Halal tapi Asing
Akses Gol
Aku terdiam.
"Aku izinkan semata supaya pikiranmu lebih jembar." Tatapannya bertemu denganku. "Seperti yang kamu mau."
Dadaku menghangat perlahan. Ada rasa lega yang tidak bisa langsung kujelaskan. Selama beberapa hari terakhir aku terus mempersiapkan diri untuk menerima penolakan. Ternyata yang kuterima justru pemahaman darinya.
Nivean menggeser sedikit posisi duduknya lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Tapi ada satu hal," imbuhnya.
Aku langsung menegakkan badan, dan dia melihat reaksiku lalu tersenyum tipis. Senyum yang membuatku sadar bahwa lelaki ini mengenalku jauh lebih baik daripada yang sering kubayangkan.
"Kalau suatu hari kamu mulai berdalih lebih menikmati hidupmu di luar sana..."
Aku menahan napas.
"...lalu lupa sama kewajiban utama, itu masalah baru buat kita."
Angin malam masuk dari jendela dapur yang sedikit terbuka, menggerakkan pita-pita kecil di atas meja. Aku masih menunduk mendengarkan.
"Bukan cuma karena keberkahannya berkurang," tuturnya lembut. "Tapi karena kami akan merasa kamu yang menjauh."
Deg.
Aku menatap jemariku sendiri, memahami apa yang sebenarnya kutakutkan. Kemungkinan kehilangan keseimbangan yang selama ini sedang kami bangun kembali.
Sementara di seberang meja, Nivean memperhatikanku diam-diam. Ia juga tentu punya kekhawatirannya sendiri.
Namun setelah melihat mata istrinya berbinar saat bercerita tentang bunga, ia tak lagi membiarkan perempuan yang dicintainya terus meremehkan dirinya sendiri hanya demi membuat semua orang nyaman.
Aku mengangkat kepala perlahan. Nivean masih duduk di depanku dengan posisi yang sama. Satu lengannya menyandar di meja makan, sementara tangan satunya memutar gelas minum yang sudah hampir kosong.
Lampu dapur memantulkan bayangan lembut di wajah suamiku. Sudut bibirnya terangkat. Nivean meneguk air minum sebelum meletakkan gelas itu kembali ke meja.
"Kalau sudah ada detailnya, kasih tahu aku," pintanya.
Aku mengangguk.
"Jam kerjanya bagaimana. SOP-nya seperti apa. Tanggung jawabnya, gajinya berapa," sebutnya masih memandangku.
"Tumben."
"Aku harus tahu nilai ekonomis orang yang selama ini mengatur rumah secara gratis," kekehnya.
Sebuah pita satin langsung kulempar ke arahnya. Nivean menangkapnya dengan mudah lalu kami sama-sama tertawa.
***
Dua hari kemudian aku kembali datang ke florist. Pertemuan kali ini jauh lebih teknis dibanding wawancara sebelumnya.
Aku duduk sambil mencatat hampir semua hal yang dijelaskan pemilik florist. Mulai dari masa pelatihan, alur penerimaan pesanan, pembagian tugas workshop, jadwal kerja, sampai prosedur penanganan bunga yang harus dikerjakan dengan cepat ketika pesanan sedang ramai.
Di akhir pembicaraan, aku menjelaskan bahwa aku adalah perempuan berkeluarga dan ada beberapa batasan yang perlu kuhormati.
Anehnya, perempuan itu malah mengangguk santai. "Yang kami cari orang yang bertanggung jawab, Bu Azarin," jelasnya tersenyum. "Bukan orang yang harus mengorbankan keluarganya."
Kalimat itu menempel cukup lama di kepalaku bahkan setelah aku meninggalkan toko.
Sebelum pulang, aku mampir ke sebuah kedai kopi kecil yang letaknya tidak jauh dari florist.
Wita sudah lebih dulu datang. Perempuan itu melambai dari sudut ruangan sambil mengangkat gelas kopi seperti seseorang yang baru mendapat piala.
Aku berjalan menghampirinya lalu menjatuhkan diri ke kursi.
"Nah..." katanya penuh semangat. "Putri Bunga datang," ejeknya.
Aku memutar bola mata. "Belum kerja juga."
"Nanti kalau sudah kerja, ketemu customer romantis tiap hari."
Aku mengernyit. "Maksudnya?"
Wita langsung menghitung dengan jari. "Orang lamaran, anniversary, yang minta maaf habis bikin dosa, mau kirim bunga diam-diam," ungkapnya cengengesan. "Yang terakhir....?"
Aku menatapnya datar, "Apa?"
Perempuan itu menyeruput kopi lalu menambahkan dengan wajah serius yang justru membuatku curiga.
"Mau surprise-in selingkuhan," ucapnya tertawa lepas sambil menepuk bahuku.
Aku manggut-manggut, tanpa sadar ikut menertawakan ucapan Wita.
"Nanti badanmu juga wangi bunga terus."
Aku mengusap butir bening akibat tawa lepas tadi, "Terus?"
"Bonusnya dapat pacar ghaib."
Kami tertawa lagi sampai bahu berguncang, puas rasanya bisa seperti ini meski obrolan kami receh.
"Wita."
"Iya?"
"Kita ngakak begini dikira pasien lepas nggak sih?" bisikku saat melirik ke sekitar cafe yang lengang. Hanya suara kami yang terdengar heboh di ruangan.
"Paling digiring masuk mobil satpol PP," gelak Wita lagi.
Obrolan kami masih berlanjut ketika tak lama kemudian ada seseorang berhenti di dekat meja.
"Rin?"
Aku mendongak refleks. Kahfiel berdiri beberapa langkah dari meja kami sambil membawa tas selempang di bahu. Kemeja putihnya tergulung sampai siku seperti biasa.
"Selamat siang."
"Siang," balasku sambil tersenyum.
Kahfiel mengangguk sopan. Lalu seolah baru mengingat sesuatu, ia menatapku lagi. "Oh iya."
Aku berkedip.
"Berkas Saff sudah diserahkan ke sekolah?"
Aku langsung menegakkan badan. "Berkas?"
"Iya."
"Hari ini terakhir kalau nggak salah."
Jantungku langsung berdegup. "Ya Allah..."
Kahfiel terkekeh pelan melihat ekspresiku.
"Saya tadi baru menyerahkan berkas Ero, makanya ingat."
Aku mengusap dahi, hampir saja lupa. "Terima kasih."
"Sama-sama." Ia mengangguk sekali lagi sebelum berpamitan dan melanjutkan langkahnya menuju kasir.
Aku masih memperhatikan punggungnya beberapa detik sebelum kembali duduk lalu mendapati Wita sedang menatapku dengan mata sipitnya.
Aku langsung curiga. "Apa?"
Perempuan itu menyandarkan dagu di telapak tangan. "Hmmm."
Dia menunjuk ke arah Kahfiel. "Peduli banget."
Aku mengernyit. "Apanya?"Tapi langsung tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Dia cuma ngingetin berkas sekolah."
Wita mengangguk pelan. "Iya. Kebetulan sekali ketemu di sini. Dia nyariin kamu kali?" liriknya padaku.
Aku menunjuk pintu keluar tempat Kahfiel menghilang. "Itu orang tua murid."
Wita mengangguk lagi dan menarik napas panjang. Perempuan itu tersenyum puas lalu menyeruput kopinya. "Dia gebetan onlinemu ya?"
Aku nyaris tersedak tapi berhasil mengabaikannya lalu mengirim pesan pada Tisya agar memesan kurir ojol untuk mengantar berkas Saff yang kuletakkan di meja makan ke sekolah.
Beberapa detik kemudian muncul titik-titik balasan. Tapi menghilang, muncul lagi sampai beberapa kali.
Aku mulai curiga.
"Tisya kenapa?" tanya Wita yang memperhatikan ekspresiku.
Aku menggeleng pelan. "Nggak tahu."
Beberapa detik kemudian balasan akhirnya masuk. Namun bukan jawaban yang kuharapkan.
["Bun..."]
Aku langsung menatap layar. "Kenapa?"
["Kayaknya ada yang datang ke rumah."]
Keningku berkerut. "Siapa?"
Titik tiga kembali muncul. Entah kenapa dadaku mendadak tidak nyaman.
Aku membaca pesan terakhir yang akhirnya masuk dari Tisya. ["Bun..."]
"Ini kayaknya eumm..."
Deg. Tanganku otomatis berhenti di atas layar ponsel.
Sementara di rumah, beberapa kilometer dari tempatku duduk sekarang, seseorang rupanya baru saja berdiri di depan pintu rumah kami tanpa memberi kabar lebih dulu.
"Rin!"
Aku sibuk membalas pesan Tisya dan mengatakan akan pulang segera. Tak lupa berpesan, jangan bilang apapun sebelum aku datang.
"Rin?" Wita menggoyangkan bahuku pelan. "Kenapa?"
Aku menoleh, gegas membereskan tas lalu bangkit. "Aku balik, Wit. Sambung nanti ya," ucapku terburu-buru.
.
.