Humanbot Terkuat

Reborn & Special Weapon

Aku bisa mencium aroma ruangan beralkohol yang sangat tajam. Udara di sekitarku terasa dingin dan membuat kulitku mengering. Suara? Tidak. Aku tidak bisa mendengar apa pun kali ini, meskipun aku sangat yakin kalau lubang telingaku masih di sana dan tidak menerima rekonstruksi.

Kubuka mata perlahan, mengerjap. Posisiku sedang telentang. Ada sebuah lampu yang memancarkan cahaya warna merah di atas ruangan itu. Aku tahu cahaya apa itu. Infrared.

Ah, tidak. Aku salah. Tidak ada cahaya sedikit pun. Sepertinya itu adalah efek dari mataku. Mataku akan otomatis memiliki visi inframerah saat kegelapan menyelimuti. Ruangan itu kosong.

Aku berhasil menggerakkan leher yang terasa sangat kaku, entah sudah berapa lama aku terbaring di sana.

Tempat apa ini? Apa aku telah berakhir?

Dingin.

Saat kugunakan kemampuan mata elang, bird-eye vision, aku mendapati sebuah termometer digital berukuran mini, menempel di dinding ruangan. Suhu yang tertera adalah -196 °C.

Sangat rendah. Pantas saja tubuhku terasa seperti membeku, terutama di bagian persendian. Aku sangat ingat pengaturan suhu itu.

Suhu yang mereka buat untuk membekukan tubuh manusia.

Projek Krionika yang ternyata mengalami kegagalan di masa depan—masa sekarang.

Segera kuangkat tubuh bagian atas. Ternyata, aku masih bisa bergerak normal. Suhu dingin tidak menggangguku. Bagaimanapun juga, aku bukanlah seorang manusia biasa.

Kepalaku terasa ringan, tidak lagi pusing. Bahkan, terlalu ringan, membuatku berpikir apakah mereka sudah mengeluarkan otak yang membuatku terbebani selama ini.

Tidak. Sepertinya otakku masih ada di dalam kepala. Karena, aku masih merasa bisa berpikir dengan jernih.

Lagi, kutebarkan visi jarak jauh untuk menyisir isi ruangan es itu. Sampai kutemukan sebuah papan digital. Kubaca sesuatu yang tertulis di sana.

REBIRTH STATUS: SUCCEED

Tulisan berwarna merah itu tampak seperti sedang berkedip. Atau entah apa pilihan kata yang tepat untuknya.

Sekali lagi, aku berusaha untuk berdiri dan berhasil dalam sekali coba. Sepertinya tidak ada yang salah dari tubuhku, selain tidak memakai kain penutup selembar pun.

Saat aku menginjakkan kaki di atas lantai yang dingin, suara alarm yang memekakkan telinga berbunyi.

Tidak dari dalam lubang telingaku. Suara itu berasal dari luar, meskipun aku sangat yakin ruangan itu kedap suara.

Tak perlu menunggu lama untuk bisa mendengar langkah kaki yang berebut datang mendekat. Kuputuskan untuk kembali duduk di atas tempatku terbangun tadi—yang ternyata menyerupai kapsul tidur tanpa penutup. Mereka akan segera datang, pikirku.

Saat suara langkah kaki yang bergemuruh itu semakin dekat. Seseorang sepertinya menonaktifkan fungsi ruangan itu. Suhu ruangan pun dengan cepat naik. Dan, tak perlu waktu lama. Pintu otomatis pun terbuka.

Seorang wanita berambut hitam sebahu dengan wajah penuh garis penuaan langsung menghambur masuk ke dalam ruangan. Aku tidak bisa membaca ekspresi di wajahnya karena ia menunjukkan lebih dari satu saja jenis ekspresi.

Wanita itu memelukku. Membelai lembut punggungku. Kemudian, terisak hebat.

Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar, seperti yang biasa terjadi saat aku mengalami kesalahan sistem.

Aku ingin mendorong tubuhnya. Ia membuatku tak nyaman.

“Siapa dia?”

Tunggu, Siapa dia?

Bagaimana denganku? Siapa aku?

“Akhirnya kamu bangun,” bisiknya lirih, kali ini sudah memberikan jarak dan membebaskanku dari cengkeramannya. Aku membalas tatapan matanya, berusaha mengingat siapakah wanita itu sebenarnya.

“Gil—”

“Monica, kita sudah melakukan rename, jangan memicu ingatannya,” ujar seorang pria botak dengan kacamata bertengger di atas hidungnya yang patah.

“Verlez.”

Seorang wanita lain yang lebih muda dan terlihat segar muncul dari balik punggung pria botak itu. Ia mengangkat ujung dagunya tinggi-tinggi ketika bersuara.

“Verlez.”

“Iya?” Entah apa yang membuatku membalas ucapannya.

Bibirku terasa bergerak secara otomatis saat wanita itu mengucapkan Verlez. Apa itu namaku?

Wanita itu menghampiriku. Melemparkan pandangan sinis ke arah wanita pertama yang mendatangiku, kemudian matanya menatapku dengan tajam.

“Verlez, bagaimana perasaanmu?”

“Luar biasa.” Sekali lagi bibirku tak bisa kukendalikan. Mengucapkan kata-kata dengan begitu saja.

“Apa yang kau lakukan?” Wanita pertama mendorong pundak wanita kedua dengan kasar. Membuatnya terhuyung ke belakang.

Beep.

Sebuah layar berukuran mini yang tidak asing bagiku tiba-tiba muncul di mata sebelah kiri ku. Layar itu menunjukan informasi baru.

THREAT!

Melihat itu, sekali lagi tubuhku bergerak sendiri. Aku bangkit kemudian berjalan menghampiri wanita yang tadi memelukku. Tangan kananku terangkat secara otomatis dan detik berikutnya,

Bruuuk ….

Aku mendorong tubuh lemah itu hingga membentur dinding ruangan dengan keras, ia pun pingsan seketika. Semua terjadi sangat cepat, hingga yang kulihat hanya sekelebat bayangan.

“TIDAK!” seruku menyesal. Tubuhku kali ini kembali menuruti perintahku. “Apa yang kau lakukan padaku?” protesku kesal, pada wanita kedua.

Aku merasa tubuhku tidak bisa bergerak sesuai keinginan, meski tidak dalam mode Tidur. Aku sangat yakin karena otakku bisa berpikir dengan jelas.

“Aku hanya melakukan upgrade pada tubuhmu. Dengan begitu, kau semakin tak terkalahkan,” ucapnya penuh percaya diri, ada rasa puas dalam nada bicaranya.

Upgrade?

Upgrade yang seperti apa?

Aku berjalan menghampiri wanita yang tergeletak di atas lantai yang masih dingin.

Aku bisa menganalisis tanda-tanda kehidupannya menggunakan mata sebelah kiri yang merupakan mata robot tanpa harus menyentuh tubuhnya yang memucat.

ALIVE

Aku mengembuskan napas lega. Setidaknya wanita itu masih hidup. Aku yakin ia memiliki informasi yang sangat berharga untukku. Informasi yang saat ini mungkin telah dihapus.

“Kau harus bersiap. Kita akan melakukan sesuatu yang sangat penting.”

Meskipun aku sebal mendengar suaranya, sekali lagi kakiku tiba-tiba tak dapat kukendalikan. Membawa tubuhku berjalan membuntuti wanita itu. Kusempatkan diri untuk menoleh ke arah wanita pertama yang masih tidak bergerak.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku masih belum puas dengan jawaban sebelumnya.

“Aku menambahkan sistem A.I. otomatis di dalam otakmu. Dengan begitu, kemungkinan bertahan hidupmu meningkat sebanyak seratus persen. Luar biasa, bukan?”

Sistem A.I otomatis? Sepertinya bukan hal baru yang kudengar. Aku sering mendengar istilah itu setiap kali orang-orang dewasa memperbaiki bagian robot dalam tubuhku.

Penjelasan wanita itu masih kucerna. Otomatis?

Apakah itu yang membuatku hilang kendali atas bagian tertentu dari tubuhku, termasuk kakiku sekarang?

Alih-alih otomatis yang bisa menguntungkan, aku merasa sistem otomatis yang ia tambahkan dalam otakku membuatku menjadi robot peliharaan yang mematuhi segala sesuatu yang wanita itu ucapkan. Aku bahkan tidak ingat siapa dia dan sejak kapan ia berada di sana, bergaul dengan ilmuwan yang lain.

Bahkan, reka kejadian ketika tangan kananku menghantam tubuh wanita pertama, aku merasa kalau otomatis yang ia maksud sebenarnya hanya untuk melindunginya. Terbukti dari kata Threat yang tiba-tiba muncul di visiku.

“Minami. Akan lebih baik bagimu untuk mengingat namaku,” ujarnya tanpa menoleh, seakan-akan sudah sangat yakin kalau aku sedang mendengarkan.

Minami?

Nama yang aneh, aku baru mendengar nama seperti itu.

Tunggu, bagaimana aku bisa tahu nama-nama yang sering kudengar dan nama yang baru kudengar?

“Saranku, jangan coba-coba mengingat masa lalu. Kau akan mengalami electric shock karena memaksakan apa yang ada di luar batas kemampuanmu.” Wanita—tidak—Minami berbalik dan menatapku penuh ancaman. “Kau akan berakhir di tong sampah kalau melakukannya,” tambahnya meyakinkan.

Meskipun banyak pertanyaan dalam benak, aku tidak mengutarakannya. Mengikutinya dalam diam adalah pilihan yang paling tepat. Setidaknya untuk saat ini.

Aku lupa kalau aku masih tidak mengenakan pakaian. Ia membawaku menelusuri lorong laboratorium yang merupakan pemandangan normal dan akrab di mataku. Beberapa ilmuwan tampak sibuk bekerja, entah untuk apa. Mereka memperhatikanku tanpa ekspresi.

“Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu. Yang terbaik!” Sekali lagi Minami menyombongkan sesuatu.

Ia mengarahkanku menuju salah satu kapsul berukuran tiga meter yang menjulang vertikal. Tanpa ragu, aku masuk ke dalamnya dan pintu kapsul secara otomatis menutup.

Aku mendengar suara mesin bekerja dan tangan-tangan robot tanpa tubuh mulai bergerak di sekitarku. Semuanya mengukur setiap sudut tubuhku tanpa ada satu bagian pun yang terlewat, termasuk juga panjang dan lebar jari-jari sekaligus ruasnya di kedua tanganku.

Beep.

Pintu kapsul menjeblak terbuka dan tidak ada hal menarik yang terjadi selain tangan robot yang menggerayang tubuh telanjangku.

“Tunggu. Tidak butuh waktu lama.” Minami tersenyum miring, membuat wajahnya yang aneh terlihat semakin aneh. Rambut hitam yang dipangkas pendek dengan menyisakan poni yang menutupi dahi, membuatnya terlihat seperti bocah.

“Ready.” Terdengar suara mesin dari dalam pengeras suara yang ada di depan pintu kapsul yang tadi kumasuki.

“Apa?” tanyaku.

Namun, sepertinya kapsul itu menjawab pertanyaanku lebih dulu daripada Minami. Sekali lagi kapsul itu menjeblak terbuka secara otomatis dan aku tercengang melihat apa yang ada di dalamnya kali ini.

Baju perang?

Aku melihat setelan yang terdiri dari baju berlengan panjang warna hitam yang terlihat berat karena dilapisi baja. Ukurannya sangat sesuai dengan ukuran tubuhku. Tak hanya itu, sepotong celana yang juga dilapisi dengan baja untuk melindungi bagian-bagian vital berwarna hitam pun ada di sana. Kulihat terdapat sepatu boots dan juga helm yang menurutku sangat menarik perhatian bentuknya.

“Apa ini?”

“Armor-mu. Pakai sekarang juga!”

Sekali lagi, seakan-akan aku adalah robot murahan yang selalu patuh pada manusia, tubuhku bergerak dengan sendirinya, meraih setelan baju itu, armor. Ya, memang sebutan armor lebih pantas karena baju itu berat meskipun terlihat sangat aman. Aku tidak tahu, kenapa harus sangat aman?

Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk memakai seluruh bagian armor, kecuali helm tentu saja. Aku hanya memegangnya di tanganku.

Pintu kapsul kembali tertutup dan entah apa lagi yang masih kami tunggu, Minami tak bergegas dari tempatnya berdiri sampai mesin itu kembali bersuara,

“Ready.”

Sekali lagi, pintu kapsul menjeblak terbuka dan kali ini, apa yang ada di dalamnya membuatku terperangah.

Aku melihat sepasang sarung tangan tebal yang terbuat dari baja dengan sensor pada setiap ruas jari. Sarung tangan itu berwarna hitam dan berkilat, benar-benar menarik perhatian. Aku segera meraihnya tanpa menunggu perintah dari Minami. Sangat pas saat kupakai. Rasanya ringan, namun aku tidak tahu fitur apa yang ada di dalamnya.

“Itu adalah senjata khusus. Spesial kubuatkan untukmu. Harusnya kau berterima kasih padaku. Aku membuatmu tak terkalahkan,” jelas Minami, senyum miringnya yang khas membuatku sedikit bergidik.

Beep.

Layar di mata kiriku kembali muncul.

Special Weapon Has Been Activated

Setelah membacanya, layar itu hilang dan tanganku tiba-tiba terasa seperti terbakar.

“Aaaaargh!” erangku menahan sakit. Aku berusaha melepas sarung tangan itu, namun sepertinya itu mustahil. Perlahan namun pasti, sarung tangan itu berkilat dan semakin memudar. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai sarung tangan itu sudah tidak berada di sana. Meninggalkan jari-jariku yang kosong dan memerah karena rasa panas yang kuterima.

“Apa yang terjadi?” tanyaku kebingungan.

“Bukankah aku sudah mengatakannya, itu senjata khusus yang spesial. Senjata itu bisa melakukan mimicking dengan lingkunganmu dan membuatnya tak terlihat. Kau tidak akan pernah kehilangan senjatamu itu karena hanya kaulah yang tahu keberadaannya,” jelas Minami mantap.

Hanya aku yang tahu keberadaannya?

Kalimat itu membuatku bingung. Pasalnya, aku sendiri tidak dapat melihat keberadaan senjata itu di tanganku. Meskipun aku sudah menggunakan bird eye, nocturnal eye, dan mode visi mata yang lain, aku tetap tidak berhasil mendeteksi keberadaannya.

“Kita sudah terlambat. Ayo!” seru Minami. Seluruh perkataannya adalah sesuatu yang mutlak.

Aku berjalan mengikutinya menuju lorong panjang dengan cahaya remang-remang. Beruntung mataku bisa secara otomatis menggunakan visi penglihatan inframerah ketika cahaya yang ia terima sangat minim.

Sampai di ujung lorong, ada sebuah pintu. Dan sebelum masuk ke dalamnya, Minami berbalik menghadapku.

“Pakai helmmu, Verlez.”

Dan, tanpa berusaha untuk menolak, aku pun melakukannya.

Sekali lagi, aku harus kagum dengan teknologi yang canggih. Helm itu bukan helm biasa. Saat aku memakainya, aku bisa melihat informasi detail di dalam kaca penutup helm. Aku bahkan bisa melihat wajah aneh Minami dan mendapatkan salinan foto dari ekspresinya, beserta detail informasi berisi nama, jenis kelamin, hingga penyakit-penyakit apa yang ia miliki di dalam tubuhnya itu.

Aku terkekeh dari balik helm.

“Jangan menertawakanku diam-diam, Verlez,” ujar Minami kesal. Sepertinya ia tahu apa yang sedang kulakukan.

Detik berikutnya, Minami membuka pintu di hadapannya secara manual dan cahaya terang dari balik ruangan itu berhasil membuat mataku terasa buta selama beberapa detik. Beruntung aku menggunakan helm itu, kalau tidak, mungkin aku harus berakhir di laboratorium sekali lagi.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Minami, suaranya terdengar bersemangat.

“Apa itu tadi?” tanyaku protes. “Apa kau berusaha membuatku buta?"

Minami terkekeh. “Kau akan terkejut kalau tahu apa saja yang bisa kulakukan.”

“Masuklah.” Minami menggeser tubuh untuk memberiku jalan"

Tanpa ragu, aku melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!