Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Panti Asuhan Palsu

Alya melaju kencang dengan mobil bak terbuka yang ia curi dari sebuah perkebunan tak jauh dari jalan utama. Mesin tua itu meraung protes di setiap tanjakan, tetapi Alya tidak peduli. Dia mengendarai mobil itu dengan kecepatan brutal di jalanan pedesaan yang mulai gelap. Kabut pegunungan telah berganti menjadi kegelapan malam, hanya ditemani cahaya rembulan tipis dan lampu sorot mobil yang bergetar.

Di kursi penumpang, surat berdarah yang ia ambil kembali dari Jaga terlipat rapi, menjadi pengingat mengerikan akan pengorbanan Rayhan.

Kata-kata Andra berulang di benaknya. Tempat itu, 'Titik Nol' kehidupan Alya, yang seharusnya menjadi kenangan yang hangat, kini terasa seperti medan pertempuran yang diselimuti bayangan.

Koordinat itu, 6^{\circ} 12' Lintang Selatan, 106^{\circ} 48' Bujur Timur, menunjuk ke lokasi sebuah kompleks bangunan tua yang terletak jauh di balik persawahan dan pabrik-pabrik yang ditinggalkan, sebuah daerah yang sejak lama dikenal sebagai "Zona Mati" kota itu. Panti Asuhan Harapan Jaya.

Setelah sekitar satu jam perjalanan yang mencekam, Alya membelokkan setir ke jalan tanah yang becek, meninggalkan jalan aspal utama. Kompleks itu muncul dari kegelapan, lebih besar dan lebih menakutkan dari ingatannya.

Bangunan utama, sebuah struktur kolonial besar dengan cat yang mengelupas, berdiri seperti hantu yang kesepian. Jendela-jendela yang pecah menatap kosong ke luar, dan gerbang besinya yang berkarat terbuka, seolah menyambut mereka ke dalam jurang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada lampu, hanya keheningan yang menyesakkan, diperburuk oleh bau besi tua dan kelembaban.

Alya mematikan mesin mobil beberapa ratus meter dari gerbang. Dia tidak ingin ada suara yang menarik perhatian. Dia mengambil jaket kulitnya, menyelipkan pisau lipat kecil di ikat pinggangnya, dan melangkah ke dalam kegelapan. Entah dapat keberanian dari mana. Seorang Alya yang selama ini bersembunyi di balik jilbab dan riasan wajah jeleknya, bermetamorfosis menjadi wanita tangguh dan pemberani. Semua itu karena dia menikah dengan Rayhan. 

Di saat yang sama, ponsel kuno di sakunya bergetar lagi. Pesan singkat dari Andra:

[Aku sudah sampai di Gudang Timur. Rayhan dalam masalah besar. Aku butuh lima belas menit untuk menarik perhatian Jaga. Jangan sia-siakan waktuku. Temukan adikmu. Sekarang!]

Adrenalin menyuntik dirinya, menggantikan rasa takut. Rayhan sedang berjuang untuknya, dan sekarang Andra mempertaruhkan nyawanya. Alya tidak punya waktu untuk emosi. Apalagi membiarkan rasa takut menguasai dirinya. Tidak. Itu semua hanya akan menghambat geraknya. 

Dia masuk melalui gerbang utama, langkahnya hati-hati, waspada terhadap setiap bunyi ranting patah atau kerikil yang bergeser. Dia bergerak menuju sayap timur, tempat kamar-kamar tidur dulu berada. Dia ingat, di sanalah Ratna, ibu angkatnya, selalu mengatakan bahwa setiap anak harus memulai hidup barunya.

Saat Alya mencapai pintu kayu sayap timur, dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti. Pintu itu bukan hanya terbuka, tetapi juga terkunci dari luar dengan rantai baja tebal dan gembok industri baru. Itu jelas bukan pekerjaan waktu. Seseorang telah mengunci tempat ini baru-baru ini.

Alya mendekat. Gembok itu terlalu besar untuk pisau lipatnya. Dia mencoba mendorong pintu, tetapi pintu itu tidak bergerak.

"Sial!" desisnya.

Alya mulai mencari celah. Dia melihat ke atas. Jendela-jendela di lantai dua terlihat masih utuh, meski sangat kotor. Dia melihat ada tangga darurat di ujung lorong, di sudut yang gelap.

Dia berlari ke sana, mendaki tangga besi yang berkarat itu dengan cepat, menahan napas setiap kali tangga itu berderit mengerikan, takut suaranya akan menarik perhatian.

Dia berhasil mencapai lantai dua, tempat koridor panjang dengan barisan kamar-kamar kecil yang dulunya adalah "rumah" mereka. Alya berjalan perlahan. Bau debu, jamur, dan sesuatu yang lebih busuk, seperti darah kering, memenuhi udara.

Di tengah koridor, di depan kamar terakhir, Alya melihatnya.

Sebuah peti mati.

Bukan peti mati tradisional, melainkan peti kayu persegi panjang besar, seperti peti pengiriman kargo, diletakkan tepat di depan kamar paling ujung, di bawah bayangan lampu neon yang rusak. Peti itu diikat dengan tali baja yang kuat dan ditutup dengan tulisan tangan kasar berwarna merah: [A].

Jantung Alya berdegup kencang hingga terasa sakit. Adikku. Dia bersamaku di dalam peti itu. Kalimat dari surat Andra bergema.

Alya mendekati peti itu. Peti itu lebih dari cukup untuk menampung dua orang dewasa. Alya menjulurkan tangannya, menyentuh kayu yang dingin. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di tengah keheningan yang memekakkan.

Tiba-tiba, dari dalam peti itu, terdengar suara.

Kreek! Kreek!

Itu seperti suara cakar yang menggaruk-garuk kayu dari dalam. Suara itu begitu lemah, begitu putus asa, namun jelas menunjukkan bahwa ada kehidupan di dalam sana.

"Ya Tuhan," bisik Alya, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku di sini. Bertahanlah!"

Dia mencoba mencari kunci. Tidak ada gembok, hanya ikatan tali baja yang kuat. Dia segera mengeluarkan pisau lipatnya dan mulai memotong tali itu. Pisau itu tumpul dan tali itu sangat tebal. Alya menggerus tali baja itu dengan seluruh kekuatannya, otot-ototnya menegang. Tangannya sampai tergores. Darah menetes tak ia pedulikan, karena dia harus berpacu dengan waktu.

Tiba-tiba, dia merasakan hawa dingin di belakang lehernya. Bau parfum mawar yang memuakkan dan familiar, parfum yang sangat disukai oleh Ibu Wiryawan.

"Tentu saja kau akan datang ke sini, Alya," suara itu, halus dan berwibawa, seperti beludru yang menyembunyikan baja. Suara Santoso.

Alya membeku. Dia perlahan memutar kepalanya.

Santoso berdiri di belakangnya, didampingi oleh dua preman besar yang mengenakan topeng ski hitam, membawa senapan serbu. Santoso sendiri mengenakan jas abu-abu mahal, tampak tenang dan berkuasa, seolah sedang menghadiri pertemuan bisnis, bukan penyergapan mematikan.

Di samping Santoso, berdiri Nyonya Wiryawan.

Wajah Nyonya Wiryawan pucat, ia terlihat kedinginan dan ketakutan, tetapi matanya menatap Alya dengan putus asa. Mulutnya ditutup dengan selotip perak tebal, dan tangannya diikat erat di belakang punggungnya.

"Ibu Wiryawan!" Alya tercekat.

"Kejutan," kata Santoso, melangkah maju, senyum tipis di bibirnya. "Aku tahu kau pintar, Nak. Aku tahu kau tidak akan sebodoh itu untuk percaya bahwa surat 'merah' itu hanya tentang gudang timur. Andra selalu meninggalkan pesan tersirat. Dan tentu saja, kau akan datang ke sini. Ke Titik Nol. Tempat di mana 'penyesalan terbesarmu' menunggumu."

Santoso mengayunkan tangannya, menunjuk ke peti mati itu.

"Ini bukan adikmu, Alya," bisik Santoso, nada suaranya berubah menjadi sangat dingin. "Adikmu... dia hanyalah hantu di dalam kotak, sama seperti yang kubilang pada Rayhan."

Kreek! Kreek! Suara garukan dari dalam peti itu semakin keras, semakin panik.

"Di dalam peti itu," lanjut Santoso, matanya menyipit penuh kepuasan, "adalah kunci yang sebenarnya. Kunci untuk mengakhiri segalanya. Dan yang paling penting... petunjuk tentang mengapa aku harus menyingkirkan kalian semua."

Alya merasakan kemarahan yang membara. Dia melepaskan pisau lipatnya. Dia tidak akan lari. Dia akan menghadapi iblis ini.

"Kau tidak akan pernah menyentuh peti itu," ujar Alya, suaranya mantap. "Apa yang kau inginkan dariku, Santoso?"

"Aku sudah memberitahumu, keadilan," jawab Santoso, pandangannya beralih ke Nyonya Wiryawan. "Dua puluh tahun yang lalu, aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga di tempat ini. Dan hanya dengan darah terakhir kalian, semuanya bisa impas."

Santoso mengeluarkan selembar kertas lusuh dari saku jasnya. Kertas itu tampak tua, kekuningan, seperti surat wasiat.

"Surat merah bukanlah kertas bernoda darah itu, Alya. Itu hanya pelengkap," kata Santoso. "Surat merah yang kucari, yang ingin kucuri, yang ingin kusingkirkan... adalah sertifikat adopsi rahasiamu. Yang menyatakan bahwa kau, Alya, bukan hanya anak Ratna yang tidak sah. Tetapi kau adalah... putriku."

Alya terhuyung mundur. Dunianya terasa runtuh. "Tidak... itu bohong!"

"Itu kebenaran, Sayang," ujar Santoso, senyumannya kini terlihat seperti jeritan batin. "Kau adalah putri yang kurahasiakan dari seluruh dunia. Aku yang menempatkanmu di panti asuhan ini, aku yang membiarkan Ratna mengadopsimu, hanya untuk menjagamu tetap aman. Hingga kemudian Ratna dan suaminya mencuri sesuatu dariku. Dan sebagai balasannya... aku mengambil kembali anakku. Kamu."

Santoso meremas kertas lusuh itu. "Dan di dalam peti itu, Alya," dia menunjuk lagi ke peti mati, "adalah bukti siapa dirimu sebenarnya, dan siapa adikmu. Peti itu adalah kotak Pandora yang akan memberimu semua jawaban yang kamu butuhkan. Aku hanya butuh kau membukanya, melihat isinya, dan menyadari bahwa kamu tidak akan pernah bisa lari dariku."

Santoso memberi isyarat kepada kedua preman itu. Mereka maju, mengarahkan senapan mereka ke Alya.

"Rayhan... dia sedang berjuang untuk Ibunya, untuk adikmu yang tidak ada," Santoso terkekeh. "Dan kau di sini. Terjebak oleh kebenaranmu sendiri. Sekarang, buka peti itu, Alya. Dan sambut saudaramu."

Kreek! Kreek! Suara garukan itu berubah menjadi ketukan yang berirama, mendesak, dari dalam peti.

Alya menatap peti itu. Jika dia membukanya, dia akan tahu kebenarannya, tetapi dia akan menyerahkan diri pada Santoso. Jika tidak, sandera di dalamnya akan mati.

"Tentu saja aku akan membukanya," kata Alya, seringai dingin muncul di bibirnya. Dia mengambil pisau lipatnya lagi. "Tapi tidak dengan cara yang kau inginkan."

Dengan gerakan cepat yang tidak terduga, Alya melompat ke sisi peti itu, mengabaikan senapan yang ditujukan padanya. Dia mengayunkan pisau, bukan ke tali baja, tetapi ke bagian engsel peti yang sudah lapuk.

Srett!

Kayu tua itu terbelah. Alya menendang dengan keras. Tutup peti itu terlempar, memperlihatkan isinya di bawah bayangan lampu neon yang berkedip.

Di dalam peti itu, bukan manusia.

Bukan adik Soni, bukan adiknya Alya, melainkan puluhan ekor tikus besar, berbulu cokelat dan kotor, yang panik. Dan di tengah-tengah tikus-tikus itu, tergeletak sebuah kotak perhiasan kecil yang terbuat dari perak tua, dengan lambang ukiran yang sangat familiar di atasnya.

Lambang keluarga Santoso.

Tikus-tikus itu melompat keluar dari peti, berlari ke segala arah. Salah satunya melompat ke kaki salah satu preman, membuat pria itu berteriak kaget dan panik, senapannya terlepas.

Santoso terkejut. "Apa-apaan ini?"

Alya mengambil kotak perak itu, ia membuka kotak itu dengan cepat. Di dalamnya, ada sebuah cincin tua, dengan ukiran yang sama persis seperti yang ada di peti mati itu. Di balik cincin itu, tertempel sepotong kertas kecil, yang ditulisi dengan tulisan tangan Ratna:

[Alya. Ini kunci gudang timur yang sebenarnya. Di balik peti itu ada pintu tersembunyi. Ratna.]

Alya tersentak. Dia melihat ke belakang peti mati yang baru saja dia buka. Benar saja, di balik peti itu, tersembunyi sebuah pintu kayu yang dicat sama dengan dinding, nyaris tidak terlihat.

"Pintu tersembunyi?" raung Santoso, matanya merah. "Kau... kau tahu Ratna telah mengkhianatiku!"

Alya tidak menjawab. Dia membalik cincin itu, dan di bawahnya, ada cetakan kunci kecil, yang cocok untuk gembok pintu tersembunyi itu. Dia segera menggunakannya. Pintu tersembunyi itu berderit terbuka, menampakkan sebuah tangga kecil yang gelap, menuju ke bawah.

"Tembak dia!" teriak Santoso, panik.

Preman yang satu lagi mengarahkan senapan ke Alya. Sebelum dia sempat menarik pelatuk, suara mobil di luar meraung, dan kaca jendela di koridor lantai dua pecah berkeping-keping.

Tiba-tiba, Soni muncul di ambang jendela yang pecah, memegang pistol besar, wajahnya berlumuran darah.

"Santoso!" teriak Soni. "Permainan ini berakhir di sini!"

Soni melepaskan tembakan. Peluru itu meleset ke arah Santoso, tetapi mengenai bahu preman yang menodong Alya. Pria itu menjerit, senapannya terlempar.

Alya menatap Soni. "Rayhan?"

Soni mengangguk, napasnya terengah-engah. "Aku berhasil membawanya kabur. Tapi Jaga mengejar kami. Pergilah! Turun ke bawah, Alya! Adikmu menunggumu di sana!"

Alya tidak punya waktu untuk berpikir. Dia meraih kotak perhiasan itu, mencengkeram erat cincin kuncinya, dan melompat turun ke tangga tersembunyi itu.

Saat pintu tersembunyi itu tertutup di belakangnya, dia mendengar suara tembakan yang memekakkan telinga di atas, teriakan Soni yang tajam, dan raungan Santoso yang penuh amarah.

Alya tidak berhenti. Dia berlari menuruni tangga yang gelap itu, menuju ruang bawah tanah, menuju adik yang tidak pernah dia kenal, dan menuju nasib yang telah menunggu selama dua puluh tahun. Dia harus menemukan apa yang Santoso inginkan, dan apa yang dia sembunyikan di dalam bayangan panti asuhan ini.

Di bawah, udara terasa lebih dingin, dan dia mencium bau gas dan asap.

Alya menghentikan langkahnya. Di depannya, di tengah kegelapan, terbaring sesosok tubuh kecil, terikat di kursi roda, wajahnya tertutup kain kasa tebal. Dan di sebelahnya, sebuah koper perak kecil dengan logo keluarga Santoso.

Tubuh kecil itu bergetar.

Alya melangkah maju. "Siapa kamu?" bisiknya.

Tiba-tiba, suara tembakan lain bergemuruh di lantai atas, kali ini sangat dekat. Disusul oleh keheningan total.

Alya tersentak, pandangannya beralih ke koper perak itu.

Koper itu mulai bergetar hebat. Dan dari dalam koper itu, muncul suara beep yang pelan, berirama, semakin cepat, semakin keras...

Alya sadar. Santoso tidak hanya menyiapkan jebakan, ia juga menyiapkan bom waktu. Koper itu adalah penyesalan terbesarnya. Dan adik Andra—atau siapa pun yang ada di kursi roda itu—adalah korban terakhirnya. Alya harus memilih, menyelamatkan orang di kursi roda itu atau lari dengan selamat, meninggalkan koper berisi bom itu.

Dia melompat.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!