Liburan di Dunia Fantasi

Mentor Untuk Daisy 2

“Kita tak boleh mengganggu makhluk hidup lain walaupun tidak termasuk nara. Jika ingin makan maka ambillah, itupun jika engkau sanggup,” kata sang kakek dari spesies minagiri.

Daisy menghentikan peyaluran energi. Tangan diangkat ke atas seiring pelepasan genggaman tangan sang kakek. Ia berdiri melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuk dari Gusti. “Akyu boleh makan nara?” tanyanya.

“Kalau mau perang dan dimangsa, bisa saja engkau lakukan,” jawab sang kakek.

Diasy langsung memasang wajah murung.

Di bawah sebuah pohon berwarna merah ditepi sungai, Daisy disambut oleh beberapa orang dari berbagai jenis nara dengan rentang usia yang berbeda. Mereka memberikan sebuah sambutan dengan simbol penghormatan ala minagiri. “Selamat datang, adik kecil,” kata mereka serentak

“Pa nih?” Daisy sedikit bingung.

“Mereka adalah para pengguna unsur air yang masih mau mengabdikan diri di sini. Silahkan memperkenalkan diri, Sayang.” Seorang pejalan air membuka simbol penghormatan dan mendekat pada Daisy.

Gadis kecil dari jenis manusia memberikan sebuah penghormatan ala manusia, segera membukanya.Tubuh dirundukkan untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara. “Akyu punya dua nama, Daisy Putri Meridian ama Daisy Gadis Lunarian. Panggil aja akyu Daisy,” katanya.

Sang pejalan air setinggi setengah meter berwarna putih mengusap kepala anak manusia yang baru saja dikenalnya. Begitu juga dengan enam nara lain memberikan usapan di kepala Daisy sebagai tanda masuk ke dalam perguruan itu secara pergantian sambil mengucapkan tanda diterima sebagai anggota baru serta memperkenalkan diri masing-masing.

Terakhir yang memberi usapan bukan pengguna aura unsur air, tetapi Garis sang narasega yang telah mengantarkan Daisy sejauh ini. “Sy, sekarang kamu ikut kakek Gusti. Semoga kau berhasil,” katanya.

“Makasih Paman.” Daisy langsung memeluk narasega yang sempat ditakuti itu. Air matanya menetes membasahi pakaian yang dikenakan Garis. Ia melepaskan pelukan dan menghapus air mata dengan pengendalian unsur air. “Akyu titip salam buat Kak Rikma. Besok kita kan tanding cara adil,” imbuhnya.

“Pasti.”

Perpisahan dengan narasega hanya berlangsung sebentar saja. Daisy langsung mengikuti Sarita, si makhluk pejalan air yang bisa menggunakan aura unsur. Mereka berjalan ke sebuah sungai dengan bentang lebih besar daripada aliran atas dan bawah. Sarita dengan bebas berjalan di atas air, sedangkan Daisy melepaskan rok panjang yang dikenakan agar bisa berenang lebih lincah.

“Adinda sekarang bersama saya. Lihatlah yang saya lakukan.” Sarita menyentuhkan jubai yang merupakan bagian dari tubuh ke dalam air dan menari dengan indah di aliran sungai. Air di sekitar sana ikut terbawa gerakan jubai seiring dengan pergerakan dari makhluk dari jenis tanggang wasesa. Ia meluncur dengan indah membentuk sebuah jalur air beku.

Tak hanya meluncur saja, Sarita memvariasikan gerakan dengan lompatan yang tak diikuti pergerakan air. Dia bergerak seperti penari balet yang diikuti jubai bagian tubuh serta pergerakan air di udara. Air diarahkan ke atas dan mengalami pembekuan sebelum bersatu. Hujan pun terjadi selayak salju di tempat yang dingin.

“Wow, indahnya,” puji Daisy yang telah berada di dalam air.

“Ini belum seberapa. Aku bisa berbuat lebih dari ini, Adinda. Dulu aku kalah karena gerakanku lamban dan tak indah. Aku sih gak ngarepin kamu menang, apalagi besok kompetisinya. Tunjukin kemampuanmu.” Sarita berjalan dengan santai medekati gadis yang sedang berenang.

“Dengan senang hati.” Daisy mengumpulkan energi pada kedua telapak tangan.

Air di sekitar tertarik pada aura yang dikeluarkan Daisy. Pergerakan benda cair itu menghasilkan sebuah tenaga yang mendesak tubuh Daisy bergerak searah dengan aliran air. Kedua tangan memutar bolak-balik dengan mengaturan tenaga yang sesuai, ia pun berhasil membuat sebuah lingkaran air yang mendorongnya lebih kencang bagaikan sebuah perahu bermotor. Tak lupa beberapa atraksi diperlihatkan begitu indah. Ia melompat bagian duyung beberapa kali sebelum menghilang di dalam air dan muncul di dekat Sarita.

“Teknikmu lumayan untuk anak yang baru belajar setahun. Tapi kau butuhkan teknik keindahan, bukan kekuatan saja,” komentar Sarita.

“Makasih Bu. Pi, akyu baru belajar kemarin.” Daisy mengatur tenaga pada telapak kaki sehingga berdiri lebih tinggi daripada permukaan air.

“Apa?” Sarita si tanggang wasesa membuka mulut seperti ikan dengan sangat lebar. “Pantas aja kau dianggap berbakat.”

Latihan tak seperti yang diharapkan Daisy untuk mengendalikan air dalam jumlah besar. Ia hanya dilatihan untuk bisa menyesuaikan diri dengan permukaan air. Namun, gadis itu belum juga mampu menuruti segala keinginan dari sang mentor hingga latihan tiba waktunya untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah kelelahan.

Di tepi sungai, Sarita memanggang seekor ular air yang menjadi sebuah menu kesukaan bagi tanggang wisesa. Bau yang begitu sedap tak menarik hati bagi Daisy yang memang ketakutan pada hewan berbisa tersebut. Ia memilih menjauh agar tak mendapatkan bagian makanan yang sudah matang.

“Kamu kemana? Latihannya belum selesai,” tanya Sarita.

Daisy menghentikan langkah kaki dan berbalik badan. “Akyu gak suka ular. Akyu takut kena racun,” alasannya.

“Sukamu apa? Rumput air atau buah kakikara?” tanya pengguna unsur air dari jenis baskara si penerbang, Sancalawa.

“Kalau ada gak papa,” jawab Daisy.

Sayap perkasa sang baskara membentak luas bak sebuah sayap pesawat kecil. Makhluk berbulu emas itu mengepakkan sayap sehingga menimbulkan angin cukup untuk menerbangkan rambut Daisy yang telah dibersihkan dari air. Dia menghilang dari hadapan para pengguna aura unsur air lainnya.

Tak lama kemudian muncul angin dari angkasa. Itulah Sancalawa yang kembali membawakan buah segar berwarna merah. Kedua sayap tersimpat rapi dipunggung, dia berjalan ke gadis yang memegang pakaiannya agar tak terbang. “Cobalah dulu, manusia kecil,” tawarnya.

“Makasih.” Daisy mengambil sedikit buah yang bentuknya mirip dengan anggur berukuran sebesar telur ayam dan segera memasukkan ke dalam mulut. Lidah yang menyentuh cairan buah itu merasakan sebuah kecocokan. Daisy mengambil segala buah yang diberikan Sancalawa. Nafsu makannya menjadi besar dan tak terkendali.

Matahari telah turun dari tahta tertinggi di langit. Waktu untuk beristirahat pun telah usai. Sancalawa dan yang lain kembali berlatih pengendalian air di tempat yang jauh dari Daisy membasahi diri.

“Bu, ngapain mereka jauh dari akyu? Akyu kan gak jahat,” Daisy menunjuk pada dirinya sendiri.

“Mereka latihan lebih keras darimu untuk menciptakan jurus baru. Kita ini pewaris pengguna unsur lain. Jadi kau belum layak untuk bersama mereka.” Sarita mulai menapakkan dir di atas permukaan air.

“Akyu reti. Gak mungkin juga baru latihan udah kelas tinggi.” Daisy mencoba untuk menapakkan kaki pada permukaan air. Aura yang dikeluarkan kurang, keseimbangan pun goyang. Ia tak bisa mempertahankan posisi tubuh. Dia pun masuk ke dalam air sebelum muncul dengan tinggi tidak stabil. “Bu, napa tanggang wasesa bisa mudah alan-alan di air, sedang aku gak? Pa semua tanggang wasesa pengguna aura unsur?” tanyanya sambil melihat tanggang wisesa.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!