Gelora Cinta Kedua (Novel)
Kejutan lagi
Malam turun tanpa suara, hanya gelap menghampiri begitu saja. Tidak ada hujan, tidak ada petir, hanya lampu-lampu rumah yang menyala seperti biasa.
Aku sedang melipat baju Hawa ketika ponsel Iqdam bergetar. Sekali. Dua kali. Lalu berhenti.
Ia melirik layar, lalu berdiri.
“Sebentar,” katanya.
Nada suaranya datar, tapi langkahnya tidak.
Ia berjalan ke teras, menutup pintu pelan. Bukan karena ingin menyembunyikan identitas si penelpon, tapi seperti orang yang refleks ingin menepi saat ada yang terdengar bakal memicu panik dari seberang sana.
Aku tidak berniat nguping. Tapi rumah kami tidak besar. Dan suara tangis dari ponsel Iqdam masih bisa terdengar olehku.
“Rika?” suara Iqdam terdengar lebih rendah dari biasanya.
Jeda.
“Pelan-pelan… kamu di mana sekarang?”
Aku berhenti melipat. Bajunya tetap di tanganku, tapi perhatianku mengikuti Iqdam ke luar.
Tangis itu terdengar terputus-putus. Bukan histeris. Justru jenis tangis yang paling melelahkan—yang datang dari keputusasaan.
“Ada apa?” tanya Iqdam lagi.
Aku mendengar satu kata yang jelas: anak.
Lalu motor.
Lalu kalimat yang membuat dadaku menegang tanpa bisa kutahan.
“Aku nggak tahu harus ke siapa lagi, Kak… motornya rusak, aku nggak bisa ke mana-mana. Anakmu—eh—keponakanmu kesakitan. Aku bawa ke klinik, tapi mereka minta uang dulu…”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa dramatisasi. Tapi aku tahu—itu kalimat yang sama, dengan wajah yang berbeda, yang sudah berkali-kali datang ke hidup kami.
Iqdam menarik napas panjang. Aku bisa membayangkannya—berdiri dengan punggung sedikit membungkuk, tangan di pinggang.
Aku menelan ludah.
Iqdam tidak langsung menjawab. Ada jeda. Dan jeda itu membuatku berdebar. Apa jawaban iqdam selanjutnya?
“Sekarang gimana keadaannya?”
“Di klinik? Oke… iya, iya.”
Aku kembali melipat baju. Kupaksa tanganku bergerak, meski pikiranku berkecamuk overthinking.
Suara percakapan mereka masih kudengar.
"Dengerin aku dulu, ya.”
Nada suaranya lembut, tapi tegas. Rika menangis lebih pelan.
“Aku harus ngomong sama Hana,” lanjutnya. “Ini bukan cuma keputusanku.”
Ada jeda lain. Kali ini lebih panjang.
“Iya,” kata Iqdam kemudian. “Aku tahu. Aku cuma… nggak mau ngulang kesalahan yang sama.”
Panggilan berakhir.
Beberapa menit kemudian, pintu teras terbuka. Iqdam masuk, wajahnya langsung terlihat menahan beban. Seperti orang yang sedang memikul sesuatu yang belum tahu akan dibawa ke mana.
“Anaknya Rika jatuh,” katanya akhirnya. “Motor rusak. Nggak parah, tapi…”
Aku mengangguk. Tidak memotong. Tidak bertanya berlebihan.
“Dia panik,” lanjutnya. “Butuh biaya. Bengkel sama obat.”
Aku menunggu. Bukan jawabannya Iqdam—tapi kelanjutannya.
Ia duduk di sofa, menyandarkan punggung. Tangannya mengusap wajah, lama.
“Aku belum jawab apa-apa,” katanya pelan. “Aku mau ngomong sama kamu dulu.”
Kalimat itu seharusnya membuatku lega. Tapi yang datang justru perasaan bahwa keputusan itu menungguku. Dan mungkin ini bakal jadi alasan seseorang untuk menyalahkan aku lagi nanti.
“Terima kasih sudah bilang,” kataku akhirnya.
Ia menoleh. Seperti ingin memastikan nada suaraku.
“Kamu keberatan?” tanyanya.
“Entah, bingung,” jawabku jujur. “Bukan karena Rika. Tapi karena situasinya selalu datang tiba-tiba.”
Ia mengangguk. “Aku tahu.”
Kami terdiam. Tidak ada pertengkaran. Tapi juga belum ada kesepakatan.
Malam bergerak pelan.
Aku masuk kamar lebih dulu. Duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Awalnya hanya ingin mengecek jam. Tapi satu notifikasi membuat ibu jariku berhenti.
Why.
Nama itu muncul seperti bekas luka yang sudah mengering, lalu tersenggol tanpa sengaja.
Pesannya singkat.
[“Aku tahu kamu bilang mau berhenti. Tapi aku kangen teman ngobrol. Kamu baik-baik aja?”]
Tidak ada emoji. Tidak ada bujuk rayu. Tapi justru itu yang membuatnya berbahaya.
Aku membaca ulang. Sekali. Dua kali.
Aku tidak kangen pada orangnya. Tapi pada versi diriku yang didengar tanpa harus menjelaskan panjang, yang tidak perlu memilih kata agar tidak melukai siapa pun.
Huft.
Aku mengunci layar. Belum membalas. Belum menghapus.
Iqdam masuk kamar tak lama kemudian. Ia mengganti baju, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya menyentuh lenganku sekilas—sentuhan yang kini lebih sering ia lakukan, seolah ingin memastikan aku masih di sini.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa. Capek aja.”
Ia tidak memaksa. Hanya mengangguk, lalu berbaring di sampingku. Jarak kami dekat, tapi pikiranku sedang melanglang jauh.
Aku menatap langit-langit. Di satu sisi, ada Rika—dengan kebutuhan yang nyata dan mendesak.
Di sisi lain, ada Why—memori lama yang masih menyimpan rasa nyaman. Dua hal berbeda. Tapi keduanya datang bersamaan.
“Mas,” kataku pelan.
“Hm?"
"Harus menjawab Rika malam ini?"
Ia terdiam sejenak. “Aku juga bingung.”
“Tapi Mas juga nggak harus memutuskan sendirian,” lanjutku.
Ia menoleh, menatapku lebih lama dari biasanya. Ada rasa terima kasih di sana, bercampur ragu. “Kamu nggak keberatan?” tanyanya.
Aku menarik napas. “Aku keberatan kalau Mas memutuskan sendirian.”
Ia mengangguk pelan. “Besok aku ajak kamu ngomong bareng.”
Aku mengiyakan. Meski aku tahu—mengajak bicara bukan berarti masalah selesai. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu.
"Mas sudah hubungi Mbak Mira?” tanyaku pelan, menoleh ke arahnya.
Ia terdiam. Terlalu lama untuk sekadar menjawab.
“Belum,” jawabnya akhirnya. “Kenapa nanya begitu?”
Aku kembali menatap ceiling kamar, menatapnya dalam gelap. “Kalau nanti Mas menghubungi dia…”
Ia menunggu.
“Aku penasaran dengan jawabannya?” tanyaku.
"Entahlah. Aku bingung harus bagaimana, aku satu-satunya pria di keluargaku." Iqdam ikut memandangi langit-langit kamar. Suaranya terdengar cemas, seperti memikul beban yang bernama ~tanggungjawab.
“Dia menyalahkanmu?”
Pertanyaanku tidak bernada menuduh. Lebih seperti ingin bersiap-siap jika Mbak Mira menyudutkan kami.
Iqdam menarik napas, lalu menggeleng pelan. “Aku belum tahu.”
Aku mengangguk. “Oke.”
Kami berbaring dalam diam. Napas kami mulai selaras, tapi pikiranku belum sepenuhnya tenang.
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar lagi.
Bukan Why. Bukan siapa-siapa.
Hanya notifikasi lama—akun yang belum sepenuhnya kunonaktifkan.
Aku membalikkan ponsel. Sadar, bahwa ujian itu tidak melulu soal godaan besar. Kadang ia datang sebagai permintaan kecil—yang terasa manusiawi, masuk akal, dan sulit ditolak.
.
.