Halal tapi Asing

Cemburu Niyeeee

Aku baru sempat melangkah setengah ketika tiba-tiba ada sentuhan ringan di lenganku. Refleks tubuhku langsung menegang.

Aku menoleh cepat, sedikit terlalu cepat, lalu mundur setengah langkah tanpa sadar. “Eh—”

Pixylia berdiri di sampingku, tangannya sudah terangkat ingin menggamit lenganku tapi matanya menyipit ke arah yang tadi kupandang.

“Liatin apa sih,” gumamnya. “Serius amat.”

Aku tidak menjawab karena pandangannya sudah lebih dulu mengikuti arah mataku.

Di seberang area parkir, dia masih berdiri bersama pria itu. Kotak-kotak di tangannya sudah rapi sekarang. Mereka selesai berbicara, tapi ada jeda kecil sebelum berpisah, seperti janjian atau semacamnya.

Pixylia bergumam, “Oh,” katanya kemudian, nada suaranya sedikit naik di ujung kalimat. “Istri tersayang?”

Aku meliriknya sekilas. Ada sesuatu di cara dia mengucapkannya, seperti kurang suka saat aku memandangi Azarin, tapi entah mungkin hanya perasaanku saja.

“Romantis gitu liatinnya,” tambahnya pelan sambil menyilangkan tangan di dada.

Aku terkekeh kecil karena memang tidak ingin menanggapi serius. “Kamu cemburu?”

Pixylia langsung menoleh, alisnya terangkat. “Cemburu apa?”

Ia mulai melangkah lebih dulu, melewatiku tanpa menunggu jawaban. “Kan aku cuma temen lembur.”

Aku melangkah mengikutinya, tapi pandanganku masih sempat kembali ke arah Azarin sekali lagi. Pria itu sudah mulai menjauh, tepat kala Azarin juga mulai berjalan ke arah lain.

Pixylia melanjutkan, “Lagipula, aku bukan tipe yang cemburuan.”

Aku mendengus pelan. “Iya, tapi kamu lucu kalau cemburu.”

Dia berhenti sepersekian detik, lalu menoleh setengah badan sambil berjalan. Senyumnya terulas meski terkesan sinis, “Iya lucu,” balasnya. “Kan aku jadi badutmu kalau kamu lagi capek sama dia.”

Aku terdiam, kami terus berjalan menuju mobil, tapi pikiranku terpecah antara dua arah yang berbeda. Azarin di kejauhan tadi dan Pixylia di sampingku sekarang.

Aku meliriknya sekilas saat kami sampai di dekat mobil. “Kamu ngomong apa sih?"

Pixylia membuka pintu mobilnya lebih dulu, lalu menatapku sebentar dari balik pintu yang setengah terbuka.

“Kan fakta, menyesuaikan dengan kebutuhanmu,” katanya santai saat masuk duluan.

Aku berdiri mematung sebelum ikut masuk ke mobilku sendiri. Dan saat mesin menyala, aku masih sempat melihat ke arah Azarin dari spion meski sudah kosong.

Sepanjang jalan pulang, Pixylia tidak banyak bicara. Biasanya dia akan mengisi kekosongan dengan cerita kecil atau komentar absurd tentang kantor. Tapi kali ini dia hanya duduk, menatap jendela, sesekali memainkan tali tasnya.

Beberapa menit kemudian, suaranya terdengar lagi, “Pak.”

“Hm?”

“Kalau saya serius cemburu, Bapak bakal nyadar nggak?”

Aku menoleh sekilas, lalu tertawa pendek, “Kamu nggak bakalan, sih.” 

Pixylia tersenyum tipis, “Oh, aku lupa... namanya geh ban serep,” katanya pelan. “Nggak perlu ditanggapi.”

Aku hanya menghela napas. Kubiarkan kalimat itu menggantung sampai kami tiba di depan rumahnya.

Dia turun tanpa banyak kata. Sebelum menutup pintu, ia sempat menatapku lagi, “Selamat malam, Pak.”

Aku duduk beberapa detik di mobil yang masih menyala. Bayangan Azarin tersenyum pada pria itu melintas lagi dan ada rasa kesal sebab sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum seperti itu ke arahku.

Aku mengusap wajah pelan sebelum akhirnya menjalankan mobil kembali.

Perasaan itu menggangguku sepanjang perjalanan pulang dan semakin kupikirkan, semakin aku kesal pada diri sendiri.

Aku mengenal Azarin lebih dari siapa pun. Aku tahu bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain. Lengkungan senyumnya saat merasa dihargai. Dan caranya memperlakukan siapa saja dengan hangat.

Lalu kenapa aku masih memikirkan pria itu?

Tanganku mengetuk setir perlahan, baru sadar sudah terlalu lama tidak melihat bagian hidup Azarin yang sekarang.

Aku tidak tahu siapa teman-temannya, pelanggan mana yang sering membuatnya tertawa bahkan cerita apa yang membuat matanya berbinar akhir-akhir ini.

Saat tiba di rumah, lampu ruang keluarga masih menyala, aku membuka pintu perlahan.

Dari arah ruang keluarga, kulihat Azarin duduk di lantai bersama Saff dan Tisya. Di depannya berserakan kertas warna-warni dan beberapa pita. 

Aku berdiri beberapa detik memperhatikan mereka tanpa menyela kehangatan mereka.

"Papa pulang!" seru Saff yang pertama melihatku. Anak itu langsung berdiri dan berlari menghampiri.

Azarin menoleh, tersenyum manis padaku. Namun bagian egois dalam diriku langsung membandingkan. Itu bukan senyum yang kulihat di parkiran hotel sore ini dan sialnya aku benci isi otakku karena menyadarinya.

Malamnya, setelah anak-anak tidur, Azarin masih duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambut. Aku keluar dari kamar mandi dan berhenti sejenak melihat pantulannya di cermin.

Azarin tampak lelah, aku juga. Tapi pikiranku terlalu berisik untuk langsung tidur.

"Kegiatan di hotel tadi lancar?"

Tangan Azarin yang sedang menyisir rambut berhenti sesaat. "Lancar."

"Lumayan besar acaranya ya," sambungku melewatinya.

"Iya."

Aku duduk di tepi ranjang sambil memperhatikannya melalui cermin. "Tadi liat kamu di parkiran."

Kini Azarin benar-benar menoleh. "Hah?"

"Aku meeting di sana."

"Oh." Ekspresinya berubah kaget beberapa detik. "Lho, kok nggak nyamperin?"

Aku mengangkat bahu. "Nggak jadi."

Azarin mengernyit kecil. "Kok gitu, kenapa sih?" herannya menatapku.

Aku diam beberapa saat sebelum mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi menggangguku. "Yang bantuin kamu tadi siapa?"

Azarin berkedip beberapa kali, seperti sedang mengingat ulang kejadian sore tadi. 

"Yang mana?"

"Yang di parkiran."

"Oh, Pak Kahfiel."

Nama itu tidak asing, aku berusaha mengingatnya tapi lupa.

"Ternyata dia ada acara di hotel yang sama. Ketemu pas beres kerja," lanjutnya santai sambil mengeringkan rambut.

Azarin berbicara dengan nada santai, aku sadar bahwa sesak di dada yang sejak tadi muncul bukan berasal dari Kahfiel. Melainkan dariku, yang sejak bertahun-tahun pernikahan kami... Aku cemburu lagi.

"Kok diem?" tanya Azarin sambil melirikku lewat pantulan cermin.

Aku tersadar lalu menggeleng kecil. "Nggak."k

Kalau aku jujur, aku bahkan tidak tahu harus menjelaskan dari mana.

Bahwa aku tidak suka melihat pria lain membuatnya tersenyum? Kesal mengetahui ada bagian dari hidup Azarin yang kini tidak lagi kukenal? Dan baru sadar betapa jauhnya kami beberapa bulan terakhir?

Azarin mengangkat bahu lalu berdiri dari kursinya. Ia meletakkan hair dryer, berjalan ke arah ranjang, kemudian merebahkan tubuh di sisiku dengan desahan lelah.

"Hari ini capek banget," gumamnya.

Aku menoleh. Istriku sudah memejamkan mata. Tidak sampai dua menit, napasnya mulai teratur.

Aku duduk diam di sampingnya. Menatap wajah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat pulangku.

Tanganku meraih ponsel yang berkedip di nakas. Entah dorongan apa yang membuatku membuka aplikasi pesan kantor dan jempolku berhenti tepat di kolom chat Pixylia.

Pesan terakhir darinya masih ada. "Udah sampai rumah?"

Aku belum membalasnya. Layar ponsel memantulkan wajahku sendiri yang tampak lelah.

Benda pipih itu tetap berada di tanganku saat sebuah notifikasi baru muncul.

"Pak..."

Aku menatap layar beberapa detik sebelum pesan berikutnya masuk.

"Sepi banget kalau malam tuh..."

Aku hanya memandangi pesannya. Sementara di sampingku, Azarin bergerak pelan dalam tidurnya, tanpa sadar meraih ujung lengan bajuku dan menggenggamnya seperti kebiasaan yang sudah ia lakukan bertahun-tahun.

"Bapak juga, kan?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!