Ilmu Warisan

Bab 18

Tubuh yang semula tersandar di sofa, kini beranjak duduk dengan tubuh yang kaku. Kepala Mas Bisma menunduk ke bawah, tangannya menjuntai ke lantai dengan lemas.

 
[Sang hyang sukma ... nyawiji mring darahku, kulo katitah soko agne lan poro danyang ing tanah jawi, sedaya turunku Jin prayangaan lawan peri.] 
 
Detak jantungku tak karuan, aku berpaku gemetar. Mendengar suara syair yang dilantunkan oleh Mas Bisma layaknya orang menyinden.
 
Tiba-tiba wajahnya mendongak menatapku, matanya melotot. Bola mata yang semula hitam putih, kini berputar cepat berubah semuanya menjadi putih.
 
Tungkai lututku semakin lemas.
 
Namun, saat Mas Bisma berdiri, tubuhku bereaksi sponstan. Aku reflek berlari ke luar, mataku mengedar mencari pertolongan, dimana nenek? Setelah ia mengusir bola api tadi, sosoknya belum muncul sampai sekarang.
 
Mas Bisma berjalan ke arahku, langkahnya kecil dan pasti. Suara langkahnya bukan seperti suara langkah manusia, melainkah seperti langkah sesuatu yang besar, sejenis raksasa.
 
"Ainur .... arep neng endi?" Suaranya membuatku merinding.
 
"Kira-kira sopo sing luwih dhisik mati nang tanganku? Mbahmu, bojomu, opo kuwe?" Degh! Suaranya kini terdengar di belakangku.
 
Sontak Aku menoleh ke belakang, bibir dan daguku gemetar, keringat dingin mulai bercucuran. Aku menahan napas beberapa detik, mataku terbelalak melihat Mas Bisma berdiri tersenyum lebar di hadapanku.
 
Panik, kubaca segala mantra yang terlintas di kepala. Suaraku bergetar dan terputus-putus.
 
 Tak berselang lama tubuh Mas Bisma ambruk.
 
****
 
Pukul 16.45, terdengar suara ketukan dari luar gerbang oleh pak Lurah setempat. 
 
Dengan keadaan tubuh yang kacau dan perasaan yang tak menentu aku menemui mereka, selain pak Lurah terdapat dua orang lagi yang menemani yaitu Mbak Nilam dan suami dari Mbak Asih.
 
Wajah-wajah mereka tampak serius ....
 
Pak Lurah dan Mbak Nilam memulai perbincangan tentang keadaan rumahku yang selalu terdengar teriakan seorang pria tua yang berat. Suara itu begitu mengerikan, meraung terus menerus sepanjang malam.
 
 Belum lagi bunyi cakaran yang menakutkan dibalik tembok kamar anak Mbak Nilam, ia dan anaknya merasa diteror, merasa ketakutan apa lagi dirinya hanyalah seorang janda yang hanya tinggal berdua dengan anaknya.
 
Aku memahami dan meminta maaf pada Mbak Nilam atas ketakutannya, tapi aku berkilah tentang suara teriakan pria tua dan bunyi cakaran tembok. 
 
"Aku hanya berdua dengan suamiku di rumah, kalian juga lebih tau bagaimana suaranya. Jadi tidak mungkin suara pria tua itu berasal dari rumahku." 
 
"Apa lagi suara cakaran tembok ...," ucapku terhenti diiringi dengan tertawa kecil. "Bisa mengelupas kuku Mas Bisma." Tawaku semakin kuat, padahal aku sadar itu pasti ulahnya.
 
Namun, mendengar perkataan Mbak Nilam tadi pagi membuatku tersinggung. Takut jika masalah ini tersebar dan nama baikku dan Mas Bisma tercoreng ulah gosip hoax yang disebarkan oleh Mbak Nilam nantinya.
 
"Tapi bagaimana dengan istriku, Pak Lurah?" tanya suami Mbak Asih memecah obrolan, membuat keningku mengerut menatap tajam.
 
Pria itu mengambil ponsel di saku celananya, memperlihatkan pada kami layar cctv di dalam ponsel. 
 
Terlihat Mas Bisma berjalan seperti robot, matanya melotot kosong masuk ke dalam rumah Mbak Asih.
 
"Ini Bisma kan? Kenapa Bisma datang dengan mata yang melotot lalu masuk dengan pintu yang terbuka lebar sendirinya! Itu gak wajar, Mbak!" ujarnya penuh penekanan. Suaranya bergetar takut bercampur khawatir.
 
Aku menggeleng, "Aku ndak tau," jawabku singkat.
 
"Bohong!!" suami Mbak Asih membentakku. Tubuhnya bergidik setelah melihat rekaman CCTV.
 
 "Apa yang mbak temui di dalam, saat mbak masuk ke dalam rumahku?" tanya pria berperawakan bersih dengan style classic eropa itu. Matanya menatap tajam penuh curiga.
 
Dia mempertanyakan itu padaku ....
 
Artinya bagian dalam ruang tengah dan kamar mereka tidak terdapat CCTV. Aku bisa menghela napas sedikit, meski rasanya diri ini sudah terpojok sedari tadi.
 
"Aku hanya menemukan Mas Bisma sudah pinsan di ruang tengah. Selebihnya aku tak tau." 
 
"Jika tak percaya silahkan cek sendiri CCTV di rumah anda."
 
Pria itu terdiam sejenak, "Tidak ada CCTV di bagian dalam," suaranya mengecil.
 
"Kumohon Mbak Nur, jika ada kejadian hal aneh tadi pagi tolong jujur." 
 
"Kasihan Asih, dari sepulangnya aku bekerja. Ia hanya tertidur, bola matanya terbuka lalu tertidur kembali. Lalu terbuka lagi dan begitu seterusnya." 
 
"Dia juga sedang mengandung anak pertama kami. Setelah penantian 20 tahun lamanya," lanjutnya lagi, raut wajahnya kecewa penuh penyesalan. Seperti menyalahkan dirinya sendiri.
 
Kasihan ....
 
Aku hanya termenung tak menjawab, semuanya memang salah kami. Seandainya saja Aku dan Mas Bisma masih berada di desa, mungkin semuanya tidak terjadi seperti ini.
 
Pak Lurah menepuk pundakku, "Sudah jangan dipikirkan, Mbak Nur. Yang terpenting sekarang kesalah pahaman ini sudah selesai," ujarnya sambil tersenyum.
 
"Tapi, Pak ...," Degh! panggilan Mbak Nilam membuatku terkejut, jangan-jangan ia akan menceritakan semua yang ia lihat saat kejadian tadi pagi.
 
Pak Lurah menoleh ke arah Mbak Nilam, "Iya ... ada apa, Buk?" 
 
Tamat sudah riwayatku sekarang. Aku terus menatap Mbak Nilam.
 
Aneh, Mbak Nilam hanya menggeleng tak menjawab pertanyaan pak Lurah.
 
Akhirnya semua berpamitan, termasuk Pak Lurah.
 
Kemudian aku menawarkan pada suami Mbak Asih untuk mengobati Mbak Asih pada seseorang sepuh di kampungku (Mbah Estu).
 
Namun, alih-alih menanggapi. Suami Mbak Asih malah mengabaikanku.
 
****
 
Tidak banyak yang tahu perasaanku sekarang bagaimana? Melihat suamiku tidur dengan tubuh yang kaku, lemah tak berdaya. Rasanya ingin menjerit, tetapi percuma.
 
Setetes air mata tak sengaja terjatuh. 
 
Rindu akan kehangatan, tawa ceria rumah tangga kami yang dulu.
 
Kurebahkan tubuh di samping Mas Bisma, memeluknya meski ada sedikit rasa takut. Mencoba memberinya kenyamanan barang kali dengan pelukan ini Mas Bisma sadar.
 
Dan benar saja, tak berselang lama aku memeluknya ... tubuhnya merespon. Jemarinya mengenggamku. 
 
"Mas ...." 
 
"Sayang ...." 
 
Panggilku, mengharapkan setitik cahaya untuk kesadaran Mas Bisma. 
 
Jemarinya hanya menggenggam tanganku, tapi tidak dengan tubuhnya. Dia masih diam kaku bak kanebo kering yang belum basah.
 
"Mas, bangun ... Nur takut," ujarku dengan tangisan yang pecah. 
 
Sementara itu, terdengar tangisan yang lain mengawali tangisanku. Suaranya persis di luar jendela.
 
Aku kenal dengan suara tangisan itu!
 
Dengan wajah yang merah padam penuh emosi, kubuka jendela, terpampang jelas roh Mbak Seruni mengambang di depan jendela. 
 
"Kau mau apa?" 
 
"Menolongmu?" tanyaku dengan nada suara tinggi.
 
"Jangankan untuk menolongmu, menolong hidupku saja aku tak bisa, hidupku hancur sekarang! Dan kau tau siapa penyebabnya?!" 
 
"Suamimu, Seruni!" 
 
"Suamimu!" teriakku lantang sambil terus menangis.
 
Rasanya kejiwaanku sudah terganggu sekarang.
 
Aku menangis sejadi-jadinya, hingga roh Mbak Seruni perlahan menghilang.
 
Di mana Mbah Estu? Mengapa menunggunya lama sekali, setiap detik yang bergerak rasanya seperti menunggu kematian.
 
Tubuhku berhambur lagi memeluk Mas Bisma. 
 
"Mas Bangun! Nur takut ...," ujarku kembali memeluknya sambil terus menangis.
 
Tak lama, tanganku kembali digenggam. Bola matanya mendadak terbuka.
 
kemudian ia menoleh padaku. "Nur ... kuwe wedi karo aku?" ucapnya sembari tersenyum ke arahku.
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!