Halal tapi Asing

Tawaran Lain

Aku mengalihkan pandangan ke halaman depan toko. Beberapa mobil keluar masuk area parkir, sementara di balik kaca etalase tampak seorang pegawai sedang membawa rangkaian bunga besar menuju meja kerja.

"Aku takut kalau aku ternyata suka."

Wita mengernyit.

Aku tertawa kecil sambil menggeleng pelan, merasa kalimat itu terdengar bodoh bahkan di telingaku sendiri.

"Karena kalau aku suka..." ucapku melemah, "...berarti aku betah kembali ke versi lamaku, Wita," jujurku.

Angin dari koridor berembus pelan, menggerakkan ujung kerudungku. Aku menunduk, jemariku sibuk memainkan tali tas yang sedari tadi sudah kususut-naikkan entah berapa kali.

"Selama ini kan..." Aku tersenyum tipis "Aku tinggal bilang ke diri sendiri kalau hidupku memang begini. Bahwa tugas aku ya ngurus rumah, ngurus anak, selesai."

Wita tidak menyela, dia mendekat, mengusap lenganku naik turun pelan. Seolah dia melihatku langsung ketika berjibaku dengan urusan rumah.

"Aku nggak pernah benar-benar mikirin apa yang aku mau. Karena begitu mulai mikir, kok rasanya egois."

Tenggorokanku terasa mengencang. Aku teringat malam-malam panjang saat begadang menemani anak sakit. Tahun demi tahun berlalu begitu cepat sampai tiba-tiba Tisya sudah remaja dan Saff tidak lagi minta digendong.

"Aku takut kalau ternyata aku masih punya mimpi."

Deg. Setelah mengucapkannya, aku merasa melucuti diriku, sebab itulah inti dari semuanya.

Bukan soal florist atau pekerjaan, melainkan pengakuan bahwa setelah bertahun-tahun, masih ada bagian dari diriku yang belum selesai dikejar.

Wita memandangku cukup lama. Biasanya perempuan itu akan bercanda, menyelipkan komentar receh atau membuat ekspresi aneh, tapi kali ini tidak.

Ia justru menyenderkan tubuhnya lalu menyenggol bahuku pelan, "Rin."

Aku menoleh.

"Punya dan membangun mimpi itu nggak otomatis bikin kamu jadi ibu yang buruk."

Aku langsung memalingkan wajah. Pandangan mataku jatuh ke lantai lagi. Kilauan keramik tampak buram karena mataku mendadak panas. Ya Allah.

"Aku juga takut sama Nivean," akuku lirih.

Wita menghela napas pendek.

"Bukan takut dia marah."

"Lalu?" tanyanya.

Aku menggigit bibir bawah pelan seraya menyandarkan kepala ke dinding.

"Nivean mulai ngerti aku lagi. Setelah sekian lama," bisikku.

Bayangan kemarin muncul begitu jelas. Cara Nivean merapikan kerudungku di parkiran rumah sakit. Tatapan lembutnya saat berkata, kalau memang mau coba, coba aja.

Sikap dia membelaku di depan ibunya. Hal-hal kecil yang selama ini kurindukan diam-diam.

"Kalau aku kerja... Sibuk lagi," Aku berhenti sesaat. "Aku takut kami malah menjauh."

Untuk beberapa saat hanya ada suara kendaraan dari luar bangunan. Wita menyilangkan tangan di dada sambil memperhatikanku.

"Lalu kalau nggak dicoba?"

Aku terdiam.

Kalau nggak dicoba? Aku membayangkan diriku pulang hari ini. Kembali ke rutinitas yang sama dan meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja.

Lalu enam bulan, setahun, dua tahun, apakah aku akan baik-baik saja? Atau justru akan berdiri di depan cermin sambil bertanya kenapa dulu tidak pernah berani mencoba?

Aku memejamkan mata perlahan. Wita tiba-tiba mengembuskan napas panjang lalu menggeleng-geleng kepala.

"Aneh."

Aku membuka mata.

"Apa?"

Wita menunjuk ke arah ruang wawancara yang baru saja kutinggalkan. "Tadi masuk sana takut ditolak," katanya sinis. "Sekarang keluar dari sana takut diterima," sindirnya kali ini.

Aku langsung menatapnya, dan beberapa detik kemudian kami sama-sama tertawa.

Namun, begitu aku kembali melirik pintu ruang wawancara tadi, kecemasan soal apa yang akan terjadi, muncul lagi. 

Dalam perjalanan pulang, aku beberapa kali menggenggam kemudi lebih erat dari seharusnya. Lampu merah, deretan kendaraan, suara klakson, semuanya seperti backsound samar karena pikiranku sibuk menyusun kemungkinan demi kemungkinan.

Bagaimana cara menjelaskan ini pada Nivean? dia setuju bila aku menjadi staf administrasi, tapi posisi yang ditawarkan justru di workshop? Gimana kalau jadwalnya lebih padat dari yang kubayangkan dan akhirnya menikmati pekerjaan itu?

Ya Allah... Kenapa aku merasa bersalah untuk sesuatu yang belum terjadi?

Sore harinya, setelah memastikan Tisya beristirahat dan Saff sudah menyelesaikan tugas sekolahnya, aku duduk sendirian di meja makan sambil memandangi segelas teh yang mulai dingin.

Ponselku beberapa kali berpindah tempat dari meja ke tangan lalu kembali ke meja. Aku ingin menghubungi Nivean, menceritakannya. Tak sabar menunggu sampai dia pulang.

Namun, aku hanya mengirim satu pesan pendek. "Mas, nanti pulang jangan kemalaman ya. Ada yang mau aku ceritain."

Pesan itu terkirim, lima menit kemudian balasannya masuk. ["Serius amat kayaknya."]

Aku mendelik pada layar, belum sempat membalas, pesan kedua muncul.

["Baik atau buruk?"]

Sudut bibirku terangkat. "Nggak tahu."

Titik tiga pengetikan muncul beberapa detik. Nivean bilang akan pulang lebih awal.

Aku menatap layar cukup lama, berharap rasa cemas ini hilang. Menceritakan sesuatu lewat pesan dan mengatakannya langsung sambil melihat reaksinya adalah dua hal yang berbeda.

Menjelang magrib, ketika aku sedang membantu Tisya menyiapkan obat, bel rumah tiba-tiba berbunyi.

Sekali, dua kali berturut-turut. Aku dan Tisya saling berpandangan.

"Siapa ya?" gumamku.

Saff yang sedang selonjoran di ruang keluarga langsung bangkit dan berlari kecil ke arah pintu.

Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sangat kukenal.

"Kak Azaaaaarin!"

Aku langsung memejamkan mata. Ya Allah.

Belum juga pintu terbuka penuh, sosok Emina sudah muncul dengan tote bag besar menggantung di bahu dan ekspresi penasaran yang terlihat jelas.

"Aku lagi lewat," katanya cepat. "Kebetulan," imbuhnya.

Aku menatapnya datar. Emina terkekeh tanpa rasa bersalah lalu masuk begitu saja ke ruang tamu.

Baru beberapa menit duduk, matanya sudah berkelana ke mana-mana seperti petugas sensus yang sedang mengumpulkan data.

Tisya yang duduk di sofa langsung mendapat pelukan. Saff dicubitnya gemas dan aku kebagian tatapan menyelidik. Dia lalu mengambil camilan di meja tanpa izin seolah rumah ini miliknya juga.

Aku membiarkannya sambil kembali ke meja makan.

"Aneh."

Aku langsung curiga, meliriknya. "Apa lagi?"

Emina menyipitkan mata sambil menunjuk wajahku. "Kakak kelihatan bahagia."

Aku abaikan ocehan Emina, menarik kursi makan lalu duduk perlahan.

Sejak pulang tadi, pikiranku memang belum tenang. Daripada terus memikirkan hasil wawancara, aku memilih membongkar beberapa kotak lama dari gudang.

Di atas meja makan kini berserakan gunting, lem tembak, pita, potongan kertas kraft, beberapa lembar tisu warna-warni, dan vas bunga kosong yang sudah bertahun-tahun hanya menjadi penghuni rak.

Tanganku sibuk merangkai beberapa bunga untuk mengisi salah satu vas kecil berwarna cokelat ketika Emina tiba-tiba muncul di sampingku.

Matanya menyapu seluruh isi meja dengan sorot penuh kecurigaan. Aku melanjutkan pekerjaanku, mencoba terlihat biasa.

Sayangnya, Emina adalah tipe manusia yang menjadikan kekepoan sebagai sumber energinya. Ia menarik kursi lalu duduk perlahan di hadapanku.

Aku mengabaikannya, tetap memotong pita, menempelkan bunga tisu yang baru kubuat dan dia masih memperhatikan.

Beberapa detik kemudian, Emina menyipitkan mata. "Kak."

"Hm?"

"Kakak ngapain?" desaknya, "mau buka bisnis baru ya?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!