Halal tapi Asing
Kurir Gosip
Aku tidak sempat menunggu respons Wita. Ponsel sudah masuk ke dalam tas, dompet kuselipkan asal-asalan, lalu aku berdiri begitu cepat sampai kursiku sedikit bergeser ke belakang.
Wita yang sedari tadi santai menyeruput kopi langsung ikut berdiri. "Rin, tunggu. Ada apa?"
Aku menggeleng sambil meraih kunci mobil. "Nanti aku cerita."
"Siapa yang datang?"
Aku berhenti sepersekian detik.
"Nggak tahu," jawabku cepat karena sejujurnya aku nggak tahu siapa yang datang ke rumah.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku berlari lebih cepat daripada mobil yang kukendarai.
Tisya tidak menjawab lagi setelah pesan terakhirnya.
Jemariku mengetuk setir pelan saat lampu merah menghentikan laju kendaraan.
Ya Allah...
Semoga ini hanya kunjungan biasa, bukan kombinasi orang-orang yang kalau dikumpulkan dalam satu ruangan bisa menghasilkan rapat darurat keluarga.
Beberapa menit kemudian mobilku akhirnya memasuki kompleks rumah. Dari kejauhan aku langsung melihat sesuatu yang membuat langkahku melambat. Sebuah mobil yang sangat kukenal terparkir di depan pagar.
Dadaku langsung mengempis saat mengenali mobil mertuaku.
"Ya Allah..." bisikku pelan.
Mesin mobil kumatikan, beberapa detik aku hanya duduk diam sambil memegang setir, mencari keberanian.
Kubuka mobil dan kulangkahkan kaki, semakin mendekat ke teras, suara percakapan dari dalam rumah mulai terdengar samar.
Aku membuka pintu perlahan, dan tepat seperti dugaan terburukku, Ibu Wardah duduk di sofa ruang tamu dengan... Emina.
Aku memejamkan mata sepersekian detik. Lengkap sudah, si paket hemat.
Emina yang melihatku lebih dulu langsung berdiri. "Kak Rin!"
Senyumnya terlalu lebar seakan tak berdosa. Sementara Ibu Wardah menoleh perlahan dari sofa lalu mengulas senyum tipis yang sulit kutebak artinya.
"Nah," ujar beliau tenang. "Akhirnya pulang juga."
Aku membalas salam lalu menyalami tangan beliau. Telapak tangannya hangat seperti biasa, tapi tetap saja aku merasa seperti sedang dipanggil guru BK.
Setelah duduk, pandanganku otomatis mencari Tisya. Anak itu berada di sudut ruang keluarga sambil memegang buku. Ketika mata kami bertemu, ia memberi tatapan yang langsung kupahami.
"Emina bilang kamu sedang sibuk akhir-akhir ini."
Kalimat awal dan aku langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini. Emina yang duduk di sebelah Ibu Wardah mendadak pura-pura sibuk merapikan ujung jilbabnya.
Aku meliriknya. Perempuan itu langsung menghindari kontak mata. Pengecut, batinku.
"Enggak sibuk-sibuk amat, Bu," jawabku hati-hati.
Ibu Wardah mengangguk pelan. Tatapannya lalu beralih ke meja sudut dekat jendela.
Aku ikut menoleh, daaaaan baru sadar vas-vas itu dan semua hasil eksperimenku dua hari terakhir masih terpajang rapi di sana.
Beberapa detik kemudian perempuan itu berdeham kecil, lalu berkata dengan nada yang terlalu polos untuk dipercaya.
"Ibu tadi cuma nanya sih..."
Aku memejamkan mata, tapi tanganku mengepal di sisi tubuh. "Emina!" geramku.
"Tapi aku nggak bilang apa-apa," kilahnya memasang wajah tak bersalah. Aku muak, tapi ditahan sebisanya.
"Emina."
"Aku cuma bilang Kak Rin lagi bikin bunga-bunga."
Aku menatapnya dan dia melihat balik seraya tersenyum canggung. Dan saat itulah Ibu Wardah perlahan menyandarkan punggung ke sofa, pandangannya kembali padaku.
"Azarin."
"Iya, Bu?"
Beliau melirik vas bunga di dekat jendela sekali lagi sebelum kembali ke arahku, lalu bertanya dengan suara lembut, "Kamu..." Beliau berhenti sejenak. "...sedang merencanakan sesuatu yang belum diceritakan ke ibu?"
Deg.
Aku menarik napas perlahan lalu mengembuskannya pelan-pelan. Dalam hatiku sudah menebak percakapan ini akan datang cepat atau lambat. Hanya saja, aku tidak menyangka kurirnya berwujud Emina.
Tanganku bergerak merapikan ujung gamis di atas lutut sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Sebetulnya bukan merencanakan sesuatu yang besar, Bu."
Ibu Wardah tidak menyela.
"Cuma..." Aku berhenti sejenak mencari kata yang tepat. "Kangen."
Alis beliau sedikit terangkat.
"Kangen sama kegiatan yang dulu pernah aku suka."
Pandangan Ibu Wardah bergeser ke arah bunga-bunga tisu di atas meja lalu kembali kepadaku. "Maksudnya bekerja?"
Aku menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. "Merasa punya kesibukan baru."
Dari sudut mata, kulihat Emina mulai gelisah, kesal karena mertuaku tidak langsung tausiah.
Ibu Wardah menyandarkan punggungnya sedikit lebih dalam ke sofa. "Setelah dua belas tahun di rumah, sekarang baru kepikiran?" tanyanya.
Aku menautkan jemari di pangkuan. "Sebetulnya kepikiran dari dulu, cuma baru berani sekarang," jawabku tetap sopan.
"Kenapa?"
"Karena selama ini selalu ada alasan untuk menunda... Dulu anak-anak masih kecil," kataku sambil melihat foto keluarga yang tergantung di dinding. "Setelah itu sibuk dengan urusan rumah."
Aku kembali menatap mertuaku. "Dan lama-lama aku jadi terbiasa menganggap semua keinginanku harus antre paling belakang."
Sepi.
Ibu Wardah mengembuskan napas pendek. "Lalu Nivean mengizinkan?"
"Iya, Bu, tanpa larangan," jawabku membuat beliau menyipitkan mata sedikit.
Aku mengenal ekspresi itu, beliau sedang menilai apakah putranya benar-benar berpikir matang atau hanya sedang terlalu baik hati.
"Dan kamu yakin tidak akan mengganggu rumah tanggamu?"
Aku mengusap pelan jemari sendiri sebelum menjawab, "Kalau suatu saat mulai mengganggu, berarti ada yang harus dievaluasi. Mas Nivean juga bilang hal yang sama."
Aku tersenyum kecil mengingat percakapan kami beberapa malam lalu. "Beliau mengizinkan karena ingin pikiranku jembar."
Kali ini Ibu Wardah terlihat sedikit terkejut beberapa detik sebelum kembali bertanya, "Kalau nanti malah lebih senang di luar rumah?"
Tanganku bergerak mengambil salah satu bunga tisu di atas meja, kupandangi beberapa saat, "Kalau sampai aku lebih mencintai kesibukan di luar daripada keluarga sendiri, berarti masalahnya ada padaku."
Di sebelah Ibu Wardah, Emina tampak bergeser tidak nyaman di tempat duduknya. Aku meliriknya sebentar lalu tersenyum manis.
"Emina juga sebenarnya berjasa."
Emina langsung mengangkat kepala. "Hah?"
Aku mengangguk serius. "Iya." Senyumku melebar. "Kalau bukan karena Emina, aku kayaknya belum paham kalau sebagian orang memang diberi bakat untuk menyebarkan informasi lebih cepat dari kurir cod."
Tisya langsung menunduk cepat, bahu anak itu bergetar. Aku tahu dia sedang menahan tawa.
Emina membelalak. "Kak Rin!"
Aku menatapnya polos. "Apa?"
"Aku nggak gitu."
"Oh iya?" Aku memiringkan kepala sedikit.
"Berarti aku salah." Lalu dengan nada yang tetap lembut, aku menambahkan,
"Mungkin namanya bukan menyebarkan informasi." Aku pura-pura berpikir.
"Menyalurkan amanah secara ekspres."
Tisya langsung batuk keras untuk menutupi tawanya. Sementara Emina mengatupkan bibirnya rapat seraya menatap tajam padaku.
Kusandarkan punggung ke sofa dan berujar pelan, "Kalau ada sesuatu yang bukan urusan kita, biasanya cukup didoakan dalam hati. Nggak harus dipotokopi kek sebar brosur."
Emina mengerang pelan. Sementara Ibu Wardah yang sejak tadi berusaha mempertahankan wajah serius akhirnya gagal juga, sudut bibir beliau bergerak naik sedikit.
"Nuduh aku ember?" sungut Emina.
"Siapa?"
.
.