Gelora Cinta Kedua (Novel)

Hawa sakit

Pov Iqdam

Pagi datang tanpa ada Hana di dapur. Tidak ada suara alat masak beradu. Tidak ada bau wangi menu sarapan seperti biasanya.

Yang ada hanya bunyi sendok kecil bersentuhan dengan piring.

Hawa makan sendiri. Ia duduk rapi. Kaki kecilnya menggantung, tidak bergoyang seperti biasanya. Tangannya memegang sendok dengan dua jari, hati-hati, seolah takut dimarahi olehku.

Aku berdiri di ambang dapur, menatap punggung kecil itu.

“Hawa…” panggilku pelan.

Ia menoleh. “Iya, Ayah?” Nada suaranya terlalu kaku.

“Kepalanya masih pusing?”

Ia menggeleng cepat. “Nggak. Sedikit.”

Jawaban itu membuat dadaku mengencang. Anak lima tahun biasanya akan drama, pusing banget, atau nggak mau ke sekolah. Tapi Hawa hanya menunduk lagi, melanjutkan makan.

Aku membiarkannya menyelesaikan sendiri. Tidak menyuapi. Tidak menyuruh cepat-cepat selesai. Entah sejak kapan aku takut mengganggu kemandiriannya yang mendadak tumbuh.

Di motor, Hawa memeluk pinggangku. Sesekali keningnya menempel di punggungku, lalu menjauh lagi.

Di ruang tunggu rumah sakit, Hawa duduk diam. Boneka kecilnya dipeluk di dada. Ia memperhatikan orang-orang lalu-lalang, tapi matanya kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

“Bunda kapan pulang?” tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh.

Aku tidak langsung menjawab. “Belum tahu,” kataku akhirnya.

“Oh.”

Saat dokter menempelkan alat di keningnya, Hawa meringis kecil. Tangannya refleks menggapai di udara.

“Bunda…” gumamnya.

Aku cepat menggenggam jemarinya. “Ayah di sini.”

Ia mengangguk. Tapi matanya masih mencari-cari.

Dalam perjalanan pulang, aku menyadari sesuatu... Hawa sedang belajar menahan diri karena merasa tidak punya pilihan.

*

Kata dokter, Hawa harus minum obat. Obatnya pahit. Tapi Hawa minum. Kalau Hawa nurut, bunda pasti senang.

Di kamar, Hawa duduk di lantai. Ada meja kecil punya bunda. Ada kertas yang banyak tulisan-tulisannya. Hawa nggak ngerti.

Tapi itu punya bunda. Hawa rapikan lagi. Diluruskan pelan, kayak bunda kalau nyisir rambut Hawa.

“Hawa nggak rewel kok,” bisiknya. “Hawa baik.”

Kalau Hawa baik, bunda pulang. Hawa ambil kertas gambar. Crayon biru. Merah. Kuning. Hawa gambar bunda. Rambutnya panjang. Senyumnya besar. Hawa kasih mata bulat.

Di bawahnya, Hawa tulis pelan-pelan. Lama. Tapi hurufnya malah kebalik-balik.

BUNDA CPAT PLNG

Hawa lipat kertas itu. Disimpan di bawah bantal. Biar nggak hilang.

*

Pesan dari Iqdam masuk ketika aku sedang menatap layar laptop.

["Sudah ke dokter. Demam virus ringan."]

Kalimat Iqdam datar. Tidak ada keluhan di sana. Justru itu yang membuat dadaku seperti diremas.

Aku membalas cepat, sebelum pikiranku keburu melayang ke mana-mana.

"Terima kasih sudah bawa ke dokter. Tolong bantu Hawa minum obat, ya."

Kujeda sebentar. Tanganku menggantung di atas layar. Aku ingin menulis, Maaf. Tapi kata itu terasa tidak cukup.

Siang itu aku bekerja seperti robot. Mendengar, mengangguk, mencatat. Di sela-sela kesibukan, pikiranku selalu kembali ke ; apakah Hawa sudah makan? apakah ia bertanya lagi kemana aku pergi?

Sore hari, aku yang menelepon Iqdam. Wajah Hawa muncul di layar. Pucat. Rambutnya sedikit basah. Tapi matanya langsung berubah cerah.

“Bundaaa…”

Hatiku runtuh. “Iya, sayang.”

“Aku minum obat. Nggak nangis,” katanya bangga.

Aku tersenyum lebar. Menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca. “Pinter.”

Ia mendekat ke kamera. “Bunda masih lama ya?"

Aku mengangguk cepat. “Iya.”

Ia lalu menguap. Matanya mulai tak fokus dan selang beberapa menit kemudian, Hawa tidur.

Setelah layar mati, aku duduk lama. Menatap ponsel yang gelap.

Ada keinginan pulang yang menderu. Tapi juga ada kesadaran pahit, pulang dalam kondisi ini hanya akan menambah luka baru. Aku harus menahan diri. Demi Hawa.

*

Aku membacakan cerita malam ini. Hawa mendengarkan. Tidak minta diulang. Tidak menyela.

“Selamat bobok, Ayah,” katanya setelahnya.

Aku mengangguk. “Iya.”

Lampu kamar kupadamkan. Aku berdiri sebentar di ambang pintu. Ada ruang kosong di rumah ini. Tapi juga ada pelajaran yang sedang dipelajari—oleh kami bertiga.

Di ruang tengah, aku duduk sendiri. Pesan terakhir Hana masih terbuka.

["Aku tahu ini nggak mudah buat Mas juga."]

Aku menatap kalimat itu lama.

Aku mendongak. Entah kenapa, aku tidak ingin Hana kembali karena kasihan padaku. Aku ingin dia kembali karena percaya.

Dan kepercayaan itu, harus kubangun pelan-pelan, dari caraku menjaga anak kami.

***

Aku kira mengurus anak sendirian cuma soal waktu dan tenaga. Ternyata tidak.

Ini soal pikiran yang terbelah, emosi yang bocor di mana-mana, dan rasa bersalah yang tidak bisa dikontrol.

Pagi itu kerjaanku berantakan.

Laptop menyala sejak subuh, tapi kepalaku tidak benar-benar menatap layarnya. Hawa rewel, lalu diam. Lalu minta minum. Lalu muntah sedikit. Aku bolak-balik dari dapur ke kamar, dari kamar ke ruang kerja, dengan tangan gemetar menahan panik.

Rapat daring tertunda. Pesan masuk menumpuk. Aku lupa membalas email penting. Untuk pertama kalinya aku menutup laptop bukan karena selesai—tapi karena menyerah.

Aku duduk di lantai ruang tengah, punggung bersandar ke sofa. Aku menatap ruang tamu yang berantakan. Mainan berserakan. Gelas kotor di meja. Nafasku berat. Kepalaku langsung tertunduk lesu.

Dulu, semua ini terlihat sepele. Sekarang, semua pekerjaan terasa terlalu banyak.

Menjelang siang, Hawa keluar kamar membawa botol minumnya. Tinggal setengah.

“Ayah…”

“Iya?”

“Habis.”

Aku berdiri cepat, mengambil botol itu dari tangannya. Tanganku gemetar saat menuang air. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali makan dan minum.

Sore datang tanpa terasa. Kepalaku pening. Badanku lelah. Tapi pekerjaan belum selesai.

Aku duduk bersandar ke sofa. Menutup wajah dengan kedua tangan. Capek. Bukan badan tapi hatiku.

Aku teringat Hana. Duduk di rumah ini, mungkin di posisi yang sama. Menunggu aku pulang. Menunggu aku bertanya bagaimana harinya.

Dan aku?

Diam.

Tuhan… ternyata begini rasanya mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus Hawa.

Begini rasanya yang selama ini dirasakan Hana—sendirian, kelelahan, tapi tetap harus kelihatan kuat.

“Ya Allah…” suaraku serak. Aku menelan ludah.

“Pas aku pulang, dia nunggu buat luapin cerita, nunggu capeku reda tapi aku malah nyudutin dia… bikin dia ngerasa sendirian.”

Dadaku bergetar. “Suami macam apa aku ini…”

Langkah kaki kecil terdengar. Aku mendongak.

Hawa berdiri di depan pintu kamar. Dia mengenakan baju. Dasternya Hana. Yang sering dipakai di rumah. Baju itu kebesaran di tubuh kecilnya. Lengannya terlipat. Lehernya longgar.

Hawa berjalan pelan ke arahku. Duduk di pangkuanku tanpa bicara. Dia menempelkan pipinya ke dadaku.

“Dingin,” katanya pelan.

Aku tercekat.

“Kalau dipeluk bunda… hangat.”

Tanganku refleks memeluk tubuhnya. Erat. Seerat yang aku bisa. Aku menunduk, menempelkan daguku ke kepalanya.

“Maaf…” bisikku.

“Maaf ya, Nak…”

Kukatakan itu berulang-ulang. Lirih. Dadaku naik turun, air mataku jatuh. Menetes ke rambutnya. Aku tidak menyeka, sesak menangis diam-diam. 

Aku mencium rambutnya. Lama. Seolah itu satu-satunya caraku menyatakan rasa bersalah dan meminta maaf.

“Hawa…” suaraku pecah. “Ayah di sini. Ayah janji… nggak akan ninggalin kamu.”

Ia tidak menjawab. Tangannya mencengkeram bajuku, memeluk balik seperti takut kehilangan.

*

Ayah nangis. Hawa bingung. Biasanya bunda yang peluk kalau Hawa sakit. Bunda usap kepala sambil bilang, “Sebentar lagi enakan.”

Ayah peluk Hawa… tapi rasanya beda. Ayah lagi capek. Hawa peluk Ayah lebih erat. Hawa sandarin kepala ke dada Ayah. Degup jantungnya cepet.

Bunda biasanya bilang, “Kalau takut, peluk.” makanya Hawa pake baju bunda biar nggak dingin.

Hawa nggak ngerti kenapa orang gede sering marah. Apa gara-gara aku, Ayah sama Bunda jadi jauh? Kalau Hawa diem, mungkin semuanya baik-baik aja ya?

Hawa cuma mau Ayah sama Bunda ketawa lagi. Kayak dulu. Jangan marahan. Jangan pergi.

Jadi, Hawa diem aja, pejamkan mata dan pura-pura tidur. Biar Ayah nggak tambah sedih.

*

Dan di pelukan itu, aku akhirnya mengerti—rumah tanggaku tidak sedang retak karena marah, tapi karena terlalu lama kami menahan luka sendirian.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!