Ilmu Warisan
Bab 15
Mas Bisma menggenggam setir dengan erat, keringat dingin membasahi dahinya. Kali ini ia melihat jelas sosok itu, bukan lagi bayangan hitam yang samar.
"Allahu Akbar!" serunya berkali-kali, suaranya penuh kepanikan.
Makhluk itu semakin mendekat, wajahnya yang menyeramkan terpampang jelas dalam sorot lampu mobil.
Lidah panjangnya menjulur, menyentuh tanah dengan air li*ur kental menjijikkan serta mengeluarkan suara gemeretak yang membuat bulu kuduk meremang.
Ketika makhluk itu hampir mencapai mobil, Mas Bisma menekan pedal gas, berusaha melaju melewati sosok mengerikan itu.
Bibirnya terus membaca ayat kursi, suaranya bergetar penuh keyakinan. Meski pandangan Mas Bisma kini terhalang oleh wajah makhluk itu yang menempel di kaca depan, ia tetap fokus menyetir.
Mobil yang kami gunakan bergetar hebat, seolah melawan kekuatan yang tak tertandingi.
Kami terus merapalkan ayat kursi sepanjang jalan. Namun, alih-alih menghilang, makhluk itu justru mengikuti ayat kursi dengan jelas, suaranya menggelegar mengikuti kami berdoa.
"Allāhu lā ilāha illā huw(a), al-ḥayyul-qayyūm(u) ...." Makhluk itu melanjutkan ayat kursi sampai selesai, diakhiri dengan suara tawa yang terbahak-bahak.
"Opo sing wis dadi duwekku, ora bakal tak gawe lungo!" katanya lagi, kali ini dengan tekanan yang mengerikan.
Mobil terus melaju, namun anehnya kami sudah satu jam lebih berputar-putar di jalan yang sama.
Setiap belokan dan tikungan terasa familier, seolah kami terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung.
Jalanan yang gelap dan berkelok-kelok semakin menambah rasa mencekam. Pohon-pohon besar di tepi jalan tampak seperti bayangan hitam yang melambai, seakan hidup dan mengawasi setiap gerakan kami.
Sesekali, makhluk itu muncul di kaca belakang, wajahnya menakutkan terus menempel, menatap kami dengan mata merah menyala.
Aku berusaha tetap tenang, diam-diam membaca mantra di tengah Mas Bisma sibuk melirik pada kaca spion, matanya panik penuh rasa khawatir.
Tiba-tiba, jalan di depan kami tampak berubah. Dari gelap dan berkelok, jalan itu kini terlihat lurus dan terang, seolah mengarah ke suatu tempat yang lebih aman.
Namun, suara makhluk itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat dan lebih menyeramkan.
"Kuwe kabeh ora bakal bisa mlayu saka aku!" suaranya menggema.
"Aku bakal melu menyang endi wae kuwe lungo."
Mas Bisma menggenggam setir semakin erat, memacu mobil dengan kecepatan penuh.
Setiap kali kami merasa telah berhasil melarikan diri, makhluk itu kembali muncul, "Iki durung rampung." Ia menghadang di depan, tertawa mengerikan.
Dengan satu kalimat teriakan keras Mas Bisma menerobos makhluk itu, "Allah Huakbar!" menuju cahaya yang kini sangat dekat.
Kemudian, semuanya menjadi terang. Kami terlempar keluar dari kegelapan, kembali ke jalan yang biasa, dengan suasana yang lebih tenang dan aman.
Aku dan Mas Bisma terengah-engah, berusaha mengatur napas. Ketegangan masih terasa, tapi perlahan-lahan mereda.
Kami saling menatap, Mas Bisma memelukku sambil mengusap punggungku. "Kita sudah keluar, Sayang ... kita akan sampai di rumah sebentar lagi."
Akhirnya tugu selamat jalan terlihat, aku menghela napas lega sekaligus heran di depan sana ada roh yg selama ini kukenal.
Ya! Mbak Seruni berdiri di samping tugu selamat jalan, wajahnya datar mengarah ke mobil kami.
"Kenapa, Sayang?" tanya Mas Bisma mengejutkanku.
Aku menggeleng pelan.
"Sudah ... intinya, lupakan semua yang terjadi selama di desa. Jangan pernah kembali lagi ke sana!"
Degh! Entah mengapa aku kesal mendengarnya.
"Lalu, Mbah?" tanyaku hampir menangis.
Mas Bisma menoleh, mengelus rambutku. "Mbah Uti bisa dijemput seseorang untuk ke rumah kita."
Lalu, Mas Bisma tersenyum kembali fokus untuk menyetir.
****
"Nur, sampai ...." Mas Bisma membangunkanku yang terlelap sepanjang jalan.
Terlihat halaman rumah berwarna sage, di perumahan yang terbilang elite di kota ini.
Namun, baru saja aku membuka gerbang dan ingin masuk ke dalam, kepalaku pusing mencium bau amis yang menyeruak.
Benar-benar amis! Seperti bau anyir setelah melahirkan ini lebih parah lagi.
Huek!!
Hueekk!!
Aku tak tahan.
"Nur ... kenapa?" tanya Mas Bisma memijat tengkuk leherku.
"Amis, Mas! Amis!" teriakku menepis jemarinya.
"Hah? Ndak kok." Mas Bisma mengendus, memastikan. "Ndak kok, Nur! Ayok ah masuk. Sudah malem ini."
Mas Bisma memapahku masuk ke dalam, "Assalamualaikum," kami mengucap salam bebarengan saat membuka pintu.
"Walaikumsalam," Degh! Ada yang menjawab, suaranya amat kecil.
Bola mataku memutar, apa aku salah dengar?
Cklek!
Mas Bisma membuka pintu kamar, lalu merebahkan tubuh di kasur yang empuk. Dinginnya AC menusuk setelah berhari-hari tak dimatikan.
"Argh! Segarnya ... tubuhku kaku tidur tempat Mbahmu! Panas, banyak nyamuk! Kasurnya kapuk, aku ndak biasa. Nur! Apa memang orang desa suka pakai kasur begitu?" tanya Mas Bisma lagi-lagi aku tak suka mendengar perkataannya.
Aku meliriknya dalam. "Kalau kamu ndak nyaman, belikan Mbah kasur yang bagus! Wis bagus dikasih tempat tidur. Ndak disuruh tidur di luar kamu!" jawabku ketus, baru kali ini aku merasa mas Bisma akhir-akhir ini berbeda dari yang sebelumnya.
Mas Bisma bukannya minta maaf dia malah tertawa tak meras bersalah, masih terus meracau tak karuan.
Di tengah Mas Bisma sibuk dengan perkataannya, ada sekelibat bayangan hitam berputar-putar, lalu terdengar suara tangisan pilu.
Astaghfirullah, aku hapal suara tangisan ini. Mbak Seruni? Apa dia mengikutiku sampai kesini?
"Nur, mulih ... Nur."
"Jare kowe janji arep nulungi aku."
"Aku lara, Nur. Wis ora tahan." Degh. Suaranya persis di depan pintu kamar.
"Nur?" Mas Bisma mengibaskan jemarinya di depan wajahku. "Kenapa? Jangan bengong! Nggak bagus!"
"Aku tidur duluan ya ... ngantuk banget," ujarnya santai.
Berarti hanya aku yang mendengar. Aku tak menyangka aku diikuti sejauh ini.
"Nur ...," suara serak memanggilku, nyaris saja aku berteriak, saat melihat nenek-nenek yang kini berubah lagi wajah dan pakaiannya itu duduk di ujung ranjang.
"Ojo mbiyasa ninggalke urusanmu sing durung rampung," ujarnya begitu lembut.
Aku beranjak bangun, ikut duduk di atas ranjang. "M-mbah ...," panggilku terbata masih ada sedikit rasa takut.
"Ojo wedi karo aku, Nur. Kita sak keluarga, kuwe buyutku." Seolah tahu apa yang aku rasakan.
Aku mengangguk pelan.
"Nyuwun sewu, Mbah. Nur mung manut karo perintah bojoku. Nur ora duwe kuasa kanggo nolak."
Nenek itu tersenyum, mengelus rambutku. "Apik," katanya membuat aku terpaku. Terkejut bukan main ternyata dia bisa menyentuhku.
"Nanging sayang, bojomu wangkel! Mergo saka tumindake, saiki masalahe tambah gede." Raut wajahnya berubah seketika. Matanya bulat penuh amarah menatap Mas Bisma. "Dablek!" umpatnya sambil terus menatap.
Lagi-lagi terdengar kembali suara tangisan pilu, Nenek di depanku menggeleng, lampu mendadak padam, dia beranjak melangkah menuju jendela kaca.
Kemudian berhenti, lalu ia menunjuk ke arah gorden.
Aku menyipit, beranjak bangun penasaran.
Saat ingin membuka gorden tanganku langsung ditepis cepat.
"Setitik wae."
Aku menurutinya kubuka sedikit hanya seukuran bola mataku saja, kuintip dengan seksama dari kamarku tepatnya di lantai dua.
Astaghfirullah.
Terlihat Pak Tatang memakai gamis berwarna hitam di seberang rumah, berdiri dengan wajah datar menatap ke arah jendela kamar.