Gelora Cinta Kedua (Novel)
Konfrontasi
Pagi itu seharusnya biasa saja.
Tapi sejak Iqdam menyebut hendak menjemput Hawa di rumah Rika, udara di dada terasa berat. Aku menyiapkan diri dalam diam. Tidak menolak, tidak menentang. Hanya bersiap.
Mobil melaju pelan. Tidak ada percakapan berarti. Iqdam sesekali melirik ke arahku, mungkin ingin memastikan aku tidak menahan sesuatu. Tapi aku hanya menatap jalan—seakan semua jawaban ada di sana.
Rumah Rika tampak lebih ramai hari ini. Di teras, sandal-sandal berjejer. Suara tawa samar terdengar dari dalam. Dan di antara semua itu, sosok yang paling tak kukira muncul: Mira.
Ia duduk di ruang tamu, bersama Rika dan beberapa tetangga. Saat aku dan Iqdam masuk, suhu ruangan mendadak menurun beberapa derajat. Tidak ada yang bicara, tapi tatapan-tatapan itu cukup untuk memberi tahu bahwa aku adalah topik yang sudah dibicarakan sebelum datang.
“Halo, Han.” Mira menyapaku. Nadanya datar, tapi tatapannya seperti pisau yang baru diasah.
Aku membalas dengan senyum kecil. “Halo, Mbak.”
Rika berdiri, pura-pura sibuk membereskan gelas di meja.
Iqdam menaruh bungkusan kecil di meja. “Ini buah, sama vitamin buat anakmu,” katanya singkat.
“Terima kasih, Kak,” jawab Rika cepat, lalu menoleh ke Mira. “Aku sudah bilang ke Mbak Mira, Kak Iqdam itu selalu ada kalau aku butuh. Nggak kayak orang lain yang perhitungan.”
Kalimat itu jatuh ringan, tapi bunyinya lantang menyindir.
Aku menarik napas, menahan diri agar tidak menoleh.
Mira tersenyum tipis. “Ya namanya juga keluarga. Kalau bukan adiknya sendiri, siapa lagi yang bantu? Kita kan nggak boleh pelit sama keluarga.”
Aku masih diam.
Iqdam berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana. “Udah, yang penting sekarang anaknya Rika sehat.”
Tapi Mira belum selesai.
“Cuma aku kadang kasihan lihat kamu, dam,” katanya lagi, suaranya dibuat lembut tapi menusuk. “Harus mikirin dua sisi. Di satu sisi tanggung jawab ke rumah, di sisi lain saudara sendiri susah. Aku ngerti kamu pasti serba salah.”
Aku mendongak, akhirnya menatap Mira.
“Kalau serba salahnya karena berbuat baik, aku bisa ikut paham, Mbak,” kataku pelan. “Tapi kalau serba salahnya karena terus dipaksa tanpa diajak bicara, apa itu masih disebut kebaikan?”
Rika menatapku tajam. “Loh, Mbak Hana, maksudnya apa? Kak Iqdam kan bantu ikhlas, nggak ada yang maksa juga.”
Aku tersenyum samar. “Aku nggak bilang ada yang maksa, Ri. Tapi kalau setiap kali kalian minta tolong, suamiku langsung merasa harus iya, tanpa tanya dulu padaku—itu juga bukan kebebasan.”
“Wah, kalau semua istri gitu, dunia ini repot kali ya,” sela Mira. “Kita bantu orang aja harus pakai rapat dulu.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Aku menatap tanganku di pangkuan, berusaha tetap tenang.
“Mbak Mira…” suaraku pelan tapi jelas, “saya cuma mau tahu kenapa setiap kali saya menjaga rumah tangga saya sendiri, saya malah dibilang pelit? Kenapa setiap keberatan saya harus diterjemahkan jadi kurang ikhlas?”
Mira tersenyum, kali ini lebih lebar. “Hana, kamu itu pintar ngomong. Tapi hidup nggak bisa selalu dihitung dengan logika. Ada saatnya nurunin ego, apalagi kalau yang ditolong keluarga sendiri.”
Rika menimpali cepat, “Iya, apalagi Mbak Hana hidupnya udah enak. Rumah bagus, anak sehat, suami sayang. Sedikit bantu adik ipar, masa berat banget?”
"Kami nggak perhitungan sama kalian."
Kalimat itu seperti menampar.
Aku menunduk, menahan gemetar di ujung jari. “Aku nggak berat bantu,” jawabku. “Aku cuma nggak mau kebaikan dijadikan alat buat mengukur siapa yang lebih mulia.”
Sunyi.
Beberapa orang saling pandang.
Iqdam duduk kaku di sebelahku, matanya menatap lantai. Ia seperti ingin bicara, tapi tak tahu ke mana harus berpihak.
Mira melipat tangan di dada. “Kadang istri itu lupa, Hana. Lupa kalau hidup bareng suami artinya ikut juga tanggung jawabnya, bukan cuma rumah dan anak. Tapi juga keluarga besar.”
Aku menatapnya, kali ini tanpa senyum. “Dan kadang keluarga besar juga lupa, bahwa dompet istri bukan dana sosial yang kebetulan sah dimiliki.”
Rika berdiri, suaranya meninggi. “Kalau ngomong jangan menyinggung, Mbak!”
Aku menghela napas panjang. “Aku cuma menyinggung kebenaran, Rika.”
Ruangan itu menegang.
Mira bangkit, berdiri di depan kami. “Kamu jangan kebawa perasaan, Han. Aku ini kakak. Wajar kalau aku ingetin adikku. Kamu jangan salah paham.”
“Kalau mengingatkan harus membuat istri adikmu merasa kecil, itu bukan nasihat, Mbak,” jawabku lirih. “Itu cara halus untuk menyingkirkan.”
Iqdam akhirnya berdiri. Suaranya dalam tapi gemetar. “Sudah, cukup.”
Ia menatap Mira, lalu Rika. “Aku paham maksud kalian, tapi tolong, jangan bawa Hana ke posisi yang salah terus. Dia nggak salah.”
Rika diam. Mira menatapnya lama, tak percaya.
“Kamu bela istrimu di depan kakak dan adikmu sendiri?” suaranya setengah berbisik.
Iqdam menatap balik, tegas sekaligus lelah. “Aku cuma nggak mau salah paham jadi kebiasaan.”
Ia meraih tanganku. “Ayo pulang, Han.”
Aku sempat menatap Rika sekilas—bukan marah, bukan benci. Lebih ke kelelahan yang tidak bisa dijelaskan.
Kami berjalan keluar tanpa pamitan basa basi. Hanya mengucapkan salam.
Di belakang kami, suara Mira terdengar lagi, pelan tapi cukup jelas menusuk telinga.
“Kadang perilaku suaminya baik itu tapi dapat istri yang nggak pandai bersyukur.”
Langkahku terhenti sepersekian detik. Tapi Iqdam menggenggam tanganku lebih erat.
“Udah,” bisiknya. “Jangan dengar.”
Kami keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Baru beberapa langkah dari pagar ketika suara itu menyentuh punggungku.
“Eh… itu istrinya Iqdam, ya?”
Aku tidak menoleh. Tapi langkahku melambat tanpa bisa kutahan.
“Aku kira orangnya kalem,” sahut suara lain, lebih pelan tapi cukup dekat untuk didengar. “Ternyata begitu.”
Begitu.
Satu kata. Tidak perlu penjelasan.
Iqdam menarik tanganku sedikit lebih erat. “Jalan,” katanya lirih.
Kami melewati dua perempuan yang berdiri di halaman.
“Kasihan juga ya Rika,” lanjut salah satu dari mereka. “Sudah lagi susah, malah dapat ipar yang…”
Kalimat itu tidak selesai. Tapi aku tahu ujungnya.
Aku menunduk. Bukan karena malu—lebih karena rasanya seperti ditelanjangi di ruang terbuka.
“Istri itu harusnya ngerti,” kata suara yang lain. “Namanya keluarga, ya saling bantu. Masa dihitung-hitung.”
Langkah kami sampai ke mobil. Iqdam membuka pintu untukku. Gerakannya cepat, seperti ingin memotong sisa kalimat yang masih menggantung di udara.
Di mobil, aku menatap jendela. Dunia di luar bergerak cepat.
Sementara di dalam sini, aku merasa baru saja kehilangan sesuatu—bukan harga diri, bukan kemenangan—tapi keyakinan, bahwa dipahami itu masih sulit.
Aku duduk mematung. Jantungku berdegup tidak teratur. Tanganku dingin. Ada rasa panas di tenggorokan yang kutahan mati-matian.
Iqdam menyalakan mesin. Tangannya mencari tanganku di pangkuan, menggenggam tanpa kata. Mungkin itu caranya menebus.
"Kamu nggak apa-apa?” tanyanya, akhirnya.
Aku menatap lurus ke depan. “Aku baik.”
“Mereka nggak tahu apa-apa,” katanya akhirnya.
Aku tersenyum tipis. “Tapi mereka merasa tahu.”
Ia terdiam.
Mobil melaju.
Aku bersandar di kursi. Mataku panas, tapi tidak ada air mata yang jatuh.
Hari ini, aku tidak hanya disudutkan oleh keluarga. Aku diadili oleh orang-orang yang hanya melihat satu potongan cerita—dan merasa berhak menilai seluruh hidupku dari sana.
Di kepalaku, suara-suara itu berulang: istri yang tidak ikhlas, perhitungan, bikin susah keluarga.
Aku baru sadar—yang membuatku paling lelah bukan tudingan mereka. Tapi kenyataan bahwa aku harus melawan sendirian, sementara suamiku berdiri di tengah, takut salah memilih sisi.
Dan hari itu, aku pulang bukan sebagai istri yang didengar. Hanya sebagai orang yang diminta mengerti lagi, dan lagi.
Tidak ada yang lebih melelahkan
daripada menjadi orang yang harus kuat
di tengah semua orang yang merasa paling benar.
.
.