Halal tapi Asing

Tugas Istri Itu

Aku mengabaikannya, tetap memotong pita, merapikan kelopak bunga tisu yang sedikit penyok lalu memasukkannya ke dalam vas kecil di depanku.

Sayangnya, mengabaikan Emina sama sulitnya seperti nyuekin notifikasi promo yang terus muncul setiap lima menit.

Perempuan itu menyeret kursinya sedikit lebih dekat. Bunyinya bergesekan pelan dengan lantai keramik. Tanganku masih sibuk memutar vas, mengamati susunan bunga dari sisi lain.

Emina menyipitkan mata lagi saat berujar, "Kalau ditanya terus diam, berarti ada sesuatu."

Aku mendengus pelan. "Menurutmu semua orang pantas jadi bahan investigasi?"

"Nggak."

"Lalu?"

"Khusus keluarga aku aja," sahutnya datar.

Aku memejamkan mata sesaat, membatin, 'Ya Allah. Naturaz, jemput istrimu.'

Sementara itu Emina sudah berdiri dan berjalan memutari meja makan seperti petugas audit yang sedang melakukan pemeriksaan mendadak.

Matanya menyapu gunting, pita, lem tembak, vas, lalu berhenti pada tumpukan bunga tisu yang sudah selesai kubuat. Aku mulai waspada.

"Kak Rin habis ikut kursus?"

"Nggak."

"Wawancara?"

Tanganku yang sedang merapikan pita langsung berhenti sepersekian detik, tapi rupanya itu cukup bagi Emina untuk menarik kesimpulan saat menginvestigasiku.

Mulut Emina langsung terbuka lebar, "Nah kan!"

Aku menjatuhkan kepala ke sandaran kursi. "Astaghfirullah," gumamku.

Emina menunjukku girang, seperti baru berhasil memecahkan kasus besar. "Oh, habis wawancara!"

Aku tidak menjawab, kutatap wajahnya sambil menyanggah pipi dengan tangan kanan. "Emina, kenapa sih hidupmu bahagia banget kalau menebak urusan orang?"

"Karena seru."

"Tidak," tegasku. "itu nggak sopan!"

"Kak Rin kerja di mana?" tanyanya lagi, mengalihkan teguranku barusan.

Aku menarik napas panjang. Belum sempat menjawab, suara pintu depan terdengar dibuka dari luar. Klik.

Semua kepala otomatis menoleh. Nivean masuk sambil melepaskan jam tangan dan melonggarkan manset kemejanya. Wajahnya terlihat lelah sepulang kerja, tetapi langkahnya langsung melambat begitu melihat suasana ruang makan.

Aku duduk di satu sisi meja. Emina duduk di depanku dengan mata berbinar-binar seperti reporter yang mencium aroma berita gosip.

Nivean memandang kami bergantian, keningnya langsung berkerut. "Ada apa ini?"

Belum sempat aku membuka mulut, Emina menyahuti Nivean lebih dulu.

"Kak Rin habis wawancara kerja!" tunjuknya ringan padaku.

Nivean berdiri diam beberapa detik, tatapannya beralih kepadaku lalu ke meja yang penuh bunga dan kembali ke Emina.

Perlahan, aku melihat ekspresi yang sangat kukenal muncul di wajah suamiku. Gurat seseorang yang baru sampai rumah dan mendapati adik iparnya sedang menjadi penyidik tanpa diminta.

"Emina."

"Iya?"

"Kamu di sini ngapain?"

"Aku lagi lewat."

"Bohong," sergah Nivean cepat.

Emina tersedak sendiri. "Aku beneran lewat."

"Bohong." Nivean mengembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya. Lalu tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Aku langsung tahu ada seseorang yang sebentar lagi kena semprot.

Emina rupanya sadar juga. "Mas?" ucapnya cemas, terdengar dari nada suaranya yang mulai waspada.

Nivean menekan tombol panggil lalu mengaktifkan speaker. Beberapa detik kemudian suara adik kandungnya terdengar.

"Assalamualaikum, Mas."

" Wa alaikumussalaam... Raz."

"Iya, Mas?"

Nivean menatap Emina yang mulai salah tingkah. "Bawa istrimu pulang."

Sunyi.

Anak-anak sampai mengangkat kepala mendengar ucapan ayahnya. Nivean melanjutkan dengan suara datar yang justru terdengar lebih menyeramkan. "Sekarang!"

Di seberang sana terdengar bunyi kursi bergeser tergesa-gesa.

"Baik, Mas."

Emina membelalak. "Mas!"

Naturaz terdengar langsung berdeham kecil di sana, "Maaf ya, Mas."

Nivean hanya menyandarkan pinggul ke meja makan sambil melipat tangan di dada.

"Maaf juga buat Kak Rin," lanjut Naturaz cepat.

Aku spontan menggigit bibir menahan tawa. Sementara Emina menjatuhkan dahinya ke meja. Duk.

"Aku diusir."

"Kamu digerebek," sambar Nivean.

Ruangan langsung pecah oleh tawa anak-anak. Dan di tengah kejadian lucu itu, tanpa sengaja aku bertemu pandang dengan Nivean.

Lelaki itu tidak ikut tertawa. Dia hanya menatapku sebentar, lalu melirik bunga-bunga di atas meja.

Tatapan yang membuat jantungku kembali berdebar, karena setelah Emina pulang... Aku benar-benar harus menceritakan semuanya.

Begitu panggilan dengan Naturaz berakhir, Emina tidak lagi membantah seperti biasanya.

Perempuan itu hanya mengerucutkan bibir, memeluk tote bag di dada lalu berdiri dari kursinya dengan wajah yang terlihat tidak rela.

"Padahal aku cuma peduli."

Nivean yang masih berdiri di dekat meja makan mengembuskan napas panjang. Telapak tangannya mengusap wajah sebentar sebelum akhirnya menatap adik iparnya itu.

"Peduli itu boleh, Mina."

Emina mendongak.

"Tapi belajar bedain mana perhatian dan mana ikut campur."

Aku yang sedari tadi duduk di kursi hanya bisa menunduk, berusaha menyembunyikan senyum. Bukan karena menikmati Emina dimarahi, tapi karena jarang sekali melihat Nivean berbicara setegas ini pada keluarganya sendiri.

Suara motor terdengar memasuki halaman, Naturaz sepertinya sedang ada di sekitar sini. Pintu pun terbuka, lelaki muda itu langsung menyalami kami bergantian.

"Kalian tahu keadaan rumah lagi sensitif," lanjutnya tenang. "Ibu baru salah paham. Anak-anak juga baru pada sehat. Jangan nambahi beban dengan asumsi yang nggak perlu."

Emina tampak hendak menyela, namun urung.

"Maaf, Mas," sahut Naturaz.

Nivean mengangguk kecil. "Raz."

"Iya, Mas."

"Kamu kalau Azarin kepo akut soal rumah tanggamu, marah nggak?"

Beberapa detik sunyi. Keduanya langsung menunduk.

"Nah," sahut Nivean cepat sebelum adiknya sempat mencari jawaban. "Didik istrimu yang benar. Niat baik itu nggak otomatis bikin caranya jadi benar."

"Siap, Mas."

Nivean menyandarkan satu tangan ke meja makan. "Kalau KDM bikin barak pasutri kepoan, kayaknya aku daftar pertama buat jemput kalian berdua ke sana," imbuhnya menunjuk keduanya.

Kali ini aku benar-benar harus memalingkan wajah, terdengar suara Naturaz yang tertawa malu-malu. "Siap, Mas."

Beberapa menit kemudian Emina benar-benar pulang. Hanya pelukan singkat untukku di depan pintu dan wajah manyun yang masih dibawa sampai naik motor bersama suaminya.

Ketika suara kendaraan mereka akhirnya menghilang di ujung jalan, aku kembali ke meja makan sambil membawa vas kecil yang belum selesai kurapikan. Barang-barang masih berserakan di permukaan meja seperti jejak kekacauan demo DPR.

Dari dapur terdengar suara dispenser sesaat sebelum kembali sunyi. Nivean menarik salah satu kursi lalu duduk di depanku.

Dia hanya membuka kancing manset yang tersisa, menggulung sedikit lengan kemejanya lalu menyandarkan tubuh ke kursi.

Sementara aku sibuk merapikan kelopak bunga yang sebenarnya sudah rapi sejak lima menit lalu. Gugup memang kadang membuat seseorang mengulang-ulang gerakan.

"Aku lolos ke tahap berikutnya," cicitku lebih dulu membuka suara. "tapi posisinya beda."

Barulah kali ini dia mengangkat pandangan. "Beda gimana?"

"Bukan administrasi." Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Workshop."

Hening beberapa detik.

Kuperhatikan wajahnya diam-diam, berusaha mencari reaksi yang mungkin muncul. Namun Nivean hanya menurunkan pandangan ke vas bunga di depannya.

"Yang bikin buket itu?"

"Iya."

Lelaki itu meraih salah satu bunga tisu buatanku. Diputarnya perlahan di antara jemari seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Aku masih suka ternyata."

Jari-jari Nivean berhenti bergerak sesaat, lalu ia meletakkan kembali bunga itu ke atas meja. "Tugasmu bukan buat nyari tambahan duit, Rin."

Deg.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!