Gelora Cinta Kedua (Novel)
Ketemu Bunda lagi
(POV Hana)
Ponsel ayah berdering. Dia kembali ke ruang tengah, mengangkat ponselnya dan duduk di sofa depan televisi.
Aku mendengarnya sekilas. Jawaban ayah yang mengembalikan keputusan padaku. Siapa? Iqdam kah? aku membatin.
Tak lama telepon itu masuk saat aku masih melipat cucian. Nama Iqdam muncul di layar. Aku mengangkatnya segera.
“Hana,” suaranya terdengar pelan. “Aku mau bawa Hawa ke sana, kamu keberatan nggak?”
Aku diam, mendengarkan.
“Aku harus ke luar kota. Mendadak. Aku mau nitip Hawa sama kamu.”
Dadaku mengendur sedikit. “Iya.”
“Hana…” Ia berhenti sebentar. “Aku minta maaf. Banyak hal yang harusnya kita bahas dari dulu.”
Aku duduk di tepi kasur. “Aku juga minta maaf. Aku sering cuek, bukan karena nggak peduli. Tapi karena lelah duluan.”
“Iya,” katanya. “Aku ngerti sekarang.”
Tidak ada debat. Tidak ada pembelaan. Hanya pengakuan kecil yang jujur.
“Terima kasih udah mau bawa Hawa,” lanjutnya.
“Dia masih anakku, lah,” jawabku pelan, terkekeh.
"Iya ya," ucapnya ikut tertawa geli.
Telepon ditutup dengan tenang. Tidak ada janji apa-apa. Tapi hatiku terasa lebih ringan.
Tidak ada janji besar. Tidak ada ucapan dramatis. Tapi aku merasa—untuk pertama kalinya—kami duduk di sisi yang sama, meski belum sepenuhnya sejajar.
Kini, aku memejamkan mata, dadaku berdebar membayangkan saat ini Hawa sibuk sendiri.
Suara polosnya tapi bersemangat mmenaggil iqdam, terngiang di telingaku. [“Ayah,” katanya sambil membuka lemari. “Hawa mau ketemu Bunda, kan?”]
Pasti Hawa langsung ambil tas ransel kecilnya. Boneka dimasukkan duluan. Lalu buku gambar, kalender. Pensil warna, spidol. Dan dia akan menutup ritsleting dengan wajah serius. “Ini cukup?” tanyanya.
Aku tertawa, masih dengan mata terpejam. Membayangkan anakku berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya sendiri. Tangannya sedikit gemetar memegang sisir, tapi matanya berbinar.
"Hawa, bunda gak sabar ketemu," bisikku membuka mata, menyeka butir bening di sudut netra.
Dua jam kemudian.
Mobil berhenti di depan rumah ayahku. Aku berdiri di teras bersama ayah. Pintu mobil terbuka, dan Hawa langsung turun.
“Bunda!” serunya.
Aku jongkok, dan ia memelukku erat. Hangat. Nyata.
Ayah mengusap kepala Hawa. “Wah, udah sehat beneran ya.”
“Iya, Kek,” jawabnya bangga.
Iqdam berdiri agak ke samping. Tidak menyela. Membiarkan kami bertiga menikmati momen itu.
Setelah Hawa masuk ke rumah, Iqdam menghampiri ayah.
“Terima kasih, Yah,” katanya sopan. “Saya titip Hawa.”
Ayah mengangguk. “Anak itu aman kalau sama ibunya.”
Iqdam tersenyum tipis.
Ayah menepuk bahunya pelan. “Rumah tangga itu bukan soal siapa paling kuat. Tapi siapa mau belajar duduk dan dengar.”
“Iya, Yah,” jawab Iqdam lirih.
Ia pamit. Melangkah mundur. Sebelum masuk mobil, ia menoleh lagi. “Kalau kamu butuh apa pun… bilang.”
Aku mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Aku berdiri di ambang pintu lalu menutupnya. Hawa sudah rebahan di kamarku, membuka tasnya, mengeluarkan boneka dan buku gambar.
Boneka di pelukannya. Ia menepuk sisi kasur.
“Bunda tidur sini.”
Aku naik ke kasur, memeluknya. Nafasnya teratur. Tidak lama kemudian, ia tertidur
Malam itu, rumah terasa tenang. Tidak sempurna. Tapi cukup utuh untuk hari ini.
Menjelang midnight, aku terbangun karena haus. Tiba-tiba ponselku bergetar.
Notifikasi pesan masuk dari Why.
Aku membaca pesannya perlahan. Dia bercerita tentang istrinya yang dingin. Tentang kebingungannya bertahan atau menyerah. Tentang rasa lelah yang tidak tahu harus diceritakan ke siapa.
Aku menarik napas, mengikat rambutku ke atas. Kubaca lagi, tidak menasehati. Tidak menyuruh. Aku hanya menulis,
"Kadang kita lupa, kenapa dulu memilihnya.
Coba duduk. Bicara. Tanpa bawa siapa benar siapa salah."
"Ingat alasan itu. Pakai itu buat kembali, atau buat mengerti."
Setelah itu, aku pamit. "Maaf, aku harus off. Lagi sibuk di real live."
Baru saja ingin merebah kembali, pesan lain masuk. Riz.
Aku membaca ulang pesan pertamanya. Lama. Lalu menulis dengan hati yang sudah lebih jernih.
"Pak Riz, maaf."
"Aku bukan orang yang kamu cari. Tolong jangan hubungi aku lagi."
"Aku masih mencintai keluargaku. Aku yang memilihnya. Dan jika suatu hari berakhir, itu juga keputusanku—tanpa kamu, tanpa siapa pun."
"Terima kasih sudah memberi ruang. Aku akan bangun mimpiku pelan-pelan, melibatkan dia."
Kukirim. Lalu kuhapus nomornya.
Aku meletakkan ponsel. Menatap Hawa yang tidur nyenyak. Tanganku mengusap rambutnya pelan. Aku sudah memilih. Dan kali ini, aku tidak lari lagi.
Menjelang subuh.
Bonekanya terguling di lantai. Selimutnya terangkat sampai perut. Aku tidak membenarkannya. Biarlah. Anak tidur paling nyenyak saat tidak diatur.
Aku duduk di tepi ranjang cukup lama. Mendengarkan napasnya. Sama seperti dulu—pendek, cepat, lalu melambat.
Ponselku bergetar. Dari Iqdam.
Tidak ada sapaan panjang.
“Aku baru selesai.”
Aku membalas setelah beberapa detik.
“Istirahat dulu.”
Aku tidak menunggu balasan. Meletakkan ponsel terbalik di meja. Kali ini, aku tidak takut ia pergi. Yang kutakuti justru jika ia pulang menjemputku tanpa benar-benar siap memulai dengan versi barunya.
Aku keluar kamar. Lampu ruang tengah sudah menyala. Ayah duduk dengan koran kemarin yang tidak lagi dibaca. Hanga duduk menunggu adzan subuh.
“Hawa?” tanyanya singkat.
“Masih tidur.”
Ayah mengangguk. “Anak itu pulas, lega akhirnya bisa ketemu kamu lagi."
Aku duduk di seberangnya. Tidak membela siapa pun. Tidak juga menjelaskan.
Ayah bangun, merapikan sarung dan pecinya, hendak ke Masjid. “Kalau orang dewasa mau bertahan, jangan pakai anak sebagai alasan. Pakai kesadaran kalian.”
Aku menunduk. Kalimat itu sederhana, tapi tepat sasaran.
“Aku tahu kamu masih sayang,” lanjutnya. “Makanya kamu mundur. Tapi pulang itu bukan soal jarak. Soal keberanian.”
Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan.
Aku berdiri. Masuk ke kamar. Di tas Hawa menyembul kalender bergambar kelinci. Ada satu kotak kosong yang belum disentuh.
Aku mengambil spidol merah dari tas Hawa. Membuat satu garis. Tidak tebal. Tidak ditekan. Bukan tanda semuanya selesai. Hanya tanda bahwa aku ... Kembali.
.
.