Jatuh Cinta di Tanah Lada

Kenangan dan Harapan

Hari mulai bergerak, memaksa Arum keluar dari kamar. Berjalan ke serambi depan rumah panggung tempatnya menginap. Dari sana, mata Arum langsung disambut bentang lanskap yang membuat napasnya tertahan. Gunung Pesagi menjulang di kejauhan, puncaknya masih berselimut kabut putih seperti surban suci. Ladang-ladang kopi terhampar hijau di bawahnya, diselingi petak-petak sawah berlumpur yang belum ditanami dan barisan pohon kelapa, cengkeh, serta kopi. Burung-burung kecil beterbangan riuh, dan suara ayam berkokok bersahutan dari berbagai penjuru pekon.

Arum berdiri di serambi. Tangannya mengusap sisi kayu yang lembab menyerap embun. Harum kayu tua menguar, bercampur aroma kopi hitam yang baru saja diseduh dari dapur belakang. Udara mengandung suara-suara khas pagi; ayam yang berkokok, gesekan dedaunan yang diterpa angin, teriakan anak-anak memanggil satu sama lain, celotehan ibu-ibu, juga hilir mudik para lelaki bersarung. Kesibukan yang mengalir di balik keriuhan itu menjadi semacam energi yang merambat di tanah, di jalan-jalan setapak, dan di halaman rumah warga.

Sudah sejak subuh, masyarakat Pekon Hujung mulai bergerak. Para ibu menyapu halaman rumahnya yang luas, sambil saling menyapa dengan suara lembut penuh senyum. Anak-anak kecil, masih mengenakan kaus tipis dan celana pendek, berlarian di jalan tanah. Dari sudut kamar, Arum mendengar tawa bapak-bapak yang sedang membelah kayu dan membersihkan motor mereka.

Arum menoleh mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Seorang perempuan paruh baya yang membawa nampan besar berisi pisang goreng dan kopi hitam. Ia biasa dipanggil Minan, penunggu rumah panggung tempat Arum menginap. Semalam, saat berkenalan, perempuan itu menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Minan dan meminta Arum untuk memanggilnya demikian. Dengan senyum lebar, Minan naik ke serambi dan menyodorkan makanan itu padanya.

“Makanlah. Minan tadi bikin pisang goreng ini buat kamu orang.”

“Iya, Minan. Terima kasih banyak pisangnya.”

“Kalau mau makan, turunlah ke bawah. Nasi udah siap. Sayur juga udah pada mateng. Kamu orang pasti lapar. Dari semalem nggak makan,” ujar Minan sambil sibuk menggelar ambal tambahan.

“Jam berapa masaknya, Minan? Kok jam segini sudah matang semua?”

“Kami orang ini biasa masak dari subuh. Biar pagi-pagi udah pada sarapan. Kenapa? Masih dingin?” tanya Minan ketika melihat Arum mengetatkan pelukan ke dirinya sendiri.

“Dingin banget, Minan.”

“Namanya juga kaki gunung. Tahan-tahan, nanti juga biasa.”

Arum meraih pisang di meja. Masih hangat, kulitnya renyah dan aroma pisangnya luar biasa harum. Saat menggigit, rasa manis dan gurih langsung membawanya pada kenangan masa kecil yang bahkan tidak ia tahu pernah ada. Kopi hitam pekat dan pahit itu meninggalkan sensasi nikmat saat semuanya berjalan melambat tanpa ada ketergesaan.

Dari serambi, ia melihat aktivitas pagi berlangsung seperti babak dari sebuah pertunjukan yang indah. Tak ada basa-basi kosong. Tak ada kepura-puraan. Semua tampak bergerak dengan ritme yang tenang dan seimbang. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang terlihat lelah oleh kehidupan, meski jelas mereka bekerja keras. Mereka menyambut pagi seperti seseorang yang telah lama ditunggu. Entahlah benar seperti itu, atau hanya perasaan Arum saja karena dia sedang menunggu seseorang yang selalu menyaru bersama kata rindu.

Arum menarik napas panjang. Hatinya pelan-pelan mulai membuka. Ada sesuatu di tempat ini yang sedang menyentuh bagian terdalam dalam dirinya, bagian yang selama ini tertutup rapat oleh kehidupan yang terlalu bising dan terburu-buru.

Untuk pertama kalinya sejak lama, dia tidak ingin pergi cepat-cepat.

Pekon Hujung bukan sekadar titik di peta. Dia adalah luka yang tenang, seperti bekas gigitan matahari di kulit. Panasnya sudah lama pergi, tapi bekasnya tetap terasa. Terletak di dataran tinggi Kecamatan Belalau, di antara lekuk-lekuk bukit yang ditumbuhi kopi robusta dan pohon durian tua. Pekon ini seolah menggantung di antara masa lalu dan masa yang tak kunjung datang.

Jalanan berbatu yang membelah desa itu melengkung perlahan, menurun ke arah lembah. Di sisi kirinya, barisan rumah panggung berdiri dalam diam, beberapa sudah miring dimakan usia dan dihantam gempa, namun masih berdiri dengan harga diri. Tiang-tiang kayunya berlumut hijau, jendela-jendela terbuka ke arah bukit, seakan menatap rindu ke masa silam yang belum selesai.

Pagi hari di Hujung dibungkus kabut tipis yang turun dari Gunung Pesagi. Suara azan subuh mengalun samar dari surau kecil di ujung pekon, menyusup di antara suara serangga malam yang belum sepenuhnya reda.

Di dapur-dapur rumah panggung, suara sendok mengaduk gelas mulai terdengar. Perempuan-perempuan tua membungkuk di atas tungku, meniup nyala api dengan kipas dari anyaman bambu. Bunyi letupan minyak saat tempe digoreng berpadu dengan suara anak-anak menangis minta sarapan. Di sudut dapur, kopi hitam mendidih dalam ketel kaleng, menyebar harum yang menyusup ke sela-sela papan rumah.

Di halaman, bapak-bapak menyiapkan peralatan kebun seperti parang, karung goni, keranjang rotan yang mulai rapuh. Sambil mengenakan caping dan mengencangkan ikat pinggang, mereka bersiap turun ke ladang kopi di lereng bukit. Langkah mereka tenang, seperti sudah tahu ritme hidup ini tak perlu diburu.

Anak-anak, berseragam putih-merah yang sudah pudar, berlarian ke sekolah. Tas plastik mereka digendong seadanya, sepatu seringkali tinggal sebelah. Tapi mereka tertawa, menggoda teman yang telat mandi, atau berlomba siapa yang paling cepat sampai ke tikungan tempat angkutan kampung biasa lewat. Di tangan mereka, sering ada bekal dari rumah: pisang rebus, nasi goreng dingin, atau lemang sisa malam tadi yang dibungkus daun.

Di tengah pekon, suara sepeda motor butut satu-satu mulai muncul. Bapak tukang sayur, petugas keliling, atau pemuda-pemuda yang akan ke pasar Liwa. Debu halus naik perlahan, tercampur dengan sinar matahari yang mulai menembus kabut, menjadikan semuanya seolah berpendar, seperti dalam mimpi yang tak ingin segera bangun.

Ada pagi-pagi tertentu yang datang bukan hanya membawa cahaya, tapi juga kenangan. Ia tidak terburu-buru. Hanya menyusup perlahan lewat celah dinding papan dan kisi-kisi jendela tua, seolah takut membangunkan sesuatu yang sedang bersembunyi di balik waktu.

Arum berbalik. Saat itulah mata mereka bersitatap secara utuh. Pertemuan antara kenangan dan harapan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!