HIJRAH CINTA SANG PRIMADONA
2. PEMIKIRAN ABSURD
“Num, gimana kalau laki-laki tadi mencarimu?” tanya Ripin sambil melepas helmnya.
“Kamu ketemu di mana tadi? Dia tahu tempat kerja kamu?”
Numayra terdiam menatap Ripin dengan pandangan yang sedikit berubah. Dia pun jadi kepikiran dengan pertanyaan Ripin itu.
“Emangnya ngapain dia nyari aku, Cak?” tanya Numayra.
“Ya Allah, Num. Ya untuk ngambil haknya to,” jawab Ripin sambil menatap kesal gadis yang ada di depannya itu.
“Hak? Hak apa sih, Cak? Duh, jangan belibet deh kalau ngomong. Aku udah capek ini,” tukas Numayra dengan bibir memberengut kesal. Dia pun berjalan meninggalkan Ripin yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Besok saja dijawab, Cak. Aku ngantuk. Daa,” ujar Numayra sambil menoleh ke arah Ripin dan tersenyum melihat Ripin yang masih saja berdiri di samping motornya.
“Cak! Woi, masuk. Udah malam,” seru Numayra. Ripin pun tersadar dan segera mengikuti apa yang dilakukan Numayra. Dia pun segera masuk ke kamarnya.
***
Sinar mentari menerobos sela-sela jendela kamar Numayra. Gadis itu menggeliat malas sambil meraih ponselnya. Kedua manik mata yang dinaungi bulu mata lentik itu mengerjap beberapa kali sambil menguap.
“Ah, sudah siang. Cak Ripin pasti udah berangkat,” gumamnya sambil bangkit dari kasur busa lipat yang tergelar di atas tikar. Numayra mengintip dari balik korden. Ternyata dugaannya benar, motor Ripin sudah tidak terlihat di sana.
“Ya sudahlah, nanti sore saja ngobrolnya,” gumam gadis itu sambil berjalan masuk ke kamar mandi.
Ketika masih asyik menggosok giginya, terdengar ketukan di pintu kamar.
“Hmm! Ntarrkk,” seru Numayra sambil cepat-cepat berkumur. Bergegas gadis semampai itu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
“Lho Cak, belum berangkat to?” tanyanya bingung melihat Ripin yang berdiri di depannya itu. Lelaki itu bukannya menjawab pertanyaan Numayra, tetapi malah menatap gadis itu dengan heran.
“Ngapain kok malah bengong, Cak?” tegur Numayra tak kalah herannya.
“Sejak kapan aku kerja kalau hari Minggu, Num?” Ripin ganti bertanya. Numayra pun melongo mendengarnya.
“Lho alah, ini hari Minggu ya,” gumamnya sambil menepuk jidat. Ripin tersenyum dan segera duduk di teras kamar Numayra.
“Sarapan dulu. Nih aku sekalian beli tadi di warung Jawa depan,” kata Ripin sambil membuka plastik kresek yang tadi dibawanya. Aroma nasi campur berlauk ikan goreng tepung dan sambal pun menggelitik perut Numayra. Dia masuk untuk mengambil sebotol air mineral dan dua gelas plastik.
“Makasih ya, Cak,” ujarnya senang. Ripin hanya mengangguk tanpa bicara. Rupanya dia sudah terlebih dahulu menyantap sarapannya.
“Cak, aku masih penahalan hang amu ilang emayam,” kata Numayra dengan mulut penuh makanan. Ripin menatapnya tajam sambil menggelengkan kepalanya. Seketika Numayra teringat kalau Ripin pernah menegurnya karena berbicara sambil makan. Gadis itupun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Kamu ini, Num. Udah dibilangin bolak balik, jangan bicara sambil makan. Nanti direwangi setan,” tegur Ripin seusai meneguk segelas air mineral. Numayra tidak menjawabnya. Mulutnya masih belum juga kosong. Hingga akhirnya segelas air mengakhiri sarapannya.
Numayra segera membereskan bungkus nasi dan plastik bekas kerupuk, serta langsung membuangnya di tempat sampah yang ada di ujung depan kos-kosan mereka.
“Oke, Cak. Sekarang jelaskan kepadaku, apa maksud omongan kamu semalam,” ujar Numayra dengan serius. Ripin tersenyum melihatnya.
“Kamu nggak paham, Num?” tanyanya. Numayra menggelengkan kepalanya.
“Kamu sudah mengambil uangnya, ‘kan? Otomatis dia akan berpikir kalau dia sudah membayar kamu.”
“Tapi itu ‘kan untuk ganti rugi non materiil, Cak. Bukan untuk yang lain-lain,” sergah Numayra kesal.
“Itu menurut kamu, Num. Pasti beda pemikiran lelaki itu,” tegas Ripin. Numayra hanya bisa mendesah kesal.
“Jadi?” tanyanya bingung.
“Jadi ya kamu harus kembalikan uang itu,” jawab Ripin dengan santai. Numayra menatapnya kesal.
“Kalau enggak?” tanyanya dengan wajah yang cemberut.
“Kalau enggak, ya kamu harus siap untuk menghadapi hal-hal yang mungkin tidak kamu bayangkan jika lelaki itu bertindak,” jawab Ripin. Numayra terdiam. Apa yang dikatakan Ripin memang masuk akal. Apalagi menilik karakter laki-laki semalam yang melihatnya dengan pandangan ingin menerkam dan mencakarnya sampai semua kulitnya terkelupas. Numayra bergidik membayangkannya.
“Itu baru kemungkinan ‘kan, Cak?” tanya Numayra lirih. Ripin tersenyum dan mengangguk. Numayra pun menghela napas lega.
“Semoga saja kejadiannya tidak seperti yang kamu pikirkan, Cak,” kata Numayra.
“Kamu itu terlalu absurd mikirnya. Jangan suka mikir yang bukan-bukan deh, Cak,” protes Numayra.
“Lha aku ‘kan cuman ngasih tau kemungkinan terburuk to, Num,” sela Ripin. Namun Numayra tetap saja menganggap kalau Ripin terlalu berlebihan. Dia pun segera kembali masuk ke kamarnya.
Baru lima menit rebahan, terdengar notifikasi pesan masuk. Numayra membaca pesan itu. Sebuah pesan yang memintanya untuk datang lebih sore di tempat kerja.
“Hm, ada apa ya?” tanya Numayra dalam hati. Dia pun mengiyakan saja pesan itu. Numayra segera keluar dari kamarnya.
“Cak, nanti anterin jam lima ya,” seru Numayra kepada Ripin yang sedang asyik mencuci motornya. Lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan.
Tepat pukul lima sore Numayra telah rapi dan siap berangkat kerja. Dia mengenakan celana panjang berwarna gelap dan atasan senada yang melekat ketat di tubuhnya, dipadu jaket denim dan sneaker. Beberapa kali Numayra menatap jam tangan murahan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Cak! Cak Ripin!” teriaknya memanggil lelaki yang sudah berjanji untuk mengantarnya.
“Yo! Bentar, Num!” sahut Ripin dari balik kamarnya. Numayra mendesah kesal sambil memandang marah ke arah lelaki yang baru keluar dari kamarnya itu.
“Sepurane, Num. Sakit perut aku. Nggak bisa ditahan,” ujar Ripin membela diri.
“Halah, alasan. Wis ayo cepat jalan,” kata Numayra dengan gusar. Ripin pun tersenyum melihatnya.
Mereka tiba di tempat kerja Numayra sekitar tiga puluh menit kemudian. Parkiran masih sepi. Numayra agak heran melihatnya. Namun dia pun segera menepis pemikiran negatif di benaknya.
“Wis, Cak. Aku masuk dulu,” pamit Numayra sambil melangkah meninggalkan Ripin. Lelaki itu hanya mengangguk dan menatap kepergian Numayra dengan perasaan yang berbeda.
Numayra masuk dan seorang sekuriti memberitahunya kalau ada seorang tamu penting yang telah meminta untuk dilayani.
“Num, kamu disuruh menghadap Bos dulu. Udah ditunggu tuh di ruangannya,” kata sekuriti itu sambil menatapnya serius. Dahi Numayra berkerut. Dia menatap heran ke arah sekuriti itu. Ada apa ini? Tak biasanya dia diminta menghadap si Bos. Selama bekerja di klub malam ini, bisa dihitung dengan jari berapa kali dia dipanggil.
Sudah menjadi rahasia umum di antara karyawan klub kalau sampai dipanggil Bos berarti hanya ada dua kemungkinan. Pertama, mendapat rejeki nomplok karena dipilih untuk melayani tamu istimewa. Kedua, ada kesalahan fatal yang tidak disadari dan dihukum untuk melakukan kemungkinan pertama itu tanpa bayaran atau bisa jadi justru mengeluarkan bayaran sebagai ganti rugi atas kesalahan yang telah dilakukan.
“Aku punya salah apa?” tanya Numayra dalam hati. Dia pun mencoba mengingat apa yang telah dia lakukan kemarin selama jam kerja. Numayra menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang salah selama dia kerja kemarin.
Numayra mengetuk pintu ruangan yang berada di sudut paling ujung bangunan itu. Terdengar suara seorang perempuan yang menyuruhnya masuk dari dalam. Numayra memutar handel pintu perlahan dan membukanya.
“Kamu mau mengatakan sesuatu?” tanya wanita berperawakan gempal yang menatap Numayra dengan dingin. Numayra perlahan menggelengkan kepalanya.
“Masih nggak tahu salahmu apa?” tanyanya lagi dengan nada bicara yang mulai tinggi. Numayra diam saja. Dia memang benar-benar tidak tahu. Lagi-lagi Numayra menggelengkan kepalanya.
“Dasar gadis bodoh!” cerca wanita itu sambil berdiri dan berjalan menghampiri Numayra. Sebuah kalimat meluncur dari bibirnya membuat kedua kaki Numayra seketika melemas dan terhuyung jatuh.