Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Tidak Ada Jalan Kembali

"Kenapa?"

“Karena aku melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain,” bisik Rayhan. “Dia menghancurkan hidup orang demi uang. Dia tidak segan membunuh. Dia… dia monster, Alya. Dan aku tidak mau menjadi seperti dia. Aku ingin hidup yang bersih. Aku ingin menyembuhkan, bukan melukai.”

Alya menelan ludah. Kisah ini jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan. “Lalu… bagaimana kamu bisa melarikan diri?”

“Aku menyusun rencana selama bertahun-tahun. Aku belajar ilmu kedokteran untuk memiliki kehidupan yang mandiri, dan aku mengumpulkan bukti-bukti kejahatannya. Aku pikir, dengan bukti-bukti itu, aku bisa mengancamnya agar dia melepaskanku.”

“Dan kau berhasil?”

Rayhan menggeleng. “Tidak. Aku berhasil kabur, tapi dia tidak pernah berhenti mengejarku. Dia tahu aku memiliki rahasia-rahasia besarnya. Dia menganggapku sebagai pengkhianat.” Rayhan menoleh, menatap Alya lurus di mata. “Aku hidup dalam pelarian selama ini, Alya. Dan aku selalu sendirian. Sampai aku bertemu denganmu.”

Hati Alya terasa perih. Ia membayangkan semua kesendirian yang Rayhan rasakan. Semua tekanan yang ia hadapi.

"Lalu ibumu? Bukankah kamu masih punya ibu?"

Rayhan menerawang. Bibirnya tertarik ke atas dengan mata berkaca-kaca. "Beliau baru kutemukan setelah aku menjadi dokter. Saat itu, Mama sakit dan menjadi pasienku. Dia melihat foto masa kecilku dan mengatakan kalau dia kehilangan anak waktu berusia dua tahun. Dia bilang, kalau masih hidup pasti sudah seusiaku."

Rayhan mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes tanpa bisa dicegah. "Mama terus menemuiku karena merasa rindunya terobati saat bertemu denganku," lanjut Rayhan. 

Alya mendengar cerita Rayhan tanpa menyela. Namun dalam hati mengatakan kalau Rayhan lebih beruntung karena pada akhirnya bisa bertemu dengan ibu kandungnya. Sementara dirinya sampai sekarang belum tahu siapa orang tuanya. 

"Saat aku memeriksanya, tanpa sengaja dia melihat tanda lahir di leherku. Dan mama minta untuk tes DNA. Siapa sangka wanita yang lembut dan penuh kasih itu ternyata ibu kandungku." Rayhan tersenyum lebar disela derai air matanya. 

Alya mengelus bahu Rayhan untuk memberinya kekuatan. Lalu Rayhan kembali menceritakan tentang ayah angkatnya. Bagaimana dia berusaha menyembunyikan fakta tentang ibu kandungnya hingga sekarang dalam kondisi aman dan tak tersentuh, karena Rayhan tidak mau tinggal bersama ibu kandungnya demi keamanannya. 

“Ketika kita bertemu, aku pikir aku bisa melindungimu,” lanjut Rayhan. “Tapi aku salah. Aku malah menyeretmu ke dalam masalahku. Maafkan aku, Alya. Seandainya aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu ikut campur.”

Alya menggeleng. “Tidak, Rayhan. Aku senang bisa bersamamu.” Ia menggenggam tangan Rayhan. “Lalu, apa rencana kita sekarang? Ke mana kita akan pergi?”

“Ada satu tempat,” kata Rayhan. “Tempat yang hanya aku dan Rio yang tahu. Sebuah rumah persembunyian di pulau terpencil. Kita bisa hidup di sana dengan tenang. Jauh dari jangkauan mereka.”

Alya merasa sedikit lega. Ia tidak bisa membayangkan hidup dalam pelarian selamanya. Pulau terpencil terdengar seperti surga.

“Tetapi…” Rayhan mengernyit, “pesan ancaman apa yang kamu terima sore tadi? Kamu tidak pernah cerita padaku.”

Alya terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa pesan itu bukan ancaman biasa? Bahwa pesan itu… meragukan Rayhan itu sendiri?

Rayhan melihat keraguan di matanya. “Alya… ada apa? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Tidak…” Alya berbohong. Ia tidak ingin Rayhan tahu. Ia tidak ingin menghancurkan kepercayaan yang baru saja mereka bangun.

Tiba-tiba, suara deru kapal lain terdengar dari kejauhan. Rayhan menegang. Ia berdiri, matanya memindai lautan yang gelap. Sinar lampu sorot menyapu permukaan air, semakin mendekat ke arah mereka.

“Sial!” umpat Rayhan. Ia kembali ke kemudi, memutar kapal dengan cepat. “Mereka menemukan kita.”

Kapal yang mengejar mereka jauh lebih besar dan lebih cepat. Mereka dikejar. Lampu sorot itu kini mengunci posisi kapal mereka. Alya bisa melihat siluet beberapa orang berdiri di dek kapal itu.

“Mereka… mereka bagaimana bisa secepat ini?” bisik Alya.

Rayhan menggeleng. “Aku tidak tahu. Pasti ada pengkhianat di antara kami. Atau…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Rayhan hanya fokus mengemudikan kapal. Ia berusaha bermanuver, menghindari tembakan yang mulai terdengar. Peluru-peluru itu menghantam lambung kapal mereka, menciptakan lubang-lubang kecil.

Alya ketakutan. Ia merunduk, memeluk lututnya, berusaha menahan tangis. Rayhan tidak punya kesempatan. Ia tahu, mereka tidak akan bisa melarikan diri.

Tiba-tiba, suara tembakan lain terdengar. Kali ini dari arah yang berbeda. Bukan dari kapal musuh. Kapal yang mengejar mereka berhenti. Sinar lampu sorotnya menghilang.

Rayhan memperlambat laju kapal mereka. Ia memicingkan mata, berusaha melihat ke depan. Di sana, muncul sebuah kapal lain, berukuran sedang. Di lambungnya, terukir logo yang Alya kenal. Logo sebuah perusahaan pengiriman barang.

“Rio…” bisik Rayhan, lega.

Dari kapal itu, Rio melompat ke kapal mereka. Wajahnya terlihat tegang. “Rayhan, Alya, kalian tidak apa-apa?”

“Kami baik-baik saja,” jawab Rayhan. “Tapi bagaimana kalian bisa di sini?”

“Aku melacak kalian,” kata Rio, suaranya terengah. “Aku tahu kalian akan pergi ke pulau. Dan aku membawa bala bantuan.” Ia menunjuk ke kapal pengiriman barang di belakangnya. “Aku tidak bisa datang sendiri. Ayahmu terlalu kuat.”

Alya menatap Rio. Pria yang ia kira hanya asisten Rayhan, kini terlihat seperti seorang komandan. Ia memimpin kapal besar, dengan anak buah di dalamnya.

“Terima kasih, Rio,” kata Rayhan, tulus. “Kamu sudah menyelamatkan kami.”

“Tentu saja,” jawab Rio. “Kita adalah keluarga. Ayo, kita naik ke kapalku. Kalian akan lebih aman di sana.”

Rayhan mengangguk. Mereka bertiga melompat ke kapal Rio. Kapal yang mereka tumpangi tadi dibiarkan mengapung.

Kapal Rio melaju dengan cepat, membelah malam. Alya duduk di kabin yang hangat dan kering. Rayhan ada di sampingnya. Ia melirik luka di bahu Rayhan. “Biar aku obati.”

“Tidak perlu,” kata Rayhan. “Ini hanya luka kecil.”

“Tetap saja. Kamu harus mengobatinya,” desak Alya.

Rayhan akhirnya mengalah. Alya dengan teliti membersihkan lukanya, mengobatinya dengan salep, dan membalutnya dengan perban. Rayhan menatapnya selama itu, matanya penuh rasa terima kasih.

“Kamu tahu, Alya,” katanya, suaranya lembut. “Kamu adalah satu-satunya hal yang paling berharga bagiku.”

Hati Alya mencair. Ia menyingkirkan semua keraguan di hatinya. Pesan itu… mungkin hanya trik kotor dari Ayah Rayhan untuk memisahkan mereka.

Tiba-tiba, kapal bergoncang. Lampu di kabin berkedip, lalu mati. Suara sirine yang memekakkan telinga terdengar.

“Ada apa?” tanya Alya, panik.

Rayhan berlari ke dek. Alya mengikutinya.

Di sana, Rio sedang panik. “Mesinnya! Mesinnya mati!”

Kapal itu kini terombang-ambing, di tengah lautan yang gelap. Di kejauhan, lampu sorot dari kapal lain kembali terlihat. Kali ini lebih banyak, mengelilingi mereka dari berbagai arah.

“Bagaimana bisa?” teriak Rayhan pada Rio.

Rio menggeleng. “Aku tidak tahu! 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!