Gelora Cinta Kedua (Novel)
Proyek Hawa
POV Iqdam
Sejak demamnya turun, Hawa seperti punya proyek baru dalam hidupnya: sembuh secepat mungkin.
Pagi-pagi sekali aku mendapati dia sudah duduk di tepi ranjang, memegang termometer sendiri. Alisnya berkerut, serius sekali.
“Hawa ngapain?” tanyaku sambil mengucek mata.
Ia menoleh cepat. Memegang dahinya. “Cek panas.”
Aku mendekat. “Sudah Ayah cek tadi subuh. Normal.”
“Tapi siapa tahu naik lagi,” katanya kaku, lalu memasukkan termometer ke ketiaknya, menirukan suster sungguhan.
Aku menahan senyum. Anak sekecil itu, tapi rasanya ia sedang menanggung misi besar. Beberapa menit kemudian, ia berlari kecil ke dapur. Membuka kotak obat. Mengambil sendok takar. Aku mengikutinya dari belakang.
“Hawa, itu belum waktunya,” kataku cepat.
Ia berhenti. Menatapku, matanya dikerjapkan dua kali. “Kalau minum sekarang, sembuhnya lebih cepet, kan?”
Aku tertawa kecil. “Nggak gitu juga.”
Aku mendekat, meminta obat di tangannya. Ia manyun, tapi menurut. Duduk sambil menatap jam dinding, menghitung menit dengan sabar.
Siang itu aku meeting daring dengan tim produksi. Kamera menyala. Aku sedang menjelaskan soal target pengiriman ketika tiba-tiba Hawa muncul dari samping, membawa termometer lagi.
“Ayah,” bisiknya. “Masih dingin, belum panas.”
Aku reflek melirik angka di layar termometer, lalu mengangguk sambil mengacungkan jempol. “Iya. Bagus.”
Salah satu staf tertawa. “Bos dicek kesehatannya sama dokter kecil?”
Aku terkekeh. “Iya. Dokter pribadi.”
Hawa menoleh ke layar dan tersenyum bangga, memamerkan giginya. Lalu duduk di pangkuanku tanpa diminta. Tangannya memegang lengan bajuku, matanya menatap layar dengan penuh minat, seolah ikut rapat.
Aku tidak merasa terganggu. Justru hatiku terasa ringan, bahagia.
Sore hari, Hawa mengambil ponselku sendiri dari atas meja. Lalu duduk tenang di sofa depan televisi.
“Ayah, Hawa mau telpon Kakek.”
Aku sedang berdiri di depan kulkas, mengangguk. “Boleh.”
Panggilan video tersambung. Wajah ayah Hana muncul. Rambutnya sudah makin putih, tapi senyumnya tetap hangat.
“Kakek!” suara Hawa agak serak, dipaksakan ceria. “Hawa udah sembuh.”
Ayah tertawa. “Suaranya kok kayak radio rusak?”
Hawa ikut tertawa, lalu bernyanyi. Lagu anak-anak yang nadanya naik turun, napasnya kadang habis di tengah kalimat. Tapi ia terus bernyanyi. Matanya berbinar. Seolah tiap nada adalah bukti bahwa ia kuat.
“Kakek denger, kaaaaan,” katanya setelah selesai. “Hawa udah bisa nyanyi.”
Ayah mengangguk. “Iya. Tapi masih serak. Hawa harus sembuh beneran.”
Hawa mengangguk cepat. “Iya. Hawa minum obat terus.”
Aku melihat ayah Hana tertawa lepas. Tapi matanya sempat melirikku—penuh arti. Aku tahu, bukan hanya kesehatan Hawa yang sedang diuji. Ada kesiapan lain yang sedang ditunggunya.
Kesiapan aku juga Hana.
Malamnya, Hawa tidur lebih cepat. Aku duduk di sampingnya, memandangi wajah kecil itu.
Anak ini… terlalu ingin cepat sembuh. Bukan demi dirinya. Tapi demi janji-janji kecil yang ia pegang erat.
Aku mengambil ponsel. Mengirim pesan ke Hana. “Hari ini dia cek termometer sendiri. Berkali-kali. Katanya mau cepat sehat.”
Tak lama, balasan masuk.
[“Dia emang gitu… kalau punya harapan.”]
Aku menatap layar lama. Mengetik, lalu menghapus. Akhirnya kukirim satu kalimat sederhana.
“Aku ... Makin ngerti dengan semua kebiasaan Hawa.”
*
PoV Hana.
Malam itu setelah berkirim pesan dengan Iqdam, aku membuka koper. Tidak langsung memasukkan apa pun. Hanya membentangkannya di lantai. Melihat ruang kosong di dalamnya.
Aku mulai melipat baju satu per satu. Menyusunnya rapi. Tidak terburu-buru.
Ayah lewat, melihatku sekilas. Tidak bertanya. Hanya mengangguk kecil.
Aku berhenti sejenak, memegang kaus Hawa yang kubawa di sini. Kaus tidur bergambar awan. Aku mendekapnya ke dada. Entah kenapa, merapikan barang di sini, terasa seperti menata keberanian.
Ponselku menyala. Ada foto baru. Hawa tertidur, memeluk boneka, termometer diletakkan di samping bantal. Pesan Iqdam singkat. [“Dia capek tapi senang hari ini.”]
Aku menutup koper. Tidak menguncinya.
Masih perlu memastikan, bahwa bukan hanya kesiapan pulang, tapi apakah kami sudah benar-benar belajar menjaga satu sama lain.
Kurebahkan diriku di kasur, memeluk ponsel. Teringat tadi, Iqdam menceritakan Hawa dengan nada biasa, seolah itu hanya rutinitas barunya. Tapi di kepalaku, semua adegannya hidup.
Aku bisa membayangkan Hawa dengan spidol merah di tangannya. Aku tahu benar kebiasaannya—menyimpan barang kesukaan di laci dekat kasur. Laci yang selalu dia buka pelan-pelan, seolah takut isinya kabur.
Aku tersenyum sendiri saat membayangkan Hawa menarik kalender di dinding. Kalender bergambar kelinci yang dulu kupilihkan karena warnanya pink, kesukaan Hawa. Aku bisa melihat jari kecilnya membuat satu garis silang, rapi tapi sedikit miring.
Iqdam bilang, setiap pagi Hawa selalu mengecek suhu tubuhnya. Berlari kecil membawa termometer, matanya berbinar kalau angkanya turun. Aku bisa membayangkan caranya berdiri tegak, bangga, seolah sedang menunjukkan nilai ujian.
Aku tahu tatapan itu. Tatapan yang ingin segera diyakinkan. Aku juga tahu rasanya ketika jawabannya ditunda. Ketika Hawa mengangguk, padahal hatinya ingin kepastian sekarang juga.
Iqdam bercerita bagaimana Hawa menunggu waktu minum obat. Duduk diam di sofa, menatap jam, menahan diri agar tidak “curang”. Aku tertawa kecil membayangkannya—anakku sudah belajar menahan keinginan demi tujuan yang lebih besar.
Aku tahu apa yang ada di kepalanya.
Kalau sudah sembuh, kakek. Kalau sudah sembuh, ayah jemput bunda. Kalau sudah sembuh, rumah ramai lagi.
Iqdam bilang Hawa menelepon ayahku sendiri. Menyanyi dengan suara yang dipaksakan, napasnya kadang habis, tapi senyumnya tidak pernah putus. Aku bisa membayangkan betapa kerasnya ia berusaha terlihat kuat, hanya agar hari itu semakin dekat.
Jawaban ayahku pasti sama seperti biasanya. ~Hampir. ~Sebentar lagi. Kata-kata orang dewasa yang tidak pernah benar-benar menjelaskan, tapi cukup untuk memberi harapan buat Hawa.
Aku membayangkan Hawa menerimanya tanpa protes. Karena anak-anak percaya, bahkan ketika tidak sepenuhnya mengerti.
Sore hari, kata Iqdam, Hawa duduk di pangkuannya saat ia bekerja. Kepalanya menempel di dada ayahnya, mendengarkan detak jantung. Aku tahu kebiasaan itu. Hawa selalu mencari suara yang membuatnya merasa aman.
Dan malamnya—bagian itu membuat dadaku menghangat sekaligus perih.
Di kepalaku, Hawa memejamkan mata sambil menghitung hari. Bertanya dalam hati apakah besok ia boleh mencoret kalender lagi, atau harus menunggu satu garis silang berikutnya, setelah iqdam bilang ok.
Anakku tidak sedang menghitung waktu. Ia sedang belajar bersabar, dengan caranya yang paling sederhana.
*
POV Ayah Hana
Aku melihat Hana dari balik pintu. Ia sedang melipat baju. Pelan, seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.
Anakku ini… selalu begitu. Kalau hatinya sumpek, tangannya justru ingin membereskan sesuatu.
Aku tidak masuk. Hanya berdiri sebentar. Menatap sekilas. Aku rindu cucuku. Rindu suara kecil yang suka panggil, “Kakek!”
Tapi aku tahu, yang sedang diuji sekarang bukan cuma jarak. Tapi kekuatan hati anakku.
Hana bukan perempuan lemah. Dia hanya terlalu lama memikul sendiri.
Aku ingin bilang: pulanglah. Tapi aku lebih ingin dia pulang dengan tenang, bukan terpaksa atau karena kusuruh.
Aku masuk pelan. Duduk.
“Hawa nanya mancing lagi?” tanyaku ringan.
Hana mengangguk. “Iya.”
Aku tersenyum. “Anak itu bukan nunggu mancingnya. Dia nunggu kalian bersama lagi.”
Hana diam.
“Kamu nggak salah mundur sebentar,” lanjutku. “Kadang orang dewasa perlu jarak supaya tahu ke mana harus kembali.”
Aku menepuk punggung tangannya. “Yang penting, jangan keras sama diri sendiri.”
Hana menunduk. Aku tahu, kalimat itu masuk ke relung hatinya. Putriku berhati lembut, kadang memilih diam agar tidak disalahpahami.
Siang tadi, Iqdam menelepon. Aku menjawab dengan suara tenang. “Iya, Dam?”
Suara di seberang terdengar ragu, tapi penuh harap. “Yah… Hawa sudah nggak demam. Sudah mau makan. Aku cuma mau tanya…”
Aku terdiam sejenak. Melirik ke arah Hana yang sedang duduk di kamarnya, mengerjakan tugas.
“Sudah boleh jemput?” Aku menahan napas. Ini bukan ranahku, aku menghargai putriku. Maka pertanyaan itu menggantung. Aku kembalikan ke Hana. "coba tanya ke Hana saja, pelan-pelan," kataku.
Di sana, terdengar suara halus Iqdam sedang melepas hela napas berat.
.
.