Ilmu Warisan

Bab 12

Semburan air beraroma bunga kantil yang kuat menyentak kesadaranku, memaksa mata ini perlahan terbuka, lalu terpejam kembali sebelum benar-benar siuman. 

 
Samar terlihat sosok Mbah Estu berdiri di samping ranjang, membawa sebuah kendi kecil di tangan kanannya.
 
"Kuwe iki ceroboh! Kok iso kecolongan koyok ngene?" nadanya tegas.
 
Aku menyipitkan mata, cahaya dari celah-celah dinding yang terbuat dari anyaman itu menyadarkanku jika sekarang aku sedang berada di kamar Mbah Uti. 
 
Tubuhku berhambur ingin memeluk Mbah Uti, seluruh tubuhku gemetar ketakutan, jiwaku benar-benar dirusak oleh satu malam. Namun, belum sempat aku meraih tubuh Mbah Uti, Aku dihadang oleh Mbah Estu. 
 
"Awakmu durung resik." 
 
Perlahan tubuhku mundur, tak lama aku mendengar suara gamelan beserta desissan ular berpadu menjadi satu.
 
 Aku menatap wajah Mbah Estu dengan kening yang berkerut, seolah menanyakan ada apa ini sebenarnya? 
 
Mbah Estu tersenyum, "Kuwe krungu?" tanyanya sambil melangkah lalu duduk di sampingku.
 
Aku hanya mengangguk kecil.
 
"Iku para dayang-dayang jin, biasane jin ular koyok ngono digunake kanggo pesugihan." 
 
Aku lagi-lagi mengangguk, "Bener, Mbah! Sema ...," belum selesai aku berbicara, langsung dipotong oleh Mbah Estu.
 
"Sssut, Mbah wis ngerti. Kuwe wis Mbah trawang. Mbah ora nyalahke kuwe, tapi Mbah loro kuwe ceroboh." Napas panjang terdengar dari pria tua yang selalu menggunakan blangkon itu.
 
Kemudian pandanganku melekat pada Mbah Estu, dengan bergetar aku bertanya. "Mbah opo iki ndak bisa dihilangkan wae, aku wedi ...." 
 
Mbah Estu terdiam sejenak, lalu menggeleng kecil. "Ndak iso ... iki anugerahmu Nur, cuma kuwe lagi kena apes," ujar Mbah Estu sambil memecut tubuhku dengan daun padi dan daun kelor yang diikat menjadi satu. 
 
"Biar resik," katanya.
 
Tak jarang aku meringis kesakitan, menahan pedih.
 
Mbah Estu memecut sambil bercerita, "Enek satu rahasia gede seng Mbahmu harus ngerti," kata Mbah Estu tanpa menoleh pada Mbah Uti.
 
"Mbah kakungmu mati, disebabke kalah karo si Tatang, sama ... karo sampeyan Nggoleki neng ngendi awak Seruni." 
 
"Kuwe beruntung, Nur. Awakmu kuat! Mbahmu juga kuat, dheweke bisa nglawan Tatang. Nanging sayang ... durung sempat mbahmu cerita, ajal mbahmu wis teko."
 
Suasana mendadak hening ketika Mbah Estu menyudahi ritual memecut tubuhku, suara gamelan dan desissan ular yang berisik hilang seketika, nenek-nenek yang sering bergonta-ganti wajah dan baju pun seketika hadir kembali, kini dia berdiri pas di samping Mbah Uti sembari tersenyum ke arahku.
 
Tak sadar aku membalas senyumannya, ada perasaan lega sekaligus nyaman ketika dirinya hadir. 
 
Mbah Uti masih menangis, aku meminta izin pada Mbah Estu untuk memeluknya. 
 
Kupeluk Mbah Uti erat, "Wis Mbah, Nur bales perbuatan wong iku! Mbah tenang wae!"
 
"Ojo, Nur! Ojo ... Mbah cukup kehilangan Mbah kakungmu, seandainya mbah kakungmu ngomong hal ini karo mbah. Demi Allah Mbah ndak mau kuwe nolongin Seruni." 
 
"Wis, Mbah ... dudu salah mbah." Aku menghusap punggung Mbah Uti mencoba untuk menenangkannya. "Saiki Mbah percoyo kan, bojone Seruni main ilmu hitam?"
 
Mbah Uti hanya diam sambil menangis. Aku tahu perasaan Mbah Uti bagaimana, sakit rasanya saat tahu orang yang kita cintai meninggal disebabkan oleh seseorang. Terbayang bagaimana saat Mbah kakung menghadapi iblis berbentuk manusia seperti pak Tatang. 
 
Sampai akhirnya ia lemah dan meninggal saat pulang ke rumah. 
 
Mengenaskan! Tak sengaja tanganku mengepal saat membayangkan. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!