Gelora Cinta Kedua (Novel)

Diam

Pagi itu aku bangun lebih ringan, meski tidak sepenuhnya tenang. Seperti seseorang yang baru selesai menangis semalam, lalu memutuskan untuk tetap menjalani hari meski matanya masih perih.

Aku menepati janjiku pada Hawa.

Tidak membuka laptop terlalu pagi. Tidak mengecek ponsel sambil setengah sadar. Aku menyiapkan sarapan dengan tempo pelan—mengiris bawang, menumis, menyusun bekalnya sambil sesekali melirik jam. Bukan karena terburu-buru, tapi karena ingin benar-benar hadir.

Hawa keluar kamar dengan langkah kecilnya yang khas. Rambutnya masih berantakan, mata setengah terpejam.

“Bunda,” sapanya.

Aku berjongkok, merapikan poninya. “Pagi.”

Ia tersenyum kecil. “Katanya sore mau main.”

“Iya,” jawabku tanpa ragu. “Bunda nggak lupa.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti janji yang lebih besar dari sekadar bermain di halaman rumah.

Iqdam sudah berangkat lebih dulu. Tidak ada percakapan panjang pagi ini—hanya pesan singkat semalam bahwa ia harus ke kantor lebih awal. Aku tidak bertanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus selalu tahu segalanya.

Setelah mengantar Hawa ke sekolah, rumah kembali sunyi. Aku duduk di meja kerja, membuka laptop, lalu menutupnya lagi. Bukan karena tak ada pekerjaan, tapi karena pikiranku kembali ke satu hal yang belum selesai.

Aku mengambil ponsel.

Nama Riz masih ada di sana. Tidak ada pesan baru. Tapi justru itu yang membuat dadaku terasa penuh—seolah aku sedang menahan sesuatu yang sewaktu-waktu bisa jatuh.

Aku menghela napas dan meletakkan ponsel kembali. Namun belum lima menit berlalu, notifikasi masuk.

Pesan dari Riz.

Bukan ajakan. Bukan rayuan. Tapi update.

Ia mengabarkan bahwa salah satu donatur tertarik pada konsep fasilitas ramah anak yang pernah kusebutkan sekilas. Ada lokasi potensial. Ada jadwal survei awal. Semua ditulis rapi, profesional, nyaris seperti laporan.

Dan di akhir pesannya, satu kalimat pendek:

[“Aku kepikiran kamu pas diskusi ini.”]

Aku membaca pesan itu dua kali.

Tidak ada yang salah. Tidak ada yang melanggar. Tapi ada sesuatu yang terasa… melangkah lebih cepat dari yang kuizinkan.

Aku menyandarkan punggung ke kursi. Menatap dinding putih di depan meja kerja. Dalam hati, aku berusaha jujur pada diriku sendiri.

Aku senang ideku diperhatikan.

Tapi kenapa aku merasa seperti sedang ditarik masuk ke ruang yang belum siap kumasuki?

Siang berlalu tanpa banyak kejadian. Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan ringan, mencuci, membereskan rumah. Semua kulakukan seperti biasa, tapi dengan kesadaran yang lebih tajam—seolah aku sedang mengamati diriku sendiri dari luar.

Sore hari, Iqdam pulang lebih awal.

Aku tahu dari suara pintu yang ditutup pelan. Dari langkahnya yang tidak tergesa. Ia duduk di sofa tanpa langsung memanggil namaku.

Aku keluar dari dapur, mengeringkan tangan dengan lap. Kami saling menatap sebentar.

“Kok pulang cepat?” tanyaku.

Ia mengangkat bahu. “Nggak terlalu banyak kerjaan.”

Kami duduk berdampingan. Jaraknya tidak jauh, tapi juga tidak sedekat dulu. Seperti dua orang yang sedang sama-sama belajar membaca ulang bahasa tubuh masing-masing.

“Hawa nanti pulang jam berapa?” tanyanya.

“Jam empat. Aku janji mau nemenin main.”

Ia mengangguk. Diam sebentar. Lalu berkata, “Bagus.”

Nada suaranya netral, tapi aku menangkap sesuatu yang lain—seperti kelegaan kecil yang tidak ia ucapkan.

Kami berbincang soal hal-hal ringan. Tentang sekolah. Tentang cuaca. Tentang rencana akhir pekan. Lalu, tanpa sadar, ia menyebut satu nama.

“Rika kemarin nelepon,” katanya, seolah sedang bicara tentang hal biasa.

Aku menoleh. “Oh?”

“Iya. Nanya soal Hawa.”

Kalimatnya berhenti di situ. Tidak ada lanjutan. Tidak ada cerita tambahan.

Aku menunggu beberapa detik, tapi ia tidak melanjutkan. Aku pun tidak bertanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari—kami sama-sama menyimpan sesuatu. Bukan untuk menyakiti, mungkin. Tapi karena takut apa yang akan terjadi jika semuanya dibuka.

Sore itu aku menepati janjiku pada Hawa.

Kami bermain di halaman. Menggambar dengan kapur di lantai. Tertawa karena gambarnya miring-miring. Aku benar-benar hadir—tanpa ponsel, tanpa pikiran yang melayang.

Tapi ketika Hawa berlari ke dalam untuk mengambil minum, ponselku bergetar di saku.

Riz lagi.

Aku membuka pesannya dengan perasaan campur aduk.

Ia menulis panjang kali ini. Tentang pentingnya diskusi langsung. Tentang ide-ide yang sulit diterjemahkan lewat teks. Tentang bagaimana proyek ini bisa berkembang cepat jika aku terlibat lebih aktif.

Di akhir pesannya, ia menambahkan:

[“Aku menghargai batasmu, Rachel. Tapi ide sebesar ini butuh kehadiran, bukan sekadar kata.”

Kalimat itu menempel di kepalaku lebih lama dari yang seharusnya.

Aku membalas setelah beberapa menit.

Kalimatku singkat. Tegas. Dingin, tapi sopan. Aku menegaskan bahwa untuk saat ini, keterlibatanku sebatas diskusi konsep. Tidak ada pertemuan pribadi. Tidak ada keputusan tanpa koordinasi.

Riz membalas cepat.

Ia bilang mengerti.

Terlalu mengerti, bahkan.

Malam datang perlahan. Hawa tertidur lebih cepat dari biasanya. Aku dan Iqdam berbaring berdampingan, sama-sama terjaga.

Aku menatap langit-langit kamar, mendengarkan napasnya.

Aku ingin bicara. Tentang Riz. Tentang Rika. Tentang rasa takut yang sama-sama kami simpan.

Tapi aku tidak melakukannya.

Karena ada satu kesadaran yang akhirnya utuh malam itu :

Batas yang tidak diucapkan akan selalu diuji.

Dan diam, sejauh apa pun niatnya untuk melindungi, tetap bisa melukai.

Aku menutup mata dengan napas panjang.

Besok, mungkin aku harus mulai bicara.

Atau setidaknya—berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!