Jatuh Cinta di Tanah Lada

Berakhir Sebagai Bagian Dari Takdir

Setelah Arum dan Nursan pergi, suasana di beranda rumah tempat Atikah menginap terasa lebih lengang. Atikah yang sedang duduk di beranda, merasakan angin pagi yang sejuk. Ia melihat beberapa anak bermain bola di kebun kecil di depan rumah. Tak lama kemudian, seorang lelaki yang semalam terlihat akrab berbincang dengan Arum menghampirinya.

"Hai," sapa Fikri sambil tersenyum. Tanpa menunggu jawaban Atikah, Fikri mengambil kursi di dekat pintu dan membawanya ke samping Atikah.

"Hai," jawab Atikah singkat.

"Kenalkan, saya Fikri. Temannya Nursan." Fikri mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Atikah. Saya pernah dengar beberapa kali Nursan menyebut nama kamu."

"Pasti dia cerita tentang aib saya."

"Namanya juga teman lama. Apalagi yang akan dikenang selain aib sahabatnya."

"Betah di Hujung?"

"Saya merasa seperti pindah rumah. Suasananya hampir sama dengan kampung saya. Bedanya, di sini jauh lebih dingin."

"Kehangatan yang terjalin di masyarakat, mampu mengalahkan dingin di sini. Mungkin memang seharusnya kamu tinggal di sini bersama Nursan."

"Mustahil. Eh, bagaimana kamu bisa tahu tentang saya dan Nursan?"

"Nursan yang cerita tentang kamu dan dia yang pernah patah hati. Sayang sekali, kalian tidak berjodoh. Harus berpisah dan menyerah pada keadaan."

"Kamu juga tahu cerita lengkapnya?"

"Tahu dong. Bertahun-tahun saya penasaran, siapa yang sudah mematahkan hati sahabatku itu. Ternyata memang bidadari."

Atikah tersipu. "Kamu terlalu berlebihan. Saya bukan bidadari. Kalau kamu tahu, jangan-jangan Arum juga tahu tentang saya?"

Fikri tertawa kecil, lalu memiringkan kepalanya seperti sedang mempertimbangkan jawabannya. "Kalau kamu tanya begitu, berarti kamu sudah menduga, ya?"

Atikah menatap Fikri dengan ekspresi sulit ditebak. Ada campuran waspada dan penasaran dalam tatapannya.

"Arum tahu," kata Fikri akhirnya. "Tapi jangan khawatir, dia tidak menghakimi. Dia cuma bilang kamu adalah bagian dari masa lalu yang penting bagi Nursan. Itu saja."

Atikah mengangguk pelan. Pandangannya jatuh ke arah kebun kecil di depan rumah, tempat beberapa anak sedang bermain bola dengan riang. "Kadang saya bertanya-tanya," gumamnya, "Kalau waktu itu saya memilih untuk bertahan, apakah semuanya akan berbeda? Mungkin pernikahan kami bisa diselamatkan."

"Kamu menyesal?"

"Menyesal sekali," mata Atikah menerawang. "Kami sempat menikah kurang lebih enam bulan. Kami menikah di Bandung. Tidak ada pesta. Pernikahan itu dilakukan di KUA saja. Tapi amak dan keluarga besar saya akhirnya tahu. Mereka yang sejak awal tidak setuju, tentu marah besar. Saya dipaksa untuk pulang saat itu juga. Surat cerai diurus oleh mereka. Nursan menyusul, tapi kami tidak bisa bertemu. Semua selesai. Saya dipaksa menikah dengan Firman. Alhamdulillah, saya menikah dengan lelaki luar biasa. Sayang, dia meninggal saat Covid lalu. Tadinya saya pikir, kedatangan saya ke sini mungkin bisa mengubah takdir jodoh saya dan Nursan."

Fikri tidak langsung menjawab. Ia mengikuti arah pandang Atikah, seolah mencari jawaban di antara tawa anak-anak itu. "Mungkin iya. Tapi mungkin juga tidak. Hidup tidak pernah bisa ditebak. Yang jelas, kamu masih punya pengaruh besar dalam hidup Nursan. Dia berubah sejak perpisahan itu."

Atikah menoleh cepat. "Berubah bagaimana?"

"Lebih pendiam. Lebih hati-hati. Tapi juga lebih dalam kalau bicara. Kayak dia nggak lagi percaya sama kebetulan. Semua harus ada maknanya."

Atikah terdiam. Ada sesuatu di wajahnya yang berubah. Semacam kesedihan yang ia coba tahan, tapi tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

"Saya kira, dengan pergi, saya membebaskannya," katanya pelan.

Fikri menatap Atikah dengan lembut. "Mungkin kamu memang membebaskannya. Tapi kadang, luka yang membebaskan juga meninggalkan bekas."

Angin sepoi menyapu beranda dengan lembut. Daun-daun pohon cemara bergoyang pelan, seolah ikut menyimak percakapan mereka. Suasana mendadak hening, tapi bukan hening yang canggung. Hening yang memberi ruang untuk mengenang, dan mungkin, menyembuhkan.

"Apa dia masih marah?" tanya Atikah akhirnya.

"Tidak," jawab Fikri. "Tapi mungkin dia belum benar-benar selesai."

Atikah mengangguk. "Saya juga belum."

Fikri tersenyum kecil. "Mungkin ini saatnya. Untuk menyelesaikan."

Fikri tersenyum mendengar pengakuan Atikah. Tapi ia tahu, waktu telah membawa semua orang ke tempat berbeda dalam hidup mereka.

"Kalau soal kamu dan Nursan, sepertinya itu sudah selesai, Tik," katanya pelan. "Dia nggak lagi nyimpan dendam, nggak juga harapan. Yang tersisa cuma kenangan, dan rasa terima kasih karena pernah saling menguatkan."

Atikah mengangguk pelan. "Saya lega mendengar itu. Saya juga tidak ingin membawa luka yang lama ke mana-mana. Hidup harus terus jalan, ya?"

"Betul. Dan kamu tahu? Sekarang dia sedang dekat sama seseorang."

Atikah menoleh, tersenyum samar. "Arum?"

Fikri tertawa, kaget tapi juga kagum. "Kamu cepat sekali menangkapnya."

"Sejak kemarin bertemu, cara Nursan memperlakukan Arum … beda. Ada sesuatu di sana. Mata Nursan seperti nyimpan rahasia yang manis."

"Kamu peka juga, ya." Fikri mencondongkan tubuh sedikit ke depan, dengan nada suara seperti sedang berbagi gosip rahasia. "Arum itu bisa membuat Nursan keteteran. Dia mampu memaksa Nursan tersenyum seperti anak kecil dikasih mainan. Namanya juga teman lama. Mereka dekat sejak SMA. Tapi tidak pernah pacaran."

Atikah tertawa pelan. "Nursan yang saya kenal dulu, bukan tipe yang mudah terbuka."

"Itulah hebatnya Arum. Dia tahu caranya membuat Nursan merasa aman. Nggak buru-buru, tapi pelan-pelan meyakinkan."

Atikah diam sejenak, lalu menatap Fikri dengan ekspresi yang tulus. "Kalau begitu, saya senang. Saya benar-benar senang. Nursan pantas bahagia."

Fikri balik menatap Atikah. Ia bisa merasakan bahwa Atikah memang sudah ikhlas. Bahwa cinta masa lalu yang pernah dibangunnya bersama Nursan, kini telah berubah menjadi sesuatu yang lebih matang, yaitu pengertian, dan keikhlasan.

"Dan kamu?" tanya Fikri. "Apa kamu juga sudah siap membuka lembar baru?"

Atikah tersenyum, kali ini lebih mantap. "Mungkin. Tapi pelan-pelan. Saya masih belajar memaafkan diri sendiri. Tapi kalau semesta mempertemukan lagi dengan seseorang yang tepat, saya juga tidak menolak."

Fikri mengangguk. "Kadang yang datang justru yang nggak kita duga."

Angin kembali berhembus, membawa aroma tanah basah dan bunga liar dari kebun. Percakapan mereka tak lagi sepadat tadi, tapi keheningan yang kini menyelimuti terasa lebih hangat seperti selimut tipis di pagi yang dingin.

"Ngomong-ngomong," Fikri membuka suara, "kamu berencana tinggal lama di Hujung?"

"Belum tahu. Harusnya cuma empat hari. Tapi sekarang rasanya belum ingin cepat-cepat pulang."

Fikri tersenyum. "Biasanya, orang yang bilang begitu bakal betah di sini."

Atikah memeluk kedua lututnya, menyandarkan dagu di atasnya. "Fikri…"

"Hm?"

"Kalau kamu ada di posisi saya dulu, dan harus memilih antara cinta dan orang tua, kamu akan pilih yang mana?"

Fikri terdiam sejenak. Matanya menerawang jauh, ke balik pepohonan dan suara tawa yang kian mengecil.

"Saya nggak tahu pasti," jawabnya pelan. "Tapi mungkin … Saya akan pilih yang tidak membuat saya kehilangan lebih banyak lagi. Cinta sejati nggak seharusnya membuat kita mengorbankan siapa kita sebenarnya. Kalau memang untuk kita, nggak akan pergi meski kita mencintai seseorang."

Atikah menatap Fikri, kali ini dengan mata yang menghangat. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang terasa seperti balsem bagi luka yang lama.

"Terima kasih," ucapnya lirih. "Itu, mungkin jawaban yang saya butuhkan sejak lama."

Fikri hanya mengangguk. Tak perlu ada penekanan lebih. Mereka berdua tahu, bahwa hari itu, percakapan itu, adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. Penyembuhan.

Beberapa detik mereka hanya duduk, ditemani angin lembut dan suara alam. Tak ada yang terburu-buru bicara. Tak ada yang ingin mengisi jeda dengan basa-basi.

"Saya pernah mimpi tentang tempat seperti ini," kata Atikah pelan. "Tenang, jauh dari bising, dan orang-orangnya tidak banyak bertanya."

"Hujung memang bukan tempat yang penuh keramaian, tapi kadang justru itu yang dibutuhkan seseorang untuk sembuh."

Atikah menoleh padanya. "Apa kamu juga sedang menyembuhkan sesuatu?"

Fikri tersenyum samar. "Mungkin. Sayangnya, kali ini bukan tentang saya. Tapi tentang kamu dan Nursan."

Atikah menarik napas. "Nggak pernah mudah membicarakan Nursan. Tapi anehnya, hari ini terasa lebih ringan."

"Karena kamu sudah nggak membawanya sebagai luka, tapi sebagai bagian dari cerita."

Atikah mengangguk. "Kamu tahu, dulu saya sering membayangkan dia akan datang mengejar saya. Berjuang mati-matian termasuk mendobrak adat dan menentang keluarga saya. Seperti dalam film. Tapi itu nggak pernah terjadi. Dan saya marah. Bukan karena dia nggak datang, tapi karena saya terlalu pengecut untuk berlari."

"Dia pernah bilang," ucap Fikri pelan, "Bahwa kamu meninggalkannya demi menjaga harapan orang tuamu. Waktu itu dia kecewa, tapi lama-lama dia mengerti. Bukan salahmu. Bukan salah siapa-siapa. Semuanya berakhir sebagai bagian dari takdir."

Atikah memejamkan mata sebentar. "Saya masih menyalahkan diri sendiri kadang-kadang. Tapi mungkin memang seperti yang kamu bilang tadi, cinta sejati nggak seharusnya membuat kita mengorbankan siapa kita sebenarnya."

"Dan sekarang kamu tahu, kamu nggak sendirian dalam penyesalan itu. Tapi kamu juga nggak harus tinggal di sana."

"Saya ingin percaya itu."

Kembali mereka terdiam, tapi kali ini bukan karena canggung. Hening di antara mereka terasa seperti selimut. Menenangkan.

"Saya selalu berdoa untuk kebahagiaan Nursan. Meskipun tak lagi berdampingan, saya akan selalu bersyukur pernah berjalan bersamanya, walau hanya sejenak."

Fikri menatap Atikah, matanya hangat. "Saya yakin, kalau dia dengar itu, dia akan tersenyum. Dengan cara yang kamu kenal."

Suara musik dari kejauhan mulai terdengar riuh. Acara marok akan segera dimulai. Atikah berdiri, merapikan kainnya.

"Saya mau lihat marok. Mau bareng?"

Fikri berdiri juga. "Ayo."

Mereka berjalan beriringan menuruni tangga, meninggalkan beranda yang masih menyimpan sisa kehangatan percakapan tadi.

Pagi itu, langit di atas Hujung seolah lebih lapang. Seperti hati seseorang yang akhirnya bisa memaafkan, bukan hanya orang lain, tapi juga dirinya sendiri.

Dan begitulah akhirnya. Bukan dengan pertemuan kembali, bukan pula dengan janji baru. Tapi dengan pengakuan yang jujur, dan penerimaan yang utuh.

Berakhir sebagai bagian dari takdir. Dari jarak yang tak pernah sepenuhnya hilang. Cinta yang tak jadi dimiliki, tak berarti tak pernah ada. Kadang, justru dari perpisahan, kita belajar mencintai tanpa menggenggam. Dan melepaskan, bukan berarti kalah, tapi menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu harus bersanding. Beberapa cinta memang ditakdirkan untuk dikenang, bukan untuk dimiliki. Dan itu tidak apa-apa.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!