Halal tapi Asing
Test Tangan
Troli itu seperti seseorang mantan yang baru saja menemuiku lagi setelah bertahun-tahun tidak saling menyapa.
Mawar, baby's breath, ruskus leaf, wrapping paper juga pita. Benda-benda itu begitu akrab, tetapi sekaligus terasa asing.
Jantungku berdetak tidak nyaman. Ragu-ragu kujawab, "Aku nggak tahu."
Perempuan itu mengangguk, senyumnya melebar sedikit. "Aku nggak minta hasil yang sempurna, Bu Azarin."
Aku terdiam.
Beliau menunjuk troli di samping meja. "Saya cuma tanya, masih bisa atau tidak?"
Sepi.
Tanganku turun ke pangkuan.
Ya Allah... Kenapa pertanyaan sederhana bisa terasa sesulit ini? Perempuan itu menunggu dengan santai tapi justru karena tidak didesak, aku jadi tidak punya alasan mengelak.
Aku perlahan berdiri dari kursi, kakiku terasa sedikit lemas ketika melangkah mendekati troli.
Aroma bunga segar semakin jelas. Seketika sebuah kenangan lama muncul begitu saja.
Aku yang jauh lebih muda, duduk di lantai kosan seadanya. Tangan belepotan serpihan daun, mencoba merangkai bunga sambil berkali-kali dibongkar lagi karena bentuknya tidak sesuai keinginan.
Sudah lama sekali.
Aku mengulurkan tangan perlahan, ujung jariku menyentuh salah satu tangkai mawar, lalu berhenti.
"Kenapa saya merasa sedang disuruh operasi jantung?" gumamku.
Pemilik florist tertawa kecil dan detik berikutnya, tanpa sadar bibirku ikut tersenyum.
Tanganku mulai bergerak, mengambil beberapa tangkai, menurunkannya lagi, mengganti dengan yang lain lalu menggeser posisi bunga satu per satu.
Awalnya kaku, canggung, seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat jalan pulang ke rumah lamanya.
Namun beberapa menit kemudian, gerakan tanganku mulai terasa lebih alami. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan mulai memiringkan kepala, mengamati proporsi warna, lalu memutar posisi batang bunga agar komposisinya lebih seimbang.
Ruangan menjadi sunyi. Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu.
Aku mengangkat kepala dan mendapati pemilik florist sedang memperhatikanku ... Bukan buketnya.
Deg.
Tanganku langsung berhenti bergerak, perempuan itu tersenyum tipis lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Menarik."
Fyuh.
Aku mulai curiga kata favoritnya memang "menarik", sebab kata itu diulang-ulang olehnya. Beliau berdiri dari kursi, kemudian berjalan mendekat hingga berhenti di sampingku. Pandangannya jatuh pada buket yang belum selesai kurangkai.
Beberapa detik berlalu. Lantas, beliau berkata pelan, "Bu Azarin..."
Aku menoleh.
"...saya rasa kita perlu membicarakan posisi yang berbeda dari yang Ibu lamar."
"Maksudnya?" tanyaku spontan, sampai gunting kecil yang sedari tadi berada di sela jemariku hampir terjatuh.
Perempuan itu mengambil buket setengah jadi dari tanganku lalu memutarnya perlahan. Tatapannya menyusuri susunan bunganya.
Aku berdiri kaku di samping troli, sementara jantungku terus berdetak tidak karuan seperti murid yang menunggu pengumuman kelulusan.
"Awalnya saya mengira Ibu lebih cocok di bagian administrasi atau pelayanan pelanggan," ujarnya tenang.
Dadaku langsung mengempis sedikit. Aku tahu, pasti ada yang kurang.
Namun sebelum pikiran-pikiran buruk itu berkelana lebih jauh, perempuan itu kembali mengalihkan pandangan dari buket ke arahku. "Tapi sekarang saya justru ragu."
Aku berkedip bingung. "Ragu?" cicitku.
Beliau mengangkat buket itu sedikit, memperlihatkannya padaku. "Karena ini cantik."
Aku menatap bunga-bunga di tanganku sendiri. Baru kusadari sejak tadi aku tidak benar-benar berpikir saat menyusun batang demi batang itu. Jemariku bergerak begitu saja. Memilih. Memutar. Menyesuaikan tinggi bunga. Menyisakan ruang di beberapa sisi.
Seolah ada bagian dari diriku yang masih bekerja diam-diam selama bertahun-tahun tanpa kusadari.
"Orang yang benar-benar lupa biasanya akan fokus ke susunan bunganya," lanjut perempuan itu sambil tersenyum tipis. "Tapi Ibu tadi beberapa kali bongkar pasang untuk melihat keseluruhan bentuknya."
Aku mengingat kembali apa yang kulakukan beberapa menit lalu. Benar juga meskipun tidak sadar melakukannya.
Beliau meletakkan buket itu kembali ke meja.
"Kami sedang mencari tambahan orang untuk membantu di workshop."
Jantungku kembali berdegup lebih cepat.
"Memang tetap harus belajar lagi dari awal," lanjutnya. "Tidak langsung menangani pesanan besar. Tapi saya rasa posisi itu lebih cocok dibanding meja administrasi," jelasnya diikuti senyum manis.
Tanganku otomatis meremas ujung gamis. Workshop, terdengar jauh lebih besar daripada yang kubayangkan saat datang pagi ini.
Aku datang hanya untuk mencoba.
Sekadar membuktikan bahwa aku masih bisa melakukan sesuatu di luar rumah. Tapi sekarang tiba-tiba ada kemungkinan lain yang terbuka di depanku, yang terasa menyenangkan sekaligus menakutkan.
Bayangan Nivean muncul begitu saja di kepalaku, disusul anak-anak. Kemudian wajah Ibu Wardah yang bahkan tanpa hadir di sini pun sanggup membuatku tegang.
Bagaimana kalau aku diterima? Dan ternyata menikmati pekerjaan ini, lalu semuanya berubah?
Kukira kegagalan adalah hal yang paling menakutkan. Padahal ternyata keberhasilan juga bisa menegangkan, sebab akan memaksamu melangkah ke tempat yang belum pernah kau datangi.
Perempuan itu tampaknya menangkap perubahan ekspresiku.
Beliau menyilangkan kedua tangan di atas meja lalu berkata lembut, "Tidak perlu jawab sekarang. Diskusikan dulu dengan keluarga. Kalau memang cocok, nanti kita lanjutkan ke tahap berikutnya."
Aku mengangguk pelan meski pikiranku masih terasa kacau.
Ketika pintu ruangan akhirnya kututup dari luar, aku berdiri beberapa detik di koridor tanpa benar-benar bergerak.
Tanganku masih menggenggam tas erat di depan perut. Rasanya seperti baru selesai munaqasyah yang diuji oleh dosen killer.
Belum sempat mengatur napas, seseorang tiba-tiba berdiri menghampiriku. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.
"Nah, gimana?" tanyanya.
Aku hanya mengedip.
"Rin?" ulangnya lagi.
Aku masih diam lalu mengusap wajah pelan. "Wita, sumpah..."
"Apa hasilnya?"
Aku bersandar ke dinding koridor lalu mengembuskan napas panjang. Ujung kerudungku ikut bergerak terkena hembusan napas itu.
"Mereka nawarin posisi lain."
Mata Wita langsung membulat. Jeritan kecilnya membuatku refleks menutup mulutnya dan melirik kanan kiri memastikan tidak ada orang yang mengira kami sedang membahas warisan keluarga.
"Posisi apa?" bisiknya tidak sabaran.
Aku menelan ludah pelan. "Workshop."
Wita membeku, bibirnya sedikit terbuka sementara kedua matanya menatapku lekat.
Lalu perlahan kedua telapak tangannya naik menutupi mulut.
Aku langsung curiga. Ekspresi itu terlalu dramatis. "Wita."
Dia tidak menjawab.
"Wita. Ulah elu kan?!" tuduhku memelototinya, lalu memejamkan mata pasrah.
Ya Allah... Belum tentu diizinkan Nivean. Tapi sahabatku sudah tampak seperti panitia syukuran, girang sangat.
"Jangan senang dulu," keluhku.
Wita akhirnya menurunkan tangannya lalu menggeleng cepat. "Aku nggak senang."
"Bohong," cercaku mendelik.
"Aku terharu," ucapnya cengengesan.
Aku mendengus pelan sambil memalingkan wajah, pandanganku jatuh ke lantai keramik koridor. Kilapnya memantulkan bayangan samar obrolan kami semalam, dan keraguan yang sempat muncul.
Tanganku kembali menggenggam tali tas lebih erat. Wita yang sedari tadi tampak girang akhirnya memperhatikan wajahku lebih saksama.
"Kok malah murung?" tanyanya pelan.
Aku mengangkat kepala perlahan lalu menyandarkan tengkuk ke dinding. Langit siang terlihat cerah dari ujung koridor dari tempatku berdiri.
"Aku takut, Wit."
Wajah Wita langsung melunak, bibirnya berucap pelan, "Takut apa?"
.
.