Liburan di Dunia Fantasi

Selesai

Sulira, makhluk sehingga lebih dari enam meter dengan bobot setara sebuah truk melompat dari ketinggian sepuluh meter. Dia mendarat di tengah nara yang sedang berselidih. Terjadi sebuah gempa lokal yang menggetarkan area di sekitar sana. Makhluk berbulu tebal dengan warna ungu menatap dengan tajam semua yang hadir di sana. “Aku tak masalah dengan perlombaan ini, tapi jagalah komitmen kalian. Apa tujuan perlombaan ini?” tanyanya.

“Dengarkan aku dulu, kita mengadakan perlombaan ini atas usulan manusia untuk menghentikan pertikaian,” kata tetua byaka.

“Dan kalian akan merusaknya hanya karena anakku manusia? Sungguh memalukan,” kata Centarian.

“Bukan begitu, tapi anakmu telah melanggar peraturan,” bela Sukma kepada tetua itu.

“Dengan menjebak anakku memakai baju yang kau berikan? Ini namanya penipuan. Aku menyatakan anakku mundur dari pertandingan ini.” Centarian berbalik arah dan menarik tangan si keponakan.

“Manusia, tunggu dulu. Aku mengaku salah. Tolong jangan berbuat seenakmu.” Sukma melangkahkan kaki kanan.

“Untuk apa mengikuti pertandingan jika akhirnya anakku dijegal. Kalah bukan masalah, tak jujurlah yang tak aku suka.” Centarian tak berpaling sedikit pun ke belakang. Dia senantiasa menggandeng tangan si keponakan.

Jarak Centarian dan Daisy terhadap para tetua sudah cukup jauh. Keduanya berhenti mendadak, sang paman membisikkan sebuah kata kepada keponakannya.

Perhiasan yang menghiasi tubuh Daisy dilepas satu per satu dan ditaruk ke sebuah tempat di sekitarnya. Helai baju juga tak lupa dari tangannya, segera ditanggalkan daru tubuh yang masih basah. Tersisa hanya pakaian putih yang menutupi sebagian besar kulit gadis itu. Ia menggunakan aura unsur air untuk mengerikan pakaian dan tubuhnya.

Segala pemberian dari sang tetua narasima ditata dengan rapi oleh sang paman. Kain dilipat dilurus mungkin dan ditumpuk menjadi satu. Hiasan yang tersisa pun di taruh di atasnya.

Centarian kembali ke kalangan para tetua. Dia mendekat pada Sukma den menyerahkan segala yang ada di tangannya. “Terima kasih telah merawat anakku. Hanya ini saja yang bisa kuberikan kepadamu,” katanya.

“Manusia, kau jangan berbuat seenaknya." Sukma tak menerima kain itu dan membiarkan jatuh.

“Bukannya aku berbuat seenaknya, tetapi jika memberi harus ikhlas. Seorang tetua harus tahu itu.” Centarian berbalik badan dan menarik keponakannya kembali.

“Aku setuju denganmu. Aku juga mengundurkan anakku dari lomba ini.” Ibu archid menggandeng tangan si anak petirnya yang dinyatakan sebagai jawara.

“Ayah, aku juga mundur,” kata anak nara yang lain.

Para peserta lomba berserta walinya menjauh dari tempat diselenggarkan pertandingan itu. Hal inilah yang membuat Sukma dan para penita kesal. Wanita berambut panjang selayak singa itu mengambil sebuah pengeras suara. “Hei! Pergi dari sini berarti kalian tak bisa menjadi prajurit! Ingat itu!” teriaknya.

“Maafkan kami semua. Yang dikatakan manusia itu benar. Para tetua seharusnya bijaksana, bukan mengatur segalanya sesuka hati,” jawab salah satu wali peserta pertandingan.

“Kalian!” Sukma bertambah kesal. Amarah. telah memuncak, dia pun mengendalikan seekor monster tumbuhan yang berhasil dibuatnya.

“Kau mau bertarung satu lawan satu, Nenek.” Centarian mengambil sebuah tombak cahaya. Tangan telah berada di posisi siap menyerang.

“Manusia, bukan remehkan ukuranmu, tapi tubuhku lebih besar. Biar aku saja yang maju.” Sang sulira mencabut sebuah pohon dan digunakan sebagai senjata.

Sukma dan beberapa tetua merasa kekesalan luar biasa. Mereka mulai menyalurkan masing-masing aura unsur. Namun, niat itu diurungkan karena melihat banyaknya nara yang mendukung manusia. Mereka pun pergi menjauh dari sana.

Kapal yang pernah mengangkut para nara kini tergeletak di daratan tanpa adanya pengguna aura unsur air yang mengembalikan ke dalam sungai. Daisy mengendalikan sejumlah air agar kapal bisa digerakkan. Sayang, kapal itu terlalu berat, tenaga gadis itu sudah terkuras banyak.

“Sy, ngapain amu coba gerakin kapal nih?” tanya Centarian.

“Cuma mau bantu nara biar cepat balik ke rumah,” jawab gadis berwarna merah menyala.

“Kalau mau bantu tengok dulu. Amu udah capek, gak mungkin bisa kuat,” kata Centarian.

Kedua orang itu menjauh dari kapal yang dipernah dinaiki para nara. Mereka berjalan ke tepi sungai sambil mengamati setiap nara yang beraktifitas. Salah satu dari tanggang wasesa pun didekati.

“Bu, nih Om yang akyu cari. Om, nih salah atu mentor atu,” Daisy memperkenalkan kedua orang itu.

“Terima kasih sudah membantu anak saya. Jika ada sesuatu, mohon dibicarakan searang juga.” Centarian memajukan tangan kanan.

“Bukan masalah, Daisy juga sangat berbakat walaupun tak terkendali.” Sarita berlari dan mencabut tangan lelaki itu. Segera dia melapaskan tangannya dan mengundang beberapa tanggang wasesa yang lain. “Bisakah Anda mengajari muridku yang tak bisa menggunakan aura unsur?” tanyanya.

“Kenapa?” tanya balik Centarian.

“Sebab aku melihat petarunganmu tadi sungguh luar biasa.”

“Maaf, aku bukan seorang petarung yang bisa melatih orang lain. Kemampuanku didapatkan karena aku sering membahayakan diri, termasuk melawan sesuatu yang disebut monster. Tujuanku ke sini hanya untuk mengumpulkan kru yan terpencar dan kembali ke rumah.”

“Aku tahu manusia seperti tetapi memiliki ukran setinggi Daisy. Kalau tidak salah, dia bersama dengan archid ke sana,” Sarita menunjuk pada sebuah arah.

“Zain, ngapain akyu lupa padanya. Om, yuk ke sana aja.” Daisy menarik tangan Centarian.

Kedua berlari menuju ke sebuah tempat keramaian. Memang benar di sana ada archid tetapi keadaan tak sesuai dengan yang diharapkan. Yang mereka lihat Bajra yang masih terluka berhadapan dengan beberapa wiwera.

“Tunggu dulu, paan nih?” tanya Centarian.

“Ini urusan antara wiwera dengan archid. Manusia, minggir sana,” kata seorang wiwera.

“Iya, manusia tak perlu ikut campur,” kata Bajra.

“Cerita pada kami dulu mengapa kalian bisa berkelahi. Mungkin aku bisa bantu.” Centarian berjalan di tengah kedua kelompok nara.

Sang tetua wiwera maju ke depan dan berkata, “Manusia, archid menjebak salah satu warga kami di dalam sebuah gua kristal. Mereka menguburnya hidup-hidup. Kami minta pertanggungjawaban dari mereka. Yang kami minta hanya menyerahkan si petir itu.”

“Enak aja, kalian yang menuduh menganiaya warga kalian. Padahal kami berniat menolongnya, malah kalian serang. Semestinya kami yang minta pertanggung jawaban dari kalian. Serahkan salah satu pengguna unsur dari kalian,” kata sang tetua archid.

“Dasar makhluk kecil banyak maunya. Lebih baik kuhabisi saja kalian.” Sang tetua wiwera mengeluarkan keris petir.

“Kalian kira aku takut dengan makhluk tanpa kaki seperti kalian.” Sang tetua archid mengisyaratkan sebuah tangan. Beberapa archid menggali tanah hingga hilang dari permukaan.

Keinginan yang kuat dari Daisy menimbulkan aura yang sangat besar. Air yang berada di dalam tanah pun bisa muncul dipermukaan. Gadis itu memanfaatkan untuk membuat sebuah tembok penghalang di antara kedua nara yang sedang pertikai. “Maaf Kakek, maaf Om, kalian jangan kelai. Akyu baru ingat nemuin naga macam tuh,” tunjuknya pada sang tetua wiwera.

“Dimana?”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!