Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Umpan yang Bergerak

Mobil sedan hitam itu melaju kencang di jalan tol yang mulai ramai oleh lalu lintas pagi. Rayhan duduk di sebelah Alya di kursi belakang, keheningan di antara mereka lebih berat daripada peluru yang baru saja mereka hindari. Pria berjas kulit hitam—sebut saja ‘Pria Hitam’—duduk di kursi depan, di samping sopir berwajah datar, membiarkan keheningan itu melilit mereka seperti kawat berduri.

Alya menoleh ke Rayhan. Wajahnya yang tegang dan basah oleh keringat kini pucat pasi, tetapi matanya tetap menyala, fokus pada jalanan.

"Siapa dia?" bisik Alya, suaranya parau.

"Tangan kanan Santoso. Pembunuh bayaran utamanya. Namanya Jaga," jawab Rayhan, tanpa mengalihkan pandangan.

 Jemari Alya masih meremas lipatan kertas berdarah di saku jaketnya. 

"Dia bukan sekadar preman. Dia punya pendidikan militer, terlatih oleh intelijen asing. Paling berbahaya dari semuanya."

Rayhan mengepalkan tangan. Mereka baru saja ditangkap oleh raja di antara para pion.

"Dia tahu kita punya surat itu," kata Rayhan, otaknya mulai menyusun potongan-potongan. "Serangan ini bukan kebetulan. Ini perangkap untuk mendapatkan kita kembali."

Alya mengangguk. "Tepatnya, untuk mendapatkan surat itu. Dan memastikan kita tidak punya waktu untuk menggunakannya." Alya mulai paham alur yang dimainkan pihak lawan.

Mereka menatap punggung Jaga. Pria itu sibuk dengan ponselnya, mengetik pesan dengan satu jari, ekspresinya sedingin marmer.

"Alya," kata Rayhan, suaranya merendah hingga hampir tidak terdengar di tengah deru mobil. "Jangan berpikir untuk melawan di sini. Kita harus pura-pura menurut. Jaga punya insting mematikan. Kita butuh waktu. Kita harus tahu apa yang Santoso inginkan—dan yang lebih penting—di mana dia menyembunyikan sandera yang sebenarnya."

"Sandera yang sebenarnya?" Alya mengernyit. Ia lupa dengan isi surat itu.

Alya merogoh sakunya, tangannya bergetar sedikit. Ia menarik keluar kertas yang kini telah mengering dan menjadi kaku. Ia membuka lipatannya, memperlihatkan tulisan tangan yang terburu-buru dan bernoda darah.

[Alya. Mereka membawanya. Adikku. Dia bersamaku di dalam peti itu. Kunci gudang timur. Bawa Rayhan. Kopi pahit dan surat merah akan jadi umpan. Jangan pernah percaya mereka. - A.]

Rayhan membaca, matanya melebar. "Adikmu? Kamu punya adik?"

"Aku tidak tahu. Aku diangkat Ratna sebagai anaknya dari panti asuhan," bisik Alya. "Andra yang kutahu adalah anak dari bibi, adiknya Ratna. Bukan adikku. Dia selalu sendirian, tertutup. Tapi jika dia bersedia menumpahkan darahnya untuk sebuah pesan..." Alya menarik napas dalam. "Sandera Santoso bukan cuma Ibu Wiryawan. Itu hanya pengalih perhatian. Sandera yang sebenarnya adalah adiknya Andra."

"Dan Santoso menggunakan kita berdua—dan surat ini—sebagai umpan untuk menarik Soni keluar dari persembunyiannya," Rayhan menyimpulkan, merasakan gelombang adrenalin dan kemarahan.

"Benarkah?" sela Alya, menggelengkan kepala. "Jaga bilang, 'Santoso ingin kau datang sendiri, Dokter. Kau dan nyonya kecilmu ini.' Dia menyebutmu, Rayhan. Bukan Andra."

Pandangan mereka kembali bertemu. Ada kesadaran yang mengerikan di mata Alya.

"Dia tidak mencari Andra. Dia mencari kita. Dia ingin membunuh semua orang yang tersisa dari masa lalu itu, dan mengamankan surat itu—yang mungkin isinya lebih dari sekadar kunci gudang," kata Alya. "Kopi pahit adalah sinyal. Surat merah... mungkin merujuk pada kertas bernoda darah ini, atau mungkin ada hal lain yang belum kita ketahui."

Tiba-tiba, Jaga di depan menoleh. Matanya yang dingin menembus mereka. "Permisi, Dokter," katanya, suaranya tenang. "Sebaiknya Anda simpan obrolan pribadi Anda. Saya tidak suka suara berbisik di mobil saya."

Jaga lalu menyodorkan sebuah ponsel. Ponsel model lama, ringkas, dan tanpa sambungan internet.

"Santoso ingin bicara dengan tawanan istimewanya," ujarnya.

Rayhan meraih ponsel itu, tangannya yang masih basah oleh keringat Ibunya bergetar.

"Halo?"

Suara Santoso, halus dan berwibawa seperti biasa, terdengar dari speaker. "Dokter Rayhan, putraku. Senang sekali kamu memutuskan untuk bekerja sama. Itu adalah keputusan yang bijaksana. Dan cerdas."

"Di mana Ibuku?" tanya Rayhan, langsung ke intinya.

"Nyonya Wiryawan? Dia baik-baik saja, dalam perawatan seorang 'teman' lama. Dia hanya... kedinginan. Tapi jangan khawatir, putraku. Dia akan segera hangat. Begitu juga dengan Anda," jawab Santoso, nada suaranya seolah sedang mendiskusikan cuaca.

"Apa yang kau inginkan?"

"Saya ingin keadilan, putraku. Keadilan atas apa yang terjadi 20 tahun lalu. Dan saya ingin mengakhiri permainan lama ini. Untuk itu, saya butuh kamu, dan surat merah Anda."

"Kami tidak punya surat merah," potong Alya tajam, menyambar ponsel dari tangan Rayhan. "Kami hanya punya ini—surat yang kau kirimkan melalui Soni. Katakan padaku, di mana Andra? Dan di mana kau menyembunyikan sandera yang sebenarnya?"

Ada keheningan singkat di ujung sana. Santoso tertawa pelan. Tawa yang membuat bulu kuduk merinding.

"Oh, Alya. Kau selalu menjadi yang paling pintar di antara mereka. Andra... ya, dia sangat menyukai kopi pahit. Dan surat merah... itu bukan hanya selembar kertas, sayang. Itu adalah simbol. Simbol dari kegagalanmu."

"Apa maksudmu?"

"Di dalam surat yang kau pegang, ada sebuah petunjuk. Petunjuk yang akan membawamu ke... penyesalan terbesarmu. Datanglah ke tempat yang pernah menjadi 'rumah'mu. Gudang timur. Di sana, kita akan mengakhiri semuanya."

Sambungan terputus.

Alya menatap ponsel itu, lalu ke Jaga. Jaga sedang mengemudi sekarang, sopirnya telah berganti tempat. Ia menyeringai tipis.

"Kami tahu ke mana kalian akan pergi, Alya," katanya. "Kami hanya perlu memastikan kalian pergi dengan cara yang benar."

"Kau tahu tempat itu?" tanya Rayhan, terkejut.

Jaga mengangguk. "Tentu saja. Kami yang menyiapkan panggungnya. Sejak kalian melarikan diri, Santoso sudah tahu bahwa satu-satunya tempat yang akan kalian kunjungi adalah tempat di mana kalian pernah merasa aman. Gudang itu... peninggalan terakhir dari masa lalu kalian. Sebuah jebakan yang sudah diatur sejak lama."

Mobil itu keluar dari jalan tol, memasuki jalanan pegunungan yang berkelok-kelok. Rayhan merasakan udara di dalam mobil semakin dingin.

"Surat itu... tunjukkan padaku lagi," pinta Rayhan kepada Alya.

Alya menyerahkan kertas itu. Rayhan mengamatinya di bawah cahaya matahari yang menembus kaca mobil. Tulisan tangan Soni. Nodanya berwarna merah tua, bau darah segar.

[Alya. Mereka membawanya. Adikku. Dia bersamaku di dalam peti itu. Kunci gudang timur. Bawa Rayhan. Kopi pahit dan surat merah akan jadi umpan. Jangan pernah percaya mereka. - A.]

Rayhan membalik kertas itu. Di baliknya, di sudut yang nyaris tidak terlihat, ada noda merah kecil lain, seperti tetesan yang memudar. Di bawah noda itu, tertulis sebuah koordinat dalam format angka dan huruf, samar-samar, seolah ditulis dengan ujung jari yang berdarah dan kemudian dihapus.

"6^{\circ} 12' Lintang Selatan, 106^{\circ} 48' Bujur Timur."

"Ini bukan kode gudang timur," bisik Rayhan, menggigil. "Ini koordinat geografis. Dan ini... tidak ada di dalam pesan Andra."

"Itu ditulis oleh orang lain," kata Alya, yang ikut melihatnya. "Itu tulisan tangan yang sangat rapi. Seperti... sebuah cap."

Jaga memandang mereka dari kaca spion, seringainya semakin lebar. "Selamat datang di medan pertempuran, Dokter. Sekarang, berikan surat 'merah' itu padaku."

Rayhan dan Alya tahu, begitu kertas itu berpindah tangan, mereka kehilangan kendali satu-satunya.

"Kami akan memberikannya," kata Rayhan, memaksakan ketenangan. "Tapi kau harus berjanji. Ibuku dan adik Soni harus aman."

Jaga tertawa terbahak-bahak. Tawa yang mengerikan. "Kau tidak punya posisi untuk tawar-menawar, Dokter. Berikan padaku. Sekarang."

Alya mengambil keputusan cepat. Dengan gerakan kilat, dia merobek bagian yang berisi koordinat itu dari keseluruhan surat. Bagian koordinat itu dia selipkan ke dalam sepatu botnya. Sementara itu, sisanya, yang hanya berisi pesan Soni yang bernoda darah, dia lemparkan ke kursi depan.

"Ini dia," katanya, napasnya tersengal. "Ambil umpannya."

Jaga meraih surat itu. Pandangannya terpaku pada tulisan Andra. Matanya yang dingin kini memancarkan rasa ingin tahu yang singkat, seperti seorang kolektor yang baru saja mendapatkan artefak berharga.

"Pilihan yang cerdas, Nona Alya," kata Jaga. "Permainan kita baru dimulai."

Mobil itu terus melaju, membawa mereka semakin dalam ke pegunungan, menuju jebakan yang telah disiapkan Santoso. Rayhan menoleh ke Alya. Mereka telah kehilangan surat itu, tetapi mereka berhasil menyembunyikan koordinat rahasia.

Koordinat yang menunjukkan lokasi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan 'gudang timur'. Koordinat yang mungkin menunjuk pada sandera yang sesungguhnya. Sandera terakhir yang harus mereka selamatkan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!