Gelora Cinta Kedua (Novel)
Sindiran Mira
Cahaya tipis pagi menyelinap di sela gorden, menempel di lantai, lalu berhenti di dinding, memantulkan biasnya.
Aku membuka mata dengan perasaan campur aduk. Tidak sedih, tidak tenang. Gegas subuh lalu menyiapkan sarapan.
Di sana, terdengar suara kursi digeser pelan. Iqdam rupanya sudah duduk di meja makan dengan ponsel di tangan, dahi sedikit berkerut. Dari caranya diam, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia pikirkan sejak bangun tadi.
“Aku transfer dulu buat klinik,” katanya akhirnya. “Bengkel nanti kita lihat lagi.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Tidak ada pembahasan panjang. Tidak ada diskusi. Keputusan itu terasa seperti jembatan darurat. Terpaksa.
Iqdam menatapku sebentar, seolah ingin memastikan sesuatu di wajahku. Aku tersenyum tipis. Bukan senyum yang meyakinkan, tapi cukup untuk mengatakan: aku ikut katamu.
Setelah ia berangkat, rumah kembali sunyi. Aku membereskan meja, mencuci piring. Air mengalir, piring berbenturan pelan—suara kecil yang biasanya menenangkan.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Nama Mira muncul di layar.
Aku menatapnya beberapa detik sebelum membuka. Hati bilang menunda, tapi rasa penasaran menang.
Pesannya masuk satu per satu, kalimatnya rapi. Tidak ada tanda seru. Tidak ada kalimat kasar.
["Han, aku dengar soal Rika. Aku cuma mau bilang, kamu itu istri. Jangan bikin Iqdam serba salah."]
Aku menarik napas. Membaca ulang. Kalimatnya terdengar seperti nasihat. Tapi ada satu kata yang mengganjal. Cuma.
Pesan berikutnya menyusul.
["Dulu waktu orang tua kami masih ada, aku juga sering bantu keluarga tanpa banyak tanya. Namanya juga saudara."]
Aku memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya lagi.
Ada pesan lagi.
["Dia nggak enakan. Dan sebagai istri, kamu harusnya jadi orang yang paling ngerti itu."]
Aku membaca pelan. Kata per kata. Tidak ada yang salah secara bahasa. Tidak ada yang bisa kupatahkan dengan logika. Justru itu yang membuatnya terasa menusuk.
Aku mengetik balasan. Berhenti. Menghapus. Mengetik lagi.
"Mbak Mira, kalau Mbak di posisiku—
punya rumah yang harus dijaga, anak yang sedang tumbuh, dan keputusan yang berdampak ke semuanya... Apa Mbak juga akan memilih diam tanpa bertanya?"
Pesan terkirim.
Aku menunggu. Tidak lama.
Balasan datang, lebih panjang.
["Hana, jangan dibalik-balik. Ini bukan soal bertanya atau tidak. Ini soal keikhlasan."]
Dadaku mengeras. Bukan karena marah—lebih karena kalimat itu terlalu sering dipakai untuk menutup percakapan.
Aku membaca lanjutannya.
["Tanya Iqdam... dulu aku bantu keluarga, tanpa banyak babibu. Mungkin karena aku tahu posisiku."]
Kalimat itu menggantung. Seolah ada lanjutan yang tidak perlu ditulis: dan kamu belum tahu caranya, Hanaaaaa.
Dia mengetik lagi.
["Hana, ini soal menempatkan diri."]
Jari-jariku terasa dingin.
["Sebagai istri, kamu seharusnya jadi tempat paling aman untuk suamimu berbuat baik."]
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Tempat aman.
Berarti aku tidak boleh bertanya.
Tidak boleh meragukan keputusan suamiku?
Pesan terakhir masuk, pendek tapi paling berat.
["Iqdam itu adikku. Kadang niat baik memang terasa berat di awal. Tapi kalau sudah ikhlas, harusnya ringan."
Aku membaca sampai situ. Tidak lebih.
Ada pesan lain masuk setelahnya—aku bisa melihat pratinjau kata-katanya: istri yang baik, mengalah, keluarga besar. Aku tidak membukanya.
Aku mengunci layar.
Bukan karena aku tidak punya keberanian untuk menjawab. Tapi karena aku tahu, posisiku akan tetap salah di matanya.
Aku duduk di tepi sofa, ponsel tergeletak di samping. Dadaku terasa sesak, bukan karena marah. Lebih karena lelah
Kenapa selalu begitu, pikirku.
Kalau aku bertanya, aku dianggap pelit.
Kalau aku diam, aku mengkhianati diriku sendiri.
Kenapa menjaga rumah selalu terasa seperti kesalahan, pikirku.
Dan mengalah selalu dianggap satu-satunya bentuk cinta.
Aku menutup mata sebentar. Menarik napas panjang. Hari ini aku memilih diam. Bukan untuk tunduk, tapi demi kewarasan.
Aku mengingat semua malam ketika aku menghitung ulang pengeluaran, menyusun ulang prioritas, menahan keinginan sendiri agar kebutuhan rumah tetap terpenuhi.Tidak ada yang melihat itu sebagai keikhlasan. Yang terlihat hanya, kewajiban.
Aku tidak ingin menang mendapat pengakuan pahlawan. Aku hanya ingin dilihat, dihargai.
Sore menjelang ketika Iqdam pulang. Ia menaruh tas, menatapku sekilas.
“Kamu keliatan bete," ujarnya.
“Sedikit,” jawabku.
Ia tidak memaksa. Hanya mengangguk, lalu masuk kamar. Beberapa menit kemudian ia keluar lagi, duduk di sebelahku. Tangannya menyentuh tanganku pelan—sentuhan yang kini sering ia lakukan, seperti pengingat halus.
“Aku sudah transfer,” katanya.
“Iya.”
Kami diam. Sunyi.
Ia menoleh. “Ada apa?”
Aku ragu sepersekian detik. Lalu menggeleng. “Nanti aja.”
Ia menerima itu. Tidak mendesak. Dan justru itu yang membuat dadaku terasa lebih sesak. Aku masih saja memikirkan perasaan orang lain padahal aku sakit sendiri.
Malam turun perlahan. Setelah Hawa tidur, aku masuk kamar lebih dulu. Duduk di depan cermin, melepas peniti jilbab. Wajahku terlihat biasa saja. Tidak ada bekas tangis. Tidak ada drama. Tapi aku tahu, di dalam hati, ada sesuatu yang sedang kutahan rapat-rapat.
Iqdam masuk. Ia mendekat dari belakang, meletakkan tangannya di bahuku.
“Mikirin apa,” katanya pelan.
Aku tersenyum kecil di cermin. “Ada sih, tapi bingung.”
Ia tidak bertanya apa. Ia hanya menunduk, mengecup pelipisku singkat. Gestur kecil yang membuatku hampir runtuh. Ingin menangis.
Di ranjang, kami berbaring berdampingan. Jarak kami dekat. Tapi pikiranku masih berisik.
Andai aku bicara, pikirku.
Apakah aku akan dianggap istri yang tidak tahu diri?
Aku menoleh ke arahnya. Ia sudah memejamkan mata, napasnya teratur. Wajahnya terlihat lelah—lelah yang juga kupikul, dengan caraku sendiri.
Aku membalikkan badan, membelakangi, lalu berhenti. Perlahan aku berbalik lagi, mendekat, menyelipkan wajahku di dadanya. Ia refleks memeluk, setengah sadar.
Pelukan itu hangat. Menenangkan. Tapi tidak menghapus satu hal.
Bahwa besok, lusa, atau kapan pun—akan selalu ada suara yang mengingatkanku bahwa menjadi istri sering kali berarti menjadi pihak yang paling mudah diminta mengalah.
“Han…” katanya pelan. Hampir seperti bisikan.
“Kalau kamu nggak keberatan…”
Aku tidak bergerak. Tidak menjawab.
“Nanti kita nengok Rika bareng, ya.”
Kalimat itu bukan hanya sebagai permintaan. Lebih seperti pengakuan—bahwa ia tidak ingin pergi sendirian lagi.
“Aku nggak mau datang sembunyi-sembunyi,” lanjutnya lirih. “Aku pengin datang sebagai keluarga. Sama kamu.”
Tangannya menarikku lebih lekat. Gerakan yang menenangkan.
Aku memejamkan mata.
Ada bagian di dadaku yang ingin menolak. Ada bagian lain yang kuatir bahwa besok aku bakal jadi sasaran tembak Mbak Mira.
“Kita lihat kondisinya,” jawabku akhirnya. Tidak langsung mengiyakan.
Ia mengangguk di atas kepalaku. Seolah itu sudah cukup untuk malam ini.
elukannya mengencang sedikit—bukan menekan, hanya memastikan. Aku tahu, masalah ini tak sederhana di sisi Iqdam. Tapi setidaknya aku berdiri teguh di sisinya.
.
.