Legenda Tombak Halilintar
Legenda yang Menyembunyikan Dirinya
Berita tentang perang di Kota Genzone, menyebar ke seluruh benua di Sky Legend. Peperangan yang dimenangkan oleh pasukan ksatria. Dan, informasi tentang kekuatan dari player Riki pun menyebar.
Perang sudah berakhir, Kota Genzone dapat diselamatkan. Streaming yang dilakukan beberapa Player yang menjadi Ksatria. Mereka merekam pertarungan dahsyat Riki, dengan pasukan pemimpin kuat dari Genos.
Semua yang melihat streaming pembebasan Kota Genzone dari serbuan pasukan Genos. Mereka penasaran dengan sosok Ksatria penyelamat. Orang menyebutnya, Ksatria Riki. Pemilik tombak kuat dengan kekuatan energi Jarum Halilintar.
Siapa dia sebenarnya? Media pun penasaran dan para Player, juga belum pernah mendengar nama tersebut.
Informasi yang masih simpang siur tentang Ksatria Riki, dia adalah Player dari Indonesia. Meskipun itu baru sekedar isu. Player yang menyembunyikan kekuatannya, dan berjuang untuk mendapatkan kristal justice.
***
”Ayo Ibu, kita akan pindah hari ini. Rumahnya tidak jauh kok, Bu,” kata Riki yang sudah mengemasi baju-bajunya. Dia meminta bantuan beberapa orang pekerja, untuk mengepak Kapsul game miliknya ke dalam mobil sewaan di luar.
”Apakah Rumah ini disita, Riki?” tanya Ibu Irma yang cukup kaget, karena Riki tiba-tiba meminta Ibunya untuk pindah. Sendi sudah menata semua perlengkapannya, dia juga penasaran kenapa kakak lelakinya itu tiba-tiba meminta untuk pindah.
Riki tersenyum, ”Kita tidak menjual rumah ini, Bu. Kalau Ibu memang ingin ke rumah ini untuk bersantai tidak masalah. Kita sekarang memiliki dua rumah, rumah yang baru sudah Riki beli, agar lebih dekat dengan sekolah Sendi dan juga kampusku.”
Bu Irma tidak bisa berkata apapun, anaknya Riki pasti sudah memikirkan hal itu dengan matang. Dia sudah mendapatkan banyak uang sekarang. Dia sudah bisa diandalkan.
”Daripada rumah ini kosong, bagaimana kalau dibuat untuk panti asuhan saja, Kak?” kata Sendi memberikan usul pada kakak lelakinya.
Riki mengelus rambut Sendi, ”Tidak masalah, kamu benar juga Sendi. Banyak anak yang bisa tinggal di sini! Rumah ini juga akan terjaga dan pastinya akan ramai di sini.”
Bu Irma semakin bangga pada kedua anaknya itu, mereka masih berpikir untuk bisa membantu orang lain. Empati akan lahir dari orang-orang yang pernah merasakan sulitnya hidup. Mereka sudah merasakan, bagaimana susahnya orang yang tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dan menjadi susah. Pelajaran itulah yang membuat seseorang mampu merasakan kesusahan orang lain.
Riki dan Sendi membantu membereskan beberapa barang, dan mereka pun mengangkut barang tersebut. Rumah yang dituju tidak terlalu jauh. Mereka sudah sampai, dan Riki menunjukkan kepada supir rumah yang harus mereka datangi.
Irma dan Sendi kaget karena mereka berhenti di rumah yang besar dan bertingkat, rumah yang mewah disertai dengan taman yang luas. Pagar yang juga mewah mengelilingi rumah, tanah di belakang terlihat luas. Apakah rumah besar itu memang tujuan kedatangan mereka?
”Ini ..., ini rumah siapa, Riki?” tanya Ibunya ketika turun dan melihat rumah seperti istana tersebut.
”Ini hadiah untuk Ibu, karena Ibu sudah mencintai dan menyayangi Aku dan Sendi. Kita akan tinggal di sini. Riki sudah membelinya untuk tempat tinggal kita.”
Irma tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, airmatanya menetes begitu saja. Sendi tidak bisa membiarkan hal itu, dia memeluk Ibunya dan ikut menangis. Riki tahu, Ibunya yang meskipun sakit dia selalu menjaga dirinya dan Sendi. Dia harus mendapatkan kebahagiaan. Sendi juga ikut meneteskan airmatanya mereka pun berpelukan bersama.
Bu Irma tidak mengatakan apapun lagi, dia yakin bahwa Riki tidak mungkin berbuat jahat untuk mendapatkan uang. Dia telah mendidiknya untuk menjadi lelaki yang jujur. Riki sudah bekerja keras dalam game. Di dalam game, Riki pasti menjadi sosok yang juga tidak akan berbuat curang.
Udara hari itu begitu sejuk, sekali lagi kehidupan Riki dengan keluarganya akan berubah mulai sekarang. Uang bukan menjadi masalah lagi bagi Riki. Dia mampu membuat mesin uang dari bermain Sky Legend.
***
Riki memasuki duduk di koridor kampus, dia sudah mulai penyusunan tugas akhir untuk akhir dari pendidikannya. Tidak terasa, kuliah selama 3,5 tahun sudah akan berakhir.
”Riki, apakah judul tugas akhirmu sudah disetujui pihak Kampus?” tanya Evans yang memegang tugas akhirnya. Judul skripsinya sudah disetujui dan tinggal menyusul bab-bab selanjutnya.
”Baru saja disetujui, Evans. Mungkin beberapa hari ke depan kita akan sibuk untuk melakukan penelitian.”
”Sibuk sih sibuk, Riki. Namun, jangan pernah lupa untuk menaikkan level di dalam game bukan? ha.. ha.. ha..!” Evans tertawa. Menaikkan level tentu saja berhubungan dengan Sky Legend. Bagi Riki, bermain game tidak akan bisa ditinggalkan. Riki bisa membagi waktu untuk menulis tugas akhir, saat dia sedang tidak bermain game. Baginya, meninggalkan game tentu saja tak bisa dia lakukan.
Mencapai puncak game adalah mimpinya selama ini.
[”Riki, temanmu itu sudah mengalami peningkatan tinggi. Dia sudah mencapai level 99. Dia sangat percaya diri dalam game sekarang!”]
Tombak Halilintar dapat mengidentifikasi, dia berbicara dari kamuflase pada gelang yang dipakai Riki. Sampai sekarang, Riki masih bingung dengan kemampuan Tombak Halilintar yang bisa keluar dari game. Namun, Riki merahasiakannya dari siapapun. Hal itu karena, bisa jadi dia dianggap gila karena hal itu.
Evans juga sudah naik level dengan cepat. Itu membuktikan bahwa Evans, menikmati permainan Sky Legend. Dia selalu menaikkan levelnya, meskipun tertinggal jauh ketika memulai awal permainan. Dan, Riki yang mengajari Evans beberapa tahun lalu untuk memulai permainan.
”Selamat Evans, kamu sekarang sudah level 99. Kamu sudah bekerja keras tentunya bukan?” kata Riki kepada Evans..
Evans pun tersenyum, ”Aku dibantu dengan latihan kuat dari Guild Doboss, Riki. Mereka melatihku dengan baik, hanya saja pelatihan mereka seperti pelatihan neraka!” Evans menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Mereka berdua tertawa di kursi lorong kampus, di depan ruang Ketua Jurusan dan ruang Dekan Fakultas. Mereka teman yang akrab hingga akhir kuliah, Evans sangat menghargai Riki karena dia mampu memahami semua mata kuliah dan menjadi teman yang baik. Dia juga yang mengajari Evans pertama kali bermain Sky Legend.
”Riki, apakah kamu masih mau menyembunyikan rahasia itu dariku? Kita sudah berteman lama bukan? Kenapa kamu tidak cerita?”
Perkataan Evans cukup serius, dia tidak sedang bercanda. Apa yang dimaksud perkataan Evans, apakah itu soal dirinya yang mencapai level tinggi? Apakah dia sudah tahu hal itu? Apakah ada yang menyiarkan streaming saat dirinya bertarung di Kota Genzone?
Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di pikiran Riki. Dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Evans dan dia masih belum bisa mengetahui maksud dari Evans. Selama ini, Riki memang tidak pernah menceritakan perkembangan dirinya sebagai player di Sky Legend. Hal itu karena, sudah terlalu lama dia dianggap sebagai pecundang dalam game.
”Apa yang kamu maksudkan, Evans? Apakah ini berhubungan dengan permainan Sky Legend?” Riki sedikit ragu untuk menanyakan hal itu.
Wajah Evans yang semula serius, dia tiba-tiba tersenyum.
”Permainan Sky Legend! Ha.. ha.. ha.. tentu saja bukan! Ini masalah cinta, Riki. Kamu terlihat semakin dekat dengan mahasiswa player assassin itu! Wanita yang sedang bersiap mengikuti Turnamen dunia dan akan masuk kualifikasi battle player! Wanita yang bernama Suci itu!” kata Evans selanjutnya, ”Apakah kamu memiliki hubungan khusus dengannya?”
”Ahhh!” Riki baru menyadari hal itu. Dia pun menggaruk rambut kepalanya, meskipun tidak gatal. Jadi soal itu, Riki mengira soal yang lain yaitu perkembangan levelnya.
”Katakan dengan jujur, apakah kalian berpacaran?” tanya Evans mendesak.
”Bagaimana ya, menjelaskannya ...,” Riki masih bingung untuk menjelaskan.
”Dia adalah Dark Shadow di dalam user permainan Sky Legend! Dia sangat terkenal dengan kemampuan solo playernya. Kamu sangat beruntung Riki. Dan, sebaiknya kamu harus bergerak cepat, karena dia pasti sebentar lagi akan memiliki banyak fans yang menyukainya!” cerita Evans berapi-api.
Riki pun tersenyum, ”Ah! Sudahlah Evans. Jika dia memang jodohku, maka dia tidak akan pergi kemana-mana. Bukankah jodoh akan dipertemukan Tuhan meskipun kita lari sejauh apapun?”
”Kenapa kamu jadi pesimis begitu, Riki!” Evans menggelengkan kepalanya, ”Sejak kapan, Riki yang selalu bersemangat bisa menjadi pasrah begitu?”
Riki tertawa, ”Biarkan saja, matahari juga pasti akan tenggelam nanti sore! Jangan pikirkan sesuatu yang tidak penting. Kita ini adalah Legenda bukan, legenda bujang yang belum laku menikah! Ha.. ha.. ha..!”
Riki tertawa, di susul Evans pun juga tertawa. Mereka adalah teman baik, kadang selalu saling mengejek dan mereka selalu kompak. Mereka mengobrol apa saja, hingga keduanya berpisah.
”Baiklah, Evans. Aku pulang dulu, aku harus membuat beberapa Bab untuk mempersiapkan tugas akhirku. Semua harus mulai dikerjakan meskipun perlahan.”
”Kamu benar, Riki. Aku juga akan pulang dan menyusunnya juga. Setelah itu, aku akan meningkatkan levelku lagi, aku tidak mau tertinggal juga sebagai Player!” kata Evans.
Riki pulang dan pamitan lebih dulu, dia bersiap pulang ke parkiran dan mengambil sepeda motornya kembali.
Evans masih duduk di depan kantor Dekan Fakultas. Dia melihat Riki dari kejauhan yang berjalan meninggalkannya.
”Riki, kamu selalu begitu. Sampai kapan kamu akan menyembunyikan identitasmu padaku, Ksatria Riki yang kuat!” Evans pun tersenyum. Dia berdiri dan mengumpulkan berkas tugas akhirnya. Saatnya pulang dan mengejar ketertinggalannya, dia harus bisa menyusul sang Legenda Riki.
Evans sudah mengetahui rahasia Riki, dia mengikuti perjalanan Riki selama hari-hari terakhir. Dia memang Legenda yang menyembunyikan kekuatannya!
Riki ...