Gelora Cinta Kedua (Novel)
Mati rasa
Aku bangun lebih dulu, seperti biasa. Menyiapkan air panas, menanak nasi, dan meracik bahan untuk lauk sarapan.
Hawa bangun dengan rambut acak-acakan.
“Bundaaa,” panggilnya sambil mengucek mata.
“Iya, Sayang.”
Aku membantu memakaikan seragam. Mengikat rambutnya rapi. Menyematkan pita dikuncirnya. Tanganku sangat cekatan pagi ini.
“Bunda hari ini cantik,” kata Hawa tiba-tiba.
Aku tersenyum. “Terima kasih.”
Iqdam muncul di ambang pintu, masih dengan wajah bantal. Ia memperhatikanku lebih lama dari biasanya. Seperti sedang ingin menegaskan sesuatu tapi bingung memulainya.
“Kamu nggak capek masih pagi langsung ini itu?” tanyanya.
Aku mengangkat bahu. “Nggak, biasa saja.” Jawaban itu benar. Aku memang tidak merasa apa-apa.
Di meja makan, aku menyendokkan nasi ke piringnya. Lauk sederhana. Semua seperti rutinitas yang sudah dihafal tubuhku bahkan tanpa perintah dari kepala.
Iqdam membuka suara, terdengar hati-hati. “Tadi malam… aku kepikiran lagi.”
Aku mengangguk kecil. “Hmm.”
Ia menunggu. Aku tidak melanjutkan.
Ia menelan ludah.
“Soal Rika… aku rencana ke sana sore nanti. Motor anaknya belum bisa dipakai. Aku mau bantu antar dulu ke sekolah mulai besok.”
Aku mengunyah pelan. Menelan. “Silakan,” kataku. Nada suaraku datar. Tidak dingin. Tidak hangat. Hanya… kosong.
Iqdam berhenti makan. “Kamu nggak keberatan?”
Aku menatap piringku. “Kenapa harus keberatan?”
Ia terdiam. Pertanyaan itu justru membuatnya tidak tenang. “Aku cuma… nanya.”
Aku menoleh padanya, lalu tersenyum kecil.
“Mas, kamu mau bantu siapa pun, itu pilihanmu. Aku nggak mau ikut campur.”
Kalimat itu seharusnya terdengar dewasa.
Tapi entah kenapa, wajah Iqdam justru menegang.
Biasanya aku akan menambahkan : jangan lupa kabari aku atau kita atur bareng ya.
Hari ini tidak.
Hari ini aku hanya selesai meminta perhatian itu.
Siang berlalu begitu saja. Tanpa suara tinggi. Tanpa air mata.
Aku mencuci baju, menjemur, menyapu. Semua bergerak seperti mesin yang disetel rapi.
Di sela-sela itu, ponselku bergetar.
Pesan dari Mira.
Aku membacanya tanpa perubahan ekspresi di wajah.
“Han, dari kejadian kemarin aku makin tahu bahwa Iqdam tertekan olehmu. Dia bingung. Kasihan adikku. Keluarga itu diuji bukan saat senang, tapi saat harus mengalah.”
Aku membaca sekali.
Lalu menutup chat. Tidak membalas. Tidak mengarsipkan nomernya lagi. Membiarkannya di sana—seperti perasaan yang tidak lagi ingin kujelaskan.
Tapi, aku sadar ada sesuatu yang aneh. Dada ini tidak lagi sesak. Tidak marah. Tidak juga ingin menang.
Sore hari, Iqdam pulang membawa kantong plastik berisi kue cucur. Ia meletakkannya di meja, seperti dulu—usaha kecil untuk mencairkan suasana.
“Aku pulang,” katanya.
“Iya,” jawabku.
Ia menatapku. Lagi-lagi terlalu lama. “Kamu masak apa hari ini?”
“Sup bening.”
“Oke.”
Kami makan. Sunyi. Tidak canggung, tapi juga tidak ada sapaan hangat.
Iqdam akhirnya menyerah pada diam itu. “Han,” katanya pelan, “kamu marah ya?”
Aku mengangkat wajah. “Enggak.”
“Kesal?”
“Enggak.”
“Kecewa?”
Aku berpikir sebentar. Lalu menggeleng. “Kayaknya aku udah lewatin semua rasa itu.” Jawaban itu membuat sendoknya menggantung di udara.
“Maksud kamu?”
Aku meletakkan sendok. Menatapnya tenang.
“Lelah itu ada batasnya, Mas. Kalau terus ditahan di dalam hati, lama-lama rasanya hilang sendiri.”
Iqdam menarik napas dalam-dalam. “Hilang gimana?”
Aku mencari kata yang paling jujur. “Kayak… nggak pengin debat lagi. Nggak pengin dimengerti juga. Nggak pengin merengek lagi.”
“Kamu menyerah?”
Aku tersenyum kecil. “Bukan. Aku cuma berhenti berharap.” Kalimat itu terucap pelan, tapi dampaknya berat.
Iqdam menyandarkan punggung ke kursi. Wajahnya pucat. “Aku lebih takut dengar itu,” katanya lirih.
Aku tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, aku juga tidak peduli lagi.
Malam datang.
Hawa tidur lebih cepat. Lelah seharian bermain.
Aku mematikan lampu ruang tamu. Masuk ke kamar tanpa banyak suara. Iqdam menyusul. Duduk di sisi ranjang tapi tidak menyentuhku.
“Kamu masih ada di sisiku,” katanya tiba-tiba. Bukan pertanyaan.
Aku mengangguk.
“Tapi kenapa rasanya kamu menjauh, asing.”
Aku berbaring menghadap langit-langit. “Masih di sini hanya sebagai formalitas kewajiban.”
Ia menunduk. “Aku salah ya?”
Aku memejamkan mata. “Salah itu kalau masih ada niat memperbaiki. Aku cuma… lagi nggak ingin memperjuangkan apa pun sendirian.”
Sunyi memanjang.
Iqdam mengusap wajahnya. Tangannya gemetar sedikit. “Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Aku menoleh padanya. Lama. “Kehilangan itu bukan selalu tentang pergi meninggalkan,” kataku pelan. “Kadang orang tetap tinggal, tapi berhenti merasa.” Aku memalingkan wajah lagi.
Lampu kamar mati. Gelap.
Di balik gelap itu, m aku tidak sedang merencanakan apa-apa. Tidak menghindar. Tidak juga bertahan dengan heroik.
Aku hanya berhenti mengikatkan hatiku, berharap pada manusia. Mati rasa tidak berisik. Ia datang pelan. Dan sering kali, baru disadari saat semuanya sudah terlambat.
***
Pesan itu datang siang hari, saat aku baru saja selesai melipat cucian.
["Han, begini sikapmu ke aku? Tidak sopan, boro membalas. Cuma dibaca. Kamu ngerti nggak sih? Bebal amat."]
["Sehebat apa kamu, Hana? Sampai kami harus memelas, memohon bantuan pada keluarga sendiri? Itu yang Iqdam, hak dia mau ngasih ke siapa. Penting kebutuhanmu dan Hawa aman. Lagian Hawa masih TK. Kamu katanya punya uang sendiri?"]
["Emang kamu tuh pelit! Habis kesabaran aku ngingetin kamu, Hana."]
Aku membaca sampai akhir, lalu meletakkan ponsel di meja. Makin tidak ingin membalas. Tidak juga menjelaskan.
Aku sadar—aku tidak lagi ingin dimengerti oleh orang yang sejak awal tidak berniat memahami.
Di sisi lain kota, di konveksi milik Iqdam, mesin jahit berdengung seperti biasa. Bau kain dan minyak mesin memenuhi ruangan.
Iqdam duduk di kursi kantornya, memandangi laporan pesanan yang sama sejak tadi. Angka-angka itu tidak berubah, tapi kepalanya semakin berat.
Ia tahu, pikirannya bukan tentang kain. Tentang rumah. Tentang Hana yang akhir-akhir ini terlalu tenang.
Tentang kalimat aku berhenti berharap yang masih berputar di kepalanya.
Pintu konveksi terbuka.
“Mbak?” Iqdam mendongak.
Mira masuk tanpa banyak basa-basi. Tasnya diletakkan di meja, matanya langsung menyapu ruangan—berhenti di wajah adiknya.
“Kamu kelihatan pusing,” katanya.
Iqdam mengangguk. “Lagi banyak pikiran.”
Mira duduk di depannya. Menyilangkan tangan. “Masih soal Hana?”
Iqdam terdiam. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Mira mendesah pendek. “Dam, kamu tuh lembek sebagai suami.”
Kata itu jatuh menuduhnya begitu saja.
“Kamu terlalu nurut sama istrimu,” lanjutnya. “Makanya dia jadi ngelunjak.”
Iqdam mengusap pelipis. Kepalanya berdenyut. “Mbak—”
“Dengerin dulu,” potong Mira. “Hana itu sok kuasa karena bisa punya uang sendiri. Merasa nggak butuh siapa-siapa. Padahal dulu juga pernah dibantu Rika.”
Iqdam menatap meja.
“Dia nggak tahu terima kasih,” lanjut Mira. “Istri kamu itu nggak sadar diri.”
Kalimat itu membuat dadanya sesak. “Hana nggak pernah bilang begitu,” suara Iqdam rendah.
“Ya karena kamu nutupin semuanya,” Mira mendengus. “Kamu terlalu bela dia. Sampai lupa siapa keluargamu.”
?
Iqdam mengangkat kepala. Matanya lelah, tapi kini ada sesuatu yang berbeda, keputusan yang selama ini tertunda. “Mbak,” katanya pelan tapi tegas, “cukup.”
Mira terdiam.
“Aku capek denger Hana terus disalahin,” lanjut Iqdam. “Dia nggak pelit. Dia cuma pengin diajak bicara.”
Mira menatapnya, tidak percaya. “Kamu sekarang jadi gini karena dia.”
Iqdam menggeleng. “Enggak. Aku jadi gini karena aku sadar aku selama ini salah.”
“Kamu berubah,” suara Mira meninggi. “Kamu dipengaruhi Hana.”
Iqdam berdiri. Nafasnya berat. “Mungkin aku berubah,” katanya jujur. “Tapi bukan karena dia jahat. Karena selama ini aku terlalu gampang bilang iya ke semua orang, kecuali ke istriku sendiri.”
Mira berdiri juga. “Ingat ya, Iqdam,” katanya tajam. “Kamu anak lelaki satu-satunya di keluarga kita. Tanggung jawabmu besar ke kami.”
Kalimat itu dulu selalu membuatnya tunduk. Hari ini tidak. Iqdam menatap kakaknya.
“Aku ingat,” katanya. “Tapi aku juga suami. Dan itu tanggung jawabnya sama besar, Mbak."
Sunyi jatuh di antara mereka.
“Aku nggak ninggalin keluarga,” lanjutnya. “Tapi aku juga nggak mau kehilangan rumahku sendiri.”
Mira menghela napas keras. “Kamu sekarang berani sama Mbakmu.”
Iqdam tersenyum pahit. “Aku cuma berani jujur soal perasaanku, Mbak.”
Mira meraih tasnya. “Kalau nanti ada apa-apa, jangan nyesel.” Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Iqdam duduk kembali. Tangannya gemetar.
Bukan karena takut—tapi karena untuk pertama kalinya, ia berdiri di sisi yang benar meski rasanya tidak nyaman.
Ia menyandarkan kepala ke dinding.
Di kepalanya hanya ada satu wajah. Hana.
Dan kesadaran pahit itu datang terlambat tapi jelas. Selama ini, ia bukan berdiri di tengah.
Ia berdiri terlalu jauh dari istrinya.