Gelora Cinta Kedua (Novel)

Baikan

Pagi datang seperti biasa.

Tidak membawa janji. Tidak juga beban.

Aku bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan Hawa. Dari kamar, suara Iqdam terdengar—ia sedang merapikan tempat tidur. Dulu, kami sering berpapasan di pagi hari tanpa benar-benar saling menyapa. Sekarang pun kami tidak selalu bicara banyak, tapi ada jeda yang terasa ramah. Tidak lagi kaku.

Di meja makan, Iqdam duduk sambil membuka ponselnya.

“Aku mau transfer hari ini,” katanya tanpa menatapku.

“Buat Rika. Nominalnya yang kita bicarakan kemarin.”

Aku mengangguk. “Iya.”

Tidak ada pembahasan panjang. Tidak ada nada curiga. Kalimat itu hanya informasi—dan kepercayaan yang menyertainya.

Beberapa hari kemudian, kami menjenguk Rika bersama.

Rumahnya sangat berubah dibanding kediamannya dahulu. Kini tampak sederhana, sedikit pengap, tapi bersih.

Tidak ada suasana canggung. Tidak ada tatapan bersalah. Aku datang bukan sebagai orang yang mengawasi, tapi sebagai bagian dari keluarga yang tahu batas dan perannya.

Aku duduk di ruang tamu, sementara Rika menyuguhkan teh dengan tangan yang terlihat gugup. Matanya beberapa kali melirikku, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu mencari celah.

Setelah anaknya masuk ke kamar, Rika akhirnya duduk di seberangku. Dia mengawali cerita tentang anaknya yang sedang sibuk mengurus jadwal kuliah.

Lalu...

“Mbak Hana…” suaranya pelan.

Aku menatapnya, memberi isyarat bahwa aku mendengar.

“Aku mau minta maaf,” katanya tiba-tiba. Matanya berkaca-kaca.

“Aku tahu… selama ini aku nyusahin Mas Iqdam. Dan aku juga tahu… Mbak mungkin nggak selalu tahu soal ini.”

Aku terdiam sejenak. Bukan karena tersinggung, tapi karena memilih kata. Jangan sampai menyakitinya meski aku sempat merasa tersakiti oleh sikapnya.

Huft. Aku menanggung sakit, tapi masih juga menjaga perasaan orang lain.

“Aku nggak keberatan soal bantu,” jawabku akhirnya. “Aku cuma… pengin tahu. Biar nggak merasa seperti saudara yang tidak tahu apa-apa.

Rika mengangguk cepat. “Aku ngerti sekarang. Dulu aku cuma mikir—Mas Iqdam itu satu-satunya tempat sandaran. Aku lupa… dia punya rumah sendiri yang juga harus dijaga.”

Ia menarik napas panjang. “Terima kasih karena sudah izinkan Mas Iqdam tetap bantu. Aku janji, Mbak. Aku nggak mau keterusan.”

Aku tersenyum tipis. “Nggak perlu janji besar. Kita jalanin aja yang bisa.”

Rika menunduk, mengusap matanya. “Aku bersyukur Mbak datang. Kalau Mbak marah, aku bisa ngerti. Terima kasih sudah datang, Mbak,” kata Rika pelan.

Aku tersenyum. “Sama-sama. Aku nggak marah,” jawabku jujur. “Aku cuma belajar ikut hadir.”

Padahal, aku masih jengkel ketika iparku mbak Mira, membocorkan keluh kesahku tentangnya. 

Tapi, kupikir ya sudahlah. Semua kejadian ini memberiku pelajaran, agar lebih hati-hati lagi menilai seseorang. 

Di perjalanan pulang, Iqdam tidak banyak bicara. Tangannya tetap di kemudi, matanya lurus ke depan.

“Makasih,” katanya singkat.

Aku tahu maksudnya bukan soal kunjungan itu saja. Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya mengangguk. Itu cukup.

Hari-hari berlalu tanpa peristiwa besar.

Aku kembali ke rutinitasku—menulis, membaca, dan sesekali terlibat diskusi daring. Tapi kini aku lebih selektif. Bukan karena takut, melainkan karena aku tahu ruang mana yang perlu kututup.

Suatu siang, ponselku berdering. Nama Nadhira muncul di layar.

“Mbak Rachel,” katanya setelah aku mengangkat. “Aku dengar kabar. Katanya Mbak Rachel mundur dari beberapa agenda?”

“Iya,” jawabku pelan. “Aku lagi merapikan ideku dulu. Menata ulang prioritas.”

Di seberang sana, Nadhira terdiam sejenak.

“Mbak tahu nggak,” katanya kemudian, “aku cukup berharap sama Mbak tadinya. Waktu Mbak gabung, aku pikir—akhirnya ada orang yang bukan cuma peduli ide, tapi juga punya hati.”

Aku menelan napas. Ada rasa hangat. Juga sedikit perih.

“Aku nggak menyesal kenal kalian,” kataku jujur. “Aku cuma… nggak bisa lanjut di titik ini.”

“Pak Riz terdengar kecewa,” kata Nadhira pelan. “Dia bilang Mbak berubah tujuan.”

Aku memejamkan mata sebentar.

“Mungkin iya,” jawabku. “Tapi perubahan itu kurasa perlu.”

Nada Nadhira melunak. “Aku cuma mau Mbak tahu—kehadiranmu berarti. Bukan cuma buat proyek.”

“Aku tahu,” kataku. “Dan justru karena itu aku mundur sebelum semuanya jadi salah arah."

"Yakin?"

Aku menatap halaman rumah, melihat Hawa sedang menggambar di lantai, Iqdam membantunya memilih warna.

“Aku yakin,” kataku. “Bukan karena dilarang. Tapi karena aku sudah memilih.”

Nadhira menghela napas. “Baik. Kalau suatu hari Mbak mau kembali, pintunya tetap terbuka.”

“Terima kasih,” kataku. “Untuk pengertiannya.”

Setelah telepon ditutup, aku tidak merasa kehilangan. Aku hanya merasa selesai.

Malam datang tanpa drama. Kami makan bersama, membicarakan hal-hal kecil—tentang tugas Hawa, tentang cuaca yang akhir-akhir ini sering berubah. Tidak ada pembahasan besar. Tidak ada evaluasi perasaan

Lampu kamar menyala temaram.

Aku sudah berbaring lebih dulu. Punggungku menghadap pintu, selimut kutarik sampai dada. Bukan karena dingin. Lebih karena kebiasaan lama yang merasa masih diabaikan.

Iqdam masuk setelah menidurkan Hawa. Terdengar pintu terkunci. Langkahnya pelan.

Ia duduk di tepi ranjang. Tidak langsung rebahan.

Kasur sedikit melesak. Aku bisa merasakannya.

“Sudah tidur?” tanyanya lirih.

“Belum,” jawabku jujur.

Ada jeda. Sunyi yang bukan canggung, tapi penuh pertimbangan.

Ia akhirnya berbaring di sampingku. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Sampai kurasakan kasur kembali bergerak.

Tangannya menyentuh lenganku. Hanya ujung jari. Seperti orang yang takut ditolak sentuhannya.

Aku tidak menyingkir.

Iqdam menarik napas. “Aku masih ingat,” katanya pelan, “dulu tiap kita habis marahan… kamu selalu pura-pura tidur duluan.”

Aku tersenyum kecil. “Biar Mas minta maaf duluan.”

Ia terkekeh, nyaris tak terdengar. “Dan aku selalu pura-pura cari charger… padahal cuma pengin deket terus meluk.”

Tangannya kini membelai lenganku perlahan. Tidak terburu. Tidak menuntut.

Aku berbalik menghadapnya.

Wajahnya dekat. Terlalu dekat. Matanya menatapku ragu, seperti sedang mengingat lagi caranya memandang.

“Kamu kenapa senyum?” tanyanya.

“Lupa rasanya,” jawabku. “Kita bisa sedekat ini tanpa berantem.”

Ia mengangguk. “Aku juga.”

Tangannya naik, menyentuh pipiku. Ibu jarinya mengusap pelan, gerakan yang dulu sering ia lakukan saat aku capek atau hampir menangis.

Aku menutup mata. Menikmati sentuhan itu lebih dari yang seharusnya.

Kami saling mendekat. Sangat pelan.

Wajah kami tinggal sejengkal. Napasnya hangat di ujung hidungku.

Aku bisa merasakan niat itu—keinginan untuk mengecup, untuk memastikan semuanya nyata.

Tapi kami berhenti bersamaan.

Kami saling menatap, lalu… tertawa kecil. Gugup. Kikuk.

“Kayak pengantin baru,” gumamku.

Iqdam tersenyum lebar. “Padahal udah lama.”

Ia menunduk sedikit, dahinya menyentuh dahiku. Tidak mencium. Hanya diam di sana.

“Aku kangen pelukan ini,” kataku lirih, hampir tak bersuara.

Ia tidak menjawab dengan kata.

Ia menarikku ke dadanya.

Pelukan ini bukan pelukan yang ingin membuktikan apa-apa. Lengannya mengurungku dengan pas—kuat, tapi tidak menekan.

Aku menyelipkan wajahku di lehernya. Napasnya terasa familiar. Aman.

Tangannya mengusap punggungku pelan, berulang, seperti gerakan yang sudah lama ia hafal tapi sempat lupa.

“Maaf ya,” bisiknya.

Aku menggeleng di dadanya. “Yang penting Mas mau dengerin aku lagi.”

Kami diam begitu lama. Tidak ada ciuman. Tidak ada kelanjutan.

Tapi di dalam pelukan itu, aku akhirnya mengerti—yang kurindukan selama ini bukan penjelasan.

Bukan pembelaan.

Hanya ini.

Pelukan Iqdam yang utuh.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!