Gelora Cinta Kedua (Novel)

Takut

Pikiranku pagi ini semrawut. Seperti ada sesuatu yang tertahan di belakang dada—bukan sakit, hanya mengganjal. Iqdam sudah berangkat. Meja makan rapi, cangkir kopinya sudah dicuci. Rutinitas kecil yang seharusnya membuatku tenang, tapi pagi ini justru membuatku berpikir terlalu banyak.

Aku mengantar Hawa ke sekolah seperti biasa. Tangannya menggenggam tanganku lebih lama dari biasanya sebelum masuk gerbang.

“Bunda nanti jemput, ya?” pintanya.

“Iya,” jawabku cepat. “Pasti.”

Sepanjang perjalanan pulang, aku menyadari satu hal. Aku sedang berusaha terlihat baik-baik saja. Padahal di dalam, pikiranku penuh percabangan yang belum kupilih jalannya.

Di rumah, aku membuka laptop. Membalas email. Menyusun jadwal. Tapi setiap kali ponselku bergetar, refleks tanganku berhenti.

Nama itu masih muncul.

Riz.

Aku tidak membuka pesannya. Tidak juga menghapus. Membiarkannya menggantung seperti pertanyaan yang belum ingin kujawab.

Namun, kupikir harus membalas tapi dengan kalimat formal. Menjaga jarak. Mengingatkan posisi. Lalu mematikan notifikasi lagi.

Yang membuatku ragu bukan tawarannya. Tapi diriku sendiri—bagian yang merasa akhirnya didengar, dilihat, dihargai. Dan aku benci mengakui itu.

Siang hari, Nadira menelepon.

“Mbak Rachel,” katanya setelah basa-basi singkat, “Riz cerita kamu agak menarik diri.”

Aku menutup mata sejenak. “Aku cuma jaga batas.”

“Aku ngerti,” sahutnya cepat. “Tapi dia tuh orangnya… intens. Kalau sudah percaya sama orang, dia pengin cepat.”

Aku terdiam.

“Kalau kamu nggak nyaman, bilang aja. Jangan dipendam,” lanjut Nadira.

Kalimat itu menempel di kepalaku lebih lama dari seharusnya.

Jangan dipendam.

Bukankah itu juga yang seharusnya kulakukan pada Iqdam?

Sore menjelang, Iqdam pulang lebih awal. Aku mendengarnya dari langkah kakinya. Ia duduk di ruang tamu menyandarkan kepalanya di sofa dan memejam.

Terlihat lelah. Bukan, lebih ke seperti banyak beban pikiran.

Lalu kami makan malam bertiga dalam suasana yang… biasa. Tidak tegang. Tidak hangat juga. Hawa bercerita tentang pelajaran menggambarnya, Iqdam mendengarkan sambil sesekali tersenyum. Aku ikut tertawa.

Tapi aku tahu, ini hanya permukaan.

Setelah Hawa tidur, aku melipat pakaian di kamar. Iqdam masuk dan berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang.

“Hana,” katanya.

Aku berhenti melipat. “Iya?”

Nada suaranya membuatku menoleh.

“Aku mau tanya sesuatu,” lanjutnya pelan. “Dan aku pengin kamu jawab jujur.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Orang yang sering kamu chat itu,” katanya lagi, tidak menatapku langsung,

“dia tahu kamu sudah menikah?”

Tanganku mengepal pelan di atas kain.

“Apa maksud Mas?”

Ia akhirnya menoleh. Tatapannya lurus, tidak marah—lebih ke waspada.

“Dia tahu kamu istrinya siapa?”

“Atau kamu pakai nama lain? Cerita hidup lain?”

Aku menarik napas dalam. “Aku pakai nama kerja,” jawabku jujur. “Dan aku nggak pernah menyembunyikan apa pun.”

Iqdam mengangguk kecil. Tapi aku tahu—itu bukan jawaban yang langsung menenangkannya.

“Aku bukan takut kamu selingkuh, Han,” katanya kemudian.

“Aku takut kamu didekati atau dimanfaatkan.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang kuduga.

“Cinta lokasi itu nggak selalu dimulai dari niat,” lanjutnya, suaranya tetap rendah.

“Kadang dimulai dari obrolan. Dari rasa ‘dipahami’. Dari orang yang kelihatan paling dukung kamu… pas kamu lagi haus didengar.”

Aku terdiam. Karena bagian itu… ada benarnya.

“Aku nggak pernah ngasih ruang sejauh itu,” kataku akhirnya.

“Aku tahu,” jawabnya cepat.

“Makanya aku ngomong sekarang. Sebelum aku kecolongan tanpa sadar.”

Ia mengusap tengkuknya, seperti seseorang yang sedang menahan beban lama.

“Aku pernah salah menilai orang, Han. Aku pikir semua bisa dikontrol asal niatnya baik. Ternyata nggak.

Aku duduk di sampingnya.

“Mas takut kehilangan aku?” tanyaku pelan.

Ia mengangguk kecil.

“Aku takut suatu hari kamu pulang,” katanya lirih, “tapi hatimu sudah nyaman di tempat lain.”

Dadaku terasa sesak. Bukan karena ia menuduh—tapi karena ia jujur.

“Aku nggak ke mana-mana,” ucapku. “Aku cuma… lagi belajar jadi utuh.”

Ia menatapku lama. Lalu mengangguk.

“Aku nggak mau jadi orang yang matiin mimpimu,” katanya.

“Tapi aku juga nggak mau jadi orang yang ketinggalan tanpa tahu kenapa.”

Jarak kami dekat, tapi ada sesuatuyang menghalang—bukan tubuh, melainkan ketakutan yang masih takut diakui.

“Aku juga takut,” kataku akhirnya. “Tapi bukan sama orang lain. Aku takut kita berhenti jujur.”

Ia menunduk. Mengusap wajahnya.

“Aku kuatir bisa berdiri di samping kamu ... tapi dilupakan.”

Kalimat itu membuat mataku panas.

Aku ingin bilang banyak hal. Tentang Riz. Tentang pesan-pesan itu. Tentang batasan statusku yang mulai diuji. Tapi kata-kataku tertahan di tenggorokan.

Aku belum siap membuka semuanya.

Malam itu, saat Iqdam tertidur lebih dulu, ponselku bergetar pelan.

Pesan dari Riz.

[“Aku di kota ini sampai lusa. Kalau kamu berubah pikiran, aku ada.”]

Aku memandangi layar lama.

Tidak membalas, dan meletakkan ponsel kembali ke nakas.

Kepercayaan bukan runtuh karena satu kesalahan besar.

Tapi karena terlalu banyak hal kecil yang tak pernah dibicarakan.

Malam itu, kami tidur bersebelahan tanpa pelukan. Dan jarak itu terasa makin nyata.

***

Keesokan harinya, aku menjemput Hawa lebih awal. Kami bermain di taman kecil dekat sekolah. Ia tertawa lepas, berlari tanpa beban.

“Bunda,” katanya sambil duduk di ayunan. “Ayah sedih lagi, ya?”

Aku tersenyum kecil. “Kenapa mikir gitu?”

“Soalnya Ayah sekarang sering diem.”

Aku mengusap rambutnya. “Kadang orang dewasa juga lagi mikir, Sayang.”

“Mikirnya lama?”

Aku mengangguk.

Ia mendorong tanah pelan dengan sepatunya. “Kalau gitu… jangan lupa istirahat.”

Aku tertawa pelan. Tapi kalimat itu menggelitik hatiku, Hawa sangat peka akhir-akhir ini. Dia tahu ekspresi lelah di antara kami berdua. Kebersamaan yang tak lagi terasa hangat seperti dulu.

Malamnya, saat rumah sudah tenang, aku membuka ponsel. Pesan Riz masih ada. Tawaran masih terbuka.

Aku membacanya sekali lagi. Lalu mengetik balasan.

Singkat. Tegas. Berpagar.

[“Terima kasih, Riz. Tapi aku memilih menjaga diskusi tetap profesional dan terbatas. Aku tidak bisa melanjutkan komunikasi di luar itu.”]

Kukirim.

Lalu aku mematikan layar.

Bukan karena takut kehilangan peluang.

Tapi karena aku tahu—ada rumah yang sedang kubangun ulang, dan aku tidak ingin fondasinya runtuh hanya karena aku lupa memasang batas.

Aku masih Hana.

Masih belajar.

Dan kali ini, aku memilih berdiri dengan sadar—bukan melangkah karena lapar akan pengakuan.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!