Halal tapi Asing
DHUAAR
Aku menunduk. Pixylia sedang sendirian di rumahnya dan istriku sedang tertidur di sampingku.
Aku menghela napas lalu mengusap wajah pelan, sudah larut untuk membalas percakapan yang tidak penting.
Jempolku bergerak singkat. "Tidur, Pix. Besok kerja lagi."
Tanda centang langsung berubah, Pixylia sedang online. Beberapa detik kemudian balasannya masuk.
["Iya, Pak. Makasih udah nemenin pulang tadi."]
Aku membaca pesan itu tanpa ekspresi. Namun saat hendak menaruh ponsel, pandanganku jatuh pada Azarin. Rambutnya masih sedikit lembap. Ada bekas lelah di wajahnya. Bahkan dalam tidur pun alisnya sedikit berkerut seperti masih memikirkan sesuatu yang belum selesai.
Kapan terakhir kali aku mengucapkan terima kasih karena ia bertahan sejauh ini?
Kapan aku benar-benar mendengarkan ceritanya tanpa sambil membuka laptop?
Aku tidak ingat. Dan fakta itulah yang membuatku tidak nyaman. Perlahan kulepaskan ponsel ke atas nakas, mengaktifkan mode senyap.
Sebelum lampu tidur kumatikan, layar ponsel Azarin menyala. Pesan baru masuk dari grup workshop florist.
Foto-foto dekorasi hotel sore tadi bermunculan satu per satu. Aku sebenarnya tidak berniat memperhatikan. Sampai sebuah foto membuat jemariku berhenti.
Di sana Azarin sedang tertawa lepas. Aku memperbesar foto itu lalu menatapnya lumayan lama.
Benakku mulai bertanya-tanya sesuatu yang tidak pernah melintas sebelumnya. Apa aku yang menjauh dari Azarin... atau Azarin yang sudah belajar hidup tanpa aku?
***
Dua hari setelah malam itu, aku masih memikirkan foto yang kulihat di ponsel Azarin.
Azarin tertawa lepas dengan wajah cerah dan sorot mata berbinar di tengah rekan-rekan kerjanya.
Pikiran itu terus mengganggu sampai terbawa ke kantor. Aku bahkan tidak menyadari seseorang sudah mengetuk pintu ruanganku beberapa kali.
Tok.
Tok.
Tok.
"Pak."
Aku tersentak dan mengangkat kepala.
Pixylia berdiri di ambang pintu sambil membawa map. Alisnya terangkat sebelah.
"Wah."
Aku mengusap wajah pelan."Eh, kenapa?"
"Jarang banget saya harus manggil tiga kali."
Aku mengembuskan napas pendek lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
"Mikirin apa sampai muka Bapak kusut begitu?" tanyanya lagi saat masuk lalu meletakkan map di meja. Namun bukannya langsung pergi, dia malah menyandarkan pinggul di tepi meja kerja sambil memperhatikanku.
Aku langsung menoleh, tapi perempuan itu malah terkekeh kecil, "Cemburu?"
Aku mendecih pelan.
Pixylia tertawa makin lebar. "Ya ampun. Serius?"
Aku mengambil pulpen dan memutarnya di antara jari. "Kerja sana."
"Berarti serius."
Aku menghela napas panjang seraya memijat pelipis. Pixylia memperhatikanku beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan.
"Jangan-jangan mereka memang dekat."
Tanganku berhenti.
Perempuan itu melanjutkan dengan nada santai, "Bapak nggak ingat?"
"Dia wali murid juga." Aku mengangkat pandangan saat mengatakannya.
"Nah... bisa aja sering ketemu." Pixylia mengangkat bahu. "Acara sekolah, jemput anak, kegiatan apa kek." Lalu dengan santainya dia menambahkan, "Makanya akrab banget, kelihatan ceria juga."
Sial. Pixilya malah mengingatkanku bahwa kemungkinan itu memang masuk akal.
Pixylia masih memperhatikanku beberapa detik. "Kalau penasaran ya cari tahu, Pak."
Aku menatapnya, "Biar apa?"
"Biar saya nggak kebagian lihat muka sumpek Bapak terus." Perempuan itu tersenyum tipis sambil menyilangkan tangan di dada.
"Soalnya kesempatan saya lihat Bapak senyum..." katanya pelan. "...cuma ada di kantor."
Tidak ada nada bercanda di wajahnya. Pixylia juga tidak mengalihkan pandangan. Mungkin dia memang benar. Aku lebih sering tertawa bersama Pixylia daripada bersama istriku sendiri.
***
Malam itu rumah akhirnya benar-benar sepi.
Anak-anak sudah tidur. Azarin masuk kamar sambil meregangkan bahu, lalu menjatuhkan diri ke tepi ranjang dengan helaan napas panjang.
Aku yang sejak tadi duduk di kursi dekat jendela hanya memperhatikannya. Sudah hampir seminggu sejak pertemuan di parkiran hotel itu dan aku berusaha meyakinkan diri bahwa tidak ada apa-apa.
Namun, bayangan itu semakin sering muncul. Cara mereka berbicara seolah mengenal baik satu sama lain.
"Kamu kenal dia dari mana?" tanyaku akhirnya.
Azarin yang sedang membuka ikatan rambut menoleh sekilas. "Hm?"
"Yang waktu di hotel."
Ia tampak berpikir beberapa detik, "Oh. Dari sekolah. Ayahnya Ero, teman Saff."
"Lumayan sering ketemu?"
"Nggak juga," jawabnya singkat.
Azarin kembali sibuk menyisir lalu mengikat rambutnya lagi. Sementara aku masih duduk diam dengan kedua siku bertumpu di lutut.
"Kelihatannya akrab."
Kini gerakannya berhenti, istriku menoleh penuh. "Mas kenapa sih?"
"Nanya doang."
"Mas."
Aku mengangkat kepala, mendapati Azarin menatapku beberapa saat sebelum mengembuskan napas.
"Aku capek. Kalau cuma mau nyari ribut, besok aja."
Aku tertawa pendek sambil menyandarkan tubuh ke kursi. "Oh jadi sekarang aku nyari ribut?"
"Bukan gitu maksudku."
"Lalu apa?" sergahku.
Azarin memejamkan mata sesaat seolah sedang mengumpulkan kesabaran menghadapi sindiranku.
"Aku seharian kerja."
"Aku juga," balasku.
"Ya terus?"
Aku berdiri. "Karena aku nanya seseorang, sekarang jadi masalah?"
"Bukan orangnya yang masalah!" balas Azarin lebih keras. "Tapi cara Mas nanya," ucapnya.
Aku terkekeh pahit sambil menggeleng. "Caraku? Ternyata sekarang aku harus belajar cara ngomong sama istriku sendiri."
Azarin langsung berdiri. "Jangan diputar balikkan."
"Putar balik apa?" sentakku.
Aku bisa melihat keterkejutan di wajah Azarin.
"Aku cuma heran, akhir-akhir ini kamu kelihatan bahagia banget kalau cerita soal luar rumah," ungkapku dengan suara lemah.
Azarin menatapku tidak percaya. "Serius? itu tuduhan paling nggak masuk akal yang pernah aku dengar dari Mas."
Aku tertawa pendek. "Nggak masuk akal?"
"Iya." Azarin mengangkat kedua tangannya frustrasi. "Mas yang sibuk."
"Kamu minta aku ngizinin kamu kerja, diimingi kalimat ~kita cuma perlu nyesuaiin ritme... Eeeehh ternyata ritmenya begini ya?"
"Mas..."
"Bener kan?" Tuduhku diikuti mata membola.
Azarin menatapku seperti tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulutku.
Lalu istriku tertawa kecil. "Mas lupa? Saat excited pegang ponsel dan fokus pada laptop beberapa waktu lalu. Senyum-senyum sendiri. Pulang makin malam dan malas ketemu kami?"
"Oh."
Azarin mengangguk beberapa kali. "Bagus."
"Bagus apanya?"
"Karena akhirnya aku tahu," ungkapnya membuatku heran.
"Tahu apa?"
Istriku menatap lurus. "Ternyata selama ini Mas nggak benar-benar ngizinin aku."
Aku mengernyit.
"Mas cuma suka kalau aku diem di rumah. Dan marah kala ada orang lain melihat potensiku."
Deg.
Azarin menggeleng pelan lalu mengambil ponselnya dari atas meja. "Kalau itu yang Mas pikirkan..." suaranya bergetar tipis karena lelah dan kecewa, "...aku terlalu capek buat jelasin malam ini."
Ia berjalan melewatiku tapi sebelum mencapai pintu kamar, langkahnya berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata pelan, "Dan soal pria itu..."
Jemari tanganku mengepal tanpa sadar.
Azarin menunduk sebentar. "Lain kali kalau memang ingin tahu, tanya baik-baik."
Brak. Pintu kamar tertutup.k
Aku berdiri sendirian di tengah ruangan dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa dan semakin tidak yakin apakah yang paling kutakuti adalah pria itu... atau kenyataan bahwa Azarin mungkin benar.
.
.