Ilmu Warisan

Bab 14

Setelah sholat magrib berdua dengan Mbah Uti, aku masuk ke dalam kamar menemui Mas Bisma. Aroma parfum Zara yang menyengat langsung menyerbu hidung ketika aku membuka pintu.

 
Alisku menaut memperhatikan Mas Bisma yang sedang sibuk memakai jam di lengan kirinya. 
 
"Mas ... mau kemana?" tanyaku pelan, berusaha menjaga nada suaraku. Aku tahu sejak kesadarannya belum sepenuhnya pulih, Mas Bisma masih sangat sensitif.
 
"Nur, kebetulan kamu datang. Aku pengen ngajakin kamu pulang. Mau ya? Kamu harus nurut. Aku mohon ...," pintanya dengan raut wajah yang memelas, membuatku tak tega menolaknya.
 
Aku menelan ludah, memejamkan mata sambil menghembuskan napas perlahan. Lalu menatap Mas Bisma. "Mas, bukannya Nur ndak pengen pulang, bukannya Nur ndak nurut sama Mas, tapi kenapa harus tiba-tiba, Mas?" tanyaku pelan, mencoba memahami ketergesaannya.
 
Mas Bisma duduk di ujung ranjang, jemarinya menggenggam erat tanganku. "Mas ndak betah, Nur ... Mas stres! Mas merasa diawasi. Ada bayangan-bayangan hitam yang selalu mengikuti. Mas terus-terusan mendengar bisikan nama Mas, tapi Mas ndak tahu siapa yang memanggil!" ujar Mas Bisma dengan suara gemetar, matanya menunjukkan ketakutan yang mendalam.
 
Aku melepas genggamannya perlahan, duduk di samping Mas Bisma dan mengelus punggungnya untuk menenangkan. "Mas, semuanya baik-baik saja. Kamu hanya butuh istirahat sebentar," bisikku mencoba meyakinkan.
 
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari balik tirai, membuat kami berdua tersentak. Mas Bisma mencengkeram lenganku lebih erat, matanya melebar penuh ketakutan. "Nur, mereka datang lagi ...," bisiknya nyaris tak terdengar. 
 
Jantungku berdegup kencang, langkahku berat ketika aku mendekati jendela. Dengan hati-hati, kubuka gorden dan tidak ada siapa-siapa di sana. 
 
Aku menghela napas lega, berusaha meredakan ketegangan. Lalu kembali ke arah Mas Bisma, aku mencoba tersenyum, mengangkat bahu. "Ndak ada apa-apa kan ...," ujarku berusaha meyakinkan, meski dalam hati masih terasa ada yang ganjil.
 
Namun, raut wajah Mas Bisma berubah. Mulutnya menganga, bola matanya membulat menatap ke arahku. "B-ba-bayangan hitam i-itu dibe-lakangmu," ucapnya terputus-putus, suaranya penuh ketakutan.
 
Sontak aku menoleh ke belakang. Astaghfirullah! Pemandangan yang kulihat membuat darahku seolah membeku. 
 
Entah makhluk apa, wujudnya baru pertama kali aku melihatnya ada iblis semenjijikkan ini.
 
Wajahnya besar dengan bola mata yang menyala seperti api. Seluruh tubuhnya dipenuhi bulu hitam tebal dan lidahnya yang panjang menjulur hampir menyentuh lantai. Suara geramannya terdengar seperti ribuan bisikan dari neraka. 
 
"Opo sing wis dadi duwekku, ora bakal tak gawe lungo." Suaranya bergema, diiringi tawa yang bergemuruh membuat bulu kudukku meremang.
 
Aku terpaku, menahan napas. Bibir dan daguku gemetar. Namun, aku berusaha mati-matian untuk tidak menunjukkan ketakutan yang bisa memperparah situasi. 
 
Bersyukur Mas Bisma hanya bisa melihat bayangan hitam, tidak wujud asli dari makhluk mengerikan ini.
 
"Nur ...?" panggil Mas Bisma, "Ada kan?" tanyanya gemetar.
 
"Ndak ada apa-apa Mas," ujarku berusaha setenang mungkin meski lutut terasa sangat lemas, setiap langkah terasa berat saat aku kembali mendekat ke arahnya.
 
Aku duduk di samping Mas Bisma, berusaha terlihat tenang sambil memijat pundaknya. "Mas, cuma butuh istirahat," kataku pelan sambil terus memperhatikan makhluk itu dari kejauhan, bibirku terus merapalkan mantra yang diberi oleh Mbah Estu sebagai jaga-jaga katanya. 
 
Alhamdulillah, tak berselang lama makhluk itu hilang.
 
"Tapi aku tetep pengen pulang." Kata-kata Mas Bisma mengejutkanku, memecah keheningan.
 
"Mas ... kita pasti pulang, tapi ndak sekarang. Ndak dengan situasi seperti ini. Kasihan Mbah Uti sendirian, dan Mas juga belum sepenuhnya pulih. Besok pagi kita berobat lagi ya ... sama Mbah Estu," sahutku pelan, berusaha menenangkan.
 
"Persetan dengan pengobatan ini itu! Emang dasar desa ini saja yang ndak bener! Intinya aku mau pulang sekarang juga titik! Mbahmu ajak!" sergah Mas Bisma, suaranya memanas dan penuh amarah.
 
Aku hanya mengangguk, tak ingin memperburuk suasana. Perlahan aku bangkit dan melangkah menuju kamar Mbah Uti yang rupanya sudah lelap di atas ranjang kayu. Tubuhnya kurus, renta, hanya sendiri tanpa sanak saudara di desa ini.
 
Kelima anak Mbah Uti memilih untuk bekerja di kota, menikah dan menetap di sana, meninggalkan kampung tanpa ada rasa rindu untuk pulang. 
 
Masih kuingat betapa sakitnya hati Mbah Kakung dan Mbah Uti saat hari raya Idul Fitri kemarin. Mbah Uti menyiapkan segala hidangan melimpah ketupat sayur, rendang, opor, dan sambel kentang ati ampela. Dengan harapan, setelah 10 tahun tidak pulang, tahun ini mereka akan pulang. Mengingat Hari Raya kali ini berlibur panjang.
 
Nyatanya... Aku datang setelah sholat Id. Mbah Uti dan Mbah Kakung memelukku dengan haru, menumpahkan semua kerinduan pada anak-anaknya terhadapku.
 
Hidangan yang telah dimasak akhirnya dibagikan kepada para tetangga.
 
Kelima anak mereka hanya datang saat Mbah Kakung tiada, lalu pulang keesokan harinya dengan alasan takut bernasib sama sepertiku. Tak terasa air mataku menetes, merasa Mbah Uti tidak memiliki siapa-siapa lagi selain aku.
 
Mbah Uti terbangun, sedikit terkejut melihatku duduk bersandar di ranjang sambil memperhatikannya. "Astaghfirullah. Nur ... kuwe nangis?" tegur Mbah Uti sambil membetulkan kacamatanya.
 
"Eneng opo, Ndok? Berantem karo bojomu?"
 
Aku menggeleng. "Mas Bisma, Mbah... ngajak aku muleh."
 
Mbah Uti terdiam, nampak raut wajahnya kecewa. "Mbah melu yo karo, Nur ...." ajakku memohon.
 
Mbah Uti menggeleng kemudian tersenyum menatapku. "Nur, Mbah nek melu kuwe... ora enek sing iso maneh ngobati rasa kangen karo Mbah Kakungmu. Neng omah iki wae, Mbah iso ngelingi Mbah Kakung."
 
"Kuwe bali wae, turuti omongane bojomu, ojo gawe dheweke nesu. Kuwe ojo kuwatir, Mbah Estu mesti bakal njaga Mbah ing kene," lanjutnya lagi.
 
"Nanging, Mbah?" tanyaku, menatap Mbah Uti dalam. Tampak jelas wajah keriputnya.
 
Mbah Uti tersenyum lalu menggeleng. "Yuk, Mbah Anter neng ngarep."
 
Tubuh kurusnya bangun, menggenggam lenganku. Kami berjalan menuju ruang tengah, tempat Mas Bisma sudah menunggu. Mas Bisma mencium punggung tangan Mbah Uti. Kami berpamitan pulang, setetes air mata Mbah Uti terlihat dalam sorot lampu mobil.
 
Aku memperhatikannya dari dalam mobil, Mbah Uti terduduk di depan pintu, mengibaskan jemarinya ke arah kami hingga dirinya tak terlihat lagi.
 
Setelah beberapa detik, aku tersadar untuk menghubungi Mbah Estu agar dirinya tahu Mbah Uti sedang sendiri.
 
[Assalamualaikum, Mbah.]
 
[Walaikumsalam, eneng opo, Nur?] tanya Mbah Estu di seberang panggilan.
 
[Mbah, iki Nur lagi di perjalanan pulang, Nur titip Mbah yo.]
 
[Hah, pulang?] tanya Mbah Estu seolah terkejut mendengar kepulanganku.
 
[Nur, kok mendadak? Iki ndak bener, Nur! Kuwe wis tekan ngendi? Mbah susul!]
 
[Emm... iki neng ngendi yo?] Saat bola mataku sedang mengedar, ponselku direbut dan dimatikan oleh Mas Bisma.
 
"Kita tetap pulang," tegasnya, suaranya penuh determinasi.
 
Tak berselang lama, Mas Bisma tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. "Allahu Akbar!" serunya.
 
Di depan kami, sosok iblis yang menyeramkan tadi menghadang. Dia merangkak dengan kepala mendongak, lidahnya menjulur panjang, matanya menyala merah seperti bara api, menatap tajam ke arah kami. 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!