Jatuh Cinta di Tanah Lada

Peta Ini Akan Menuntunmu Kepadaku 1

Nursan menatap dalam mata Arum seolah sedang memindai kenangan yang tersisa di sana. Lambat laun, simfoni masa lalu mulai mengalun.

“Mau ngobrol di teras?”

Arum mengangguk tanpa bersuara. Lalu mereka beranjak menaiki tangga menuju teras atas.

Kabut masih belum mau menepi. Sisa bulir embun terlihat di beberapa pucuk daun dan menempel di kayu yang menjadi pagar teras lantai dua rumah Nursan. Arum duduk di kursi plastik berwarna hijau yang sepertinya memang disediakan untuk para tamu. Ia menyenderkan punggung ke pagar kayu yang tadi terasa dingin saat disentuh dengan punggung tangannya. Dua cangkir kopi yang sudah tidak lagi mengepulkan uap panasnya tersaji di meja kecil yang diletakkan persis di sudut teras sebelah kiri.

Arum dan Nursan duduk bersisian. Sama-sama memandang ke arah jalan yang mulai ramai dengan orang berlalu lalang. Halaman rumah Nursan dan warga lainnya di sini memang bisa dikatakan cukup luas. Jarak dari rumah ke jalan kampung sekitar 5 – 7 meter.

“Aku senang bertemu kamu di sini,” Nursan membuka percakapan. “Benar kata peta itu, kamu akan sampai di sini.”

Arum terbelalak tak percaya. “Kamu masih ingat peta itu?”

“Atau kamu sudah membuangnya?” Nursan balik bertanya, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Arum menerawang. Dinginnya udara di teras kembali terasa, bersamaan dengan suara orang berlalu-lalang di jalan kampung yang perlahan menariknya kembali ke masa lampau.

Satu hari di bulan November berpuluh tahun lalu, hujan yang turun begitu deras sejak subuh, membuat sekolah hampir kosong karena banyak siswa memilih untuk tidak datang. Tapi Arum tetap datang, begitu juga Nursan.

“Kamu betah di kampungmu?” Arum berbisik di tengah pelajaran Fisika yang sedang berlangsung.

Nursan diam sebentar. “Aku enggak tahu. Aku cuma merasa kampung itu bagian dari siapa aku sebenarnya.”

Arum menoleh padanya, menatap wajah Nursan yang tampak teduh dengan tatapan jauh. “Kamu selalu kedengaran kayak bukan anak SMA,” katanya sambil tersenyum kecil.

“Kenapa?”

“Karena kamu kayak orang yang sudah tahu mau ke mana harus pergi.”

Nursan mengeluarkan selembar kertas kecil dari dalam buku catatannya. Dilipat rapi, diberi gambar peta kecil dan beberapa coretan tangan. Dia menyodorkan kertas itu ke Arum.

“Kalau kamu nyasar ke Hujung, ini bisa jadi petunjuk. Ini jalan ke rumahku. Ada juga jalur ke kaki Gunung Pesagi.”

Arum tertawa pelan. “San, aku enggak bakal nyasar sampai Hujung. Mau ngapain?”

“Tapi bisa jadi kamu sengaja nyasar ke sana.”

“Untuk apa?”

“Siapa tahu kamu mau lihat rumah yang aku ceritakan. Atau kebun kopi tamongku. Atau…”

“…Gunung Pesagi,” sambung Arum.

Nursan hanya tersenyum.

Sejak hari itu, Arum menyimpan peta kecil dari Nursan di dalam dompetnya. Bukan karena ia benar-benar berniat pergi ke Hujung, tapi karena peta itu seperti pengingat akan percakapan yang tak pernah benar-benar selesai. Siapa nyana, ternyata dia benar-benar ke Hujung.

“Peta itu ada di kepalaku, San. Kamu sendiri, ngapain ada di sini?”

“Ini kampungku, Rum. Sejak kapan ada larangan aku tidak boleh pulang ke kampungku sendiri?”

“Aku paham. Maksudku, sekarang bukan hari libur. Sesantai itu kah Pak Dosen?”

“Fikri yang ngajak. Dia ada urusan mau jual beli tanah sama adiknya. Ya sudah, aku sekalian ikut juga soalnya dia minta ditemenin. Tapi beneran, kali ini aku harus berterima kasih sama Fikri.”

“Untuk?”

“Untuk ajakan dia. Kalau dia enggak maksa, aku enggak bakalan ketemu kamu lagi.”

“Kamu sering pulang kampung?” Arum mengalihkan pertanyaan.

“Terakhir pulang kampung, dua tahun lalu.”

“Lama banget. Lebaran juga enggak pulang?”

“Enggak. Ada hal yang memang bikin aku malas pulang.”

“Lebih penting dari keinginanmu untuk melepaskan rindu di kampung?”

“Menikah. Aku malas dengan pertanyaan yang selalu berulang, kapan menikah? Orang tuaku sudah meninggal, aku merasa tidak harus memenuhi keinginan siapa pun.”

“Aku pikir, itu pertanyaan standar untuk siapa pun yang belum menikah di usia yang katanya sudah pantas untuk menikah. Kamu enggak pernah terpikir untuk menikah?”

Nursan menghela napas, tatapannya menerawang jauh. “Aku pernah menikah.”

Arum ternganga, tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Kaget ya?” Nursan tersenyum tipis melihat reaksi Arum. “Iya, aku pernah menikah dengan seseorang yang kamu kenal.”

“Aku kenal dia? Siapa? Teman sekolah kita? San, aku memang lama menghilang dari peredaran, tapi aku enggak mungkin enggak tahu kalau kamu menikah dengan orang yang aku kenal. Apalagi kalau teman sekolah dulu.”

“Atikah.”

“Atikah… Atikah… Atikah yang… Hah? Atikah yang mana? Aku enggak ada teman namanya Atikah.”

“Atikah yang tadi kamu temui di bawah. Kalian sudah kenalan kan?”

“Atikah yang… ya ampun, San. Kok bisa? Beneran?”

“Memangnya kapan aku pernah bohong sama kamu? Selama ini juga kamu yang tidak pernah menepati janjimu,” goda Nursan.

“Enggak usah bahas aku. Terus kamu sama Atikah tadi berpisah atau bagaimana?”

“Ceritanya panjang.”

“Aku siap mendengarkan.”

***

Nursan dan Atikah bertemu saat mereka sama-sama kuliah mengambil jurusan sastra Inggris Universitas Padjajaran. Kampus Jatinangor menjadi saksi perjalanan mereka selama beberapa tahun. Sebelum Nursan pulang ke Lampung dan Atikah melanjutkan ke jenjang S2 di kampus yang sama. Awalnya mereka berteman dengan hubungan pertemanan yang cukup unik. Love and hate relationship. Begitu Atikah menyebutnya.

Sebagai teman yang kadang juga menjadi musuh, Atikah menjadi pilihan Nursan ketika Nursan terpuruk akibat cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Kehadiran Atikah ternyata bukan untuk menghibur Nursan.

Perempuan Minang itu seperti memiliki tangan besi yang bersarung beludru. Tak ada usapan lembut menenangkan. Tiap kata yang dia ucapkan sangat lugas. Khas orang Sumatera. Tak ada kata-kata manis penuh penghiburan bagi Nursan yang sedang patah hati.

“Kalau mendengar ceritamu, perempuan itu sangat realistis. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Alih-alih menunggu mahasiswa yang belum jelas ke depannya mau jadi apa, lebih baik menerima pinangan orang yang sudah pasti siap dan mapan. Dia hanya mengambil pilihan sesuai logikanya dan menjalankan takdirnya.”

“Harusnya dia bisa menunggu. Aku bukan sedang main-main di sini.”

“Pantaskan saja dirimu dulu sampai kamu layak untuk ditunggu. Kamu marah dan terus bersedih sampai depresi pun untuk apa? Dia sudah menikah. Bahkan mungkin dia sudah enggak mikirin kamu lagi.”

“Atau mungkin dia dipaksa untuk menikah.”

“Tak usah bicara kemungkinan. Faktanya, perempuan itu sudah mau menikah. Kamu tidak bisa mengubah keadaan di sana. Andai benar dia dipaksa menikah, dia tetap menerimanya kan? Tidak menolak apalagi menunggu kamu. Sekarang, yang harus kamu ubah itu ya hati kamu.”

Perlahan, nama perempuan itu mulai tenggelam seiring makin seringnya frekuensi kebersamaan Nursan dan Atikah. Tak sampai setahun setelah kabar pernikahan perempuan itu diterimanya, Nursan dan Atikah sepakat mengubah status dari sekadar berteman menjadi pacaran.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!