, semua kebisingan di kepalaku mereda.
Aku sadar—aku boleh ragu, boleh takut, boleh punya mimpi yang belum sepenuhnya kupahami. Tapi ada satu peran yang tak boleh goyah: menjadi tempat pulang bagi anakku.
“Hawa boleh minta satu hal?” katanya menguap kecil.
“Apa?”
“Besok… Bunda temenin Hawa main sore-sore.”
Aku tersenyum, meski mataku basah. “Iya. Bunda janji.”
Ia tersenyum lebar—senyum yang selalu berhasil membuat dunia terasa lebih masuk akal.
Tak lama, napasnya teratur. Ia tertidur dengan tangannya masih menggenggam bajuku.
Aku menatap wajahnya lama.
Di titik ini, aku akhirnya mengerti:
setiap keputusan yang akan kuambil nanti—apa pun bentuknya—tidak boleh lahir dari pelarian. Tidak dari rasa ingin diakui, tidak dari rasa lelah, tidak dari siapa pun yang datang menawarkan jalan pintas.
Aku harus memilih dengan sadar. Dengan utuh.
Aku menggeser Hawa perlahan ke bantalnya, menyelimutinya, lalu bangkit menuju jendela. Malam di luar tenang. Terlalu tenang untuk hatiku yang sedang belajar berdiri.
Ponselku masih tergeletak terbalik di nakas.
Aku tidak menyentuhnya.
Karena malam ini, aku tahu satu hal dengan pasti:
aku bukan perempuan yang harus mengecil agar dicintai,
dan aku juga bukan ibu yang boleh mengorbankan rumah demi mimpi yang belum tentu aman.
Aku masih Hana.
Masih istri.
Masih ibu.
Dan kini—pelan-pelan—perempuan yang mulai melihat dirinya sendiri.
Besok, aku akan melangkah lagi.
Dengan lebih jujur.
Dan lebih berani.
.
.