Halal tapi Asing

Kepo Akut

Aku menatap pesan dari Viva cukup lama. Tanpa sadar, bibirku mengerucut tipis.

Kalau hanya membaca kalimatnya, pesan itu terdengar bagai tetangga yang ramah dan peduli.

Sayangnya, aku sudah tinggal lumayan lama di lingkungan itu. Cukup paham bahwa sebagian orang memang punya bakat luar biasa dalam membungkus rasa penasaran dengan pita bernama kekepoan.

Belum sempat memutuskan harus membalas apa, ponselku kembali bergetar. Kali ini nama yang muncul membuatku spontan memejamkan mata.

"Ya Allah... Aku bahkan belum buka pesannya tapi sudah bisa nebak arahnya ke mana," rutukku.

Perlahan kubuka chat dari Emina, adik ipar Nivean. Benar saja, dugaanku terbukti. 

["Kak Rin, aku barusan telepon Ibu. Rumah tangga kalian baik-baik aja, kan?"]

["Ibu kayak lagi kepikiran sesuatu. Murung mulu, baperan pula. Mas Nivean juga katanya keliatan capek banget."]

["Aku boleh tanya sesuatu gak? Kalian lagi ada masalah?"]

Aku langsung menjatuhkan kepala ke sandaran kursi.

Tisya yang sedari tadi setengah rebah menoleh ke arahku. "Kenapa, Bun?"

Aku mengangkat layar ponsel, berkata lesu, "Tante Emina."

"Ck, kenapa sih para manusia itu? Satu Nenek aja udah kek rudal Iran, ditambahi anteknya pula," decak Tisya.

"Ssstt, Tisya," tegurku meski menahan tawa.

"Kan bener loh, Bun. Nenek tuuu suka nembak langsung sedangkan Tante Mina itu kek drone, muter dulu sambil ngawasin," jelasnya bersemangat melihatku.

Aku akhirnya tertawa renyah. Tisya benar-benar duplikat Nivean saat sedang sarkastik.

Ponselku kembali berbunyi, Viva mengirim pesan lagi.

["Kalau lagi ada masalah jangan dipendam sendiri ya, Mbak."]

Aku memijat pelipis. Sementara di chat satunya, Emina kembali mengirim pesan.

["Aku serius nanya, Kak. Mas Nivean gak cerita apa-apa ke Naturaz, makanya aku curiga. Are u ok?"]

"Tuh kan," gumamku.

"Apalagi, Bun?"

"Dua-duanya lapar informasi."

Tisya mengibaskan tangannya sebelum berbalik badan dan kembali memeluk buket cokelatnya.

Aku memandangi dua ruang chat itu bergantian, tetangga vs adik ipar.

Kadang lelah itu bertumpuk karena menyadari bahwa saat sebuah keluarga sedang berusaha memperbaiki dari dalam, selalu ada orang-orang di luar yang berdiri di depan jendela, mencoba mengintip lewat celah tirai.

Aku menghela napas panjang lalu mengunci layar ponsel. Tak semua pertanyaan layak dijawab karena saat ini, aku masih punya urusan yang jauh lebih penting daripada memuaskan rasa penasaran orang lain.

Aku harus berbicara dengan Nivean, setelah semua yang terjadi. Kurapikan lipatan selimut Tisya yang sedikit bergeser. Anak itu sudah mulai tertidur, meski sesekali masih bergerak mencari posisi yang nyaman.

Senja kian turun. Cahaya lampu memenuhi kamar perlahan. Dari lorong rumah sakit terdengar samar suara troli melintas dan langkah beberapa perawat yang bergantian menjalankan tugas.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi lagi sambil membayangkan percakapan dengan Nivean nanti. Dia punya kuasa untuk menyetujui atau menolak langkah yang ingin kuambil.

Aku menunduk menatap jemariku sendiri. Sudah berapa lama aku tidak meminta sesuatu untuk diriku sendiri?

Pertanyaan itu membuat dadaku terasa aneh. Selama bertahun-tahun aku terbiasa menyesuaikan diri dengan peran ibu, sampai tanpa sadar, keinginanku sendiri perlahan mengecil lalu meredup di palung hati.

Ya Allah... Kalau memang seorang istri dianjurkan meminta izin kepada suaminya, semoga Engkau juga lembutkan hati kami saat membahas ini. Jangan sampai aku memintanya dengan ego, dan jangan pula suamiku memberinya karena terpaksa.

Ponselku kembali menyala. Nivean mengirim pesan bahwa akan kembali ke rumah sakit dengan Saff setelah membeli beberapa makanan.

["Kamu mau nitip apa?"]

Aku membaca pesan itu berulang-ulang, lupa kapan terakhir kalinya Nivean bertanya apa yang kuinginkan. Aku menggigit bibir bawah pelan sebelum mulai mengetik.

Rasanya lucu, setelah bertahun-tahun menikah, ternyata meminta sesuatu pada suami sendiri bisa terasa sesulit ini.

"Apa aja. Hati-hati di jalan."

Beberapa detik kemudian centang dua langsung muncul. ["Oke."]

Suara pendingin ruangan berdengung pelan, cahaya lampu memantul lembut di lantai menjadi titik pandangku saat ini.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Sebentar lagi Nivean kembali, kegelisahan mulai merayap di dadaku.

Bagaimana kalau dia tidak setuju? Atau malah menganggap ide itu tidak penting? Gimana kalau dia mengira aku sedang mencoba lari dari masalah rumah tangga kami?

Aku mengusap wajah pelan, "Astaghfirullah."

Manusia memang sering kehabisan tenaga bukan karena kenyataan yang terjadi, melainkan bergelut memikirkan seratus kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Malam semakin larut ketika Nivean dan Saff tiba. Satu jam setelahnya, suasana di kamar rawat itu akhirnya lengang. Aku memperhatikan kedua anakku yang sudah tertidur beberapa saat.

Ya Allah... Beginikah rasanya diterpa badai?

Di sisi lain ruangan, Nivean sedang merapikan beberapa barang yang dibawanya dari rumah. 

Nivean duduk di sofa panjang, tidak jauh dariku. Aku menatap jemariku sendiri beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara, "Mas..."

Suamiku mengangkat kepala. "Hm?"

"Aku mau ngomong sesuatu."

Tatapannya langsung beralih padaku.

Aku menarik napas pelan lalu menceritakan semuanya, termasuk kesempatan wawancara yang ditawarkan esok hari.

Selama aku berbicara, ekspresi Nivean tetap tenang dan itu malah membuatku tidak nyaman.

Setelah aku selesai bercerita, ia terdiam cukup lama. Pandangan matanya beralih ke lantai sebelum kembali padaku.

"Aku kurang setuju," singkatnya tak menoleh.

Aku menunduk sebentar. "Karena?"

Nivean menyandarkan tubuh ke sofa lalu mengusap tengkuknya perlahan. "Rumah lagi berantakan, Rin."

Aku diam mendengarkan.

"Setelah dari rumah sakit, Tisya butuh pemulihan. Saff juga masih perlu perhatian," tuturnya lembut meski ada keresahan di nadanya. "Aku cuma mikir waktunya kurang pas."

Aku menggigit bibir bagian dalam. Sebenarnya aku mengerti, tapi ada sesuatu yang benar-benar ingin kulakukan untuk diriku sendiri. "Aku paham, kok."

Nivean mengangguk kecil.

"Tapi aku tetap mau coba."

Kali ini ia menoleh penuh padaku. Sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang samar. Mungkin biasanya aku akan berhenti memohon ketika dia bilang tidak setuju, dan sekarang aku malah bersikukuh.

"Aku bukan mau kerja seharian," lanjutku pelan. "Cuma mau wawancara dulu."

Nivean mengembuskan napas panjang, "Aku tahu."

"Aku juga bukan mau ninggalin kewajibanku di rumah," imbuhku pelan.

"Aku tahu."

"Dan bukan karena kurang uang," cicitku menunduk.

Kali ini sudut bibirnya bergerak tipis, "Aku juga tahu itu."

Aku memandang keluar jendela beberapa saat sebelum kembali menatapnya. "Kalau aku cuma keluar buat nongkrong, nanti orang bilang aku ngabisin uang suami."

Nivean terdiam.

"Kalau aku kerja beberapa jam, setidaknya aku dapat suasana baru." Tanganku saling bertaut di pangkuan. "Kamu kan sibuk, Mas."

Kulihat dahinya mengernyit tipis. 

"Kamu bisa keluar rumah. Ketemu orang. Punya dunia di luar keluarga." Aku tersenyum kecil, meski rasanya pahit. "Sementara aku muter di tempat yang sama bertahun-tahun," keluhku lancar meski hati berdebar apakah ini sudah keterlaluan...

Ruangan kembali hening. Aku bisa melihat rahangnya mengeras sedikit, mungkin sedang berusaha memahami sesuatu yang baru saja disadarinya.

"Aku cuma pengen..." Aku berhenti sejenak mencari kata yang tepat. "Ingat lagi rasanya jadi Azarin."

Nivean menatapku tanpa berkedip, lalu perlahan mengembuskan napas, "Ya sudah."

Aku menunggu kelanjutannya.

"Terserah."

Aku langsung mengernyit. "Gitu doang?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!