"Gus Afif?"
Tanya umi sambil memandang wajah Hanum sayu, meski kepalanya menunduk dan ditutupi oleh cadar berwarna hitam Hanum tetap saja kelihatan sangat menawan.
Hanum mengangguk lalu duduk di samping wanita yang baru saja kehilangan sosok pendampingnya, tetapi hebatnya ia tetaplah terlihat tegar dan senyuman lebar terus ia nampakkan.
Umi menyentuh bahu Hanum. "Nak, istrahatlah dulu jika kamu lemas. Umi disini menemani para takziah."
"Ndak apa umi, Hanum kuat."
Walaupun sebenarnya Hanum juga ragu dengan kekuatan dirinya sendiri. Karena sampai saat ini, Hanum masih belum bisa mengikhlaskan dengan apa yang saat ini terjadi. Semuanya serba mendadak, seperti mimpi buruk yang terjadi begitu saja. Namun ... bedanya kejadian ini tidak bisa diubah seperti mimpi yang bisa berubah menjadi senang saat kita terbangun.
Tangan umi menyentuh dahi Hanum, memastikan jika anaknya baik-baik saja. Karena ia tahu betapa hancur hati putrinya sekarang, harus diberi ujian dan cobaan yang terus berlanjut hingga kini.
"Nah kan panas, Ndok ... ayolah istrahat dulu, abimu juga pasti ndak mau putri kesayangannya sakit." Umi tersenyum sembari memandang wajah putrinya.
Hanum balas memandang umi, bola matanya berkaca-kaca. Hatinya amat sakit ... tetapi ia heran, mengapa perempuan di hadapannya seperti tidak merasakan sakit sama sekali? Umi terus tersenyum pada setiap orang yang menyapanya. Bahkan ia terlihat tidak menitikkan air matanya.
"Umi ... aku tahu umi adalah ibu yang paling sempurna dan juga aku yakin ... pasti abi senang memiliki istri seperti umi, tapi satu hal umi ... kenapa umi tidak terlihat sedih? Atau setidaknya kecewa pada abi yang telah meninggalkan umi secepat ini?!" suara Hanum menekan sambil memandang ke dua bola mata umi.
Umi meringis. Mendengar pertanyaan putrinya. "Lalu buat apa abi mengajarkan kita ilmu tentang keikhlasan, jika kepergiannya atas kehendak Allah saja kita beratkan," jawab umi dengan nada suara pelan sekali ... kepalanya melengos ke depan, membiarkan Hanum tetap menatap wajahnya.
Bibir umi melebar memandang ke depan. "Ikhlas itu memang sulit, Hanum. Kita masih mengandai, masih belum siap, masih begitu sakit dan sangat sesak rasanya di dada. Itu semua hal yang wajar, Nak ... nggak ada satu orang pun yang mengatakan ikhlas lalu hatinya bahagia tidak merasakan sakit sama sekali dan nggak ada seorang pun yang bisa secara mendadak merubah suasana kehilangan dengan kebahagiaan sekaligus. Itu ndak ada ...." Perkataan umi terhenti sesaat, napasnya menghela berat. Lalu melanjutkan perkataanya kembali dengan tetap menatap ke depan. "Tapi ... kita harus lawan semua itu, Ndok ... harus tunjukkan pada abi. Jika ilmu yang selama ini ia ajarkan itu tidak sia-sia."
Hanum terkehening sekarang, suaranya mulai pudar saat umi menjawab perkataannya. Umi benar ... tidak ada orang yang benar-benar ikhlas melainkan hanya menyembunyikan perasaan mereka agar terlihat baik-baik saja walau ternyata di dalamnya mereka hancur lebur!
Namun, mengapa Hanum tidak bisa? Mengapa ia terlalu lemah untuk tidak menangis? Untuk tidak menampakkan kelelahan jiwanya? Mengapa?
Hanum terus bertanya lalu ia mengangguk, ia cepat mengerti kebisingan di dalam kepalanya ... Hanum sadar imannya belum cukup untuk menyembunyikan semua kepedihan di dalam jiwanya.
"Istrahatlah, Nak ... jangan paksakan dirimu. Sebentar lagi umi akan menyusul."
Hanum mengangguk, mengiyakan ... tanpa membantah, ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan bola matanya tertuju pada ruangan favorit Kyai. Ia pun langsung membuka pintu ruangan itu.
Ceklekk ....
Hanum tersenyum sambil menitikkan air mata, ruangan itu masih tercium khas mewangian tubuh Kyai. Ia duduk menyenderkan kepalanya di atas bantal sofa, melamun ... menatap semuanya, buku, Alquran dan foto-foto yang terpajang rapih di dinding.
Tatapannya kosong menatap gambar wajah Kyai yang terpajang besar berukuran 20R di dinding.
"Hanum kira ... hanya abi yang pergi, tapi nyatanya
Jiwaku ikut pergi bersama abi ... sekarang raga ini hidup tanpa jiwa, bagai tanah tandus tanpa kehidupan," Racau Hanum sendiri.
Sontak angin lembut berhembus datang dari arah jendela, meniup secarik kertas hingga terjatuh membuyarkan lamunan Hanum. Ia langsung memungut secarik kertas itu yang ternyata gambar setengah tubuh umi yang sedang tersenyum manis menatap kamera.
Kemudian tidak sengaja Hanum membalikkan kertas itu dan menemukan kata-kata romantis yang Kyai tulis di belakangnya.
'Aku berjanji ... akan terus merangkulmu, memberi kehangatan, kenyamanan dan terus membahagiakanmu seumur hidupku.'
Hanum lagi-lagi tersenyum lucu, geli ... bercampur bahagia melihat Kyai yang begitu mencintai umi sampai akhir hayatnya.
Setelah membaca kutipan dari Kyai, bola mata Hanum pun menjadi tertarik ingin melihat barang-barang yang berada di atas meja Kyai lebih dekat.
Kemudian ia beranjak duduk dengan bola mata yang mengedar beberapa detik, lalu edarannya tertuju pada buku kecil tebal berwarna merah masih ada pena di atasnya.
Dengan segala keingin tahuan Hanum, ia langsung membuka buku itu yang ternyata bukan berisi tulisan curahan hati atau kutipan-kutipan romantis seperti harapan Hanum. Melainkan goresan pena yang sengaja dicoret acak dengan tulisan POLIGAMI huruf besar.
Hanum mengkerutkan kening, jarinya refleks membuka secarik kertas selanjutnya ... dan Hanum semakin terheran, lagi-lagi masih pada tulisan dirangkai dengan coretan yang sama.
Hanum semakin penasaran, ia membuka satu persatu kertas di buku itu dengan cepat dan ternyata benar saja ... semuanya sama! Hanya tulisan kata POLIGAMI berhuruf besar dengan coretan.
Sekarang ... Hanum terdiam tanpa ekspresi, tubuhnya menghambur ke atas sofa. Bola mata Hanum masih menatap buku kecil berwarna merah itu. "Sebegitu bencinya abi pada kata poligami?" ujar Hanum pelan tersenyum dalam tangisan.
Cklek ....
Suara pedal pintu berputar, umi melangkah cepat dari balik pintu. "Hanum ... kenapa, Nak?" tanya umi wajahnya terukir kekhwatiran melihat putri semata wayangnya menangis.
"Umi ... tolong jawab jujur, apa abi sakit kemarin karena memikirkan Hanum? Memikirkan tentang poligami yang abi tidak merestui sama sekali? Tolong umi jawab jujur." Tanpa sengaja Hanum meninggikan nada suaranya menatap umi sendu.
Wanita paruh baya itu terkesiap, menghela napas beratnya lalu duduk di samping Hanum. "Apa yang membuatmu mengucap seperti itu, Nak?" tanya umi pelan.
Namun, Hanum hanya diam. Bola matanya masih menatap buku kecil kepunyaan Kyai.
Melihat bola mata putrinya yang menatap buku kecil berwarna merah itu, sepertinya sekarang umi tahu ... ia menganggukkan kepalanya bertanda mengerti sekarang.
"Hanum ... kamu tahu? Tidak ada yang salah dari semuanya, abi menentang poligami karena menyayangimu. Seperti ... apa yang dilakukan Rasullah terhadap putri kesayangannya yakni Siti Fatimah. Ada di dalam Hadist yang telah sahih di sana disebutkan, karena sesungguhnya sebagian Siti Fatimah adalah bagian dari dirinya."
Umi menggenggam kuat jemari Hanum, tetapi Hanum masih merasa bersalah ia merasa sakitnya Kyai karena memikirkan dirinya.
Hanum menunduk air matanya terus berjatuhan, "T-tapi tetap saja ... abi sakit karena aku kan, Umi?" tanya Hanum terisak.
Umi menggeleng sembari tersenyum. "Tidak, Hanum ... Allah lebih menyayangi abi dibanding kita. Jadi ikhlaskan ...." Umi memeluk Hanum erat, di dalam pelukannya sempat tercetuk kata yang selama ini ia pendam.
"Umi malah memikirkan nasip rumah tanggamu, seandainya jika anak muridmu itu tidak kunjung hamil. Apa suamimu akan menikahi gadis lain lagi?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa disadari umi ... hingga Hanum melepaskan tautan tangan umi yang memeluknya begitu erat.