Brak!!
Brak!!
Suara pagar besi di gebrak, berbarengan dengan amarah Mas Bisma yang sedang mengejarku ke depan.
Sambil mata memperhatikan Mas Bisma aku mengecek siapa yang datang? Tetangga mana yang berani membuat kegaduhan pagi-pagi begini?
Rupanya tetangga samping rumahku bernama Mbak Nilam, ia datang seperti ingin melabrak. "Dimana suamimu?" tanya Mbak Nilam wajahnya suram memerah.
"Ada di dalam." Aku menoleh menunjuk ke belakang.
Betapa terkejutnya aku, saat mendapati Mas Bisma sedang berjongkok di depan tong sampah. Merauk sisa makanan yang kubuang tadi, wajahnya menoleh pada kami sebentar, lalu melanjutkan kembali menyesap bel^tung-bel^tung, jeroan ayam yang busuk di genggamannya dengan nikmat.
Mbak Nilam dan aku terpaku sebentar lalu saling melirik, tak percaya. Sedetik kemudian Mbak Nilam pinsan.
Kuabaikan Mas Bisma, memilih untuk mengantar Mbak Nilam ke rumahnya. Entah apa yang terjadi sebenarnya, baru juga semalam kami pulang ke rumah. Sudah membuat tetangga depan dan samping rumah terganggu.
"Ning, umi pinsan ... boleh ambilkan air?" perintahku pada anak Nilam bernama Aning kira-kira usianya sekitar 7 tahunan.
"Ini Tante ...," panggil Aning sembari menyodorkan segelas air putih. "Umi pinsan karna om ya?" tanyanya sedikit agak panik melihat uminya pinsan.
Aku mengerutkan kening, "Om?" tanyaku balik, kok dia tahu pikirku.
"Iya tante, Aning takut sama om. Dari subuh tadi nyampek pagi ini, om meraung-meraung sambil mencakar tembok kamar Aning," ujar Aning sembari mempraktekkan bunyi raungannya.
Perumahan kami memang tipe perumahan elite yang satu tembok menjadi dua rumah. Dan setahuku tembok kamar Aning itu menjadi satu dengan tembok dapurku.
"Beneran suara om?" tanyaku lagi.
Aning mengangguk, tubuhnya meringkuk ketakutan.
Tak lama Mbak Nilam sadar, dia langsung berdiri menarik lenganku dan melemparku ke luar. "Ingat ya! Peristiwa ini akan kulaporkan pada Pak Lurah!" ketusnya.
Brak!! Suara pintu dibanting keras.
"Mbak ... Mbak Nilam," panggilku sambil mengetuk pintu. "Izinkan aku menjelaskan, Mbak."
"Ngejelasin apa? Menjelaskan kalau kamu dan suamimu baru pulang dari ritual pesugihan? Iya?" jawab Mbak Nilam membuatku sakit.
Apa alasannya bisa menuduhku segitunya? Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke rumah, percuma menjelaskan dengan seseorang yang sudah salah paham terlalu jauh.
Sesampainya di rumah, aku melihat tong sampah yang sudah kosong bersih tak bersisa. Bola mataku mengedar mencari keberadaan Mas Bisma.
Ruang tengah, dapur, lantai dua, semua kamar, kamar mandi, toilet tamu, hingga gudang dibagian roof top pun aku cek.
Aku sama sekali tak menemukan Mas Bisma.
Sekarang aku berlari ke luar kepanikan mulai muncul, pikiranku terbang kemana-mana. Ingin rasanya menjerit menangis, tapi untuk apa? Lagi-lagi hanya aku sendiri disini tidak ada siapa pun yang mengerti akan masalahku.
Instingku mengarah pada rumah Mbak Asih yang pintunya terbuka lebar.
Tapi, tidak mungkin Mas Bisma ke sana, untuk apa? Mas Bisma pun tahu jika suami Mbak Asih jam segini sudah pasti tak ada di rumah.
Aku hanya terdiam, berdiri kebingungan di depan gerbang. Entah mengapa bola mataku masih terfokus pada rumah Mbak Asih, seolah menyuruhku untuk masuk ke dalam rumahnya.
Sebenarnya aku ragu, dengan keyakinan yang penuh aku masuk ke dalam rumahnya. Melangkah buru-buru dan mengucap salam.
"Assalamualaikum," salamku yang tak terjawab.
Aneh, biasanya Mbak Asih bukan tipe orang yang mengabaikan salam. Apa dia tidak ada di rumah? Kurasa tak mungkin juga, Mbak Asih tipe perempuan yang telaten dia tidak mungkin meninggalkan rumahnya dalam kondisi pintu terbuka.
"Mbak ... Mbak Asih ...," panggilku terus masuk ke dalam rumahnya. Menyelusuri setiap sudut tidak ada tanda-tanda keberadaan Mbak Asih.
Hanya lantai dua bagian kamar utama yang belum kuperiksa, sebenarnya aku ragu. Ragu akan kesalah pahaman Mbak Asih lagi jika aku sampai masuk ke dalam kamarnya.
Namun, lagi-lagi hati ini terus mendorongku. Dengan perasaan enggan, aku masuk ke dalam kamar Mbak Asih yang pintunya sudah terbuka lebar.
Baru saja aku mendekat terlihat dari kejauhan Mas Bisma dan Mbak Asih sedang berada di dalam kamar.
Astaghfirullah!
Mas Bisma yang terkenal tampan berwibawa di hadapan para tetangga, kini berubah menjadi sosok yang begitu menyeramkan.
Dengan tubuh yang hanya dibalut celana dalam, dia menarik tubuh Mbak Asih yang sudah terpojok di sudut dinding.
Terlihat mulut Mbak Asih menganga lebar, ketakutan, ingin berteriak tapi suaranya tidak timbul ke luar.
"Kuwe duwe bayi ing wetengmu ta? Oleh aku njupuk?" suara Mas Bisma berat dan serak.
Perkataannya sekarang menyadarkanku, dia bukan lagi suamiku!
Dengan sekuat tenaga aku menariknya, tidak juga tubuhnya goyah. Semua barang yang ada di kamar Mbak Asih, kupergunakan untuk melempar tubuh Mas Bisma.
Setrikaan, Vas bunga hingga gucci yang berukuran sedang pun kulempar mengenai tubuh Mas Bisma. Lagi-lagi tubuh itu tak goyah, ia masih saja terfokus pada Mbak Asih.
"Ngalah ya, bayi sing enek ing wetengmu kuwi kanggo aku. Aku janji bakal mbelah wetengmu alon-alon wae."
Mas Bisma kini mulai menyesap bagian kaki Mbak Asih.
Mbak Asih yang ketakutan, masih terus berontak dia menangis, mulutnya terus menganga seperti berbicara tapi tak ada suara.
Rambut Mas Bisma kugenggam dengan kuat. Sambil menangis kurapalkan mantra yang dibekali oleh Mbah Estu.
Tiba-tiba terlihat sosok nenek-nenek di depanku menyentuh kepala Mbak Asih, sambil membaca mantra.
Kemudian tubuh Mas Bisma dan Mbak Asih ambruk secara bersamaan.
"Sak iki, wong wadon iku ora bakal ngelingi opo-opo sakwis kedadeyan iki," ujar perempuan tua di hadapanku.
"Tugasmu rapike kabeh barang-barange, sing pecah tinggalen wae."
Aku mengangguk menuruti, semua barang kurapihkan. Mbak Asih kutidurkan di atas ranjang, lalu kuselimutkan dengan rapih.
Semua pintu di rumah Mbak Asih kututup, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Mas Bisma kupapah masuk ke dalam, kuletakkan tubuhnya di sofa.
"Nur, jiwa bojomu wis dikuasai wong liya."
"Ora enek pilihan ing kene."
"Selain lunga mudhun menyang desa, kanggo nyembuhake bojomu."
Suara perempuan tua yang sekarang memakai kebaya warna merah itu, selalu lembut menjelaskan padaku.
Aku mengangguk kecil, "Iyo, Mbah ... Nur sak iki muleh."
"Ojo!" suara wanita tua itu meninggi.
Bola mataku menatapnya tajam, "Mbah, ponsel Ainur rusak, Ponsel Mas Bisma juga entah dimana. Jadi Aku ndak bisa mengabari sopo-sopo, Mbah!" ujarku dengan suara tercekat.
Perempuan tua itu kini mendekat, mengelus rambutku lembut. "Ora usah pusing, Mbah sing bakal ngabari Mbah Estu supaya mlebu kene. Terus mbawa kuwe menyang desa."
"Kuwe tenang wae," ujarnya sambil menepuk pundakku.
Kemudian di tengah obrolan kami, secara tiba-tiba tubuh Mas Bisma mengejang, matanya melotot ke atas dan bola matanya berubah menjadi putih.
Ayat suci al-quran kulantunkan tiada henti, sambil menangis.
Di tengah rasa kepanikan, mendadak ada satu bola api berputar di depan halaman rumah lalu terhenti tepat di di ujung pintu.