Jatuh Cinta di Tanah Lada
Ajakan Untuk Pulang 2
Jarum jam terus saja bergerak tanpa mengindahkan apakah Nursan sempat tidur atau tidak. Lalu azan Subuh berkumandang bersahutan dengan kokok ayam dan geliat embun di atas dedaunan.
Kegigihan Fikri berhasil membawa Nursan ke Pesagi. Menyusuri tiap kenangan yang membawanya pada kerinduan tak berujung. Secangkir kopi buatan Emak, lengkap dengan goreng pisang yang dipetik dari kebun belakang. Putih asap tembakau yang dihembuskan Bak yang meliuk menggoda pandangan Nursan, membuat mereka sadar kalau keduanya sedang duduk memandang keindahan yang sama: Pesagi.
Nursan yang tak bisa memejamkan mata, terbangun dengan rasa berat di kepala yang mulai mendera. Setelahnya, dia bersiap ke mesjid yang jaraknya tak lebih dari 200 meter. Nursan membuka pintu kamar lalu terkesiap melihat seraut wajah yang tergambar di depannya. Berjarak hanya enam meter. Wajah itu setengah pasi, tapi Nursan tak akan pernah bisa melupakannya.
Spontan Nursan kembali menutup pintu kamarnya. Mengelus dada. Meredakan badai yang datang tanpa diundang.
Enam menit Nursan termangu seperti habis melihat hantu. Setelah kesadarannya pulih, Nursan kembali membuka pintu kamar. Matanya awas menatap lurus ke depan. Perempuan itu sepertinya sudah tidak ada di sana. Nursan menyimpulkan, dia pasti sudah ke kamar mandi di bawah.
Nursan menghalau bayangan perempuan itu. Sedikit tergesa, dia keluar melanjutkan niatnya untuk ke mesjid. Di sepanjang jalan, Nursan mengais keping ingatan. Benar, dia pernah mengajak perempuan itu datang ke Pesagi. Tapi itu dulu. Bahkan Nursan sudah berhasil melupakannya. Mengapa dia hadir di sini? Bentang ingatan pun tiba-tiba saja terpampang ibarat layar putih yang tanpa sengaja terkembang. Melaju melewati batas waktu puluhan tahun lalu saat baru saja melepaskan putih abu-abu.
Tak pernah terbayangkan oleh Nursan, bentangan waktu akan membentuk lipatan sedemikian rupa hingga lipatan terakhir seolah kembali menemui awal.
Pulang dari masjid, Nursan menyapa beberapa tetangga yang kebetulan berpapasan. Tatapan penuh pertanyaan dari mereka seolah menusuk, "Kapan nikah? Kenapa datang sendiri?"
Nursan sudah terbiasa menghadapi tatapan itu. Tak jarang pula, para kerabat dekat mencoba menjodohkan Nursan dengan perempuan dari kampung mereka. Nursan lebih sering memberikan senyum sebagai jawaban. Tak ayal, obrolan tentang perjodohan itu pun menguap begitu saja. Atau mungkin juga karena sudah tidak ada perempuan di kampung itu yang bisa dijodohkan dengan Nursan. Hanya beberapa saja dari mereka yang masih melajang di usia hampir seperempat abad.
Nursan kembali ke kamarnya untuk berganti baju. Lambungnya sudah mulai berontak minta diisi. Semalam dia dan Fikri memang tidak sempat makan. Kesibukan Nursan membuat keduanya baru bisa berangkat hampir jam sepuluh malam. Sudah lewat dinihari ketika mereka tiba di Hujung. Fikri langsung ke rumahnya yang hanya berjarak 120 meter dari rumah Nursan.
Selesai ganti baju, Nursan menyeret langkahnya menuju dapur. Sejak Emak meninggal, rumah orang tuanya ini beralih fungsi menjadi semacam home stay—yang dikelola Minan, kerabat jauh Nursan—bagi para pendaki yang ingin ke Gunung Pesagi.
"Hai, apa kabar, Minan?" Nursan bertanya pada Minan yang sedang merapikan tikar.
Jawaban Minan lewat begitu saja tanpa sempat mampir di telinga Nursan. Tubuhnya mendadak membeku saat tatapannya beradu dengan perempuan yang datang dari masa lalu.
***
Atikah memutar kepala mencari arah suara yang barusan didengarnya. Itu Nursan. Atikah tak ragu.
Nursan terpaku di ambang pintu dapur. Matanya menatap Atikah dan Arum yang berdiri bersisian. Ternyata benar, perempuan yang dilihatnya tadi subuh di serambi adalah Arum.
Tatapan ketiganya beradu, menciptakan keheningan yang sarat akan kejutan dan kenangan yang belum sepenuhnya padam dari masa lalu mereka di kampus. Udara pagi yang tadinya segar tiba-tiba terasa sedingin es bagi mereka bertiga.
Nursan mendekat perlahan. Atikah semakin tercekat, dadanya terasa seperti dihimpit beban tak kasat mata. Atikah tidak pernah membayangkan dia akan benar-benar bertemu Nursan lagi, di tempat yang sama, Hujung, tempat di mana kenangan mereka disemai namun layu sebelum berakar.
Dengan keraguan yang tampak jelas, Nursan mengulurkan tangan. Canggung, Atikah menerima uluran tangan itu. Sentuhan singkat itu mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh mereka.
“Hai,” sapa Atikah pelan, suaranya sedikit bergetar menahan berbagai emosi yang berkecamuk.
“Hai. Kamu… apa kabar?” Nursan balik bertanya, matanya menelisik wajah Atikah, mencari jejak waktu yang telah berlalu.
Atikah menghela napas tipis. “Seperti yang kamu lihat,” jawabnya dengan senyum yang dipaksakan, berusaha menyembunyikan gejolak di dalam hatinya.
“Tunggu, kamu orang saling kenal?” tanya Minan, matanya memicing penuh rasa ingin tahu, menyadari ketegangan yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
“Iya.”
“Begitulah,” timpal Nursan singkat, masih terpaku pada Atikah.
Dua jawaban itu membuat Minan terbelalak takjub, semakin penasaran dengan hubungan di antara mereka.
“Kenal di mana?” cecar Minan, tanpa bisa menahan keingintahuannya.
“Nggak usah dibahas. Ayo sarapan,” Nursan memutus pembicaraan dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, lalu berbalik membelakangi Atikah, seolah menghindari tatapannya.
“Rum, kamu di sini juga?” Nursan menyentuh lembut bahu Arum, tatapannya kini melembut. “Kenapa nggak kasih kabar? Kalau tahu kamu mau ke sini, kita bisa bareng. Kapan datang?”
Kali ini Arum yang tergugu, masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan saat matanya bertemu mata Nursan. Debar jantungnya masih terasa kencang.
“Semalam. Aku lagi ada acara sama tim dari DKL.”
“Aku juga baru sampai semalam. Jam tiga pagi. Kenapa kita nggak ketemu?” ada nada sesal dalam suara Nursan.
“Aku duluan kayaknya yang sampai di sini.”
“Iya, sih. Udah sarapan?”
“Udah.”
“Aku belum. Temenin ya?”
“Hmmm.”
“Ayo, Tik. Makan sekalian.” Nursan kembali menoleh ke arah Atikah, meskipun tatapannya tidak seintens tadi.
Atikah melirik sekilas ke arah Nursan, kemudian beralih memandangi Arum. Ada keakraban yang terasa jelas di antara mereka, sebuah kedekatan yang menusuk hatinya tanpa dia mengerti alasannya. Pikiran itu bergerak liar di kepala Atikah. Entah mengapa, ada sedikit perasaan kecewa yang tak terhindarkan mengetahui Nursan tampak dekat dengan perempuan lain.
“Kalian teruskan saja sarapannya. Tiba-tiba aku merasa perlu udara segar. Aku mau menemui temanku di luar,” pamit Atikah, berusaha terdengar biasa meskipun hatinya bergemuruh.
“Ayolah, kita bisa sarapan bareng,” rayu Arum, menyadari perubahan raut wajah Atikah.
“Kebetulan aku memang sudah selesai sarapan. Ini mau cari angin sebentar sambil menunggu temanku. Yuk, aku duluan ya.” Atikah tak menggubris ajakan Arum. Senyum tipis dan cepat diberikannya kepada Nursan sebagai tanda dia pamit, sebelum berbalik dan menaiki tangga, berencana mencari Titin di ruang atas.
Atikah menghempaskan tubuhnya di karpet yang sudah tergelar sejak dia datang kemarin. Matanya menatap kosong gelas kopi dan sepiring singkong goreng yang terabaikan di depannya. Dia ada di sini. Berulangkali Atikah menggumamkan kalimat itu dalam hatinya. Degup jantungnya masih terasa tak beraturan, seolah baru saja berlari maraton.
Tak bisa dipungkiri, pertemuannya yang tiba-tiba dengan Nursan beberapa menit lalu mampu membangkitkan debar lama yang selama ini terkunci rapat dalam kotak pandora hatinya. Nursan masih seramah dulu, meskipun Atikah tidak lagi melihat binar rindu yang dulu selalu menghiasi mata kelabunya. Namun, percikan api cemburu sempat menyengat hatinya saat melihat interaksi akrab Nursan dengan Arum.
***