Halal tapi Asing

Perempuan itu Cahaya Rumah

Aku kira setelah mendengar pengakuan Nivean, suasana akan sedikit mereda. Ternyata tidak.

Ibu Wardah hanya mengembuskan napas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Wajah beliau melunak sedikit, tetapi sorot matanya masih menyimpan ketidaksetujuan.

"Baik, kamu juga salah. Tapi itu tidak menghapus bagian Azarin."

Dadaku langsung menegang lagi tapi berusaha menenangkan diri. Di luar jendela, cahaya matahari sore mulai masuk melalui sela tirai kamar rawat.

"Buu..." Nivean kembali membuka suara.

Namun Ibunya mengangkat tangan, meminta putranya mendengar ia bicara, "Seorang istri juga punya tanggung jawab menjaga rumahnya."

Aku menggigit bibir bagian dalam.

"Tisya membentak neneknya. Itu bukan hasil didikan dalam satu malam."

Mataku langsung beralih pada Tisya. Anakku yang masih pucat itu tampak menunduk. Jemarinya sibuk memainkan ujung selimut.

"Bu..." cicitku, "Tisya cuma lagi emosi."

"Karena dia tidak diajarkan mengendalikan emosinya," sanggah Wardah tajam padaku.

Deg.

Aku menarik napas panjang.

Ya Allah... Menahan diri ternyata jauh lebih sulit daripada membalas.

Memang Rasulullah mengajarkan bahwa orang kuat bukanlah yang menang saat debat, melainkan yang mampu menahan amarahnya, tapi hari ini aku merasa lemah sekali.

Ibu Wardah menatapku tanpa berkedip. "Lihat keadaanmu sekarang, Rin." Beliau menunjukku dari ujung kepala sampai kaki.

"Hijab kusut."

Tanganku refleks menyentuh sisi hijab yang memang sudah berantakan sejak pagi.

"Baju seadanya, wajah lecek. Memangnya gaji Nivean kurang?"

Aku mengangkat kepala perlahan.

"Apa Nivean gak cukup ngasih uang buat perawatan?"

"Bu..." suara Nivean terdengar lebih keras.

"Tunggu." Ibu Wardah masih menatapku. "Salon ada, baju bagus punya kan? Nivean kerja mati-matian, loh," jedanya, "Perempuan itu bukan cuma jadi ibu." Beliau menggeleng pelan. "Kamu juga istri."

Huft. 

Diriku tidak lagi merasa marah, hanya... lelah. Karena aku tahu beliau sedang melihat penampilanku hari ini, bukan malam-malam ketika aku begadang menemani anak demam atau pagi-pagi ketika aku bangun sebelum semua orang terjaga.

Bukan ketika aku menunda membeli sesuatu untuk diri sendiri karena uangnya lebih berguna untuk kebutuhan rumah. Beliau hanya melihat hasil akhirnya. Perempuan kusut yang duduk di hadapannya sekarang.

Aku menunduk sambil meremas ujung gamis, membatin, "Ya Allah... kadang manusia hanya melihat apa yang tampak di permukaan. Sedangkan Engkau mengetahui letih yang tidak sempat kuceritakan kepada siapa pun."

Ibu Wardah hanya menghela napas panjang lalu berdiri perlahan dari kursinya. Beliau menatap Tisya beberapa saat sebelum kembali mengalihkan pandangan kepadaku.

"Tisya gak belajar menghormati orang yang lebih tua saat sedang marah."

Ruangan kembali hening. Entah sudah berapa kali hari ini aku menunduk.

"Rin," suara Ibu Wardah terdengar lebih tenang, bukan karena marahnya hilang, melainkan beliau bakal masuk ke bagian yang menurutnya paling penting.

"Jadi istri itu harus tetap prima."

Aku menggenggam ujung gamis di pangkuan.

"Capek itu biasa." Beliau menunjuk ke arah Nivean. "Suamimu kerja, lelah, banyak tekanan, tapi tetep menunaikan kewajibannya," runutnya.

Aku tahu aku seharusnya diam.

Namun ada sesuatu di dadaku yang perlahan terasa sesak, "Bu, saya juga..."

"Semua perempuan ituuuuuuu capppeeeek." Ibu Wardah menggeleng. "Gak ada alasan."

Tatapan beliau masih tertuju padaku. "Apalagi kalau suamimu mapan. Gaji Nivean kurang?"

Aku menggeleng pelan.

"Uangnya kurang?"

Aku kembali menggeleng.

"Kalau begitu kenapa kamu gak merawat diri?"

Aku terdiam.

"Tahu gak kenapa banyak rumah tangga rusak?" lanjutnya. "Karena perempuan berhenti jadi istri dan berubah jadi manajer rumah tangga. Kamu terlalu fokus jadi ibu."

Mungkin ada benarnya atau mungkin aku hanya terlalu lelah untuk membela diri.

Ibu Wardah merapikan tasnya. "Lelaki itu makhluk visual, Rin. Nafkah batin itu bukan cuma urusan suami."

Aku memejamkan mata.

"Kalau suatu hari kamu mengeluh ke Ibu bahwa Nivean begini atau begitu, tetap saja ibu suruh kamu ngaca dulu."

Deg.

"Apa kamu sudah menjaga keharmonisan itu?"

Tenggorokanku tercekat.

"Apa kamu masih jadi tempat yang menyenangkan?"

Aku tidak sanggup menjawab, diriku total disalahkan. Membantah ibu sama saja bunuh diri. 

Ibu Wardah mengembuskan napas panjang.

"Dulu nenek Nivean pernah bilang sama Ibu..." ujarnya pelan. "Perempuan itu sumber cahaya rumah." Beliau menatapku lekat-lekat. "Kalau ibunya loyo, rumahnya ikut redup."

Aku membeku, lagi-lagi hanya mampu menunduk. Sementara di sampingku, Tisya kembali menggenggam tanganku erat.

Beberapa saat kemudian Ibu Wardah mengambil tasnya. "Ibu pulang dulu."

Beliau berjalan menuju pintu, Nivean langsung bergerak. "Ibu, aku antar."

Pintu terbuka lalu tertutup lagi, meninggalkan aku dan Tisya dalam keheningan yang aneh.

Tidak lama kemudian ponselku bergetar. Mataku langsung membesar. "Mampus deh," umpatku. 

Aku menoleh ke arah Tisya yang matanya masih sembab karena menangis. "Tante Wita mau ke sini."

Tisya langsung meringis. "Kita gak bisa pura-pura waras, Bun?"

Belum sempat kuketik balasan, pintu kamar sudah terbuka. Brak.

"Assalamu'alaikum, manusia favoritku!"

Aku langsung memejamkan mata, cepat sekali dia sampai. Hanasuwita muncul dengan totebag besar di bahunya dan sekotak donat di tangan.

Langkahnya berhenti tepat di tengah ruangan, matanya menyapu wajahku lalu Tisya dan kembali ke aku.

Hening.

Tiga detik.

Empat detik.

"Lho." Dia mengangkat satu jari. "Mertuamu baru ngebom ruangan ini?"

Aku langsung tertawa meski mataku masih panas. Tisya sampai terkekeh kecil di atas ranjang.

"Masih jadi tarot reader?" selorohku memintanya duduk. 

"Sssst, bau asapnya masih ada loh, Rin."

Aku terkekeh seraya menerima uluran donat dari tangannya. "Asap macam mana?"

"Bukan asap kebakaran." Dia mendekat sambil menarik kursi. "Asap ceramah."

Tisya tertawa lebih keras sementara aku mengangguk pasrah, masih dengan sisa senyum.

"Parah?"

"Level 5," ucapku tertawa di sela-sela kecanggungan.

Hanasuwita membuka totebag lalu menyodorkan buket coklat ke Tisya. 

"Lagian ngapain sih nangis?" tanyanya menunjuk wajahku dan Tisya.

Aku mengangkat bahu, "Toren air mata lagi full aja ini sih," jawabku sambil membuka kotak donat.

Perlahan, pengap yang sejak tadi memenuhi ruang rawat itu mulai menipis. Cahaya matahari sore yang masuk melalui sela tirai jatuh lembut membaur dengan aroma donat yang baru saja kubuka.

Di tengah suasana yang mulai menghangat itu, Wita mengalihkan pembicaraan ke florist milik temannya yang sempat diceritakan tempo hari padaku.

Wita sedang menawarkan tempat untuk keluar dari rutinitas yang selama bertahun-tahun hanya berputar di dalam rumah. Ruang untuk mengingat bahwa sebelum menjadi istri dan ibu, aku pernah menjadi Azarin, yang memiliki kesukaan, mimpi, dan dunianya sendiri.

Dadaku terasa hangat. Sejak pagi, semua orang datang dengan nasihat, kritik, atau penilaian tentang kekuranganku. Wita tidak membicarakan itu, justru mengingatkanku pada bagian yang perlahan hilang tanpa kusadari.

Tiba-tiba ... teringat ucapan Ibu Wardah tentang perempuan yang menjadi cahaya rumah. Mungkin cahaya itu tidak selalu tampil sempurna atau terlihat kuat setiap saat. Bisa jadi malah menjaga diri sendiri agar tidak padam saat sibuk menerangi orang lain.

Wita yang sejak tadi bersandar santai akhirnya menoleh ke arahku lalu Tisya yang kini sudah terlihat jauh lebih tenang dibanding tadi.

Senyum muncul di wajahnya. "Jadi..." katanya sambil melipat tangan di dada. "Kalau Bundanya Tante pinjem beberapa jam sehari buat main bunga, boleh gak?"

Tisya berkedip beberapa kali.

Sementara aku langsung menoleh ke arah Wita. Perempuan itu hanya mengangkat bahu padahal baru saja mengajukan permohonan kepada pihak paling berwenang di ruangan ini.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!