Ilmu Warisan

Bab 3

Ayam mulai bersautan, cahaya pagi menembus dinding yang terbuat dari anyaman 

bambu. 
 
Kepalaku pusing tidak bisa tidur semalaman, bolak balik diganggu oleh hal yang tidak pernah kupercaya sebelumnya.
 
Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Mbah uti, apa maksut semua ini? Mengapa Mbah Estu bilang jika aku adalah orang yang dipilih? Siapa yang memilihku? Apa jin yang sebelum ini tidak kupercaya keberadaannya itu memang nyata? 
 
Aku menangis di ujung ranjang, entah ini yang ke berapa kalinya. 
 
Tubuh ini takut ... jiwaku belum bisa menerima.
 
"Nur ...." Lagi-lagi aku terperanjat ketakutan ketika mendengar panggilan orang.
 
"Wis munggah?" tanya Mbah uti sembari duduk dengan mengenggam jemariku. 
 
"Nuwun sewu, Nur. Yen kabeh iki dadi beban."
 
Aku diam, pandanganku tetap kosong menghadap ke arah pintu kamar.
 
"Boleh mbah jelasin lagi opo seng sebenernya terjadi? Yo ... siapa tau kuwe belum paham opo penjelasan Mbah Estu semalem." 
 
Aku menoleh secepat kilat menghadap wajah mbah uti, bola mataku berkaca seolah ingin cepat mendengar penjelasan mbah uti.
 
Mbah uti tersenyum, "Opo seng sebenernya kemarin Nur lihat iku bisa jadi jin yang menyerupai salah satu mbah buyut buyutmu," kata mbah uti sambil terus menggenggam jemariku.
 
"Demi Allah mbahmu ndak pernah sekali pun bersekutu pada jin, tapi jin leluhur iku memang ada, mereka turun temurun bersifat menjaga dan juga tidak semua keluarga mempunyai jin leluhur." 
 
Aku masih menatap mbah uti mendengarkan dengan seksama. "Apa mbah pernah bertemu dengan jin itu mbah?" tanyaku masih terus menyorot bola mata mbah uti.
 
Wanita yang usianya sudah 76 tahunan ini menggeleng, "Ndak ... padahal pengen." 
 
"Tapi tetap saja kita sudah percaya pada jin kan mbah? Apa ndak bisa dihilangin?" celetukku dengan semangat.
 
Mbah uti menggeleng, "Mbah kakung pernah ngomong, dia ndak pernah percaya pada jin tapi mbahmu selalu nganggo pilingnya dia ngerti yen besok wong iku bakal meninggal, mbahmu bisa berkomunikasi karo roh gentanyangan seng terkadang hampir setiap hari meminta pertolongan agar roh mereka tenang." 
 
"Apa semua itu ulah jin leluhur" tanyaku penasaran.
 
Mbah uti lagi-lagi menggeleng, "Entah, Nur ... mbah kakungmu selalu ngomong iku anugerah dari sang maha kuasa, tapi seng jelas setiap keturunannya pasti ada salah satu yang mewarisi termasuk kamu." 
 
Aku tertegun setelah mendengar penjelasan mbah uti, tapi juga takut. Sejak kemarin aku merasa diawasi, seperti ada yang memperhatikan dari jarak dekat.
 
"Iku anugerah, Nur ... ndak semua orang bisa kayak mbah kakungmu. Mbah yakin kamu pasti kuat seperti mbahmu." 
 
Cukup lama Mbah uti tersenyum lalu ia berdiri melangkah keluar kamar. 
 
Aku bangun mrngekori seraya mengusap wajah mencoba menenangkan diri, ingin mulai menerima takdir meski setiap kubayangkan rasanya benar-benar belum sanggup berinstraksi oleh makhluk yang tak kasat mata. 
 
"Mbah ... Nur keluar sebentar boleh?" panggilku meminta izin pada mbah uti.
 
Mbah uti sedikit terkejut, sedetik kemudian ia menghela napas. "Hati-hati, Nur ... jaga dirimu." 
 
Aku tak menghiraukan, bagiku respon mbah uti terlalu berlebihan.
 
Pagi di desa Mbah kakung memang tidak pernah berubah, udaranya segar ... angin masih mengelilingi pepohonan memperlihatkan betapa sejuknya daun-daun meliuk dan menari.
 
saat diri ini baru saja menikmati udara segar aku terfokus pada wanita paruh baya, berjalan ke arahku sambil menangis. 
 
Degh! 
 
Aku trauma!
 
Aku takut! 
 
Kelopak mataku menyipit, memperhatikannya dengan benar, kakinya menapak, kulitnya tidak pucat, rambutnya tergerai rapih, tidak juga kucel hanya saja kenapa dia menangis?
 
Wanita paruh baya itu semakin mendekat, aku berdiri menyapanya. "Mbak ... mau ketemu mbah?" tanyaku. 
 
Ia tersenyum menatapku dengan kelopak mata yang membengkak. "Iya," jawabnya bergetar sambil terus menangis, prihatin dengan keadaannya ... tetapi ingin bertanya pun aku enggan.
 
Aku mengambil napas lega. "Alhamdulillah manusia," batinku.
 
"Mari kuantar mbak ke dalem, tadi mbah lagi duduk di ruang tengah." 
 
Dia mengekoriku dengan wajah yang menunduk sambil terus saja menangis. Membuatku semakin penasaran. "Ya Allah gini amat jadi orang kepo!" Kupercepat laju langkahku supaya semakin cepat ketemu mbah uti semakin cepat pula aku mendapat info mengenai wanita ini.
 
"Mbah ...." 
 
"Mbah uti ...," 
 
Celingak celinguk bola mataku mencari mbah uti.
 
"Mbak silahkan duduk, tak coba cari mbah ke belakang dulu." 
 
Wanita itu duduk, aku melangkah tanpa curiga. 
 
Namun, saat bola mataku tak sengaja melihat televisi yang posisinya pas di depan menghadap sofa, bayangan wanita itu tidak ada. 
 
Kaki ini tiba-tiba kaku lalu berhenti melangkah seketika, jantung berdegup tak karuan. Kucoba menarik napas berkali-kali berusaha untuk tidak terlihat panik dan terus mencoba agar kaki ini bisa melangkah lagi.
 
Selangkah demi selangkah terasa jauh sekali antara ruang tengah ke dapur padahal hanya berjarak dua meter.
 
"Mbak ...." 
 
Dia memanggilku semakin membuatku tak karuan, ingin rasanya berlari sekencang mungkin tapi tak bisa.
 
"Mbak ... kaki saya kok gak ada ya?" 
 
Degh! Jantung semakin berdegup kencang.
 
Aku tidak menoleh sama sekali, masih terus berusaha melangkah meski kaku.
 
"Mbak ... kepala saya juga gak ada?" 
 
"Mbak tangan saya mbak ... mbak coba liat saya ...." 
 
Wanita itu terus menangis, aku takut tiba-tiba ia berjalan mengikutiku dari belakang.
 
"Mbak tolong lihat saya atau saya yang kesana?" 
 
Deghh!
 
 Kaki ini akhirnya berhenti melangkah lagi, semakin kaku semakin tidak bisa bergerak sama sekali.
 
"Mbak kaki saya hilang." Dia menangis, suaranya persis di telinga kananku.
 
Kelopak mataku terpejam, aku berdiri mematung tanpa perlawanan, tubuhku semuanya kaku tidak berfungsi.
 
Sampai akhirnya suara Mbah uti membuatku bisa berteriak. 
 
"Nur ...."
 
Mbah uti menyentuh pundakku dan seketika aku terperanjat teriak sekencang-kencangnya.
 
"Eling, Nur ... Eling ... ngucap." 
 
"Astaghfirullah ...," ucapku sambil menghela napas panjang.
 
Ritme napasku masih tak karuan, tubuhku berhambur memeluk mbah uti. 
 
Tubuh tuanya memapahku, didudukkannya aku di sofa lalu diberi air yang sudah dibacakan mantra. Anehnya seketika aku tenang.
 
"Sudah tenang, Ndok?" tanya mbah uti. 
 
Aku mengangguk. 
 
"Nur kepengin ngomong ke mbah? Opo seng Baru saja terjadi?" 
 
Bola mataku berkaca sambil menjelaskan secara detail kejadian yang baru saja kualami. 
 
"Innalillahi wainnailaihi rojiun." Sontak wajah mbah uti berubah menjadi gusar. 
 
"Ngopo mbah?" tanyaku penasaran.
 
"Wanita seng kuwe ceritakan iku ciri-cirine persis Seruni. Bojo tukang buah seng ilang wis seminggu belum juga ketemu. Rumahnya tepat di seberang desa." 
 
"Terus kenapa dia kesini mbah?" tanyaku lebih menggebu.
 
"Wanita iku akrab karo mbah uti dan mbah kakung, mbah mengenalnya sangat dekat. Kasihan dia Nur ... dia tahu mbah kakungmu bisa membantunya makanya dia kesini." 
 
Kemudian aku termenung, benar kata mbah uti seandainya aku bisa menahan rasa takut. Pasti aku bisa menolongnya tadi.
 
Perasaan bersalah hadir setelah tahu wanita itu teman terdekat mbah uti, menyalahkan diri merasa telah mengecewakan mbah kakung.
 
"Nur ... opo kuwe iso manggilnya kembali?" 
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!